KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Aku harus kuat


__ADS_3

"Ibu sudah tidak sabar menunggu sampai besok malam, ingin cepat-cepat ketemu Dini" ucap ibu sambil menghabiskan sendok nasi terakhirnya.


Kami sedang makan malam saat ini. Mas Bayu pulang kerumah seperti biasanya, tidak pulang larut malam lagi.Dia terlihat lebih bugar, bahagia dan berseri.


"Siapa Dini itu, Nek? Saudara kita?" Fahmi bertanya ingin tahu. Putraku yang sudah kelas delapan sekolah menengah itu menunggu jawaban neneknya tidak sabar sambil mengambil kue bolu kesukaannya.


"Tante Dini itu kuliahnya ayah dulu, jadi temannya nenek juga, dan besok malam mau makan malam bersama kita." jawab ibu tersenyum lebar.


"Ooh, tamu istimewa ya, Nek" Fahmi menimpali ucapan neneknya. Putraku itu nampak kurang suka. Dia sudah remaja, mungkin merasa aneh ada teman perempuan ayahnya datang kerumah.


*Fahmi... kalau sudah selesai makan, ayo kita lanjut belajar di kamar. kamu ada tugas dari sekolah tidak." Aku mengalihkan suasana yang menurutku kurang nyaman.


"Ada, Bunda. Selalu ada tugas sekolah, huft. Coba sehariiiii saja ngak ada PR." Fahmi bersungut manja, sikapnya membuat hatiku yang tengah terluka kembali terhibur.


"Waah, tidak boleh mengeluh begitu. Banyak PR itu biar kamu tambah pintar. Seperti Tante Dini yang rajin, orang pintar jadi sekarang pekerjaannya bagus" Ibu mengelus bahu Fahmi lembut.


Ku lihat Mas Bayu tersenyum mendengar ucapan ibu, Dia juga mengangguk setuju. Tidak sadarkan dia ada aku di sampingnya saat ini?.


"Belajar itu kewajiban kita untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, tidak selalu Dengan tujuan untuk mendapatkan kerja. Kalau dapat pekerjaan itu jalan rezeki yang sudah ditentukan Allah" Ku beranikan diri menyerukan isi hatiku.


Mas Bayu menatapku terkejut, sepertinya dia merasakan kegusaran ku atas perkataan ibu pada Fahmi tadi. dia buru-buru meraih gelas di hadapannya lagi dengan gugup karena ternyata sudah tak tersisa lagi isi di dalamnya. Sungguh ketara sekali sikapnya yang salah tingkah dan tak berani menatapku sama sekali.


"Kami pamit ke kamar dulu, mau nyiapin buat sekolah besok. Meja makannya biar nanti Hani yang bereskan, Bu," Aku meraih tangan Fahmi, lalu menuntutnya menuju kamarnya.


"Ya, ajari anakmu dengan baik." Ibu menyahut dengan setengah hati.


Sebetulnya Fahmi sudah cukup tangkas dalam mengerjakan tugas, aku hanya tinggal memeriksa ulang saja. Fahmi sudah terbiasa dengan sikap disiplin belajar yang selama ini aku praktekkan.


Aku teringat belum memberi tahu Fahmi tentang rencana ku kembali bekerja. Luluk mengabari ku tadi siang tentang diterimanya diriku untuk membantu teamnya. Sibuk mengantar ibu belanja, membuat ku lupa bercerita pada Fahmi.


"Fahmi.. mulai besok ibu akan bekerja lagi. Hanya untuk sementara waktu, ada teman ibu yang membutuhkan keahlian ibu di tempat kerjanya. Bolehkah?" tanyaku lembut sambil memeriksa hasil Fahmi mengerjakan tugas.

__ADS_1


"Boleh saja bunda. Tapi pulang kerjanya tidak sampai malam kan? Aku bisa galau karena rindu sama bunda".


"Iya dong, Waktu mama dirumah hanya untukmu. Besok ada mbak Mun yang bantu kerja disini dan nemenin nenek juga" kataku


"Bunda, aku kesel sama nenek" Fahmi berkata sengit.


"Just, tidak boleh berkata seperti itu, kesal kenapa?" tanyaku


"Ya pokoknya kesal deh. Besok aku tidak akan ikut makan malam bersama" Fahmi menatapku dengan penuh arti.


"Ooh.. nenek masak banyak makanan besok, siapa yang mau ngabisin kalau tidak ada kamu" aku menggoda putraku.


