KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 35. Hasutan


__ADS_3

Pak Julio memintaku dan Luluk untuk menunggu sebentar, katanya ia telah memesan makanan lewat online untuk kami, tapi belum juga datang saat kami sudah ingin berpamitan pulang. Aku menghela napas menahan gelisah, rasanya tak kuasa lagi semakin lama berada di dekat pria beralis tebal itu, sementara tak hentinya ia ditatap berulang kali oleh Luluk sahabatku sendiri.


Hatiku berdegup cemas, iya, cemas andai kutangkap sedikit saja tatap Luluk pada Pak Julio berbalas oleh pria itu. Sebuah tatapan sering kali menjadi pintu yang membawa pada lorong kekaguman, menguji keimanan diri.


Seperti Mas Bayu, saat rasa di hatinya memudar seiring pandangan mata yang tak lagi puas pada raga yang kian lama berada di sisi pembaringan bersamanya, pernikahan pun dengan mudahnya runtuh oleh keindahan lain yang menyapa sorot matanya. Iya, pandangan suamiku telah menguji keimanannya. Rasa yang tumbuh dari pandangan mata saja, biasanya tak akan bertahan lama, beda jika rasa cinta tumbuh dai hati yang tersentuh. Itulah kenapa kadang menggapai pernikahan itu lebih mudah dari mempertahankannya.


Seorang pemuda berkaos senada dengan Pak Julio, dengan terburu datang menghampiri kami, setengah berlari kecil membawa dua tote bag berwarna coklat tua di kedua tangannya.


"Makasih, gaeess. Kelas sore sudah selesai semua, ya? Beri tahu teman-teman, kumpul di kantorku sebelum pulang," kata Pak Julio pada pemuda itu begitu akrab.


"Karyawannya, ya, Pak?" tanya Luluk selepas kepergian pemuda tadi.


"Bukan, tapi rekan kerja. Semua yang bantu di sini sangat berarti dukungannya buat saya, jadi kami semua disini teman satu team. Ada yang urus administrasi, jadwal kelas, kebersihan sanggar..."


Aku tak lagi mendengar jelas kata-kata pak Julio sampai selesai saat kulihat Luluk mengerjap semakin kagum saja pada pria rendah hati itu, membuatku semakin ingin cepat menghilang dari hadapan pria itu.


Wajar jika Luluk mengagumi Pak Julio dan berani lekat menatapnya. Sedangkan aku, saat ini masih berstatus istri orang. Hijab dan baju panjang yang kini menutupi juga membuatku ingin lebih menjaga perilaku. Bukankah aurat tak sekedar raga? melainkan juga sikap dan jiwa.


"Eh, ini bawa pulang saja, ya," ujar Pak Julio seraya memberikan tote bag berlogo sebuah restoran ternama itu pada kami, tanpa menerima alasan untuk menolaknya.


Tak menunggu Luluk ingat untuk pulang, aku lebih dulu mengulangi kata pamit, lalu menarik tangan sahabatku itu untuk cepat menuju pintu keluar sanggar. Aku mencoba mengabaikan gundah di hati kala sempat kulihat raut kecewa di wajah Pak Julio melihat sikapku yang menjaga jarak darinya. Biarlah, biar... goresan takdir tentu tak akan mempermaikanku, jika kesabaran mengiringi ketaatan yang coba kutegakan.


Melangkah terburu menuju tempat kendaraan kami terparkir, hatiku baru kembali tenang, ketika ucapan salamku dijawab Pak Julio yang mengiringi laju mobil dengan lambaian tangannya.


"Kamu tahu, Hani, belasan tahun menjanda baru kali ini aku mulai kagum pada seorang pria.Pak Julio itu sefrekuensi denganku, kami sama-sama menggilai advertising, nyambung banget deh kita ngobrolnya. Pria itu rendah hati dan humoris, cocok denganku. Iya gak, sih?" Luluk mengemudi mobil seraya bertutur penuh semangat.


"Eemm, ia anaknya Pak Dito Wardhana loh," jawabku asal menyahut saja sembari menatap jalanan dari samping kaca jendela.


