
Part Dini
"Ibu tidak tahu ada apa dengan kalian. Setiap tengah malam ribut tak kenal waktu. Tiap ibu nasehati, kalian diam sebentar lalu ribut lagi. Rasanya ibu ingin pergi ikut Hani saja!"
Wajah Bu Rukmini yang sudah berkerut itu semakin nampak tua saja menahan rasa kesal. Ibunya Bayu itu marah-marah seraya menunjuk aku dan anak lelakinya bergantian. Ia meneruskan lagi sederet petuah menjadi istri yang baik untuk kudengar. Namun, semua ucapanya bagai angin lalu yang berhembus dalam pendengaranku hingga tak masuk ke sanubari.
Aku berdiri di samping kursi tamu, memalingkan wajah. Wanita paruh baya itu sangat menyayangiku awalnya, tapi kini ia mudah kehilangan kesabaran. Sejatinya tak ada yang berbeda denganku, aku masih bersikap baik pada ibu dan anaknya itu. Merekalah yang berubah sikap sejak Hani dan anaknya pergi selamanya dari rumah ini.
Dari ekor mataku, bisa kulihat Bayu memapah ibunya kembali ke kamar, tanpa memedulikan aku. Gigiku saling beradu menahan kecewa, terduduk aku sesaat termenung di kursi tamu, sebelum akhirnya tergesa melangkah ke kamar.
"Coba kamu minta maaf duluan sama suami, anakku itu selalu luluh tiap Hani minta maaf." Wanita yang kini jadi mertuaku itu, menahanku saat aku melewati pintu kamarnya yang belum tertutup.
"Dini ngak punya salah, Bu. Gimana mau minta maaf."
"Ya minta maaf saja, asal suamimu tenang hatinya," desak ibu.
'Aneh! ngak salah kenapa minta maaf!' kataku mengeluh dalam hati
"Kamu dengar tidak, Dini!"
"Iya, Bu, aku minta maaf nanti kalau Bayu minta maaf duluan," ucapku lirih meninggalkan wanita lanjut usia itu berdiri sendirian mematung di sela pintu kamarnya.
__ADS_1
Hani lagi, Hani lagi! Seenaknya ibu bandingkan ia denganku untuk kuteladani. Selangkah lagi tiba di kamar yang dulunya kamar Bayu dan Hani, aku semakin kesal dan berbelok ke arah kamar Fahmi dan masuk ke dalamnya. Di ruangan yang bernuansa serba biru melon itu, aku tumbang, air mata tumpah memaksa ujung jariku menyeka sudut mata menahan sesak sendiri.
Kukira aku akan menjadi wanita istimewa dengan tinggal di rumah ini. Rumah yang banyak menyimpan kenangan indah diantara aku dan Bayu. Aku menghela napas, semakin tenggelam dalam tetesan hangat yang tak henti mengalir meluncur deras di pipiku.
Terjerembab di atas tempat tidur Fahmi yang lembut, tak kudengar sedikitpun Bayu memanggilku yang tak menyusulnya ke kamar. Malangnya aku, tak bisa terlelap dan menangis sendirian sampai pagi hampir menjelang. Semua karena perempuan bermata coklat bernama Hani.
Tetap tak bisa memejam mata, aku bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Kurasa, aku sedang mengalami apa yang disebut sebagai 'memaksakan kehendak'. Di dunia ini, segala sesuatu yang 'dipaksakan dengan cara merenggut milik orang lain' mungkin akan berakhir dengan rasa sakit. Aku menyadari itu, namun akalku kalah oleh angan yang ingin kuraih.
Meringkuk, aku merindukan diriku yang dulu masih bersih dari dosa zina, seorang Dini yang berani menatap masa depan karena kepandaian yang dimiliki. Bagaimana pun setiap manusia ingin hidup bahagia dengan menjadi dirinya sendiri.
"Hidup itu bagaikan kamu dan sorot cahaya. Sebuah bayangan akan mengikuti pemiliknya. Di jalan mana kamu memilih menapak, di situ bayanganmu akan tercipta." Mama berpesan padaku saat aku mengabarinya akan menikah siri dengan Bayu di wakili oleh hakim karena papa sudah berpulang.
