
"Hani. berhenti." Suara berat Pak Julio menyadarkan aku jika ada pria itu di dekatku saat ini.
Langkahku seketika terhenti, gamang memilih untuk terus melangkah menuruti bisikan kebaikan nuraniku. Di depan sana ada Mas Bayu yang berjalan lunglai menunduk lesu kehilangan semangat hidupnya, lalu di belakangku ada Pak Julio yang menggebu ingin segera menghalalkan aku menjadi partner meraih surga dalam satu pernikahan. Siapa yang harus kudahulukan diantara kedua pria itu?
"Aku mau ketemu Mas Bayu sebentar," ucapku seraya menoleh dan menunduk tak berani menatap pria bermata teduh yang pasti tengah menyimpan rasa kesal melihat niatku menemui Mas Bayu.
"Tunggu."
"Kenapa, apa aku tak boleh lagi berbicara dengannya?" tanyaku sendu.
"Jangan mengambil keputusan sendiri, aku temani. Ini memang pertempuranmu, tapi aku akan tetap menemani sampai kamu berhasil melalui."
"Baiklah aku kira kamu ngak percaya padaku.""
"Aku percaya. Kamu hanya kasihan padanya, hanya kasihan. Hatimu terlalu lemah melihat penderitaan orang lain meski pernah disakiti."
Aku hanya mengangkat bahu, pikiranku masih terpecah diantara dua pria itu. Kembali aku melangkah dan Pak Julio mengikuti di belakang.
Sesakit apapun hatiku atas perbuatan Mas Bayu, aku tak pernah mendoakan keburukan untuknya, Allah Maha Adil biar Allah saja yang memutuskan takdir mantan suamiku itu. Rasa sakit yang ditorehkannya tetap tak menghalangi nuraniku yang terpanggil saat melihatnya terpuruk.
"Mas, apa kabarmu?" tanyaku begitu tak berjarak langkah lagi dengan Mas Bayu.
Pria berwajah kuyu itu mendongak, sepertinya baru menyadari kehadiranku. "Hani? Aku ... Sidangnya sudah selesai, ya?"
Aku mengangguk. "Kita sudah resmi cerai, tinggal nunggu akta cerai keluar. Aku minta maaf jika ada salah selama jadi istrimu."
Mas Bayu menatapku sendu tanpa kata, ia hanya bisa mengangguk. Lalu sesaat kemudian menggeleng pelan, "Aku yang minta maaf, kesalahanku banyak. Titip anakku."
Melihat Mas Bayu tak segarang biasanya, aku semakin merasa iba. Bisa kubayangkan hancurnya hidup pria itu saat ini. Huft, tunggu dulu ... saat aku terpuruk karena ia memilih wanita lain, dimana pria itu? Bukankah ia tak peduli waktu itu? Tak ada rasa sakit yang lebih hebat daripada harus berbagi cinta dengan wanita lain. Lalu, kenapa aku harus iba saat Mas Bayu menuai hasil perbuatan buruk yang disemainya. Hatiku mulai berkecambuk mengokohkan diri untuk tetap bisa memaafkan.
"Tentu anak akan kuperjuangkan masa depannya dengan baik, Mas. Oh ya, belum dapat tempat tinggal untuk ibu?" tanyaku lirih.
Mas Bayu menggeleng pelan. "Uangku belum cukup untuk nyewa sebuah rumah. Aku sudah berusaha cari kerja belum dapat. Rencananya sisa uangku mau untuk usaha dulu."
__ADS_1
"Aku ada peluang kerja, tapi posisinya ngak setinggi posisimu dulu. Kalau mau bisa rintis dulu dari posisi yang ada."
Suara Pak Julio membuat Mas Bayu menoleh dariku, wajahnya mengeras menyadari kehadiran pria itu diantara kami.
"Kamu pasti senang melihatku terseok di jalanan kan? Untuk apa pura-pura memberikan pekerjaan! Jangan sok jadi pahlawan di depan Hani kalau kamu hanya mau mengambil hatinya!" Mas Bayu menudingkan jarinya ke arah Pak Julio penuh amarah.
Menegakkan badannya yang lesu, Mas Bayu berbalik ke arah pintu gerbang hendak meninggalkan halaman parkir dan pergi ke jalan besar.
"Tunggu, Mas, tunggu. Kontrakanku masih tiga bulan lagi masa sewanya, tinggallah bersama ibu di sana. Aku rencana mau beli rumah sederhana," seruku cepat.
Suaraku yang nyaring tak hanya mengejutkan orang-orang yang lalu lalang di sekitar halaman parkir, tapi juga membuat Pak Julio menatapku lekat.
Mas Bayu menoleh menatapku seraya tersenyum pahit, "Ngak usah. Aku titip ibu saja dulu."
"Tapi sampai kapan? Aku memang rencana mau beli rumah," kataku buru-buru, terbayang tinggal lebih lama dengan ibu mertua sudah cukup membuatku tertekan.
"Aku hanya ingin ibu tenang pikirannya. Kamu bisa bayangkan jika ibu tahu susahnya aku harus mencukupi hidup kami saat belum dapat penghasilan tetap? Aku baru mau rintis usaha seadanya, Hani!" Mas Bayu menjelaskan alasannya menolak tawaranku tadi.
