
"Bu Hani? Ya ampun, ibu kemana saja? Nenek nanyain ibu dan cucunya terus." Mbak Min menyambut ku dengan wajah berbinar senang.
"Saya hanya pindah sementara yang dekat dengan tempat kerja, kok, Mbak. Saya mau kekamar dulu, ada barang yang tertinggal," jawab ku tersenyum ramah.
Buru-buru ku ayunkan langkah kekamar sambil menanyakan kabar ibu mertua pada Mbak Min yang berjalan bersisian denganku.
"Nenek masih belum sehat, padahal obat yang dari dokter waktu itu sudah hampir habis lho, Bu. Pak Bayu pulangnya juga sering telat, jadi nenek sering kesepian di rumah hanya sama saya." tutur Mbak Min mengadukan keadaan ibu mertuaku.
Aku mendengarkan penuturan Mbak Min seraya berjalan pelan saat melewati kamar ibu mertua yang terbuka sedikit pintunya.
"Ibu di kamarnya, ya, Mbak? Sedang tidur ngak?" tanyaku berbisik sambil terus berjalan pelan, hingga kami hampir sampai di kamarku.
"Iya, Bu. Nenek di kamar, tadi sih lagi baringan aja," jawab Mbak Min.
"Miin, siapa yang datang?" terdengar teriakan ibu saat aku hendak membuka pintu kamarku.
"Mbak, tolong jangan kasih tahu ibu dulu kalau saya yang datang. Nanti saya temui ibu di kamar," pintaku pada Mbak Min.
"Baik, Bu."
"Miiin, ada siapa?" Kembali ibu berteriak lebih keras. Suaranya terdengar lebih dekat, sepertinya ibu turun dari tempat tidurnya untuk mencari tahu yang datang berkunjung ke rumahnya.
Cepat ku putar gagang pintu kamar, namun terkunci. Mas Bayu pasti tahu aku akan kembali lagi ke rumah ini suatu saat untuk mengambil yang belum sempat aku bawa, dan dia mengunci kamar ini saat ditinggalnya pergi.
Aku menyesali kecerobohan ku telah terburu pergi sampai lupa membawa benda berharga di dalam lemari pakaianku. Aku tak menduga Mas Bayu akan memblokir ATM rekeningnya yang ku pegang untuk biaya hidup anak. Kini, saat membutuhkan uang dan teringat simpanan perhiasaan milikku, aku tak punya jalan untuk mengambilnya.
"Mbak, memang kamar ini selalu dikunci?" tanyaku buru-buru saat melihat Mbak Min akan pergi melihat ibu mertua.
"Iya, Bu. Sejak ibu pergi, kamar itu dikunci. Saya bersihinnya waktu bapak sarapan pagi."
"Oh, gitu?" jawabku kecewa. Aku tak sempat membawa kunci cadangan kamar itu.
"Ya sudah, Mbak. Saya mau langsung pamit, keburu maqrib nanti." kataku cepat.
"Loh, Bu? ngak jadi nemuin nenek?" tanya Mbak Min gugup sambil beranjak ke kamar ibu karena ibu mertua terus saja memanggil namanya.
__ADS_1
"Eemm, besok saja saya ke sini lagi."
Tergesa aku ingin cepat pergi lagi dari rumah ini, tapi bagaimana caraku melewati kamar ibu mertuaku agar tidak bertemu dengannya.
"Hani"
Langkahku terhenti, telapak tanganku seketika terasa dingin, suara teriakan ibu memanggil terdengar begitu dekat di belakangku. Terpaksa, aku membalikkan badan lagi menghadap ke arah panggilan ibu mertua dengan wajah pucat.
"Iya, Bu. Ibu sudah sehat?" kataku berusaha tetap tenang.
Nampak olehku, ibu mertua berjalan pelan ke arahku dipapah oleh Mbak Min.
"Kamu ngak lihat ibu sakit?" jawab wanita paruh baya itu sengit.
"Eemm, iya, sepertinya ibu perlu kontrol ke dokter lagi. Maaf Hani buru-buru, Bu, hampir maqrib mau pamit dulu." aku menghampiri ibu untuk salim sekalian berpamitan.
Ibu menatapku tajam. "Cucuku mana? Dia jangan di bawa hidup susah, kasihan, bawa pulang ke sini lagi?"
"Dia baik-baik saja, Bu. Hani kesini mau ambil barang, tapi kamarnya dikunci Mas Bayu." kataku akhirnya.
"Kamu mau ambil apa?" tanya ibu ketus.
