KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
HARUSKAH AKU BERBAGI SUAMI


__ADS_3

Aku menggeleng. " Mas Bayu tak butuh aku lagi, kan? Aku tidak ikut ke klinik! Telepon saja Dini. Bisa tidak dia meluangkan waktu untuk merawat ibu?" Aku berbalik, hendak beranjak masuk ke dalam rumah sambil menguatkan hati agar tega mengabaikan ibu mertua.


"Oh ya, Mas. Bawa kunci cadangan rumah. Saat kamu pulang nanti mungkin kami telah selesai berkemas dan meninggalkan rumah ini." kataku berbalik saat teringat tekadku untuk pergi.


"Jangan seperti itu, Hani." rengek Mas Bayu.


"Cukup. Mas sudah tega menyakiti hatiku dan Fahmi. Apalagi sudah jelas, kamu akui perasaan mu pada wanita itu." Aku tidak sadar sampai menghardik suamiku.


"Maafkan aku, Hani sayang. Aku janji tidak akan berhubungan dengan Dini lagi. Ayo ikut aku ke klinik, biar Mbak Min yang jaga Fahmi." pinta Mas Bayu sambil menahan tangan ku.


"Berikan ponselmu, Mas. Buka kunci layarnya, aku akan menelpon Dini" kataku.


"Ngapain nelepon Dini?" tanya Mas Bayu tak suka.


"Memberi tahu keadaan ibu dong. Biar dia buktikan rasa cintanya yang besar itu padamu. Dia harus merawat ibu jika ingin menjadi menantunya" sergahku.


Mas Bayu menatap ku sengit, Dia meletakkan jarinya di bibir, memberi isyarat agar aku bicara pelan. Dia pasti tidak ingin ibu mendengar pertikaian sengit ini.


"Apa maksudmu berbicara seperti itu?" cecar Mas Bayu lirih kemudian.


" Agar kamu sadar, Mas. Seorang ibu rumah tangga itu tak tergantikan. wanita yang menurutmu kurang pintar dan tidak cantik lagi ini, sudah kamu anggap rendah di matamu, bahkan kini tidak kamu hiraukan meski sudah belasan tahun rela hanya berkutat mengurus seisi rumah." Aku menunjukkan diri dengan jari bergetar.


"Oke, oke. kita bisa bicarakan lagi nanti. Ayolah, kasihan ibu." Mas Bayu tidak mengindahkan maksud perkataan ku, dia menarik cepat tanganku ke mobil untuk segera ikut bersamanya ke klinik. Kata-kata ku bagai angin lalu. Menyebalkan sekali sikap Mas Bayu yang hanya sepintas menanggapi ku tadi, namun bayang wajah pucat ibu mertua melintas di mataku. Tegakah aku tidak mengurusnya? Hati kecilku tida bisa mengabaikan rasa ibaku pada kondisi ibu.


Bagaimana pun rasa kesalnya hatiku, tapi kewajiban sebagai menantu tetap harus aku taati. Mungkin baiknya aku mengantar ke klinik saja, setelah itu baru besoknya aku akan pergi dari rumah ini.


"Aku menyanyangi ibu tulus. Aku akan mengantar ibu berobat, tapi bukan karena Mas berjanji untuk berhenti menjalin hubungan dengan Dini, bukan! Besok aku akan tetap pergi" aku berkata tegas.


Aku merasa iba juga saat melihat ibu di dalam mobil nampak begitu lemah. Dengan berat hati aku putuskan untuk mengalah. Bertahan semalam lagi tak mengapa, lusa aku juga presentasi penting yang membutuhkan konsentrasi. Usai pulang kantor besok, aku dan Fahmi akan tetap meninggalkan Mas Bayu dan rumah ini.

__ADS_1


Dalam perjalan ke klinik kami bertiga hanya diam. Ibu memejamkan mata, tangannya yang lemas gemetar berusaha menggengam tanganku seolah meminta perhatianku.


"Surya" ibu memanggil lirih.


Aku terkejut mendengar ibu memanggil dengan suara bergetar, ku tegakkan punggungnya ke sandaran kursi mobil, menunggu apa yang akan di sampaikan ibu mertua pada suamiku.


"Dengarkan ibu, lupakan Dini dulu! ibu dengar keributan kalian berdua tadi. Hani itu istri yang baik.'


Ibu menatapku dengan sendu, benarkan dia menyadari arti diriku sebagai menantunya? Atau hanya karena sedang tergolek sakit, sehingga ibu menahan ku untuk pergi dari kehidupan anaknya? Ish, aku jadi berpikir buruk terhadap ibu.


"Iya Bu. kita sudah hampir sampai di klinik." Hanya itu jawaban Mas Bayu, nampak tidak ikhlas mengiyakan permintaan ibunya.


Klinik tak terlalu ramai karena sudah hampir jam sepuluh malam, kami memaksa mendaftar karena antrian pasien sudah tutup, kami memohon dengan alasan ibu butuh di tangani cepat oleh dokter.


