
"Kamu ngak ingin cari tahu apa yang terjadi?" tanya Luluk padaku usai kuceritakan mangkirnya Dini dan Bayu dari tempat kerja tanpa kabar.
"Penasaran, sih. Aku cemas sesuatu terjadi pada Mas Bayu."
"Ciee yang masih mencemaskan calon mantan suami. Julio buat aku saja, nih?" goda Luluk meledekku.
"Hust. Bayu itu tetap ayahnya Fahmi. Jika ia dalam masalah, sudah tentu aku cemas anakku akan sedih nantinya," jawabku cemas.
"Iya, percaya. Kenapa ngak telepon saja, cari tahu, dong."
"Ngak lah. Nanti Bayu merasa masih kuberi perhatian. Eh, reward liburan luar negerinya jadi tertunda nunggu duitnya turun. Kamu ingin kemana?" Aku berusaha menepis kecemasanku, mengalihkan pembicaraan kami.
"Ingin liburan lihat patung singa di paris," jawab Luluk tergelak, seketika membuatku ingat gurauan Pak Julio kala itu.
"Hehehe. Gimana kalau ke belanda, ibu mertua ingin sekali bisa ke Korea sana. Aku jadi penasaran ingin lihat Korea juga."
"Ya sudah ke Korea saja. Ajak ibu mertuamu, minta bantuin bawa tiker buat gelaran di bawah pohon sakura gitu, haha. Dah ah, kerja lagi kita." Luluk tertawa sejenak, lalu kembali serius menekuri laptopnya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala gemas, Luluk suka terlalu kalau meledek orang. Sampai ibu mertuakupun jadi bahan ledekkannya.
"Sidangmu sudah tinggal nunggu putusan cerai kan, ya?" Luluk bertanya sekilas.
"Iya," jawabku singkat juga.
"Good."
tersenyum aku menanggapi Luluk, namaun hatiku merepih ... aku akan menjadi seorang janda, sebuah fase hidup yang tak pernah kubayangkan akan hadir dalam kehidupanku. Aku menghembuskan napas pendek, berusaha mengembalikan kosentrasiku pada pekerjaan.
Detik waktu bergulir, sore pun menjelang. Saat aku dan Luluk bersiap pulang, kami dikejutkan dengan kedatangan Pak Kevin menemui kami di ruang kerja yang sudah hampir kami tinggalkan.
"Seharusnya tenggat waktunya hanya sampai sore ini uang royalti dari Superindo sudah harus masuk. Mungkin Pak Bayu sedang ada kesulitan yang kita belum tahu sebabnya," ujar Pak Kevin seraya meminta maaf pada kami karena royalti kami tertahan.
"Ngak papa, Pak. Salah kami juga, waktu itu kita tidak langsung follow up pembayarannya. Moga yang tiga proyek besar ini lancar jaya." Luluk menimpali dengan sopan dan santai.
Pak Kevin mengangguk sembari mengacungkan jempolnya. "Bu Hani tidak dihubungi Pak Bayu?"
__ADS_1
"Eemm, tidak ada, Pak. Apa saya harus hubungi segera?" tanyaku ragu.
"Kalau tidak keberatan. Tapi, bisa juga kita tunggu saja kabar dari Superindo lagi, itu sudah kewajiban mereka selesaikan royalti tepat waktu. Masalah Pak Bayu itu masalah internal mereka sih."
"Iya, Pak Kevin benar." Luluk menimpali ungkapan atasan kami itu.
"Baiklah, saya merasa tenang lihat kalian tidak masalah dengan penundaan royalti. Silahkan pulang duluan, saya ada janji ketemu seorang calon rekanan branding lagi. Semoga deal dan jadi rezeki kalian." Pak kevin tertawa kecil.
"Siap, Pak. Dari perusahaan apa?" tanya Luluk ingin tahu.
"Unifarma. Bu Salsabila minta ketemu sore ini karena waktunya padat, ya sudah terpaksa saya yang harus pulang lewat dari jam kerja," kata Pak Kevin seraya mengangkat bahu.
Luluk mengangguk tersenyum sebagai apresiasi keuletan atasan kami dalam menjaga relasi dengan customer. Dengan sungkan aku dan Luluk pun pamit pulang lebih dulu.
Berjalan santai bersama Luluk, namun pikiranku tak bisa tenang, terus tertuju pada Mas Bayu. Aku didera rasa ingin tahu kiranya uang sebanyak itu kenapa bisa tertahan entah dimana. Apa Mas Bayu memakainya untuk keperluan pribadi bersama Dini? aku menerka cemas, khawatir jika ayah dari anakku itu dalam masalah yang bisa membawanya ke ranah hukum.
