
Rasa kantuk hampir menyergap ku saat deru mobil Mas Bayu terdengar memasuki halaman rumah. Puas kamu Mas! Hingga larut malam baru merasa cukup bersama wanita selain istrimu. Kesal sekali rasa hati.
Aku membenamkan kepalaku dalam guling yang aku peluk, mengabaikan Mas Bayu yang masuk kedalam kamar.
"Foto yang tadi kenapa kamu biarkan Fahmi mengambil gambar ku dan Dini?" Mas Bayu mencekal lenganku, sepertinya dia tahu kalau aku belum terlelap.
Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan kesabaran.
"Salahkan dirimu sendiri, aku bahkan tak tahu Fahmi memergoki kalian. Putra kita sudah remaja, dia bisa menilai sendiri bagaimana kelakuan ayahnya." Ku tepis tangan Mas Bayu, duduk di tepi tempat tidur lalu menceritakan padanya kejadian di mall sore tadi.
Pria yang ku yakini sebagai pria setia, bertanggung jawab terhadap keluarganya dan layak ku layani hingga akhir usia... nyatanya tidak lebih dari yang tak memegang teguh kesetiaan hanya karena godaan masa lalu.
Mas Bayu meraih tanganku lalu menggenggamnya erat. "Kamu salah paham. Aku dan Dini hanya teman dekat. Dini masih perlu dukungan, dia orang baru yang bergabung di perusahaan ku."
"Kamu kira aku akan percaya kata-kata mu Mas? Sangat jelas kekaguman mu pada wanita itu."
"Aku hanya menjalin hubungan kerja yang baik, Dini menjadi atasanku di kantor sekarang. Bukankah aku harus mengambil hatinya? Kilah Mas Bayu.
"Fahmi melihat sendiri kamu bergandengan tangan dengan wanita itu, mesra! Dia yang masih ingusan saja bisa mencium perselingkuhan mu!"
Mas Bayu menunduk, dia tak bisa mengelak lagi. Aku menarik tangan ku dari genggamannya, namun dia cepat menangkap pergelangan tangan ku. Di pelukannya aku dengan paksa.
"Kamu harus percaya padaku. Aku memang masih mencintai Dini, dia masih cantik dan pintar seperti dulu. Tapi aku tak sanggup kehilanganmu dan Fahmi. Aku tak akan selingkuh lagi. Mas Bayu mengeratkan pelukannya.
"Mas, kamu itu sakit jiwa! Mana bisa kamu mau seenaknya sendiri begitu. Kamu pikir aku percaya dengan omongan mu setelah pulang larut menghabiskan waktu dengan Dini?"
Bagaikan mimpi buruk, aku harus mendengar suamiku meminta izin untuk bersama dengan wanita lain. Pernikahan macam apa yang akan aku jalani jika ada bayang-bayang Dini yang sudah pasti membawa hariku dalam kegelapan.
Aku menggeleng kuat. Mas Bayu sudah lupa akan manisnya kisah cinta kami. Aku terlambat menyemai kembali jalinan kedekatan hati kami, seiring bersemayamnya kembali sosok Dini di hatinya.
__ADS_1
"Tolong izinkan aku pergi dengan Fahmi. Bawa saja wanita itu dalam kehidupan mu." aku memekik seraya mendorong tubuh Mas Bayu agar pelukannya tak lagi mengukung ku.
Pria egois! Mana bisa aku membiarkan wanita lain menghuni hati suamiku saat aku masih sah menjadi istrinya! Apalagi jelas sudah, Dia sembunyi-sembunyi menjalin cinta lamanya kembali.
"Kamu harus memilih! Wanita itu atau aku dan anak!" gertakku tak takut.
"Tidak bisakah memberiku sedikit saja ruang untuk tetap bersama dengan Dini? Aku janji tak akan terlalu jauh berhubungan dengannya." Mas Bayu masih saja melontarkan permintaan gilanya itu. Dia mencegatku di depan pintu kamar, mengusap lembut bibirku.
"Baiklah, aku dan Fahmi akan menjauh dari hidupmu." Aku tak menghiraukan lagi usapan lembut Mas Bayu.
"Jangan bawa Fahmi pergi, atau aku akan menghentikan menafkahi kalian!" ancamnya mengertakku juga.
