
Kini kenyamanan hidup hampir kuraih. Pekerjaan mapan telah memberiku kesejahteraan, sebentar nanti bisa kubeli sebuah rumah dan sejumlah rupiah juga ada dalam simpanan. Konon, saat banyak limpahan uang dalam genggaman, maka tidur pun akan nyenyak.Tapi, kenapa belum juga bisa kurasakan lelapnya malam? Lalu apa yang masih kurang dalam hidupku kini?
Cinta dan rindu yang kini mulai kupendam untuk pria yang bernama Julio, tak kusangka mulai membuat malamku resah. Nalarku berbisik, jika tetap sendiri bersama anak akan jauh lebih baik bagiku saat melanjutkan hari kedepan. Namun, rasa rindu ini juga mulai kuat mengakar dalam relung hatiku. Ah, tak seharusnya di usiaku kini aku terjerat pada pesona seorang pria, bukankah anak lebih utama bagiku?
Tunggu-tunggu, tapi pernikahan adalah ibadah seumur hidup kan? Dari jalan itu bisa kuraih pintu surga seorang suami, lalu aku juga punya tempat berbagi sedih dan bahagia. Jadi, tak salah juga jika aku memilih menikah kembali. Tapi, rasanya aku dan Julio bagai bumi dan langit. Dan mungkin juga akidah kami tak seiring sejalan ... bukankah untuk bisa samapi ke jannah bersama, dituntut kesamaan akidah suami istri yang setara untuk bisa menggapainya?
Dulu, sebelum banyak mencari tahu, aku hanya menjalani pernikahanku dengan Mas Bayu seperti seorang pada umumnya, tanpa merasa perlu landasan ilmu pernikahan untuk bisa menggapai bahagia di surga yang kekal. Namun kini, pandanganku telah berbeda.
"Han, Hani ..." Sayup, lirih terdengar mantan ibu mertuaku mengetuk pintu kamar, menerbangkan resah pengganggu tidurku malam ini.
"Iya, Bu?" jawabku lembut sembari turun menjejak lantai menghampiri pintu.
"Ibu sakit gigi tidak bisa tidur. Kamu punya obatnya?" keluh mantan ibu mertuaku menahan sakit, ia memegangi pipinya seraya meringis lebar.
"*begitu pun dengan ku mungkin para pembaca tahu obat mujarap sakit gigi, sungguh semangat hilang buat ngetik lanjutan cerita! Tolong yang tahu obat sakit gigi kasih kabar 🙏🏻🙏🏻😭😭*"
Aku melirik jam bundar di dinding kamar, sudah hampir menunjuk angka sepuluh, selarut ini rasanya apa ada warung di sekitar perumahan yang masih buka.
"Sebentar Hani lihat stok obat dulu, masih ada pereda nyeri apa tidak, ya, Bu."
Tak berapa lama, kutemui lagi wanita paruh baya itu yang sedang duduk menahan sakit di tepi pembaringanku. Syukurlah masih ada obat untuk mantan ibu mertuaku, semoga bisa meredakan sait giginya.
"Makasih, Hani. Ibu ngak bisa tidur, selain sakit gigi, entah kenapa hati ibu gelisah. Terus saja kepikiran Bayu, apa anak itu baik-baik saja?" isak ibu mertuaku seraya menyeka sudut matanya yang mulai basah.
Resahku yang semula menyelimuti hati, perlahan hilang. Mantan ibu mertuaku lebih butuh ketegaran daripada aku memelihara kerumitan di benakku, kiranya saudah seharusnya aku menenangkan hatinya. Meski malam telah larut dan butuh kenyamanan di kamar, tapi aku harus sabar menemani wanita berusia senja ini. Bukankah orang-orang yang sabar, merekalah yang paling dicintai Allah? Kesabaran itu memiliki pahala tanpa batas.
"Jangan putus doakan Mas Bayu, Bu. Hanya itu yang bisa ibu lakukan saat ini. Doa seorang ibu itu mustajab diijabah Allah, kan?" ucapku lirih, kuusap bahu ibu mertuaku pelan meredakan isakannya.
"Ibu doakan terus. Kamu dan cucu ibu juga selalu kudoakan. Walau ibu pernah salah besar, tapi ibu yakin Allah masih dengar doaku," kata ibu mertua sendu.
