
Dalam perjalanan pulang, rasa sesak memenuhi dadaku ini. Sementara Fahmi, dia mengawasi jalanan seperti tadi, mengabaikan perasaan kecewa dalam hatinya.
Rasa penasaran ingin tahu apa yang telah di perbuat Fahmi pada ayahnya tadi begitu menghimpit dadaku, tapi rasanya tidak kuasa untuk bertanya pada putraku itu. Aku hanya bisa menatapnya dari kaca spion.
"Kita mampir di masjid sholat maqrib dulu, ya, baru kita makan malam. Mau makan apa nih? lirihku lembut.
"Apah saja lah bun, yang kelewatan saja. Bakso juga boleh, kan banyak kiosnya di jalan-jalan." Fahmi menjawab sambil melirik ku,
Usai menunaikan tiga rakaat sholat maqrib, wajah Fahmi mulai terlihat berseri lagi, mungkin rasa kesal di hatinya sedikit berkurang.
Aku kembali melajukan mobil. "Kita cari tempat makan, sekalian pulang" kataku mengulangi lagi ucapan yang sama.
"Oke, Bunda" Akhir dari sebuah jawaban kepastian sebelum pulang kerumah.
Di sebuah kios bakso sederhana tapi bersih, kami singgah untuk makan malam. tak lama, dua porsi bakso sudah hampir kami habiskan. Aku bahkan menambahkan banyak sambal untuk meluapkan rasa sesak di dadaku.
Kami bergegas kembali kemobil setelah mengisi perut dan merasa lebih nyaman untuk melanjutkan perjalanan.
"Tadi ngomong apa saja sama ayah waktu di gazebo restoran?" tanyaku lirih saat mobil belum lagi aku nyalakan, dan aku lihat Fahmi sudah duduk tenang di jok belakang.
"Kenapa, Bun? Ayah yang tadi telepon bunda kan? Apa ayah marah?" Fahmi balik tanya padaku.
"Gaak, ayah ngak marah. Ayah malah titip pesan agar hati-hati di jalan, kan sudah mau maqrib." aku berkata gugup, sedikit berbohong.
"Benar ayah gak marah? Bunda bohong kan? Fahmi sedikit bersikap kasar tadi sama ayah. Habisnya ayah ngak mau di ajak pulang." Fahmi menggerutu.
"Itu Bun, kenapa ayah selingkuh, apa ayah ngak punya malu selingkuh di depan umum?. Ayah marah sama aku tadi bahkan hampir mukul." Fahmi berkata dengan sedih, dia menjelaskan apa yang di ucapankannya tadi padaku.
__ADS_1
Aku terkejut, seketika di dera rasa sesak putraku sampai berani berkata tidak sopan pada ayahnya meski ayahnya memang bersalah. Yang lebih membuat ku merasa bersalah adalah karena kerumitan dalam masalahku Fahmi hampir saja di pukul oleh ayahnya.
Sekarang aku tahu kenapa Mas Bayu sangat marah pada Fahmi, ucapan putraku sudah membuatnya merasa kehilangan harga diri di depan anak. Menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mencoba menjelaskan pada Fahmi.
Perlahan ku lajukan mobil mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara dengan santai.
"Kakak, ada hal penting yang nanti ingin bunda katakan," kataku pada Fahmi.
Fahmi memandang ku sejenak lalu mengangguk.
"Kamu lihat koper di bagasi mobil kan?"
Fahmi menoleh ke belakang, mengangkat kepalanya lebih tinggi, lalu menyahut, "Kita mau kemana bunda?"
"Aku baru tahu bunda bawa koper isinya baju?" tanya Fahmi naik ke jok dengan lututnya saat melihat koper di belakang.
Fahmi mengangguk angguk seraya menatapku dengan iba, kesedihan hati ku bisa di bacanya. Dia yang paling paham kerumitan yang aku hadapi sekarang, dia tahu jika aku memilih berpisah sementara waktu karena ayahnya telah bersama wanita lain.
"Oh, jadi kita pindah sekarang ya bun, ngak papa jika bunda ingin menenanngkan diri dulu. Tapi jika ayah masih bersama dengan wanita itu berpisah pun aku akan tetap ikut bunda?" kata Fahmi dengan raut wajah sedih.