Terlihat di ruang tunggu, hanya ada satu pasien yang antri. Kami memilih duduk di pojok kan agak jauh dari pasien lain agar ibu merasa nyaman. Ibu duduk memejamkan mata, menunggu dengan bersandar pada bahuku. Mas Bayu meraih tangan ku, menggenggamnya erat. Untuk apa dia bersikap mesra seperti itu? Sudah tidak ada artinya lagi bagiku. Aku menggerutu dalam hati, lalu menarik tanganku dari genggamannya.


"Ada apa, kenapa menatapku kayak gitu?" tanyanya berbisik, takut terdengar oleh ibunya.


Aku tersenyum masam seraya menggelengkan kepala, malas menjawab.


Mas Bayu mengangkat bahunya cuek, membuatku terbawa rasa kesal yang dari tadi ku pendam hingg akhirnya aku melontarkan sebuah jawaban.


"Tidak usah sok mesra pegang tanganku. mulai sekarang kita urus diri kita masing-masing. Ibu yang selama ini aku rawat dengan baik juga jadi urusanmu sekarang." Bisikku pelan tapi tegas.


'Jadi selama ini kamu tidak ikhlas merawat ibuku, hah?" tanyanya gusar, wajahnya sangat dekat di telingaku sehingga terdengar jelas tuduhannya yang di bisikan padaku.


"Ternyata bukan aku yang tidak pintar, tapi kamu, Mas! Tidak bisa mengartikan maksud penjelasan ku, eh, malah salah pemahaman" lirihku.


Mas Bayu menghembuskan napasnya cepat di samping telingaku sehingga pipiku terasa hangat. Dia sangat kesal? Biar saja, dia tak suka dengan perkataanku aku pun sudah tidak peduli.

__ADS_1


Belum sempat Mas Bayu menimpali ucapanku, ibu berbatuk dan meminta di ambilkan minum, sepertinya ibu tahu kami saling beradu mulut tadi.


Buru-buru Mas Bayu mengiyakan permintaan ibunya, lalu menuju pintu keluar klinik untuk membeli sebotol minuman di warung samping apotik klinik.


"Han. dari dulu Bayu sangat mencintai Dini. Kamu harus memaklumi kelakuan suamimu saat ini. Usiamu kan hampir empat puluh tahun kan? Umur segitu apa enaknya jadi janda? Tidak usah mengancam mau pergi dari rumah segala," lirih ibu mertua di telingaku, membuatku heran dengan kata-katanya masih saja terdengar menyakitkan meskipun dia sedang di dera sakit.


"Maksud ibu? aku harus berbagi suami dengan wanita lain?" jawabku tak kalah lirih tapi aku tekan suaraku agar ibu tahu aku tidak setuju dengan ucapannya tadi.


"Ya tidak sejauh itu, hanya memberi Bayu waktu sesaat bersama Dini saja. Mau gimana lagi kamu bukan lagi yang pertama di hatinya." Ibu juga menekan suaranya seolah ingin menegaskan posisiku bagi Mas Bayu saat ini.


Aku duduk membeku, aneh, ibu mertuaku juga seorang perempuan, kenapa dia tak bisa memahami sakitnya hatiku yang merasa di buang begitu saja dari hati suamiku lalu harus digantikan oleh sosok Dini yang tiba-tiba muncul di antara kami?


"Hani, kamu paham kan?" ibu mertua menyentuh bahuku.


Aku hanya diam, sesaat hampir lupa jikalau kamu sedang di klinik untuk bertemu dokter dan memeriksa kondisi ibu yang kurang sehat. Kenyataannya ibu mertuaku ini masih sanggup bicara padaku layaknya orang sehat saja.


Aku mengalihkan pandangan ke pintu ruang periksa, berharap ibu segera masuk ke dalam sana agar aku bisa pulang ke rumah dan membawa Fahmi pergi bersamaku.


"Hani, kamu marah?" tanya ibu tersendat, membuatku tiba-tiba saja teringat pada ibuku sendiri.


Melihat ibu mertuaku yang memandangku tanpa ras bersalah membuat ku teringat pesan mendiang ibuku saat aku akan di boyong ke rumah ibu mertuaku usai akad nikah dulu, "Anggap ibu mertuamu sebagai ibumu, bahkan jika dia berlaku buruk padamu, jangan sampai sifat baikmu hilang karena keburukannya. Jangan sampai sikap sabarmu hilang karena di kecewakan ibu mertuamu."


Terlalu berat nasehat almarhum ibuku itu untuk aku coba ikuti kini. Aku menarik napas panjang, memperbesar kesabaran ku.


"Tidak, Bu. Hani tidak marah, hanya kecewa karena ibu sebagai mertuaku yang sudah aku anggap ibu sendiri justru tidak bisa memahami perasaanku," akhirnya aku bisa berkata jujur.


"Ibu hanya...."


Kata-kata ibu tidak bisa di lanjutkan kembali karena melihat Mas Bayu sudah datang membawa minuman yang di inginkan ibu tadi. Pria yang sangat aku puja itu segera melayani ibunya. Andai dia juga bisa berlaku seperti itu padaku sebagai istrinya... huft, kenapa harus ada bayang-bayang Dini di antara aku dan suamiku? lirihku pilu di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2