KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
BAB 21. HARI-HARI YANG BERAT


__ADS_3

Jemariku masih gemetar memegang kemudi, bimbang untuk membuka pesan dari Luluk saat ini juga atau nanti saja. kulambatkan laju kendaraan meski masih jauh menuju kontrakan. menenangkan hati saraya terus menimbang.


"Bunda beneran masih punya uang? Kalau ponselku di jual aja juga ngak apa-apa untuk beli makanan sampai bunda gajian nanti" tutur Fahmi menatapku sungguh-sungguh.


Aku menatap Fahmi yang duduk di samping ku dengan rasa haru. Rasanya belum lama kedua tangan ku menuntunnya mengajari berjalan, kini dia telah tumbuh menjadi remaja yang tangguh dan berfikir dewasa, ingin menjelma menjadi tulang punggung untuk ku dalam sekejap waktu karena perpisahan ayah dan bundanya.


Aku menggeleng seraya mengembangkan senyuman getir, merasa perih menyadari putraku tahu kehidupan kami tidak lagi sama. Dia bahkan rela ingin melepas ponsel yang jadi penghubung kami saat harus berbagi kabar dari jauh.


"Iya bunda masih punya tabungan. Tadi pagi bunda sudah ke ATM, kok. Jangan cemas Allah Kaya. Rezeki sudah di atur sama Allah, meski ayah tidak serumah Dengan kita lagi tapi bunda kan sudah kerja sekarang."


Fahmi mengangguk lega, dia kembali menatap jalanan yang padat dan mulai lagi mengarahkan laju mobil ku.


Aku menegakkan punggung di sandaran kursi mobil, letih sekali rasanya jiwa dan ragaku. Kuraih kembali ponsel dari dashboard mobil, menarik nafas panjang memberanikan diri membuka pesan dari Luluk.


(Pak Kevin ingin kamu menghadapnya sore ini juga, ditunggu sampai jam lima sore. Dia mau dengar sendiri darimu alasan mangkir kerja siang tadi. Jangan takut, jujur saja. Good luck)


Aku membesarkan bola mataku usai membaca pesan dari Luluk. Kembali masalah besar sedang menunggu ku. Sekarang sudah hampir jam empat sore, semoga jalanan tidak semakin padat saat jam pulang sekolah dan jam pulang kerja.


Cepat aku balas pesan dari Luluk dengan ucapan terima kasih dan meminta doanya agar semua aman dan baik-baik saja.


"Fahmi capek ya? Minum dulu sayang" kataku saat ku lajukan mobil.


"Bunda harus kembali lagi ke kantor sebentar, ada keperluan penting, tapi ngak cukup waktunya kalau antar kamu pulang dulu. Gimana kalau ikut bunda ke kantor bentar?" sambungku.


"Ngak apa-apa Bun." jawab Fahmi dengan semangat.


Mataku berbinar melihat wajah tulus anakku. Hatiku yang tadinya sempat patah karena terbebani harus kesana kesini dalam waktu singkat, kembali bersemangat, tidak lagi ciut nyali membayangkan wajah atasanku yang siap mengadili kesalahan ku hari ini.


****

__ADS_1


"Bu Hani, tahu saya panggil karena apa?" tegas suara Pak Kevin menyapa telinga ku, namun aku berusaha tegak di tempat dudukku.


"Iya Pak. Saya melakukan sebuah kesalahan."


"You see? ibu punya banyak masalah sepertinya. Bagaimana ibu bisa tenang mau tetap ikut presentasi besok lusa?" kembali Pak Kevin berkata dengan suara meninggi.


"Iya, Pak. Saya memang punya masalah keluarga. Saya baru berpisah rumah dari suami, ada wanita lain dalam pernikahan kami. Tadi putra saya menghilang dari jam sekolahnya, jadi saya langsung mencarinya setelah pekerjaan saya selesaikan setengahnya." Aku memilih jujur, seperti saran Luluk. Setelah jujur aku hanya bisa tawakal pada Allah.


"Hmmmmm, begitu? Saya hanya butuh karyawan yang mandiri, disiplin dan bisa di percaya. Perusahaan ini butuh orang yang bisa tampil maksimal untuk kejar proyek iklan dari perusahan besar, jadi...." Pak Kevin diam sesaat, menatapku bimbang.


"Saya tidak sempat izin langsung sama bapak, terdesak keadaan. Jika putra bapak menghilang, apa bapak akan sempat memikirkan hal lain selain ingin segera menemukannya?" aku menyela ucapan Pak Kevin sebelum atasanku itu mengucap sebuah keputusan untuk ku.


Jujur dan jujur hanya itu satu-satunya jalan yang jadi harapan ku untuk bisa memperbaiki kesalahanku.


"I see. Tapi peraturan tetap lah peraturan. Saya tidak boleh membeda-bedakan karyawan. Apapun alasannya, kamu tetap salah mangkir kerja tanpa izin." tuding Pak Kevin sangat tegas.