"Iya juga, sih. Tapi pria rendah hati kayak dia kayaknya ngak mandang strata sosial deh. Palingan nih, apesnya ya, mungkin ia akan cari wanita yang lebih muda usianya. Eh, tapi beneran ia belum nikah? Siapa tahu sudah cerai atau lagi nunggu calonnya masih kuliah di luar negeri gitu?"


Aku hanya mengangkat bahu, tak ingin terus saja membahas lagi pria berkulit sawo matang itu.


"Ah, kamu jangan diam gitu deong. Kasih saran aku harus gimana, kek! Aku nih sudah bisa nafkahin diri, ngak nyari yang mapan juga, hanya ingin punya pendamping yang nyaman sefrekuensi menemani sampai tua. Lima atau enam tahun lagi anakku akan kerja entah di mana, aku akan sendirian," gerutu Luluk dengan suara serak, membuatku serasa sesak napas.


"Sorry, Luluk. Aku kepikiran anakku di rumah, pikiranku tak tenang," sahutku setelah berpikir cepat mencari jawaban menghindari pertanyaan Luluk.

__ADS_1


****


Cuaca masih tanpa redup meski hari sudah mendekati siang, mendung tebal di langit bisa kulihat dari jendela depan rumah kontrakanku. Hari ini pekan terakhir di bulan ini, aku dan Fahmi memilih berdiam diri di rumah menikmati hari minggu.


Seminggu berkutat dengan pekerjaan membuatku malas bepergian. Rasanya ingin menghabiskan hari ini dengan anak saja. Fahmi meminjam laptopku di ruang tengah untuk mengulang materi desain grafis dari Pak Julio. Sedangkan aku memilih duduk di sofa ruang tamu sembari menghabiskan kue shoes kering isi coklat kesukaanku.


Baru saja ingin beranjak dari dudukku untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan selagi cuaca tak menyengat, tiba-tiba ponselku berbunyi, Luluk meneleponku.


"Iya?" tanyaku lirih usai kami saling berbalas salam.


"Kamu ada waktu ngak? Temani ke rumah Pak Dito, yuk?" sahut Luluk dengan riangnya.


"Lah, mau ngapain?" jawabku mulai tak nyaman hati.


"Pendekatan dong sama calon mertua, kami kan sudah kenal cukup dekat, tinggal lobi-lobi dikit lah siapa tahu dapat restu."


"Kenapa ngak sendiri aja? Aku masih temani anakku," kilahku menolak.


"Ya gila amat sendirian ke sana kalau ada kamu kan setidaknya ada teman buat lari kalau diusir sama satpam rumahnya," Luluk tergelak tanpa dosa, ia tak tahu saat ini sudut hatiku merepih menahan gelisah.


Proses perceraianku tentu perlu waktu, baru tiga sampai enam bulan ke depan bisa selesai, itu pun jika berjalan lancar. Selama itu, aku masih tercatat sebagai istrinya Mas Bayu. Dan kenyataan jika pria yang menaruh hati padaku sungguh sangat meresahkan hatiku.


Menguatkan hati, aku harus tega menolak ajakan sahabatku itu. Rasanya perih, Luluk sungguh-sungguh menaruh hati pada Pak Julio, dan ia sangat percaya diri mengejar pria berkulit sawo matang itu. Ku pejamkan mata seraya mengingat kuasa Allah yang lebih berkehendak akan takdir kehidupan, hanya itu yang bisa menenangkan hatiku saat resah menghampiri.


Esok berganti, Luluk tak begitu bersemangat saat bertemu denganku di kantor. Bisa kurasakan ia sedikit menjauh dan tak banyak mengajakku bicara lagi.


"Kita ke kantor besar Superindo jam berapa?" tanyaku lirih, memecah kesunyian di ruangan kami.


"Eemm, bentar lagi, deh," jawab Luluk singkat.


"Kamu marah?" Aku segera mencari tahu, tak enak rasanya hubungan baikku dengan Luluk memburuk membuat hari terasa buram.


"Hah? Marah kenapa? aku hanya kesal, kamu ngak dukung aku. Sumpah, Hani, Pak Julio terus saja ada di depan mataku."


