KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 52. Dua Wanita Paruh Baya


__ADS_3

"Duduk sini, Bu. Silahkan." Bu Dito berdiri seraya berbalik menghadap ibu mertua dengan raut penasaran dan heran.


"Dari sini saja sudah, saya hanya mau sampaikan kalau Hani itu belum resmi cerai. Anak saya ngak pernah nalak sekalipun. Cucu saya butuh kasih sayang ayah bundanya, jadi pasti nanti mereka akan rujuk lagi." Ibu mertua menolak duduk, ia berdiri menumpukkan kedua tangannya ke sofa.


"Saya tahu kalau sedang proses cerai, Bu. Anak saya sabar kok nunggu cerainya selesai. Kami hanya mastikan serius tidaknya Julio sama Hani saat saling penjajakan ini. Nanti waktu Hani resmi cerai bisa langsung nikah, begitu." Bu Dito menjawab dengan tenang.


Aku melongo, Bu Dito pikir aku dan putranya sedang penjajakan? Mungkinkah dikiranya tingkah kami seperti orang-orang yang pacaran itu? Bagaiman caraku memberi pengertian jika kami selalu berusaha menjauhi berdekatan meski sekecil-kecilnya bentuk zina walau belum bisa sempurna.


"Sebentar-sebentar. Maaf, saya boleh menyela bicara?" tanyaku perlahan.


Kedua wanita yang berdiri berhadapan itu mengangguk hampir bersamaan, lalu mereka menatapku dengan tak sabar, menungguku bicara.


"Kita tunggu saja keputusan cerai turun. Takdir saya seperti apa nantinya, Yang Maha Tahu hanya Allah. Saya hanya belajar menjadi wanita yang lebih baik dan Allah yang akan menentukan jalan hidup saya setelahnya." Seraya menatap lembut kedua wanita paruh baya di depanku, aku berucap gugup memilih kata.


"Tuh, Bu. Dengar kata menantu saya, tunggu setelah proses cerai. Siapa yang tahu anak saya nanti rujuk lagi sama Hani. Tunggu takdir Allah saja," kata ibu mertuaku merasa dirinya yang paling benar.


"Saya juga sedang ikhtiar jemput takdir Allah, Bu. Ya maaf kalau saya memburu waktu. Semoga saja saya beruntung bisa punya menantu Hani," sahut bu Dito dengan sopan.


Melihat Ibu mertua masih ingin menimpali ucapannya, Bu Dito cepat-cepat meneruskan lagi perkataanya. Wanita anggun itu mengutarakan keyakinannya jika aku adalah calon istri yang tepat untuk putranya nanti. Sejak pertemuan pertama kami, Bu Dito sudah bisa menilai sosokku dari sikap kami bertiga yang hangat terhadapnya. Menurutnya, sikap anakku jelas menunjukkan cerminan diriku.


"Sama seperti Bu Dito, saya juga masih boleh menjemput takdir. Cucu saya belum beruntung jadi cucu sambungnya ibu. Dia kan darah daging saya, bukan keturunan ibu." Dengan sewot, ibu mertuaku menjawab gusar.


"Saya sayang Fahmi seperti cucu saya tentunya." Bu Dito tersenyum dengan tulus.


"Itu kan kata ibu saat ini, entah lagi kalau sudah beneran jadi cucu sambungnya nanti." Ibu mertuaku tetap saja bertahan dengan prasangkanya.

__ADS_1


"Gini ya, Bu. Saat Hani memutuskan ingin cerai, saya yakin ia sudah bisa mengukur kesiapan emosinya, kekuatan jiwanya dan level finansialnya andai apesnya tidak dapat nafkah lagi dari mantan suami. Jadi kita serahkan Hani saja deh. Ibu juga jangan menekannya untuk rujuk nanti." bu Dito membela pendapatnya dengan panjang lebar.


"Kenapa ibu yang jadi ngatur-ngatur saya, Hani masih menantu saya. Titik." Ibu mertua memalingkan mukanya ke arah samping dengan wajah bersungut.


"Halah-halah, Hani tetap akan jadi putrinya ibu andaikan nanti jadi nikah sama anak saya. Yakin sajalah, Bu. Hani kan tetap baik sama ibu, ngak usah khawatir gitu. Kita malah jadi sodaraan loh." Bu Dito mencoba tersenyum seraya mengusap bahu ibu mertuaku.


Aku hanya bisa menoleh bergantian pada dua wanita yang sempat bersitegang itu, rasanya jantungku berlompatan, cemasnya melebihi saat harus menjawab pertanyaan audiens di ruang presentasi.


"Nanti say pasti ngak boleh ketemu cucu saya lagi!" seru ibu mertua dengan suara putus asa.