Fahmi tertawa, tapi kemudian terdiam sejenak dan menatapku penuh sayang. "Ya sudah besok aku ikut makan malam nemenin mama"


Hatiku menghangat, sepertinya putraku yang sudah beranjak remaja bisa merasakan adanya orang ketiga diantara papa mamanya.


Selesai menemani Fahmi belajar dan membereskan meja makan. Aku melihat Mas Bayu dan ibu ada diruang tengah sambil menonton televisi.


"Kalau itu yang membuatmu senang ya lakukan saja. yang penting ibu cocok dengan pembantunya." Mas Bayu menjawab tanpa menatap Ku.


"Mbak min itu kamu ajak dulu kesini ketemu ibu sebelum bekerja, biar ibu bisa menilai sikapnya".


"Insya Allah orangnya rajin, Bu. Dia teman tetangga kerja aku, orangnya di kenal baik di lingkungannya." kataku menegaskan.


"Mas, perlu sesuatu lagi? Kalau tidak aku kekamar dulu, mau menyiapkan pakaian kerjaku dan pakaian kerja mas juga" ku sentuh bahu suami lembut.


Mas Bayu menggeleng, dia melanjutkan berbincang dengan ibunya lagi. Kali ini mereka membicarakan Dini di kantor.


"Coba dulu kamu lebih sabar menunggu kabar dari Dini, Pasti kalian berjodoh" Ibu mertua berkata lirih.


"Hani kan sudah menjadi istriku, Bu. Dia mamanya Fahmi " Mas Bayu menjawab perkataan ibu dengan ragu. Nampak sekali dia pura-pura menjaga perasaanku.

__ADS_1


Aku tak menghiraukan ucapan ibu, aku lanjutkan kaki ini melangkah kekamar. Aku tak ingin membiarkan diri ini semakin lemah karena merasa sakit hati. Biar nanti aku yang akan menyadarkan ibu, Betapa berharganya menantunya ini di bandingkan dengan perempuan yang terus di pujinya.


Pagi menjelang, sarapan sudah aku hidangkan tepat waktu. Aku sudah siap dengan memulai pekerjaan kantor bersama teamnya Luluk.


"Wahhh, Mama cantik sekali, OMG." Fahmi memujiku sambil pura-pura memotret ku dengan kedua tangannya, seolah-olah membidik ku dengan kamera.


Aku tertawa geli, putraku sungguh sangat lucu.


"Aku baru tahu kalau Mamaku anggun sekali. Sungguh keren kalau mama sudah pakai baju kerja" Fahmi menambahkan pujiannya padaku.


"Mamanya siapa dulu dong" Aku berusaha menghargai pujian anakku.


"Halah kamu berlebihan. Orang mau berangkat kerja memang harus berdandan rapi, semua itu wajar". Ibu menimpali pujian Fahmi.


"Sudah, ayo sarapan dulu nanti terlambat" Mas Bayu menengahi, Sejenak dia memandangku tak percaya dengan penampilan ku. Mungkin ingatannya kembali pada masa kami pertama kali bertemu.


"Ayo, lekas sarapan. Hani kamu pasti lupa menyiapkan bekal untuk Fahmi, karena sibuk berdandan kan? biar ibu siapkan.


"Sudah aku masukan kedalam tasnya Fahmi, Bu."


"Eeemm, ya sudah" jawab ibu sambil duduk kembali pada kursinya.


"Nanti kalau nyetir hati-hati tidak usah buru-buru karena takut terlambat sampai kekantor jadi tergesa saat ngater Fahmi ke sekolah" Mas Bayu berpesan dengan sikap lebih perhatian.


"Iya, Mas. tempat kerja ku tidak jauh kok". jawabku santai.


Mas Bayu melirikku dengan salah tingkah, karena sepertinya dia khawatir setelah benar-benar siap untuk kembali bekerja seperti dulu.


"Memangnya kamu kerja dimana"


"Nanti jika sudah saatnya Mas akan tahu sendiri" Aku menjawab dengan mengangkat kedua alisku dengan tatapan penuh rahasia. Untuk saat ini belum saatnya Mas Bayu mengetahui rencana ku. Aku akan main cantik dan memburu penghianatannya yang sudah aku cium gelagatnya.

__ADS_1


*MINTA KOMENTARNYA DENGAN NOVEL KEDUAKU INI, BIAR AKU BISA MEMPERBAIKI BAIK KATA ATAU TATANAN KATA DI SETIAP BARIS KATA"


__ADS_2