
Sejatinya, perceraian menjadi jalan terakhir ketika masalah dalam rumah tangga tidak menemukan titik temu. Seperti halnya aku, mungkin andai Mas Bayu ingin menikah lagi seusai tuntunan syari'at dan memilih istri kedua yang layak dinikahi dengan meminta izinku, akan bisa jadi pertimbangan bagiku untuk bertahan.
Tapi cara suamiku membagi cinta telah salah dari awal dan membuat ceruk lara yang teramat dalam di hatiku. Bercerai hanya satu-satunya pilihan yang ada bagiku, semoga Allah mengampuni keputusanku dan mengganti dengan rahmat kebaikan untukku.
Masih banyak istri-istri yang berselisih karena perselingkuhan tapi tetap bisa mempertahankan lagi keutuhan pernikahan, mereka kuat untuk bertahan diduakan atau memaafkan. Namun aku tak mau terbelenggu rasa ragu, tidak enak hati, tak tega untuk mengambil keputusan pisah, hingga batinku tak bahagia. Malah, jika merasa tertekan dan tersakiti, tapi tetap memutuskan bertahan ... emosiku jadi meluap ke anak hingga anakku bisa stres. Aku telah masak-masak mengukur kemampuan batinku setelah berserah dalam doa meminta yang terbaik pada Allah. Aku juga punya arah dan tahu caraku mencapai tujuan, bukan keputusan karena emosi sesaat saja.
Pagi ini, sidang ketigaku dijadwalkan. Mbak Min dan Luluk sudah siap bersaksi. Aku boleh saja tak usah hadir dalam sidang ini, namun harus menjemput dan mendapat dukungan keyakinan dari wanita baik itu.
Ibu mertua tak tahu jika pagi ini aku bukan pergi untuk bekerja. Aku tak mengabarinya, bisa-bisa ia akan menahan kepergianku jika sampai tahu hari ini putranya mungkin akan diputuskan resmi menjadi mantan suamiku.
Sidang berjalan cukup lengkap melampirkan permasalahan rumah tangga dan tuntutanku. Tak ada kendala yang berarti karena Mas Bayu sama sekali tak memenuhi panggilan sidang. Jantungku berdegup cepat, tibalah saat yang aku nanti. Gugatanku diterima majelis hakim dan diputuskan verstek karena ketidak hadiran suamiku.
"Aku de javu rasanya, kayak kembali ke masa silam, harus lelah bolak balik urus cerai. Kamu beruntung ngak makan lama prosesnya. Ngak berbelit kayak kasusku dulu.
Aku mengangguk mendengarkan Luluk sambil tersenyum.
"Hati-hati melangkah setelah ini, status janda pasti banyak resikonya. Awas jangan sampai kesandung maslah lagi," ujar Luluk sok bijak.
Aku masih terus mengangguk-angguk.
"Sekarang tinggal fokus pikirin anakmu dan masa depannya hanya itu harta paling berharga milikmu. Syukur-syukur sih cepat nikah lagi, ngak kayak aku lama menjanda abdi."
Luluk cerewet sekali dari selesai sidang tadi terus saja mengajakku bicara. Aku yang dapat putusan cerai, tapi sahabatku itu yang bahagia bukan kepalang. Mbak Min menolak kuantar pulang, wanita itu begitu terharu usai kusisipkan sejumlah uang di tangannya, ia pun memilih naik taksi saja tak ingin aku semakin repot.
"Apa kabarnya Bayu?" tanya Luluk.
"Aku ngak tahu. Bantuin dong cari dimana Mas Bayu? Ibunya masih di tempatku."
"Haaah, ngak malu masih numpang sama menantu yang dibuangnya dulu?"
"Hust, kasihan juga belum ada tempat tinggal kayaknya. Aku sih hanya mengembalikan ke diri sendiri saja. Andai aku dalam posisi sulit seperti itu, pastinya sangat berharap ada yang bantu kan? Jadi aku niatkan berbuat baik ya untuk diriku sendiri gitu."
"Seterah kamu aja dah. Kamu siap saja resikonya kan, yang ngerasain puyengnya juga kamu sendiri."
"Terserah, bukan seterah." Aku memperbaiki ucapan Luluk.
"Bodo amat."
Sepanjang jalan dari ruang sidang menuju tempat parkir, kami berdua tak henti bicara. Banyak lagi nasehat Luluk untukku, mungkin ia merasa lebih senior menjadi janda daripada aku, hahaha.