Sinar matahari sore membuatku berpacu untuk cepat sampai di sekolah. Takut jika Fahmi sudah menungguku lama, tapi di tengah jalan aku baru teringat kalau Fahmi ada kelas ekskul.
Kulambatkan lagi laju mobil. Seperti biasanya, aku harus menunggu sekitar satu jam hingga Fahmi keluar dari kelas ekskulnya.
"Habis rotinya?" Sebuah suara terdengar dari samping jendela mobil yang terbuka, mengusik keseruanku yang asyik menunduk makan roti sambil membaca pesan-pesan di grup WA kantor yang berisi candaan rekan-rekanku.
"Iya, ini sisa separo punya bunda. Punya masih, kok. Kamu mau?" tanyaku seraya mendongak.
"Mau, sini." Sepasang mata teduh itu menatapku sekilas menahan tawa.
"Duh, maaf. Aku kira Fahmi," ucapku gugup saat ternyata Pak Julio yang berdiri di samping jendela.
Pria jangkung itu tertawa seraya memberi isyarat dengan jempolnya jika ia paham ketidak sengajaanku.
"Bu Hani, ini sudah kubuat draft kerja sama kita untuk model iklan butik. Pelajari, ya. Besok kabari lewat Fahmi kalau sudah fix setuju."
"Iya, Pak Julio."
"Eh iya, mama ingin bertemu Bu Hani dan Fahmi. Tapi kalau nunggu selesai urusan sidangnya kok kayaknya undanganku yang dulu harus diundur lama, ya. Gimana kalau mama yang main ke rumah saja. Biar diantar sopir. Tenang saja, aku ngak ikut, kok."
__ADS_1
"Wah, aku yang muda malah didatengin yang lebih berumur. Maaf jadi ngak sopan."
"Ngak apa-apa. Mama yang ingin. Aku malah yang ngak sopan, maksa izin untuk bertamu. Mama kangen cucunya tapi keponakanku tinggalnya jauh, pengin ketemu Fahmi katanya."
Aku mengangguk dan menjelaskan lagi jika benar-benar tidak keberatan menerima kedatangan Bu Dito.
"Oh y, Fahmi mana, ya? tanyaku.
"Bentar lagi selesai, masih utak atik tugas bikin logo produk minuman kekinian. Aku balik kelas dulu. Hati-hati nanti pulangnya." Pria bermata teduh itu pamit meninggalkanku yang masih di dalam mobil. Aku hanya memandangnya dan melanjutkan menikmati roti yang tinggal separo.
Seperti setengah hati, Pak julio melambai padaku enggan untuk berpisah. Aku menatap punggung tegap itu hingga hilang dari pandanganku.
Meski lelah, aku tetap tersenyum bersemangat mengantar dan menjemput dalam semua kegiatan anakku. Hari ini, hampir maqrib kami baru tiba di perumahan.
Betapa terkejutnya aku, dari kejauhan bisa kulihat mobil SUV milik Mas Bayu terparkir di depan pintu gerbang rumah kontrakan kami.
Tergopoh, Mas Bayu menghampiriku yang baru turun dari mobil. Wajahnya kusut menampakkan gurat keresahan yang hebat.
"Ada apa, Mas?" tanyaku cepat.
"Aku butuh bantuanmu. Aku ada keperluan ke luar kota beberapa hari. Boleh titip ibu di sini? Mbak Min sudah ngak kerja lagi." Mas Bayu berkata dengan gugup, menatapku sayu.
Aku belum menjawab, rasa terkejut masih menyergapku. Hingga pintu mobil Mas Bayu terbuka, hatiku langsung tersentuh melihat ibu mertua dengan wajah pucat dan terlihat lebih kurus turun dari mobil. Aku mengambil kunci dari dalam tas, meminta Fahmi turun dan menemui neneknya, mengantar ibu masuk ke rumah. Fahmi pun salim dengan ayahnya lalu menuruti pintaku.
"Boleh saja, Mas. Berapa hari ibu akan menginap?" tanyaku tulus.
"Aku belum tahu. Urusanku lumayan rumit."
"Dini pulang ke kotanya?" tanyaku lirih.
"Dini pergi, ia memberiku masalah besar."
Pria itu menunduk dalam, tak sanggup menatapku. Tubuhnya tak mampu berdiri tegap, tangannya terkulai di samping badannya. Terlihat jelas masalah besar yang tengah menggelayuti pikirannya.
"Uang itu dipakai buat apa, Mas?" tanyaku lirih ingin tahu.
__ADS_1
Mas Bayu menggeleng lemah, lalu tiba-tiba saja ia menghambur memelukku dengan tubuh bergetar menahan isakan. Aku tergeragap, tak punya ruang untuk melepaskan diri.