
Pandanganku langsung tertuju pada rak teratas lemari pakaian yang telah aku ambil sebagian isi pakaiannya. Masih tersisa tumpukan gaun tidur malam ku utuh teronggok, lama tak tersentuh, senasib dengan ragaku yang telah di campakkannya.
Seraya menunduk, kubuka laci lemari yang berisi barang-barang istimewa bagiku. Tanganku bergerak meraih sebuah syal bercorak abstrak, pemberian Mas Bayu di awal kami mulai saling merasa dekat.
"Untukmu, kamu pasti semakin cantik saat menghiasi lehermu yang jenjang." tergiang pujian Mas Bayu kala itu di suatu senja saat menjemputmu pulang kantor.
Aku hanya bisa menunduk malu, merasa bahagia menjadi wanita tercantik di matanya.
"Makasih. Aku pasti akan sering pakai itu," ujarku menunjukkan rasa bahagiaku.
"Harus di pakai, anggap itu pengganti ku saat kita belum bisa ketemu. Kita ini bagai air dan bunga, aku sang air sumber kehidupan yang akan memberimu kesegaran di kala kemarau di bumi."
"Gombal." tawaku berderai.
"Ngak percaya? Kamu tahu bunga akan layu jika tak di beri setitik air di kala kemarau panjang, jangan berharap langit akan turun hujan" Mas Bayu menimpali tawa ku dengan serius.
"Benarkah?" tanyaku takjub, setengah tak percaya, namun tak tega untuk tidak mendengarnya yang ingin berkisah.
Mas Bayu pun menceritakan padaku jika air ada lah sumber kehidupan bagi setiap tumbuhan, air tak pernah berharap sang bunga akan meninggalkannya, asal dia bisa berbunga dengan indah. Tak ada jarak yang bisa memisahkan, lambat laun bunga bersemi, indah dan berbunga tapi sayang sang bunga layu di tangan sang kumbang, tapi air tetap berharap akan mekar kembali.
Mas Bayu berjanji tak akan menjadi sang kumbang yang mengisap lalu pergi, dia akan menjadi air yang selalu memberi kehidupan untuk ku. Tapi kini? Dia mengingkari janji itu.
Denting jarum jam berbunyi tepat di angka enam memburai kenangan ku, membawa kembali pada kenyataan hidupku kini. Aku tak punya banyak waktu.
Di pojok laci, akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Untunglah Mas Bayu tak membongkar barang-barang ku di laci ini. Segera aku masukan kedalam tas, benda-benda berharga yang bisa kujadikan cadangan saat kehabisan uang.
Aku menutup pintu kamar dengan perasaan lega, serasa sedang menutup juga kegetiran hidup yang tiba-tiba melanda hingga mengakhiri kenangan indah sepanjang kisah pernikahanku di rumah ini.
"Bu, Hani mau pamit dulu. Fahmi masih harus selesaikan tugas sekolah. Kamu akan berkunjung lagi lain waktu," tutur ku lirih selembut mungkin.
Ibu yang tengah duduk di tepi pembaringan di kamarnya di temani Fahmi disisinya, seketika kembali merengkuh bahu cucunya dengan erat, seolah tak rela kami akan pergi lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu egois, Hani! Aku juga berhak bersamanya." ibu berkata sendu.
"Hani minta maaf, tapi saat ini aku tak punya pilihan lain. Tolong jangan bahas tentang hal itu didepan anakku, Bu," pintaku berharap ibu bisa memahami maksudku, ada anak yang tak layak mendengar pertikaian diantara orang dewasa.
Fahmi yang merasa memahami kerumitan bundanya, segera meraih tangan neneknya untuk salim, dan keluar lebih dulu dari kamar neneknya, dan sang nenek tak kuasa mencegahnya.
Ibu terbatuk seiring kepanikannya merasa kami akan segera pergi dari rumah itu dan entah kapan bisa bertemu lagi dengan cucunya.
Aku meminta tolong Mbak Min segera mengambilkan minuman untuk ibu. Dengan tulus ku bantu ibu meneguk minumannya dengan segenap kasih selayaknya kebiasaan ku dulu setiap merawat ibu saat sakit.
Ibu ikut memegang tanganku yang tengah memegang gelas, menatapku dengan sorot mengiba.
"Jika ibu minta maaf, apa itu akan membuatmu mau tetap tinggal di sini, demi aku?" lirih ibu ragu-ragu, nampak belum setulus hati.
Aku memalingkan muka, tidak sanggup menjawab pertanyaan ibu. Bukan aku tidak punya perasaan dan tidak tersentuh dengan permintaan ibu, bukan! Tapi, aku belum sanggup berkorban sebesar itu, menelan kepahitan dengan tetap menerima suami yang selingkuh, itu sungguh berat bagiku.
Aku menggeleng berulang kali. "Andai Mas Bayu jujur dari awal, meminta izin untuk menikah lagi dengan alasan yang syar'i mungkin Hani masih bisa berusaha paham. Tapi ini ... Mas Bayu diam-diam sudah berhubungan dengan wanita lain."