"Tuh mobil siapa, dah ditungguin tuh. Temui sono! Aku balik kantor duluan. Jangan kelamaan berduaaan, cepat balik kerja atau kupecat entar." Luluk menunjukkan dagu ke arah sebuah mobil silver, di samping kendaraan itu sedang berdiri seorang pria yang sangat kukenal.
"Males balik kantor, ah. Aku mau berduaan sampai besok lusa," jawabku sekenanya pada Luluk.
"Awas aja, dicatet malaikat baru tahu rasa, haha. Aku pulang, ya. Good luck, jodoh sama pria baik itu." Luluk melambaikan tangan pada Pak Julio sebelum masuk ke mobilnya.
"Makasih, dear." aku membantu Luluk menutup pintu mobil dengan berkaca-kaca, terharu akan ketulusan sikap dan doanya.
"jangan mewek! Kami itu lebih hebat dari aku, kamu yang bikin dari kamu kuat, bukan orang lain. Sudah jalan sono, ditunggu ituh." Sahabatku itu tertawa melihat wajah haruku, lalau buru-buru membunyikan klakson berpamitan padaku dan Pak Julio dan melajukan mobilnya.
__ADS_1
Saat aku hendak melangkah, pria berkulit sawo matang itu lebih dulu berjalan tegap menghampiriku. Rupanya ia mengingat jadwal sidang ketigaku ini dan datang ke sini juga.
"Hallo, Assalamu'alaikum," sapa Pak Julio meski jauh dariku, ia terlihat mempercepat langkah.
"Wa'alaikum salam" jawabku saatia semakin dekat.
"Baru selesai, ya?"
"Iya"
"Gimana?"
"Apanya?"
"Hasil sidangnya lah."
"Sudah diputuskan hakim."
"Alhamdulillah," seru pria itu.
Eh? Pak Julio sebahagia itu mengucap kata syukur? Aku merasa begitu tersanjung dan amat berarti baginya. Ujung jilbabku melambai-lambai tertiup angin, seolah menyambut kehadiran pria itu di dekatku.
"Cepat ganti KTP-nya, gih" ujar pria jangkung itu sambil nyengir.
"Kenapa?"
"Koko sementara?"
"Bentar lagi kan bakalan dilamar kalau selesai masa iddah."
Aku hanya tersenyum, tak berani menangapi entah gurauan entah sungguhan kat-kata yang diungkapkan Pak Julio.
"Kamu hebat sudah kuat sampai tahap ini.
Aku sering melihat orang yang perasaanya menjadi hambatan terbesar untuk mengambil keputusan rasional. Tapi, kamu berani mengalahkan perasaanmu, dan kamu menang." Pria itu berujar sambil memujiku.
"Ah, ngak lah, Pak. Itu alamiah, aku hanya ingin menikmati sisa hidupku dengan rasa bahagia. Alhamdulillah Allah kuatkan aku untuk pilih alan berpisah. Allah yang beri aku jalan kemudahan, bukan aku yang hebat."
"So far, aku tetap ingin memujimu."
"Seterah Bapak. Aku hanya tidak ingin memberikan kehidupan yang buruk bagi anakku. Kulihat ia mendukungku untuk pisah dengan ayahnya, itulah yang membuatku berani maju untuk gugat cerai."
"Ya-ya. Kamu benar. Anak memang harus jadi pertimbangan terbesarmu." Pria itu manggut-manggut setuju.
"Pak Julio. Apa Bapak sudah dikaruniai anak dari mantan istrinya?" tanyaku hati-hati, penasaran ingin mencari tahu.
"I have good news for you, pernikahanku baru seumur jagung waktu istriku pergi dari rumah. Kami cerai dengan sangat mudah, tanpa ada anak-anak yang harus membuat rumit keadaan," jawab pria beralis tebal itu santai.
"Pak Julio selingkuh , lalu istrinya pergi dari rumah?" tanyaku asal nebak.
__ADS_1
"What? Apa wajahku ada tampang tukang selingkuh? Atau sikapku terlihat playboy gitu?"
"Mana saya tahu. Pak Julio saja ngak mau cerita tentang mantan istri."
"Kamu ingin dengar sekarang ceritanya? Di parkiran sin? Mataharinya mulai menyengat ini. Kita pergi makan siang bagaimana?" Pria itu menatapku sekilas, lalu menatap langit yang terik.
"Aku ngak serius nuduh, kok. Seterah Bapak mau cerita kapan saja. Aku sudah ditunggu Luluk. Ada proyek dari Anifarma yang baru masuk list orderan, harus kejar target. Maaf, kita makan bareng anak saja kapan-kapan, ya."