Aku seorang ibu tidak ada yang lebih penting dari keselamatan anakku. Pekerjaan dan uang masih bisa dicari lagi andai akhirnya aku harus kehilangan pekerjaanku.


Pak Kevin masih saja diam, hanya menatap ku tak berkedip.


"Saya bukan orang yang tidak bertanggung jawab. Nyatanya saya kekeh mendahulukan keselamatan anak saya sebagai tanggung jawab sebagai ibunya. Saya jadikan kerja sebagai tanggung jawab kedua. Menurut saya itu adalah tindakan yang benar. Saya punya prioritas, bukannya saya tidak bisa membagi waktu."


"Begitu? Bagaimana jikalau pekerjaan harus selesai saat itu juga, apa ibu akan tetap pergi dari kantor?"


"Jika bapak ada di posisi saya saat itu, boleh saya tahu apa yang akan bapak pilih lebih dulu di utamakan?" Aku memberanikan diri negosiasi situasi, meski kecil kemungkinan aku akan di anggap tetap benar.


"Emmm, saya? Saya juga akan pergi mencari anak saya lebih dulu. Hanya saja, saya sebagai ayah yang baik tentu tidak mungkin punya anak yang berani kabur dari sekolah. Saya pasti telah didik anak saya sebaik mungkin agar tidak menyusahkan saya seperti itu." Pak Kevin membalikkan pertanyaan ku dengan telak.


Aku menunduk, kehabisan kata dan tidak sanggup lagi berpikir mencari sebuah pembelaan diri lagi. Aku sudah terlihat jelas tetap salah di mata atasanku itu. 'jangan takut jujur saja,' kembali terbayang pesan yang ku baca dari Luluk, hingga timbul lagi keberanian untuk bertahan.

__ADS_1


"Iya, Pak. Hanya saja, saya kenal betul sifat anak saya. Anak sebaik Fahmi bisa bolos, itu yang membuat saya merasa ada yang tidak wajar hingga harus cepat menemukannya."


Alasan terakhir ku untuk membela diri sudah aku utarakan, aku sudah tak berharap dan pasrah kesalahan ku bisa di maafkan atau tidak.


Pak Kevin tersenyum lebar, membuatku bingung.


"Bu Hani cukup tangguh dan gigih mempertahankan pendapat. Saya suka cara ibu berdiplomasi. Terlepas dari kesalahan yang ibu perbuat, bukan berarti saya membolehkan mangkir dari kerja tanpa izin lagi." Pria seusia Mas Bayu itu mulai menurunkan nada suaranya.


"Sebenarnya Bu Luluk sudah menjelaskan semuanya pada saya. Tapi saya butuh menyakinkan untuk memastikan lagi. Perdebatan kita tadi, sengaja saya ingin menguji ketenangan sikap ibu dalam situasi yang buruk." Pak Kevin melanjutkan lagi ucapannya.


Aku masih mencerna maksud kata-kata pria yang berperawakan tak terlalu tinggi dariku itu, lalu tersenyum sambil bertanya," Jadi, Pak?"


"Iya, Bu Hani tetap maju presentasi besok lusa. Tapi ada syaratnya."


"Alhamdulillah. Iya, Pak, iya. Syaratnya apa?"


"Kondisikan diri ibu tetap dalam keadaan fokus untuk siap presentasi. Jika ada masalah dalam rumah tangga, saya hanya kasih saran pastikan anak-anak ada yang jaga atau mengawasi jadi pikiran Bu Hani bisa tenang"


Aku mengangguk paham. "Iya, Pak. Saya paham maksud bapak. Besok saya pastikan semua siap, dan lusa saya akan presentasi dengan maksimal. Terima kasih atas kepercayaannya." bergetar terharu, tersendat kuluapkan kata-kata penuh rasa syukur.


Aku harus mencari orang untuk membantu ku di rumah sekaligus bisa menemani anakku selama aku tinggal berkutat dengan kesibukan pekerjaan. Hanya satu hari waktu ku, masalahnya kini aku tidak punya cukup uang. Apa aku harus pinjam pada Luluk? tapi rasanya sungkan karena Luluk juga pasti banyak kebutuhan sebagai seorang ibu tunggal.


Teringat simpanan perhiasaan milikku yang masih tertinggal di rumah Mas Bayu, aku rasa bisa jadi jalan keluar ku dengan menjual perhiasan itu.


Kembali aku memberi pengertian pada Fahmi untuk ikut bersama ku ke rumah neneknya. Aku harus cepat tiba di rumah itu sebelum Mas Bayu pulang. Selain malas bertemu dengannya, aku yakin dia akan menghinaku yang kehabisan uang.


Tiba di rumah besar yang pernah aku tempati hampir enam belas tahun lamanya itu, aku meminta Fahmi menunggu di mobil saja, agar mempersingkat waktu dan tidak membuat ibu mertuaku menahan cucunya untuk tetap di sini.


Aku mengetuk pintu dan mengucap salam, menunggu di bukakan pintu rumah dengan perasaan cemas tak terkira.

__ADS_1


__ADS_2