Sekarang aku baru paham maksud mama. Kini bayanganku serupa seseorang yang tak pernah memiliki tempat. Aku dipersilahkan masuk ke rumah ini namun sebagai orang asing yang diletakkan di ruang paling usang, dan biarkan tinggal untuk ditinggalkan.
****
"Kamu lihat ini? Salinan tanda terima sejumlah uang dari bagian keuangan untuk biaya eksplosit paten produk. Di situ tertera tanda tanganmu. Tapi uang itu tak sampai pada rekanan advertising yang berhak menerima." Aku melambai-lambaikan sehelai kertas salinan itu di depan wajah Bayu.
"Kamu licik. Dimana uang itu sekarang? Tak apa, aku masih bisa melacak lewat transaksi di bagian keuangan perusahaan."
"Ngak akan bisa, sayang. Manajer keuangan tahunya uang sudah di tanganmu. Transaksinya ke tanganmu. Aku sudah mencairkan pakai surat kuasa dan tanda pengenalmu. Kamu lupa sudah tanda tangan juga surat kuasa untuk menguras isi rekeningmu? Hahaha." Aku tertawa puas meninggalkan Bayu yang tengah bersiap menikmati masakan ibunya pagi ini.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Tak perlu ke kantor daripada menanggung malu. Bye bye Bayu, aku tunggu di suatu tempat nanti. Cari saja aku."
Setengah berlari aku keluar rumah dan mengunci pintu dari luar. kutaruh kunci itu di pot bunga lalu melangkah santai ke mobilku. Perlu waktu bagi Bayu untuk bisa mengejarku. Tak mungkin ia bisa keluar dari jendela yang sudah kokoh terpasang teralis besi. Sebelumnya aku juga sudah mengunci pintu belakang rumah, semua sudah kurencanakan dengan baik. Aku ingin penderitaanku di rumah itu terbayarkan dengan melihat hidup Bayu lebih hancur dariku.
Buru-buru aku memacu mobilku menuju sebuah perusahaan ternama yang akan menjadi tempat kerjaku selanjutnya.Aku melesat di jalanan menyalip kendaraan-kendaraan dengan kecamuk di dada. Senandung kecil mengalun merdu dari lisanku, menutupi hatiku yang berdarah menahan pilu.
I am brave
I am bruised
I am who ICM meant to be, this ia me
Tak sanggup kuselesaikan senandung itu, hatiku lebih dulu merepih hingga pandanganku kabur tertutup bayang-bayang air mata. Kuusap cepat kedua mataku, mengusir tangisan yang sudah hampir pecah.
Sekarang, aku hanya tinggal menunggu Bayu hancur kariernya hingga tak punya apa-apa lagi. Bagaimana jika pria itu justru kembali mengejar Hani dan bukan mencariku? Aku bisa menilai karakter perempuan bermata coklat itu dengan baik dari semua sikapnya selama kukenal. Rasanya tak mungkin ia akan menerima Bayu kembali.
Ponselku berdering tak henti. Pak Dito Wardhana meneleponku dan aku mengabaikannya. Yes, kehancuran Bayu akan segera bergulir.
Sekarang, aku harus menemui seseorang dulu sebelum menuju tempat tinggal rahasiaku. Seorang dari masa lalu Julio. Sosok yang kuanggap bisa membantuku menenggelamkan mimpi Hani untuk bersanding dengan putra dari pemilik Superindo. Aku begitu kesal selalu dibandingkan dengan perempuan bermata coklat indah itu. Tak rela rasanya melihatnya bahagia karena perempuan itulah sumber datangnya kepiluan hidupku.
Sebuah bangunan kokoh menjulang di depaku. Wanita yang sudah kuhubungi lewat telepon kemarin itu telah menunggu kehadiranku. Salsabila namanya, wanita yang kucari keberadaannya lewat sosial media, lalu bertukar nomor telepon dan seiya sekata mencapai tujuan yang sama.
__ADS_1