"Makasih, Bu, doanya untuk Hani dan Fahmi. Ibu mau tidur di sini saja?" tanyaku lembut.
Mantan ibu mertuaku mengangguk. Jadilah malam itu kami tidur bersama dengan pikiran dan keresahan masing-masing. Aku menata hati, betul-betul membuang amarahku pada ibu mertua hingga terbang jauh. Dengan perhatian, Kudengarkan setiap perkataan yang terucap dari lisan wanita yang berbaring di sampingku itu. Ibu pun mengisahkan jalan pernikahan dengan mendiang suaminya, saat-saat fase kehidupannya yang penuh kenangan.
"Kamu dan ibu berbeda, Hani. Suami ibu orangnya hanya tahu memberiku lembaran uang, pendiam tak banyak bicara. Sedangkan suamimu lebih cerewet, Bayu tak suka wanita pendiam, makanya ibu kira ia akan lebih bahagia bersama Dini. Maaf ibu telah salah."
Tak terduga ibu mertua akan mengungkit perihal aku dan Mas Bayu, sedangkan bagiku itu sudah menjadi kisah masa lalu yang memberi hikmah besar bagi perubahan diriku dalam memperbaiki diri.
"Sudahlah, Bu. Hani sudah maafin ibu. Semua sudah berlalu dan aku tahu Allah memang mengujiku yang masih kurang baik supaya jadi orang yang lebih baik."
"Jadi kamu sudah bisa maafin Bayu juga? Kalau rujuk saja gimana, kalian bisa mulai lagi dengan saling memperbaiki diri."
"Bu, Hani kira Allah Maha Adil yang lebih tahu yang terbaik bagiku dan Mas Bayu. Meski aku sudah memaafkan perbuatannya, tapi bayangan kesalahannya itu susah untuk kuhapus dari hati, masih sakit entah sampai berapa lama akan membekas."
"Tapi kan suatu saat, mungkin kamu ngak akan ingat lagi kesalahannya jika Bayu sudah jadi orang yang lebih baik dan bisa jadi suami seperti yang kamu inginkan?" desak ibu lagi.
Aku hanya diam memejamkan mata. Sering kudengar, hanya wanita bo_doh yang mau menerima kembali suami yang tidak setia ... kata orang-orang, selingkuh itu penyakit, bucin boleh tapi bo_doh jangan sampai. Keadaanku kini, kurasa aku sudah tak marah lagi pada penghianatan Mas Bayu karena garis takdir sudah seperti itu. Tapi untuk menerimanya kembali... masih belum terbetik di hatiku.
****
(Kapan siap bikin iklan butik? Jangan terlalu lama, urgent untuk promosi.)
Layar ponselku berkedip saat pesan dari Pak Julio masuk dan segera kubaca. Perih, aku manusia bebas sekarang tanpa ikatan pernikahan lagi, namun berada dalam pusaran pilihan hidup yang membingungkan untuk menjejak langkah ke masa yang akan datang.
Semaki sering aku dan Pak Julio berada dalam waktu dan tempat yang sama, makan akan semakin terjalin kedekatan kami berdua. Aku masih merenungi, apa yang kucari lagi dalam hidup? Aku, hanyalah manusia bumi yang sedang menunggu antrian untuk dipanggil kembali menghadap Allah, hanya ingin sisa usiaku tak sia-sia dan mengantungi bekalku di akhirat nanti.
Jemariku terhenti setiap ingin menekan huruf-huruf untuk membalas pesan dari pria berkulit sawo matang itu, tak juga bisa memutuskan untuk mengirim sebuah balasan.
__ADS_1
Sudah kuduga, Pak Julio pasti akan menelepon saat pesannya tak kunjung kubalas. Pria itu, kini semakin rajin saja memanfaatkan ponselnya untuk terus mencari kabar tentangku, sangat berbeda dengan awal-awal kukenal dulu yang sabar menahan diri sampai tak meminta nomor ponselku sama sekali.
"Iya, Pak Julio?" tanyaku usai kami saling mengucap salam dan bertanya kabar kesehatan.
"Sedang sibuk?" tanyanya lembut.
"Sedikit. Aku baru menyimpan proposal untuk liburan teamku," ucapku jujur.
