
Memasuki gerbang perumahan, sesaat lagi kami akan di rumah, masih bisa kulihat wajah bahagia anakku. Begitupun Pak Julio, sepertinya malam ini malam terindah baginya.
Semua kembali tersenyum saling mengucap kat bahwa kami ingin pergi bersama lagi satu saat nanti, hingga sebuah mobil SUV milik Mas bayu nampak terparkir di depan pagar dan semuanya pun terdiam.
Pemilik mobil SUV itu pun seketika keluar dari mobilnya saat kendaraan yang dikemudikan oleh Pak Julio pelan-pelan berhenti tak jauh dari pintu pagar. Raut muka nampak ia tak sabar menunggu kami turun dari mobil.
Tersenyum Mas Bayu, melihat kami satu persatu turun dari mobil, tersenyum sendu. Ia menatapku dan anaknya bergantian, melangkah mendekati Fahmi, lalu memeluk erat.
"Selama kalian tinggal di sini, ayah titip jagain bunda, ya, Nak. Masuklah istirahat biar besok tidak terlambat bangun." Mas Bayu mengusap kepala Fahmi seraya berpesan, lalu melepas dekapannya.
Dengan enggan Fahmi mengangguk, mengambil kunci rumah dariku lalu perlahan masuk ke daam rumah. Sesekali putraku menatap kami bertiga bergantian, hingga akhirnya masuk dan menutup kembali pintu rumah.
"Kalian jalan-jalan dari mana?" Mas bayu berkata pelan, namaun suaranya bergetar menahan amarah dan rasa kecewa.
'Hanya makan malam, saya memberi apresiasi atas keberhasilan Bu Hani, beliau rekan bisnis saya," ucap Pak Julio tenang."Rekan bisnis, benarkah? Anda tahu Hani masih istri sah saya?" seru Mas Bayu cepat, membuatku was-was melihatnya mulai terpancing amarah.
"Tahu. Bu hani yang akan tangani model foto baju muslimah di butik saya. Kami hanya makan ke restoran dan langsung pulang."
"Meski hanya makan malam, tapi izin dari suaminya dulu ngak?" Kembali Mas Bayu meninggikan suaranya.
"Kami tak ada hubungan apapun, lagipula Bu Hani sudah gugat cerai anda kan?" jelas Pak Julio lagi.
"Tapi aku masih bisa rujuk jika cerai nanti, anda menjauhlah dari Hani dan anakku," sergah Mas Bayu hingga pandangan tajam kedua pria itu beradu.
"Hmmp, saya tidak mendekati mereka. Apa perlu saya jelaskan ulang kerja sama kami? Bu Hani wanita yang sangat baik, ia kukuh menjaga harga dirinya. Anda belum beruntung jika ia ngak mau rujuk lagi." Pak Julio masih tenang berdiri di samping mobilnya meski Mas Bayu hampir hilang kendali.
"Ini sudah malam, sangat malam. Tak pantas kalian pergi bersama," cecar Mas Bayu geram.
"Tapi kami pergi tak hanya berdua. Waktu anda pergi berdua dengan wanita lain hanya berdua, apa anda meminta izin Bu hani sebagai istri sah anda?" Pak julio membalikan pertanyaan hingga membuat Mas bayu terdiam menahan kemarahannya.
Aku mengerti perasaan Mas Bayu, ia sangat ingin kembali padaku. Tapi yang kulihat dalam dirinya kini hanya rasa bersalah dan ia ingin menebusnya. Aku harus berpikir panjang untuk menerimanya kembali karena lara itu akan terus mengembara, menyambangi tiap malamku jika kembali bersama Mas Bayu.
"Bu hani masuk saja, istirahat. Besok kan harus kerja. Saya pamit, kapan-kapan lagi kita bahas iklan butiknya." Pak Julio tersenyum, menganggukkan kepala padaku dan mas Bayu lalu masuk ke dalam mobilnya.
Anggukan dan senyumku pada pria berkulit sawo matang itu membuat Mas Bayu semakin naik darah, ia mengetuk jendela mobil, meminta Pak julio menurunkan kaca jendela.
"Ada hal yang harus anda tahu, saya adalah lelaki egois yang tak akan berhenti berjuang sampai dapat yang saya inginkan."
__ADS_1
Pandangan kedua pria itu pun kembali beradu.