"Kamu itu gimana mau perang sama nasib, belum mulai saja sudah pesimis. Terima kekalahan, perbaiki kesalahan itu yang bisa bikin kamu bangkit lagi," kata Pak Julio berusaha membantuku menyadarkan tekad Mas Bayu, dan aku mengerjap tak percaya mendengar kebaikan hati pria berkulit sawo matang itu.
Ya Allah, bantu aku. Ada yang salah dengan kami bertiga. Pak Julio hampir saja mengabaikan nilai agama dengan mendekatiku terlalu awal saat belum resmi bercerai dan aku pun hampir terhanyut oleh pendekatannya, lalu Mas Bayu seolah enggan melapasku darinya dengan menitipkan ibu mertua padaku. Beri petunjuk terbaik ya Allah, aku mengusap muka dengan kalut.
"Taksi!" Mas Bayu berteriak memanggil sebuah taksi yang melintas di depan pintu gerbang pengadilan. Tanpa bisa kucegah lagi, ia berlalu bersama laju mobil berwarna biru muda itu.
Tuduhan Mas Bayu pada Pak Julio yang dianggapnya bersuka cita diatas penderitaannya, membuatku menyadari satu hal ... aku memberi jalan pria beralis tebal itu terlalu awal meminang sebelum hakim memutuskan statusku.
"Sepertinya kita jangan bertemu dulu, Pak Julio. Sampai akta cerai keluar dan masa iddahku selesai," ucapku lirih.
"Kenapa?" tanya Pak Julio lembut.
"Aku takut melanggar perintah baik Allah. Seakan kita telah menjalin kasih lebih dulu sebelum tanggal halal pernikahan itu tiba. Itu salah."
"Kita ngak ngapa-ngapain juga, hanya ... ya hanya berbincang saja kan?" Pria jangkung itu menyanggah pendapatku.
__ADS_1
"Kita memang sudah berusaha patuh, tapi zina kecil itu samar tanpa kita sadari terjadi bahkan hanya saat berbincang berdua. Aku takut tak mampu, lebih baik kita sama sekali tak bertemu dulu," jelasku dengan sederhana.
Kegagalan pernikahanku membuatku lebih banyak belajar ilmu agama. aku ingin meraih hidup yang lebih tenang dengan ketaatan. Kuikuti keyakinanku, siapa yang berusaha menjadi baik akan mendapatkan takdir yang lebih baik.
"Kalau telepon masih boleh?"
"Boleh, hanya jika perlu saja," tegasku lagi.
"Baiklah. Apapun katamu." Pria itu mengangkat bahunya menuruti pintaku.
"Bukan kataku. Itu perintah baik dari Allah. Berubahlah menjadi baik bukan karena aku, Pak Julio." Aku berusaha meyakinkan pria berhati baik itu untuk selalu bersandar pada perintah Allah.
"Rumit sekali, ya," ucapnya lirih.
"Ngak rumit. Cinta yang berdasarkan karena Allah, itu akan mudah jalannya. Tapi jika diniatkan selain Allah, jalannya akan susah. Aku yakin Pak Julio paham." Aku tersenyum seraya melangkah kembali menuju mobilku terparkir.
"Ya-ya, aku mengerti." Pak Julio berkata setengah berteriak dan mengejar langkahku.
"Syukurlah. Aku ke kantor, ya," kataku bersemangat.
"Eh, tunggu. Tentang ibu mertuamu yang masih tinggal di tempatmu, aku punya solusinya." Pria itu berujar dengan serius, ia telah sejajar di sampingku kini.
"Apa itu?" tanyaku tertarik dan ingin tahu.
"Biarkan beliau tinggal di sana. Carikan ART yang menginap. Aku yang biayai kebutuhan mereka. Kamu dan anakmu bisa pindah rumah." Pria beralis tebal itu berucap tanpa jeda, terlihat sungguh-sungguh ingin memberiku jalan keluar.
"Apa itu ngak terlalu kejam? Dan merepotkan Pak Julio juga?" tanyaku ragu.
"Ngak lah. Doakan Bayu nanti mau tinggal sama ibunya di sana. Dan lagi, setiap aku berbuat baik itu bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Siapa memudahkan jalan orang lain, maka jalannya pun akan dimudahkan." Pak Julio menguraikan sebuah keyakinan yang sepertinya telah lama dipegangnya teguh.
"Beri aku waktu untuk menimbang-nimbang, ya. Ibu mertuaku sudah kuanggap seperti ibu sendiri." ucapku.
"Aku tahu itu. Tapi jangan sampai kebaikanmu dimanfaatkan orang lain. Aku bisa baca muslihat Bayu nitip ibunya sama kamu. Hati-hatilah."
__ADS_1
"Siaaaap. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Aku melambaikan tangan, seperti orang yang akan berpisah untuk waktu yang lama pada pria sabar nan baik hati itu.
Pak Julio menjawab salam, membalas lambaian tanganku, berdiri tercenung seolah enggan melihat laju mobilku semakin menjauhinya.