
Aku memejamkan mata menahan luka, menyadari jika wanita lain itu saat ini benar-benar sudah menjadi yang pertama menghuni kehidupan suamiku. Kini tanpa malu lagi, dia menunjukkan pada ku jika dia selalu ada di dekat Mas Bayu.
Rasanya belum lama aku lah yang selalu di cari Mas Bayu setiap dia baru datang dari tempat kerjanya. Dia akan menatapku terpukau saat kami sudah di kamar berdua, memandang mesra diriku yang terlihat menggoda dalam balutan gaun tidur yang memikat matanya.
Namun, sejak malam-malam itu, sejak suamiku pulang lebih larut tanpa gairah untuk menyentuh ku lagi, aku merasa bukan lagi ratu di hatinya. Dan, Dini, wanita itu lah yang tiba-tiba datang membawa awan kelabu menebar hujan air mata dalam pernikahan ku.
Aku pun sudah mencoba merebut lagi hati suamiku, bersikap lebih agresif merayunya ke dalam pelukanku kembali, aku juga mulai rajin perawatan dari wajah sampai ujung kaki. Namun, itu tak cukup, tetap membuat suamiku menguji kuatnya kesabaranku, dia lebih memilih wanita dari masa lalunya itu.
Aku telah goyah untuk masih menganggap Mas Bayu sebagai suamiku sejak tahu dia telah tega selingkuh. Namun, aku pernah terbelenggu tertahan rasa ingin terus berkorban dan bertahan demi anak. Aku takut, jika memilih berpisah akan menorehkan luka di hati buah hatiku. Namun, akhirnya aku tak bisa meluaskan kesabaranku lagi dan memilih mencoba berpisah.
Bukan sehari dua hari yang aku ambil untuk berpikir masak-masak. Tapi kini terbukti jika perpisahan dengan Mas Bayu tetap melukai jiwa putraku, hingga dia menghilang entah kemana pagi ini.
"Hani? kamu dengar aku ngak, kenapa diam saja? Fahmi ada bersamaku, jemput kesini, dia ngak mau pulang dengan ku." Gertakan Mas Bayu dari ujung sambungan telepon menyadarkan nestapa yang sedang kerenungi.
"Iya, Mas. Kalian dimana?" jawabku gugup.
Kudengar Mas Bayu menyebutkan sebuah tempat di dekat sekolah Fahmi, ku dengar juga gerutu Dini yang menganggap ku hanya bisa membuat masalah saja. Aku menahan kekesalan, menjaga kewarasanku untuk tak tersulut amarah karena putraku lebih penting bagiku saat ini.
Bagai induk ayam yang akan menyerang siapa saja pengganggu anak-anaknya, seperti itulah aku saat ini. Ku anggap Mas Bayu sebagai biang masalah bagi ketenangan jiwa anakku dan aku siap untuk menyerangnya hingga sadar dengan kesalahannya.
Mobilku kembali melaju kencang, untung saja aku juga berada tak jauh dari sekolah Fahmi jadi bisa lebih cepat sampai ke tempat yang di sebut Mas Bayu tadi.
Aku sudah sampai di sebuah warnet yang ramai pengunjung saat ini. Nampak olehku Fahmi berdiri membisu dengan wajah lesu di sudut tempat parkir, jauh dari tempat ayahnya berdiri. Sedangkan Dini, dia berdiri sangat dekat di samping Mas Bayu di dekat mobil suamiku terparkir.
__ADS_1
Aku masih di selimuti heran dan tanya, untuk apa putraku bolos sekolah dan di temukan ayahnya berada di warnet itu.
Begitu melihatku datang, Fahmi menunduk dalam, tak sanggup menatapku. Bukannya rasa marah karena Fahmi bolos sekolah dan berbohong padaku, tapi rasa bersalah dan pilu lebih menguasai diriku. Aku dan Mas Bayu lah penyebab perilaku buruk Fahmi kali ini, aku sadari itu. Ku hampiri Fahmi, lalu memeluknya dengan lega karena telah menemukannya.
Kekesalan yang sebelumnya ingin aku keluhkan saat bertemu Mas Bayu, ingin meneriakkan jika dirinya penyebab putraku terganggu ketenangan jiwanya dan berani bersikap buruk meninggalkan jam sekolah, seketika menguap saat melihat keadaan Fahmi yang terdiam lesu penuh rasa bersalah padaku. Aku mendahulukan cepat membawa Fahmi dari tempat itu, daripada mengadili kesalahan suamiku.
"Kita pulang, Nak" lirihku. menahan kesedihan, sekuat hati tetap tersenyum mengusir air mata yang ingin keluar.
Tergesa, Mas Bayu berjalan dari samping tempat parkir mobilnya, menghampiri kami yang akan melangkah ke arah mobilku. "Lihat akibat ulahmu, Hani. Anakmu jadi berani..."
