
Salsabila nampak lebih elok rupawan dalam balutan jilbabnya. Aku mengulas senyuman, menyapanya hangat seraya menahan rasa ingin tahu yang membuncah sejak melihat perubahan sikap dan penampilannya.
Wanita cantik itu membalas senyumku sembari membenahi jilbabnya dengan gugup. Nampak jika ia belum terbiasa dengan kain yang menutupi kepalanya itu hingga terlihat kepayahan saat mengenakannya.
"Saya sudah shalat zhuhur dulu tadi di masjid perempatan jalan sana." Salsabila memberi tahu tanpa aku bertanya padanya.
"Alhamdulillah, tepat waktu shalatnya," jawabku seraya mengangguk senang.
"Bu Hani pasti bingung lihat saya seperti ini?" tanya Salsabila sembari menunjuk dirinya yang telah berhijab.
"Jujur, iya. Saya kaget tadi saat pertama lihat Bu Salsabila datang cari saya."
Wanita cantik itu tersenyum lagi. "Wajar Bau Hani kaget. Saya saja masih belum percaya ini kenyataan atau khayalan saya saja."
"Eemm, maksudnya, Bu?" tanyaku tak mengerti.
"Saya juga belum percaya akhirnya saya mencoba merubah diri, mulai dari penampilan dulu. Nanti baru belajar lagi yang lainnya," jelasnya bersemangat.
"Jadi Bu Salsabila sudah mulai berjilbab?" tanyaku terpana.
Wania cantik itu mengangguk. "Saya punya banyak teman, tapi tak ada satu pun yang berani lantang jujur menegur kesalahan saya seperti Bu Hani. Hampir semua teman saya, selalu memuji meski mereka tahu banyak perbuatan saya yang buruk."
"Ah, Bu Salsabila berlebihan. Maaf kalau saya ada salah kata, waktu itu saya hanya menyuarakan yang tidak sesuai dengan keyakinan saya," ucapku malu.
"Tapi makasih, kata-kata pedas Bu Hani membuat saya merenung setelahnya."
Aku terdiam mendengarkan, memberi Salsabila ruang untuk menceritakan perihal dirinya, karena aku memang diliputi rasa penasaran.
"Sejak gadis, saya bertekad hanya ingin menikahi pria dengan gelar dan uang. Sya populer di kalangan pria yang punya segalanya, sampai saya memutuskan memilih Julio dan meninggalkan semua pria pemuja saya."
Salsabila berhenti sejenak, seolah ingin menelisik raut wajahku sat ia mulai menyebut nama Pak Julio dalam penuturannya.
"Saya kira, Julio dan saya akan menjadi pasangan serasi, raja uang dan ratu uang. Hingga saya dituntut oleh Julio, ia ingin segera punya keturunan. Kehangatan lebih dibutuhkannya, sedang saya masih ingin bebas liar di luar rumah." Salsabila menyeringai pedih, memperbaiki duduknya dengan menumpuk satu kaki di atas kaki satunya.
__ADS_1
Aku mengangguk-angguk paham, dulu sepertinya Pak Julio ingin ia dan Salsabila menjadi raja cinta dan ratu cinta, bukan raja duit dan ratu duit dan ia dikecewakan Salsabila. Kasihan sekali pria itu, gumamku dalam hati.
Salsabila masih menatapku lekat seakan memastikan aku masih mendengarkannya. "Bukannya saya menyadari kekeliruan, tapi justru merasa direndahkan oleh cara Julio mengatur diri dan hati saya. Jika saya salah, tapi ia lebih salah karena tidak memberi kesempatan untuk saya berubah."
Mulai paham ke mana arah ucapan-ucapan Salsabila, tiba-tiba ada rasa takut dalam diriku akan kehilangan Pak Julio. Sat menikahi Salsabila, karakter pria itu mungkin masih belum sebaik sekarang hingga ia gagal merajut pernikahannya. Tapi kini, pria jangkung itu sangat baik kepribadiannya dan hampir tak punya cela. Bagaimana aku sanggup melepas pria baik itu hanya karena sebuah keraguan? Aku justru terjebak berada diantar banyak pilihan hidup hingga seperti tak punya tujuan.
"Saya berontak, ingin memberi Julio peringatan jika saya tak suka diatur. Saya pun pergi dengan lelaki yang bisa menuruti dan memahami kebebasan hidup yang saya inginkan," kata Salsabila, melanjutkan lagi penuturan kisah pernikahannya.