"Boleh, Bu, boleeeh. Kita ini tuanya seumuran, saya senang nambah teman nambah sodara. Mbok ya sudah, kita terima keputusan Hani saja." Bu Dito terus membesarkan hati ibu mertuaku.


Ibu mertua hanya diam seraya menggeleng dan menarik napas panjang, sepertinya belum ikhlas sependapat dengan Bu Dito.


"Wong urip iku urup, Bu, hidup itu nyala. Kata simbah saya di Yogya dulu gitu, jadi orang yang manfaat buat orang lain, jangan malah mempersulit." Bu Dito melanjutkan lagi perkataannya pad ibu mertuaku yang masih berwajah masam.


Aku teringat, dulu mendiang ibuku pernah berpesan jika jadi orang itu harus seperti berlian yang banyak didambakan orang karena indah dipandang mata. Semua niat dalam diriku haruslah bertujuan pada kebaikan jika ingin serupa berlian, hingga aku bisa diandalkan orang lain dan tidak suka menyalahkan orang lain atas nasibku. Jadi, menurutku saat ini aku akan bisa bahagia jika memilih bercerai tanpa dendam, tetap membolehkan Mas Bayu dan ibu mertua bertemu dengan anakku.


"Bu Dito bisa enteng bicara mudah begitu karena tidak ada di posisi saya." Ibu mertua menatap sayu.


"Loh, ibu sendiri yang cari perkara. Percuma kita panjang lebar diskusi dari tadi kalau akhirnya saya dianggap tidak memahami kedekatan ibu dengan Hani." Bu Dito menyanggah dengan sopan.


"Sudahlah! Saya hanya mau minta pengertiannya, jangan sering temui cucu saya selama Hani sama Bayu belum resmi cerai." Ibu mertua berbalik, berlalu dari ruang tamu dengan langkah lesu dan lunglai.


"Saya izin ntar ibu ke kamar sebentar, Bu Dito," pintaku berbisik pada mamanya Julio itu, aku khawatir ibu mertuaku tak hati-hati berjalan karena pikirannya sedang kalut.

__ADS_1


Bu Dito mengangguk, buru-buru ia justru membantuku memapah ibu ke kamar.


"Saya bisa sendiri, ngak usah dituntun, seperti orang sakit saja," tolak ibu mertua pada Bu Dito.


Aku menatap Bu Dito dengan isyarat permintaan maaf. Wanita anggun itu mengangguk paham, memberiku waktu mengantar ibu mertuaku.


"Tolong panggil Fahmi sekalian, aku mau pamit, ya," ucap Bu Dito lirih dan aku pun mengangguk.


Kususul langkah ibu mertuaku, wanita yang pernah menghabiskan hari-harinya bersamaku selama belasan tahun itu pun tak menolak kupegangi bahunya saat menuju kamar.


"Kamu jangan gegabah mudah nikah lagi. Coba pikir, mana ada orang sekaya mereka rela putranya nikahin janda anak satu. Pasti ada sesuatu dengan siapa tadi nama anaknya?"


"Julio, Bu."


"Iya, Julio itu pasti ngak baik orangnya samapi Bu Dito ngejar-ngejar kamu jadi menantunya."


Aku hanya diam. Biarlah ibu mertuaku berperang dengan prasangka-prasangka buruk di benaknya. Aku sudah menjadi seseorang yang memanggul ransel kehidupanku sendiri sejak memutuskan keluar dari rumah wanita paruh baya itu. Air mataku sudah kering, hatiku sudah teguh, keyakinanku pada Allah sudah melangit, dan setajam apa pun perkataan orang lain sudah kebal dalam pendengaranku hingga tak lagi mudah tersinggung atau terbawa amarah.


Setalah memastikan ibu mertuaku berbaring nyaman, aku mengajak Fahmi menemui Bu Dito di ruang tamu.


"Oma pulang dulu, ya. Selalu jadi anak baik, patuh dan sayangi bundanya." Bu Dito memeluk anakku erat, lalu beralih memelukku.


"Ada yang sudah tidak sabar mau umroh bareng kamu. Ibu doakan sidang cerainya lancar, kamu berjodoh dengan Julio. Ibu akan lebih rajin sholat malam untuk berdoa buat kalian." bu Dito berbisik seraya mencium pipiku.


"Aku bahagia lihat Julio makin rajin ibadah, rajin baca buku agama. Kamu belum jadi istrinya saja sudah bisa membawa kebaikan dalam hidup anakku," ucap wanita anggun itu lagi, lirih sebelum mengurai pelukannya.

__ADS_1


Aku menghirup udara malam dengan hati tak tentu. Aku tak ingin Pak Julio berubah baik hanya karena diriku, harusnya ia ikhlas bertambah kebaikan karena begitulah seharusnya seorang lelaki muslim yang taat pada perintah Rabbnya.


__ADS_2