"Wah, jadi dapat liburan ke mana? Gimana dong proyek iklan butik kita, masih sempat digarap dulu ngak?" tanya pria jangkung itu, suaranya terdengar cemas.
"Ke Belanda. Ini baru cek biaya, belum reservasi tiket dan lainnya, kok. Masih lama liburannya nanti," kelasku memberinya ketenangan.
"Oh, gitu, moga lulus proposalnya. Lalu, proyek kita kapan mau mulai?" Ia menanyakan lagi hal yang sama.
"Kapan, ya?" jawabku bingung.
"Lah, kok balik nanya. Aku sih sabar nungguin. tapi urgent buat promosi ya harus secepatnya bikin," jelas pria jangkung itu lagi.
"Iya." Aku menunduk sendiri, bingung.
"Terus?"
"Pak Julio mau kapan?" tanyaku akhirnya tak enak hati, telah lama membuatnya menunggu.
"Hari minggu bisa? Mama dan papa sekalian ingin ketemu."
"Hah? Apa ada hal yang penting?" tanyaku sangat terkejut, tak menyangka orang tua Pak Julio ingin menemuiku.
"Penting lah, mereka ingin membawamu bersamaku ke dalam istanaku nanti, cieeee. Maaf aku sedikit bercanda. Tapi, serius, Hani. Aku sudah bilang sama mama dan papa kalau sudah yakin untuk meminang kamu," kata Pak julio dengan suara tebal dan berat, terdengar sungguh-sungguh pada akhir ucapannya.
Pria itu berbicara dari ponselnya di tempat yang jauh di sana, tapi sosoknya seakan ada di hadapanku seraya menatap lekat menelisik mencari tahu isi hatiku.
"Hani?" panggilnya, terdengar khawatir.
"I ... iya, maaf aku terkejut tadi. Jadi bingung mau jawab gimana."
"Kamu belum yakin menjadikanku tempat berlabuh dan bersandar? Belum percaya aku mampu jadi suami setia bertanggung jawab?"
"Bukan ... bukan seperti itu. Aku masih butuh waktu untuk memutuskan.
"Memutuskan untuk rujuk dengan Bayu lagi? Kukira kamu sudah menghapusnya dari hatimu!" ucapnya, terdengar terluka.
"Maaf, Pak julio, maaf. Bukan begitu juga. Aku masih perlu waktu, itu saja. Rasanya terlalu cepat untuk memulai pernikahan lagi."
"Hmmp, begitu, ya? Apa aku masih kurang baik lagi? Kamu ingin aku perbaiki sikapku yang mana?" Pria baik itu pantang menyerah kalah.
"Ngak ada, Pak Julio, ngak ada," ucapku buru-buru, tak ingin membuat pria baik itu tersinggung.
"Aku bingung, tapi ya sudah lah." Pak Julio terdengar membuang napas pendek.
Hening. Aku terdiam, masih merenungi cara Allah mempertemukanku dengan pria beralis tebal itu dalam waktu yang teramat singkat. Sedang Pak Julio, aku tahu ia pasti terdiam karena menahan kecewa.
"Pak Julio, hari minggu kita mulai proyek iklan kita, ya. Nanti kuberi tahu Fahmi. Kita ketemu di mana?" kataku setelah berpikir sesaat.
"Di Sanggar Pelangi Jingga, ya. Jam sembilan pagi. Mama dan papa boleh datang juga?" tanyanya terdengar harap-harap cemas.
"Eeem, kita foto untuk model iklannya saja dulu gimana? Masak iya Pak Dito dan Bu Dito harus nungguin kita selesai sesi foto, ngak sopan," kilahku mengulur jawaban.
__ADS_1
"Ya, sudah lah. Mungkin lain kali lagi. Jangan lupa istirahat, ngak baik terlalu capek kerja mengejar dunia."
"Terima ka ... sih," ucapku terkesima, pria itu memberiku sebuah pesan baik di akhir kalimatnya, sepertinya ia benar-benar semakin berisi saja keimanannya sekarang.
"Oke. Sampai ketemu hari minggu, insyaallah," ucapnya lirih.
"Siaap, insyaallah."