"Dari Anifarma? Siapa customermu?" tanya Pak Julio sangat terkejut.
"Salsabila."
Pak Julio mengepalkan jari-jari tangannya, membuatku bingung. Seketika aku sadar, nama customerku sama dengan mantan istri pria itu. Apa mereka orang yang sama?
"Kenapa dengan Salsabila, apa ia Salsabila yang sma dengan istrimu dulu?" Aku menyelidik cemas.
Pak Julio mengangguk. "Hati-hati saja. Mundur dai team, biar Luluk saja yang tangani." Pria itu berkata dengan jelas dan tegas, seakan harus dituruti.
"Tapi kenapa?" tanyaku semakin bingung.
"Turuti saja kata-kataku. Salsabila wanita yang nekat, kukira ia sudah tahu aku dekat denganmu. Ia pasti punya sebuah rencana."
"Tapi, gimana caraku jelasin ke Pak Kevin?"
"minta bantuan Luluk. Aku siap bantu team kalian selesaikan proyek itu. Tapi kamu jangan terlibat!" Suara pria itu semakin meninggi, membuatku cemas, baru kali ini kulihat sikapnya yang seperti itu.
Rasanya seluruh tubuhku gemetar melihat wajah Pak Julio menegang sangat serius. Darimana Salsabila bisa tahu kedekatanku dengan Pak Julio, aku saja tak mengenalnya sama sekali. Sekilas sempat melintas prasangka buruk pada Dini, apa iya wanita itu pembawa berita tentang aku pada Salsabila. Mereka berteman mungkin saja, aku mendadak kesal pada pikiran sendiri yang melayang jauh tak berujung.
"Cepatlah ke kantor dan mundur dari proyek Anifarma. Mulai sekarang aku akan sering menanyakan kabarmu, jangan cegah aku."
"Untuk apa?"
"Memastikan kamu baik-baik saja. Mana ponselmu? Tambahkan nomor ponselku. Cepat, ya." Suara pria itu mulai kembali lembut, membuatku kembali bernapas lega.
Kami belumlah menikah, tapi pria di depanku ini begitu ingin melindungiku.
Dalam bingkai rumah tangga, pasangan suami dan istri masing-masing memiliki hak dan kewajiban. Suami sebagai pemimpin, berkewajiban menjaga istri dan anak-anaknya baik dalam urusan agama atau dunianya, menafkahi mereka dengan memenuhi kebutuhan makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya. Aku melihat sisi baik itu dalam sosok Pak Julio.
Tanggung jawab suami yang tidak ringan harus diimbangi dengan ketaatan seorang istri pada suaminya. Kewajiban seorang istri dalam urusan suaminya setahap setelah kewajiban dalam agamanya. Hak suami ada diatas hak siapapun setelah hak Allah dan Rasul-nya, termasuk hak kedua orang tua. Mentaatinya dalam perkara yang baik menjadi tanggungjawab terpenting seorang istri. Kurasa aku pun ingin menjadi istri serupa itu bagi Pak Julio andai kami memang ditakdirkan berjodoh.
"Aku ke kantor dulu," pamitku usai kami sama-sama terdiam beberapa saat.
Akhirnya pria itu meminta nomor ponselku juga, tapi alasannya semakin membuatku kagum saja.
"Iya, hati-hati."
Aku mengangguk. Saat hendak membuka pintu mobil, dari jauh nampak olehku sosok pria yang begitu kukenali baru turun dari taksi di ujung tempat parkir. Mas Bayu? Ia datang terlambat menghadiri sidang? Aku mengurungkan niat untuk masuk ke mobil, cepat melangkah menghampiri pria itu. Penampilannya yang kusut membuat dadaku sesak menahan keharuan.
Ketika seseorang terjatuh, jangan membuatnya semakin terjerembab ke bawah. Aku berpikir bagaimana aku bisa menyemangati Mas Bayu? Bagaimana aku bisa membuatnya bangkit dan memiliki harapan lagi? Karena ketika membantu seseorang untuk bangun dari keterpurukan, Allah akan mengangkat dan menempatkanku ke keadaan yang lebih baik lagi. Menolong seseorang tanpa mengharapkan sesuatu sebagai imbalan, maka Allah selalu mempunyai banyak jalan untuk membalas kebaikanku. Dan Allah tidak pernah ingkar.
__ADS_1