"Mau ambil cincin pemberian almarhum ibuku, Bu. Aku takut cincin itu nanti diberikan pada Dini. Itu hak ku, kenangan dari mendiang ibuku." dengan suara setenang mungkin aku menjawab ibu mertua.
"Mana mungkin Bayu berbuat begitu. Dini wanita sukses, ngak mau dikasih cincin murahan. Ambil saja cincinmu, kunci kamarnya biasa ditaruh di kamarku."
Aku bersorak senang dalam hati, tak apa mendengar ibu mertua masih menyanjung wanita itu, bagiku lebih mendesak untuk bisa masuk ke dalam kamar secepatnya.
"Aku akan kasih kunci kamar, tapi nanti kalau kamu pulang lagi kesini membawa cucuku kembali."
Aku tercenung mendengar persyaratan yang di ajukan ibu. Itu artinya aku harus tinggal lagi disini?
"Maaf, Bu. Hani sudah memutuskan untuk pindah dulu sementara, Mas Bayu sudah..."
"Sudah apa? Kamu yang terlalu bawa perasaan. Bukankan kah aku sudah memintamu untuk memberikan anakku waktu? Sudah aku jelaskan dia sedang terkurung rasa cinta sesaat. Maklumi saja dulu, bukannya malah pergi dari rumah!"
__ADS_1
"Bu? Ibu sadar sudah menjerumuskan anak ibu dalam perbuatan dosa? Aku sebagai istri kurang apa, Bu?" lirihku sendu.
"Kurang apa? Ngaca, Hani! Dini lebih segalanya dari kamu. Mau gimana lagi kamu selain mengalah dulu, nanti ada saatnya Bayu kemabli lagi padamu"
Aku meraba pipiku sendiri, masih terasa lembutnya. Mungkin tak sekencang dan sehalus kulit wanita itu, tapi hal itu tak bisa jadi alasan kuat bagi Mas Bayu berpaling meninggalkanku.
"Bu, kritik dan menghina itu beda. Ibu mengecilkan arti keberadaan ku di rumah ini, tapi bukan memberikan masukan untuk mempertahankan suami tetap bersamaku. Ibu tega menghinaku, meski selama ini aku berusaha jadi menantu ibu yang baik,"
Ibu terdiam. Lalu berbisik pada Mbak Min, entah apa yang di katakannya. Aku sudah malas untuk berdebat, ingin segera pergi saja.
"Tunggu, Hani."
Ibu menahan langkahku, dia bersandar lemah di dinding, sementara Mbak Min beranjak masuk ke kamar ibu.
"Ambil yang kamu butuhkan. Mana cucuku? bawa dia kesini" ibu menatapku lekat, penuh harap bisa bertemu dengan cucunya.
Aku bimbang terpaku, takut jika ibu akan menahan Fahmi di sini. Namun, melihat kondisi ibu yang lemah, rasanya tak mungkin ibu akan sanggup bersikap keras untuk melawan keinginan ku tetap membawa Fahmi pergi lagi.
"Ada di mobil, Bu."
"Panggil ajak masuk! Mimin sedang ambil kunci kamar," seru ibu.
Aku mengangguk mengiyakan. "Ibu kangen dia?" tanyaku lembut.
"Kamu pikir aku nenek macam apa? Aku melihat dia tumbuh di rumah ini sejak kecil. Lalu tiba-tiba kamu bawa dia pergi, tega sekali kamu!." seru ibu dengan napas terengah, mencaci ku.
Rasanya aku ingin balik menyalahkan ibu yang tega membuka jalan bagi wanita lain untuk lebih dekat dengan suamiku, tapi melihat kesehatan ibu membuat rasa kesal ku tertahan, nurani ku masih ada.
"Sudah, cepat panggil cucuku!" desak ibu tak sabar lagi.
Aku kembali hanya bisa mengangguk, bergegas menemui anakku.
Dengan berat hati dan mengusir ragu, aku menuntun Fahmi menemui neneknya. Mbak Min yang sudah berdiri di samping ibu mertuaku, melangkah menghampiri untuk memberikan kunci kamar padaku.
Wajah ibu seketika berbinar melihat cucunya. Aku mendorong pelan anakku untuk memeluk neneknya.
__ADS_1
Saat Fahmi sedang mengobati kerinduan neneknya, aku tak menyia-yiakan kesempatan itu untuk mengambil barang-barang yang aku butuhkan dari dalam kamar.
Kulihat jam dinding di tembok kamarku, hampir menuju angka enam. Aku di buru waktu, sebelum tiba-tiba Mas Bayu bisa pulang ke rumah ini kapan saja di luar dugaan ku.