"Bayu baru dekat, belum menikah. Ayolah, kamu harus lebih sabar. Jangan tergesa ambil keputusan minta cerai. Kita ini wanita, harus lebih panjang akalnya dari laki-laki. Bertahan sampai Bayu kembali padamu, itu saja!" Ibu berucap dengan napas memburu, seakan mendesak ku untuk setuju dengan pemikirannya.
Mungkin jika kami terus berdebat, tidak akan ada ujungnya. Ibu dan aku tak selaras dalam menyikapi luka yang di torehkan Mas Bayu di hatiku.
Ibu hanya diam. Aku pun tida berkata lagi, memeluk ibu dengan hangat agar dia tahu aku tidak pernah membencinya meski sesakit apapun perlakuannya padaku.
"Hani pulang, Bu " pamit ku singkat, melepas pelukan dan beranjak melangkah meninggalkan kamar ibu.
Lirih aku dengar isakan ibu. Diam, diamlah hatiku, Jagan risau mendengar tangisan itu. Teruslah melangkah pergi. Air yang telah ke hilir, tak kan lagi ke hulu. Tentram, tentramlah jiwaku. jangan ada lagi luka. Hari yang kemaren, hari ini, biarkan berlalu, ada hari esok yang harus di perjuangkan
... Bisikan-bisikan hati kecilku menggema dalam relung kalbu, menguatkan untuk tetap pergi.
Fahmi tak lagi nampak olehku, sepertinya dia telah menungguku di luar. Aku memanggil Mbak Min yang duduk termenung di ruang tengah agar kembali menemani ibu. Lalu, aku pun terburu menuju pintu rumah.
__ADS_1
"Cepat, Bunda." Fahmi melambaikan tangannya padaku, menunggu si samping mobilku yang masih terkunci pintunya.
Bukan tanpa alasan Fahmi berteriak memanggil ku. Kumandang adzan maqrib telah terdengar, dari kejauhan nampak sebuah mobil SUV warna silver melaju ke arah rumah ini, Mas Bayu pulang.
Ku tekan remote pembuka pintu mobil meski masih jauh langkah kaki dari kendaraan roda empat itu. Setengah berlari kususul anakku yang lebih dulu masuk dan sudah duduk gelisah menungguku.
Mas Bayu menurunkan kaca jendela mobilnya, menatap lekat ke arahku yang baru saja membuka pintu mobilku. Di bunyikannya klakson dengan nyaring, sebelum memarkir kendaraannya tepat di depan pintu gerbang hingga menghalangi kendaraan ku untuk bisa keluar.
Aku menutup rapat kaca jendela mobilku saat melihat Dini juga ada dalam kendaraan itu, duduk manja di samping Mas Bayu, di kursi mobil yang biasa aku tempati. Menyakitkan sekali rasanya melihat wanita itu sudah tidak terpisahkan lagi dari suamiku. Mereka berdua benar-benar sedang di mabuk asmara.
Aku tak ingin beradu kata lagi dengan mereka, kasihan anakku harus melihat pertengkaran demi pertengkaran yang tak sepantasnya. Aku pun mengirimkan pesan lewat aplikasi WhatsApp pada Mas Bayu.
(Minggir dari jalanku, Mas. Fahmi sudah lelah ingin cepat sampai di kontrakan)
Aku langsung menyampaikan permintaanku.
Kulihat dari kaca depan, Mas Bayu segera membuka ponselnya, sepertinya dia langsung membaca pesan masuk dariku.
(Turunkan Fahmi, baru kamu bisa pulang sendiri ke kontrakan)
Mas Bayu cepat membalas pesanku, semuanya sendiri.
(Kamu pikir anakmu mau? Dia memilih bersamaku, bukan bersamamu! Seperti kamu yang memilih bersamanya, bukan bersamaku)
Aku menatap dari kaca depan mobilku, nampak Mas Bayu mengusap wajahnya dengan kesal, lalu dia menatap tajam ke arahku lewat kaca depan mobilnya. Mas Bayu pun membalas lagi pesanku dengan tak mau kalah.
(Berhenti menyalahkan aku. Ngak ada hak mu melarangku memilih bersama siapa)
(Baik. Kamu juga ngak berhak mengaturku lagi. Kita sudah pilih jalan masing-masing. Cepat minggir! Urus ibumu yang sakit, ibu butuh kamu sekarang)
Aku menarik napas lega saat akhirnya, Mas Bayu memundurkan posisi mobilnya memberiku jalan. Bisa kulihat olehku, Dini dan Mas Bayu berdebat di dalam kendaraan.
__ADS_1
"Sebentar, Bunda, aku mau turun" Fahmi memintaku berhenti melaju saat kami sudah melewati pintu pagar dan kendaraan kami tepat bersisian dengan mobil ayahnya.
Aku mengernyitkan kening, bingung tak bisa mengira apa keinginan putraku saat ini.