Aku mendengarkan dengan paham. Memanglah benar rasanya, tak ada kisah cinta yang sempurna. Selalu ada kelemahan setiap pasangan dalam mengarungi bahtera pernikahannya. Seperti kata William Shakespeare, "Perjalanan cinta sejati tidak pernah berjalan mulus." Secuil atau bahkan sederet konflik pasti akan menyertai, menguji pembuktian jika pasangan hidup itu sungguh saling mencintai. Selagi tak ada pengkhianatan, kekurangan pasangan harusnya termaafkan dengan melihat kebaikan yang lain.
Seperti Salsabila, aku pun mengalami kegagalan pernikahan yang menyakitkan. Meski sulit, akhirnya seiring waktu bisa kuterima sebagai garis takdir dan teguran untukku menjadi lebih baik lagi. Hanya satu kelemahanku kini, aku masih terjebak dalam trauma pengkhianatan Mas Bayu dan takut memasuki pernikahan baru secepat yang ditawarkan Pak Julio.
"Bu Hani? Masih dengar curahan hati saya kan?" tanya Salsabila memecah kegusaran dalam diamku.
"Eh, iya-iya, saya dengar, kok. Jadi kenapa sudah sekian tahun Bu Salsabila baru ingin mencegah Pak Julio menikah lagi?" tanyaku gugup.
"Pernikahan kami sebenarnya sudah selesai karena besarnya ego kami berdua bahakan sejak lama saat kami baru saja menikah, tapi saya baru sadari jika saya lebih banyak salah ketika perceraian sudah terjadi," ucap Salsabila menunduk seraya meremas ujung jilbabnya penuh rasa menyesal.
Deburan kecemasan kian menyeruak memenuhi rongga dadaku, semakin jelas jika Salsabila ingin menjadi lebih baik demi bisa kembali bersama Julio. Kini, serasa ada ratusan peluru tertuju ke arahku untuk menghalangi menerima pinangan Pak Julio.
"Iya, Bu, iya. Ibu tahu? Julio sudah tak peduli pada saya biarpun saya sudah menggapai karir dan perusahaan yang maju. Setelah Bu Hani tegur saya, barulah saya merenungi. Mungkin cara saya salah, Julio ingin istri yang baik dan saya rasa dengan berjilbab seperti Bu Hani saya bisa jadi lebih baik. Saya ingin membuat Julio mau percaya jika saya sudah berubah baik." Salsabila semakin menyesali kesalahannya.
Salsabila masih terus bicara banyak, ia tak menyadari keresahanku mendengar keinginannya bersanding dengan Pak Julio lagi.
"Sudah lama saya terus ikuti perkembangan kehidupan Julio belum ada wanita lain lagi yang bersamanya. Pernah saya dekati lagi Julio, tapi sepertinya ia tak yakin saya telah berubah. Pengkhianatan saya dengan lelaki lain waktu dulu sangat menyakitinya. Sama, saya juga memendam sakit hati pada Julio, ia mematahkan hati saya berulang kali," lanjut wanita cantik itu lagi.
"Oh ...iya, Bu," kataku singkat menahan rasa nyeri kian menyusupi hatiku.
"Sampai satu hari, ada wanita bernama Dini mengirim pesan lewat inbox messenger mengabari Julio punya hubungan serius dengan Bu Hani dan ..."
"Eh, maaf, Bu Salsabila kenal Dini?" ucapku memotong perkataan wanita itu.
"Saya ngak kenal, kami janji ketemu tapi Dini ngak datang. Wanita itu mencari saya lewat sosmed, ia tahu saya mantan istri Julio. kami sempat berbalas pesan lewat WA juga. Ia paham sakit hati yang saya simpan pada Julio," jelas Salsabila jujur.
__ADS_1
Lagi-lagi aku terpana, Allah punya rencana apa dengan penuturan Salsabila yang panjang lebar ini padaku? Aku menunduk, demi Julio haruskah aku berkompetisi dengan wanita yang sedang belajar lebih baik itu? Tegakah aku? Betapa mudahnya Salsabila terketuk untuk menjadi baik setelah aku menegurnya, lalu kini justru aku yang akan mematahkan perubahan baiknya? Kepalaku seketika berdenyut, bagaimana ini?
Raut wajah Salsabila tampak jujur, aku tak menemukan kepura-puraan di sana. Kurasa, wanita cantik itu memang sungguh-sungguh menyadari kesalahannya.