Aku tercenung, serumit inikah jadinya?

__ADS_1


"Sore besok ikut aku, yuk?" kataku.


"Kemana? Ke sanggar lukis?" tanya Luluk kembali riang.


"Bukaaan! Ke pengajian di sekolah Fahmi. Pengajian rutin bulanan buat wali murid. Biar hatimu ngak resah terus gitu."


"Halah, kirain mau bawa aku ketemu Pak Julio." Gelak Luluk akhirnya bisa kudengar lagi.


"Siapa tahu dapat jodoh di pengajian nanti, dapat yang shalih gitu."


"Aku? Akunya belum menutup aurat kayak kamu."


Luluk terdiam. Sebenarnya aku pun belum sempurna berhijab dengan baik. Dulu aku hanya memakai busana muslimah setiap kali datang ke undangan pengajian di sekolah anakku. Tak banyak baju panjang ku, namun setelah memutuskan berhijab, aku merelakan tabunganku untuk membeli meski setelahnya aku sempat kehabisan uang hingga menjual perhiasan.


"Dah lah, lupakan dulu Pak Julio. Kita diminta ke kantor Superindo kira-kira ada apa, ya? Lima belas menit lagi kita jalan. Siap-siap!" Luluk memberiku instruksi seraya membenahi pekerjaan di file laptopnya.


Aku hanya bisa menatap Luluk kagum, sahabatku itu sebenarnya baik dan lembut hati, ia juga cepat menguasai diri saat keadaan hatinya tak baik.


Sampai kantor Superindo, aku dan Luluk dengan enggan menuju ruangan Dini. Kami masih terus berhubungan dengan wanita itu selama proyek kerja sama belum berakhir.


Aku sudah membentengi hati, menata deburan kecambuk karena sebentar lagi akan bertemu Mas Bayu dan istrinya barunya. Mangetahui mereka sudah tinggal serumah dan menempati kamar kami memang sungguh sangat menyakitkan. Namun, luka itu tak boleh menjadi tiang hambatan bagiku menjemput kebahagiaan lainnya.


Aku menarik napas lega, mendapati Mas Bayu tak nampak di ruangan Dini, tak perlu menahan perih jika sampai harus melihat kebersamaan mereka.


"Hei, Bu Hani, Bu Luluk. Kalian kenapa terlambat sekali ke sini. Hampir saja saya adukan ketidak becusan kalian." Dini menyambutku dan Luluk dengan ketus saat kami baru saja masuk ke ruangannya.


"Ada apa lagi, Bu Dini? Bukannya brandingnya sudah kami tayangkan di berbagai media. Kurangnya apa? Bicarakan saja yang baik." Luluk langsung menegur Dini tanpa basa-basi.


"Kalian belum tahu? Sampai saat ini produksi belum naik, permintaan pasar belum banyak. Itu artinya kalian gagal." Dini menatap sinis.


Luluk mendelik, sangat kesal. " Bu, anda berapa tahun menangani produksi? Apa pernah dalam seminggu produk anda langsung meledak? Butuh waktu untuk pasar kenal hingga repeat order produk. Saya taruhan, ngak akan lama lagi akan booming itu iklannya."


"Aku hanya menegaskan kesombongan kalian selama ini. Jangan karena ada dendam pribadi denganku, jadi seenaknya kerjain proyeknya." Dini masih saja menyudutkanku dan Luluk .


"Jaga bicaranya, Bu, Hani bukan wanita pendendam," hardik Luluk membelaku.

__ADS_1


"Oh ya, lalu ia dekati Julio Wardhana untuk apa? Untuk menjatuhkan saya di perusahaan ini nantinya kan? Sebelum itu terjadi, saya yang akan menjatuhkan karir kalian berdua lebih dulu."


"Hani dekati Julio Wardhana?" tanya Luluk bertanya dengan heran pada Dini, seraya menatapku tak mengerti, ia nampak terkejut mendengar perkataan Dini. Wanita perebut suamiku itu selalu saja membawa hasutan yang runyam bagiku.


__ADS_2