Hening sejenak, seakan Pak Julio enggan menutup perbincangan. Tak berapa lama ia pun mengucap salam yang kujawab dengan gugup
Percakapanku dan Pak Julio sudah terputus dari tadi, tapi hatiku makin terusik tak tenang. Siapa yang akan kuajak berbagi resahku ini? Bertanya pada Luluk, ia pasti akan mendukungku untuk segera menerima saja pinangan Pak Julio agar segera halal. Bertanya pada ibu mertuaku sama saja memberi kesedihan untuknya. Atau, aku harus meminta pertimbangan buah hatiku? Setelah itu, tentunya aku akan mengadu pada Allah di atas sajadahku di sepertiga malam nanti.
Jemariku menari di atas keyboard, mataku mantap layar laptop, ragaku duduk di ruangan kerjaku, tapi jiwaku mengembara tak menentu hingga pekerjaan tak kunjung ku sentuh juga. Proposal liburan team ini padahal sudah harus segera diajukan.
"Han, Hani. Kamu sudah dengar kabar terbaru tentang Dini?" Luluk menepuk bahuku keras, memusnahkan semua resah di hatiku.
"Heh, kamu tanya apa?"
"Melamun saja kerjanya. Lupain dulu Julio. Beres belum tuh kerjaan? Kita makan siang dulu, yuk, sambil ngobrolin Dini," Luluk mendekatkan wajahnya di wajahku, nyerocos tanpa jeda seraya nyengir.
"Boleh, ayo." Luluk mengambil kotak bekalnya, aku pun sama. Lalu kami mulai menyantap masakan kami itu dengan terburu agar bisa menunaikan shalat zhuhur setelahnya.
"Aku lihat Dini kemarin waktu lagi di tengah jalan, tapi sayang aku kehilangan jejak."
"Oh, ya? I sendirian?"
"Ngak, ada bersama seorang pria."
"Aku juga penasaran sama pria itu, kira-kira siapa. Aku tahu tempat tinggalnya."
"Y udah, kasih tahu Bayu dong."
"Ngak bisa, nomor ponselnya sudah ngak aktif. Aku ngak tahu Bayu tinggalnya di mana"
"Wah, sayangnya. Bayu gimana nasibnya ya sekarang?"
"Entah, ibu mertuaku juga nungguin kabarnya."
Saat kami sedang asyik makan siang seraya membahas banyak hal, sebuah ketukan di pintu mengusik membuat kami berhenti mengunyah.
"Silahkan, masuk saja. Siapa, ya?" seru Luluk nyaring.
"Bu Hani ada?" Sebuah suara yang kukenali terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka perlahan.
"Ada," kata Luluk mewakiliku.
Tamuku siang ini membuat mataku tak bisa berkedip. Nampak olehku, seorang wanita berkulit putih mengenakan jilbab namun pakaiannya masih sedikit ketat, berdiri di muka pintu. Luluk mengangkat dagu padaku seolah bertanya siapa wanita itu.
"Bu Salsabila?" Desisku masih tak percaya melihatnya mengenakan jilbab. Apa wanita itu ingin mengejekku dengan berpakaian seperti itu? Aku jadi berpikir buruk tanpa bisa kucegah.
"Sedang makan siang rupanya. Maaf kalau gangguin kalian. Saya tunggu di lobi saja." Wanita cantik itu ingin cepat berlalu seraya melambaikan tangannya.
"Kami mau shalat zhuhur dulu tapi, Bu!" seruku buru-buru.
"Iya, saya tunggu," jawab Salsabila nyaring tapi terdengar ramah dan sabar.
"Bu Salsabila pakai jilbab. Kemarin ia masih marah-marah padaku, dan hari ini ia terlihat seramah itu?" ucapku bingung pada Luluk.
__ADS_1
Sahabatku itu membulatkan mulutnya seraya melongo juga, lalu ia mengangkat bahu. Kami pun segera menuju mushola kecil di ujung lantai gedung ini untuk menunaikan empat rakaat dengan segera.
Berulang kali aku menepis pikiran buruk pada Salsabila namun gagal. Sangat aneh jika wanita itu berubah baik dalam sekejap. Salahkah jika aku tak percaya pada jilbab yang dikenakannya? Ya Allah, siapa aku yang berani menghakimi orang lain yang belum tentu lebih buruk dariku, dan aku belum tentu lebih baik darinya?