"Bu Hani ngak ada hubungan dengan Julio kan? Maaf saya tanya lagi." Suara Salsabila pelan, tapi terasa membuatku tertelan bumi hingga dalam dan sesak napas.
"Iya saya ngak ada hubungan apapun, tapi baru tadi pagi Pak Julio meminang saya," jawabku dengan suara bergetar, sangat takut membuat Salsabila menjadi putus asa lalu mengurungkan niatnya untuk jadi wanita yang lebih taat.
Aku menunduk, tak sanggup melihat perubahan raut wajah Salsabila yang pasti kecewa. Sesaat tadi ia masih yakin akan bisa mendapatkan Pak Julio lagi, dan kini ia harus mendengar jika pria yang masih dicintainya sekian lama itu telah meminangku.
"Kamu ...kenapa tidak bicara dari tadi, hah? Saya banyak tentang Julio, bercerita tentang isi hati saya dan ...Ah, saya ternyata tidak bisa percaya pada siapapun lagi!"
"Tunggu. Dari tadi Bu Salsabila bicara tanpa henti tanpa bisa saya menyela. Saya sangat senang ibu mendapat hidayah untuk berubah jadi baik. Yakinlah, Bu, tak ada kebaikan yang sia-sia. Jangan niatkan untuk Julio, biar Allah yang memberi kebaikan lain yang lebih baik lagi." Aku buru-buru membesarkan hati Salsabila.
"Tapi Julio sudah memilih Bu Hani, untuk apa saya susah-susah berjilbab," ucap Salsabila pedih.
Syaikhul Ibnu Taimiyah berkata, 'Meraih sesuatu yang dicintai seringnya harus menanggung sesuatu yang menyusahkan. Jika ingin merasakan cinta pada Allah, berlelah-lelahlah mengikuti aturan-aturannya dan jauhi larangannya. Itu adalah lelah yang berkah.' Cinta Allah lebih besar dari mendapat cinta Pak Julio, Bu Salsabila." Aku melirihkan sebuah nasehat, dan juga menasehati diri sendiri.
Salsabila menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Setelahnya, cukup lama ia terdiam, membuatku khawatir.
"Bu Hani terima pinangan Julio?" tanya Salsabila seraya menatapku tajam.
Entah bagaimana otakku bekerja saat itu, sel-sel syarafnya yang memerintahkan kepalaku untuk bergerak menganggukkan kepala, meski jauh di dalam hatiku bergelayut bongkahan rasa bersalah yang menindih, aku pasti akan mematahkan semangat wanita cantik itu yang baru mulai menjemput hidayahnya.
"Saya mengenal Allah lebih dekat saat badai menerpa pernikahan saya. Sejak itu saya yakin, bagaimana Allah adil mengatur urusan hidup hamba-Nya," ujarku pelan saat melihat Salsabila terduduk lemas.
Salsabila bergeming, tidak bangkit berdiri pun tidak mengangkat muka bersuara keras mencercaku seperti waktu lalu saat amarah memenuhi dirinya. Aku takut, sungguh takut, jika kemarahannya tersimpan dan satu saat akan meledak.
"Maaf, permisi? Jam istirahat siang sudah habis dari tadi. Bu Hani harus kerja lagi."
Suara nyaring Luluk yang datang menghampiri kami, membuatku dan Salsabila menatap bersamaan hingga pandangan kami beradu. Benarkah keputusan yang sudah aku ambil dengan cepat tadi, apakah aku benar-benar yakin menerima pinangan Julio dan tak salah telah menyakiti Salsabila? Hatiku mengurai tanya.
"Kenalkan, itu Bu Luluk rekan team saya. Ia yang jadi leader team proyek Bu Salsabila sekarang," kataku memecah kebekuan diantara aku dan wanita cantik itu.
__ADS_1
Salsabila membuang napas berat sedikit kesal. "Iya, saya sudah tahu. Rasanya sudah waktunya saya pergi dari sini. Kita akan bertemu lagi, Bu Hani!" ucap Salsabila parau dan kesal.
Bayangan Salsabila berkelebat secepat langkahnya meninggalkan aku yang masih termangu. Salsabila kembali diliputi amarah? Ia akan berhenti menjadi orang baik kerena aku baru saja mematahkan cintanya pada Julio? Hani, jangan biarkan setan menyusupi hatimu dengan bisikan-bisikannya, tetaplah berprasangka baik pada wanita cantik itu, aku menegur pikiran burukku.