
Part Dini
Perempuan dengan bola mata kecoklatan sangat indah itu menyambutku dengan baik saat pertama kali kami bertemu. Namun seiring percakapan kami malam itu, kurasa ia telah menyadari jika aku ini wanita yang dekat di hati suaminya.
Tak berapa lama sejak pertemuan pertama kami, kembali kulihat perempuan yang menurutku sederhana tapi anggun itu tiba-tiba saja maju presentasi dengan memukau dalam lelang tender sebuah proyek branding di kantor tempat kerjaku. Mulai kusadari, ia tengah berusaha mengambil hati suaminya. Kembali dan waktuku untuk merebut suami dari perempuan itu tak banyak lagi. Pernikahanku dengan suaminya harus segera terlaksana.
Aku, tak menutupi lagi siap aku sebenarnya pada perempuan yanag bernama Hani itu. Sengaja, aku mencoba menjatuhkan tekadnya saat lelang tender. Aku berusaha membuatnya meninggalkan suaminya karena perempuan itu harus kusingkirkan dari sisi Bayu agar calon pengantinku itu kembali menjadi milikku.
Dalam sepi, sudah belasan tahun aku sering merutuki nasibku yang tak lagi punya kebanggan sebagai seorang wanita dewasa. Apalah artinya paras jelita dan pintar jika kehormatanku sebagai seorang calon istri sudah tak utuh lagi. Pria mana yang mau menikahi gadis sisa dari sentuhan terlarang pria lain? Bayu, hanya pria yang pernah membuai aku itulah yang harus menjadi pengantinku.
Kumanjakan Bayu dengan tujuan pesona yang kuurai hingga muslihatku berhasil. Aku mendapatkan kembali pengantin priaku, bahagia rasanya kembali berani mendongak melihat dunia. Sudah ada seorang pria di sisi pembaringanku, meski seorang perempuan yang tak kalah cantik dariku harus pergi dari pembaringan suaminya. Dendam dan dengki lebih menguasaiku daripada rasa iba sebagai kaum hawa.
Tanpa membuang waktu, segera kusampaikan tentang kedekatan Hani dan Pak Julio pada Bayu, berharap ia mendukungku dengan menegur perempuan yang belum resmi cerai darinya itu. Untung tak dapat diraih, kiranya aku salah mengambil langkah. Bayu justru dibakar api cemburu mendengar seorang pria yang lebih segalanya darinya mulai dekat dengan ibu dari anaknya. Petakaku pun berawal dari kecerobohanku itu.
"Malam ini aku pulang telat, tak usah menungguku datang." Bayu menjawab tanpa sapaan mesra saat aku mengajaknya pulang kantor bersama di suatu senja, kami mulai berjarak. Meski telah tinggal satu rumah, namun kini ia serasa ada di Kutub Utara, begitu dingin tak tersentuh olehku lagi. Raganya bersamaku, namun jiwanya terpenjara hanya untuk Hani dan anaknya.
"Tahu perasaanku saat ini bagaimana?" tanyaku ketika hari berikutnya lewat tengah malam Bayu baru tiba di rumah tanpa menyapaku sedikitpun saat kubuka pintu rumah untuknya.
__ADS_1
"Hancur," desisku di telinganya saat ia hanya duduk terdiam mengabaikanku yang telah rela menahan kantuk menantinya pulang.
Malam itu menjadi malam kami mengawali pertengkaran demi pertengkaran. Aku tahu, diam-diam Bayu meratapi kepergian Hani dan anaknya, dan kenyataan itu membuat hatiku membara dalam kedengkian rasa. Hidupku tak tenang lagi, dihantui rasa curiga dan ketakutan jika Bayu kembali memeluk Hani.
Semakin bertambah hitungan hari semakin Bayu mengacuhkan aku. Menyentuhku tak lagi menjadi candu baginya hingga dinding kamar kami semakin dingin dan senyap.
"Melamun saja tiap malam!" pekikku di telinganya, kebisuan Bayu telah mengubahku menjadi hilang kendali dan bersikap kasar. Rasanya ingin meluapkan amarah, amarah, dan amarah saja.
Bayu terdiam, mengembuskan napas kasar dan segera berbaring membelakangiku.