Bersyukur aku di karuniai seorang putra yang bisa bersikap layaknya seorang pelindung bagi ibunya, dia mendukung keputusan terberat ku ini. Aku turun dari mobil, segera membeli minuman coklat kegemarannya agar perasaan lebih tenang dan kembali riang.
Hari ini adalah guncangan terberat bagi ku, perih rasanya harus menjelaskan pada Fahmi tetang kehidupan yang kami jalani berdua saja mulai saat ini.
Dia tak lagi banyak bertanya, Fahmi menatapku sedih melihat bundanya berjalan terseok membawa dua gelas plastik minuman coklat menuju mobil.
"Bunda udah capek kayaknya. Sudah kita berhenti lama di sini dulu. Baru nanti kita lanjut ke tempat buat pindah" kata Fahmi penuh perhatian.
__ADS_1
"Gak, papa, sudah dekat kok kontraknya. Habis minum coklat ini, kita jalan lagi"
Ragaku memang letih, jiwaku apa lagi. Nasib presentasi ku baru besok ada ke jelasan, lalu ditambah lagi ulah Mas Bayu tadi yang membuat kacau perasaan anakku, lelah sekali rasanya hatiku.
Perlahan kulajukan mobil, hingga akhirnya sampai ke tujuan meskipun lebih lama dari perkiraan ku. Fahmi cukup senang dengan rumah yang baru kami masuki.
Bergegas kami membersihkan diri, lalu saling membantu menata pakaian. Kami memutuskan untuk tidur berdua dulu malam ini. karena masih merasa asing dengan kamar baru.
Fahmi langsung terlelap begitu membaringkan tubuh di tempat tidur. Aku meraih ponsel, menyalakannya kembali setelah ku matikan sejak terakhir mendapat telepon dari Mas Bayu tadi sore.
Yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Mas Bayu mengirim banyak pesan, menanyakan keberadaan ku dan Fahmi yang tak pulang ke rumah. Banyak juga panggilan telepon dari pria yang sudah berpaling dari ku itu. Aku sadar bukan aku pastinya yang di harapkannya untuk pulang, tapi anaknya.
Aku segera membalas pesan Mas Bayu sebelum kantuk juga menjemput ku. Aku merasa masih harus mengabarinya bagaimana pun dia tetap lah ayah dari anak ku.
( Maaf, Mas. Aku memutuskan membawa Fahmi tinggal bersama ku dulu. Kami sudah dapat rumah untuk di sewa.)"
Pesanku terkirim, aku bisa memejamkan mata dengan nyenyak kini, kami telah tinggal jauh dari orang-orang yang tidak menganggap ku layak untuk di hargai keberadaannya.
Sejuknya pagi mengawali kami di rumah baru. Meski masih terasa kacau karena barang-barang keperluan kami banyak yang tertinggal di rumah lama, namun Fahmi tetap terlihat ceria.
Usai mengantar Fahmi ke sekolah, aku berhenti di sebuah gerai anjungan tunai mandiri. Aku perlu uang untuk berbelanja kebutuhan dapur dan membeli beberapa barang penting yang diperlukan sehari-hari.
Betapa terkejutnya aku ketika tahu kartu ATM yang aku pegang sudah terblokir. Kartu ATM itu memang kartu dari rekening Mas Bayu yang di pegang oleh ku khusus di pakai untuk kebutuhan di rumah. Dan sekarang, suamiku pasti langsung memblokirnya saat tahu aku dan Fahmi tidak pulang ke rumah lagi. Setega itu kah dia kini?.
MAAFKAN AKU KARENA KESIBUKAN KU DI BULAN RAMADHAN JADI UPDATE TERGANGGU. MAAF JIKA BUAT KALIAN YANG MENUNGGU UPDATE TAN KU.
DI BULAN RAMADHAN INI SEMOGA KALIAN SEMUA DALAM LINDUNGAN ALLAH.
__ADS_1
SEKELANGKONG KA ANGGUI PEMBACA SETIA UCAPAN TERIMA KASIH SE ADEK BETESAH 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