"Tolong diamlah, Mas. Aku kenal betul siapa Fahmi, aku yang akan mengurusnya" Aku cepat memotong perkataan Mas Bayu, sebelum ucapannya lebih memperdalam luka hati putraku yang mendengarnya ingin menyalahkan ku.
Mas Bayu tak peduli dengan ucapanku, dia tetap mengayun langkah, bahkan wanita yang bersamamnya itu juaga ikut menderap kaki jenjangnya mengikuti di belakang suamiku.
Pria itu, pria yang dulu aku yakini tidak akan sanggup bersikap kasar padaku, kini jauh dari sosoknya yang aku kenal dulu. Dia lebih tajam berucap, lebih buruk bersikap dan tidak lagi menatapku layaknya orang yang pernah menyimpan cinta di hatinya untukku.
"Diam lah, ayah! Bunda tak salah. Aku yang salah sudah menyusahkan bunda. Tolong jangan temui kami lagi. Jangan pernah coba-coba jemput aku dari sekolah. kami lebih suka tinggal sama bunda saja." Fahmi berdebat ancaman ayahnya dengan lantang dan berani, Dia membela harga diri ibunya di depan sang ayah dan selingkuhannya.
"Ya ampun, Mas. Istrimu diam saja mendengar Fahmi berani menghardikmu. Ibu macam apa dirinya?" Dini ikut saja memperkeruh kemarahan suamiku, membuatku menatapnya tajam.
Sama seperti Fahmi juga menunjukkan rasa kesalnya. Dia menarik pelan tanganku untuk segera berlalu dan melemparkan sejumlah uang dari genggaman tangannya ketanah tepat di samping ayahnya.
Aku menatap lembaran-lembaran uang itu dengan terkejut. Apa yang sebenarnya telah terjadi sebelumnya?
__ADS_1
Aku menenangkan hati, mengikuti langkah Fahmi menuju ke mobilku, menyimpan sederet tanya yang membuatku gelisah. Memilih untuk menanyakannya nanti saja setelah putraku tenang kembali, aku cepat melajukan mobil menjauh dari Mas Bayu dan wanita tak tahu diri itu.
Seharusnya aku kembali ke kantor lagi sebelum sore untuk absen sidik jari saat jam pulang kantor. Namun, aku tak peduli lagi pada pekerjaanku yang terancam terlepas andai ketahuan ku tinggalkan kerjaan karena urusan pribadi tanpa izin atasanku.
Menang tender? itu juga rasanya akan melayang lepas dari genggamanku karena aku mangkir dari pekerjaan di saat tergenting penentuanku bisa ikut presentasi atau tidak.
"Maaf, Bunda"lirih Fahmi saat kendaraan mulai kujalankan pelan menuju rumah kontrakan kami.
"Iya, Nak. Ada yang ingin kamu katakan pada bunda? katakan saja bunda tak akan marah. Bunda hanya kecewa karena kamu berbohong."
"Nggg, aku...Aku tadi coba cari uang untuk bunda. Tadi pagi saat bunda beli nasi uduk untuk sarapan, aku lihat bunda cari uang di dompet, di kantong tas, sampai saku baju. Ku pikir bunda sedang kehabisan uang. Jadi aku..."
"Maaf, Nak. Bunda yang seharusnya minta maaf." Aku menepikan mobilku, meski sudah sekuat hati tak luruh, namun tangisanku tak tertahan lagi. Aku menutup wajah, menguatkan diri lagi.
Fahmi mengambil tisu untukku, kembali meminta maaf," Aku coba menjadi penjaga warnet tadi, ayah melihatku dan memberikan sejumlah uang yang aku pikir bisa untuk makan malam nanti. Tapi karena kesal, ku lempar lagi uang itu. Aku minta maaf, Bunda."
Aku semakin tersedu, betapa sayangnya putraku pada bundanya, dia bahkan ingin bisa menghidupiku. Dia tak salah, usianya belum cukup untuk menilai jika tindakkannya salah meski tujuannya tujuannya benar.
"Bunda punya uang, Nak. Tadi pagi hanya belum sempat ambil di ATM. Jang ulangi lagi berbohong pada bunda, setiap ingin bertindak mintalah dulu pendapat bunda. Tugas Fahmi hanya belajar yang rajin, oke?" Aku berkata lagi setelah bisa menguasai diriku.
Lega rasanya, setelah kami berdua mengurai kesalahan kami berdua. Kulajukan lagi kendaraan. Saat hampir sampai di kontrakan Luluk menelponku. Aku hanya memandangi layar ponselku, tidak berani menerima panggilan telepon dari sahabatku itu. Aku belum siap mendengar berita yang akan di bawanya dari kantor untukku, kubiarkan dering panggilan itu sampai tak terdengar lagi.
Ponselku bergetar lagi, kali ini Luluk mengirim sebuah pesan lewat aplikasi hijau. Sepertinya sangat penting kabar yang ingin di sampaikannya. Namun, aku sungguh belum siap untuk membaca pesan masuk darinya. Kuatkan aku ya Allah...
__ADS_1