"Aku minta kamu lupakan Hani dan anaknya. Mereka sudah memilih pergi, kamu tak punya malu jika masih mendatangi mereka," ucapku selembut mungkin, saat aku tahu Bayu dari kantor justru pulang ke kontrakan Hani di hari yang sama setelah kudatangi perempuan itu. Aku berpapasan dengannya, namun ia bahkan sampai tak menyadari saat kuikuti hingga mobilnya berhenti di sana.
"Aku menyesal bertemu kembali denganmu. Setelah belasan tahun, kamu sungguh telah berbeda. Kamu meminta kehormatan yang sebenarnya telah kamu serahkan sendiri padaku tanpa paksaan. Tapi kamu membuatku kehilangan kehormatan di mata istriku dengan sebuah paksaan untuk menikahimu. Aku muak, aku merasa bo-doh menyakiti istri sebaik Hani," teriak Bayu menyalahkan aku, menghembuskan napas kasar menahan kekesalan.
Mendengar ungkapan itu, nalarku menertawakannya. Bayu memilih menyalahkanku, meski ia sendiri yang tak bisa menundukkan pandangan dan gejolak dirinya saat pesonaku menggodanya.
Cercaan Bayu tadi membuatku teringat kembali kedatanganku sebelum senja ke kontrakan Hani, bermuslihat menawarkan sebuah kemewahan pada Hani agar ia pergi jauh dari kota ini menghilang dari pandangan Bayu, tapi perempuan itu benar-benar menjaga harga dirinya dari kilauan tawaranku.
__ADS_1
Sia-sia aku menahan uang Mas Bayu yang kuambil alih tanpa kubiarkan sedikitpun sampai di tangan Hani. Namun nyatanya, wanita bermata coklat itu kian tangguh tak tersentuh oleh kedengkianku.
Gagal menjaga diri dari dengki dan amarah melihat anugerah kelebihan diri dan dunia yang dimiliki Hani, aku seakan lupa pada Tuhanku.
Sesungguhnya, terlalu mengumbar pandangan terhadap milik orang lain telah membuatku tidak mensyukuri nikmat-Nya, hingga aku selalu merasa gelisah seperti yang menghinggapiku kini. Setelah lahir iri dengki...Aku pun berangan-angan kosong, kotor hati, lalu menuntut lebih pada pasangan di luar kemampuannya...
Aku semakin membenci perempuan itu. Bayu yang telah bisa kutaklukkan menjadi suamiku tak bisa sungguh-sungguh berpaling darinnya. Mungkinkah dosaku di masa lalu sangat besar, hingga luka yang begitu dalam harus kutuai saat ini bersama pria yang juga memikul dosa yang serupa denganku?
"Apa yang membuatmu tetap mendambakannya meskipun sudah bersamaku? Aku lebih segalanya dari Hani!" Pada suatu malam, aku meneriakkan perih yang kurasa.
"Ketulusan dan ketenangan. Aku tak menemukan itu saat bersamamu," pekiknya dengan mata menyala hingga kaca-kaca bening membayangi matanya dan ia duduk tergugu.
Serendah dan sehina itukah aku, ya Tuhan? Aku harus menyaksikan pria yang sudah menjadi suamiku namun hatinya tertuju pada wanita lain. Sia-sia belasan tahun aku merangkak membangun kesuksesan diri untuk bisa merebut kembali calon pengantinku yang telah bersama perempuan lain. Serendah dan sehina itukah aku?
Baiklah Bayu. Genderang perang sudah kau tabuh! Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tetap di sisiku pasti akan kulakukan. Mungkin aku harus belajar jadi sosok Hani untuk bisa membuat Bayu tak lagi mengharapkan perempuan bermata coklat itu. Aku akan membuatmu merangkak mencariku.
"Pak Bayu sudah tanda tangan?" tanyaku pada staf administrasi Bayu.
__ADS_1
Gadis belia itu mengangguk mengiyakan pintaku. Mudah bagiku memperalatnya untuk mengelabui Bayu hanya dengan beberapa lembaran merah untuk membeli kosmetiknya.
Jaring telah kupasang, Bayu akan bertekuk lutut mengejarku, melupakan Hani. Aku tertawa puas, meski sadar jalanku telah salah.