Aku tak menciut, aku yakin akan ada jalan jika aku terpaksa harus berpisah dengan suamiku. Rasanya sudah tidak mungkin aku pertahankan lagi setelah tahu Mas Bayu benar-benar tak bisa mengakhiri rasa cintanya pada wanita itu.
"O, aku tahu. Kamu besar kepala sekarang karena sudah bisa cari duit sendiri kan? Berani sok-sokan mau bawa pergi Fahmi!" teriak Mas Bayu, matanya begitu tajam menghunus ke bening mataku.
"Mas ingin bisa menjalin hubungan dengan Dini, tapi juga ingin tetap jadi suamiku? Jangan mimpi!" Aku mencekal tangan Mas Bayu dengan kuat, memberinya peringatan untuk menyadari aku bukan wanita lemah.
Pria bertubuh tinggi itu merapatkan tubuhnya padaku, seakan ingin menyakinkan pesonanya masih melekat kuat di hatiku.
"Kamu yakin mau pergi dari ku? Fahmi masih jauh masa depannya, kamu sanggup urus dia sampai mandiri?" ejek Mas Bayu seraya menyunggingkan seringai di ujung bibirnya.
"Iya! malam ini juga aku bisa pergi dari sini" jawabku tegas.
Mas Bayu terkejut mendengar keberanianku. Dia mundur selangkah, mengusap wajahnya dengan kesal.
"Buu, Paak!" Suara Mbak Min tiba-tiba memanggilku dan Mas Bayu seraya mengetuk keras pintu kamar di sela pertikaian kami.
"Iyaa," sahutku dengan keras, sepertinya ada sesuatu yang penting.
__ADS_1
Mas Bayu membuka pintu dengan cepat, mendapati Mbak Min berdiri dengan cemas.
"Nenek lemas sekali, di tanya hanya diam saja. saya takut kenapa-kenapa."
Mendengar kabar yang di sampaikan pembantu kami, aku segera melangkah cepat ke kamar ibu. Waktu ku ajak ibu makan malam tadi ibu kurang berkenan. Ibu memang sedang meminta Mbak Min utuk di baluri minyak kayu putih, lalu aku tinggalkan dia ke kamar agar bisa beristirahat.
Bagaimana dengan ibu jika ku tinggalkan rumah ini saat dia masih berbaring sakit? langkahku ragu menuju kamar ibu, menimbang niatku untuk pergi secepatnya meninggalkan suamiku.
'Ibu mertua membutuhkan kehadiran mu saat ini' Nuraniku berbisik, menggoyahkan niat untuk pergi bersama Fahmi yang tadi sudah bulat ku putuskan.
Aku terus mengikuti langkah Mbak Min menuju kamar wanita berusia senja yang selalu saja membandingkan dengan Dini.
'Kamu berhak hidup tenang, tanpa di hantui wanita lain, tanpa harus berebut cinta suamiku." bisikan hati kecilku, mendorong untuk mengabaikan ibu mertua yang butuh perhatianku. Aku melangkah semakin gamang, memilih harus tetap pergi atau tetap bertahan dulu untuk tinggal di rumah ini.
Mas Bayu melangkah dengan cepat mendahului ku. Pria tinggi tegap itu nampak cemas saat melewati ayunan kakiku, ibu mertua adalah wanita yang sangat dia sayangi.
"Bu, ibu kenapa, apa yang ibu rasakan?' tanya suamiku cemas begitu kami sampai di kamar ibu.
Aku meraba kening dan badan ibu, agak demam. Tangannya terkulai lemas, wajahnya juga pucat. Sepertinya ibu banyak pikiran hingga kondisinya drop. Ku pegang nadi ibu tak beraturan, napasnya juga nampak memburu.
Ibu hanya bisa menggeleng lemah, dia menunjuk dadanya, mungkin merasa berat untuk menarik napas.
"Bawa ke dokter sekarang juga, Mas. Biar bisa cepat di tangani." Aku memberi saran.
"Mbak Min, tolong sangga kepala dan badan ibu. Temani bapak ke klinik ya," pintaku pada wanita penyabar itu.
"Loh kok Mbak Min? Kamu ngak ikut nganterin?" tanya Mas Bayu dengan kesal saat melihatku menutup pintu mobil.
Aku mengganguk puas. Biar saja dia menyadari arti diriku, lalu membayangkan jika tak ada aku di sisinya lagi.
__ADS_1