"Oke, tapi saya rasa anda berjuang di waktu yang tidak tepat, meskipun tak ada kata terlambat tapi harus melihat kenyataan juga bukan? Sudahlah, itu hak anda, saya ngak akan mengusik hak anda itu, lanjutkan saja. Kebaikan hanya milik orang-orang yang mau meraihnya, begitu saya rasa."
Pria jangkung berkulit sawo matang, beralis tebal, bermata teduh, dan rendah hati itu pun mengucap salam lalu membunyikan klakson berpamitan.
"Hati-hati dengan pria itu, Hani. Ia tak sebaik yang terlihat. Aku tahu masa lalunya." Mas Bayu menatapku sendu.
Aku menatapnya datar, tak begitu saja percaya ucapan Mas Bayu karena setiap bersama Pak julio, aku selalu merasa nyaman. Ia pria yang apa adanya, yang baik tentu akan tetap nampak baik, tak ada muslihat dirinya untuk menutupi keburukannya.
'Oh ya? Seperti apa masa lalunya?" tanyaku.
"Pria itu pernah menikah, aku rasa ia bukan pria yang baik karena istrinya pergi begitu saja."
"Aku sudah bisa membedakan mana pria yang baik, mana yang bukan. Dari penghianatanmu aku belajar. Pulanglah, Mas." Melangkah menjauh dari Mas Bayu, aku berlalu seraya menarik napas panjang.
"Pikirkan lagi, Hani. Demi anak kita. demi ibuku, demi kita berdua."
"Aku sudah memikirkan baik-baik. Katamu tadi demi kita berdua? Dini mau kamu singkirkan?"
****
Hari berlalu, minggu pun berganti. Rutinitasku hampir sama setiap harinya, bekerja dan mengurus buah hatiku. Seperti hari ini aku sudah berkutat di kantor. Pagi-pagi usai briefing di ruang meeting, Pak Kevin memintaku dan Luluk untuk tetap tinggal.
"Seperti ada sedikit masalah. Logo produk yang kalian buat untuk Superindo sampai hari ini belum masuk pembayaran hak patennya, coba kalian temui Bu Dini atau Pak Bayu, ya."
Aku dan Luluk saling berpandangan, sepertinya kami mempunyai dugaan buruk yang sama, Dini berulah.
"Sebetulnya kami sudah di kejar deadline proyek-proyek lainnya, Pak. Kalau harus ke sana, waktunya belum bisa secepatnya. Biar saya atur rakan dari team kita saja untuk pergi." Luluk berkata sekaligus mewakili aku.
"Kalua gitu, biar saya sama Bu hani yang ke sana. Bu Luluk bisa tetap dampingi team kejar deadline. Ini urgent dan harus salah satu dari kalian berdua yang tangani langsung." Pak Kevin memberi alternatif.
Luluk langsung mengangguk setuju, tak memberiku lagi kesempatan menolak. Ia tak tahu aku disergap kecemasan, tak bisa kubayangkan harus pergi berdua dengan Pak Kevin.
"Saya berangkat duluan kalau gitu, saya mau ke anjungan ATM dulu untuk ambil uang," ucapku menghindari dalam satu mobil dengan atasanku itu nanti.
"Saya bisa antar ke anjungan ATM sekalian jalan, Bu. Ngak apa-apa."
__ADS_1
"Sudah. Bareng Pak Kevin saja biar cepat sampai sana, cepat balik sini lagi bantuin aku, gih," ucap Luluk mendukung atasan kami.
Aku terdiam tanpa daya, lalu segera ke ruanganku untuk menyiapkan beberapa dokumen yang diminta Pak Kevin untuk kami bawa.
"Bu Hani sudah mulai sidang cerainya?" tanya Pak kevin, seraya menatapku dari kaca di atas dasboard mobilnya. Kami sudah dalam perjalan menuju kantor besar Superindo.
"Baru mau sidang selasa besok, Pak.
"Semoga lancar, ya. Cepat dapat jodoh lagi."
"Makasih, Pak," jawabku sopan.
Aku mulai jengah, pembicaraan ini bisa ku baca akan bermuara ke arah mana.
"Menurut bapak, kenapa pembayarannya ditunda," aku segara mengalihkan pembicaraan.
Perbincangan kami pun beralih seputar proyek-proyek kami. Hingga aku bisa bernapas lega, saat gedung Superindo mulai nampak dari kejauhan.
"Dari perusahaan kita nanti ada reward liburan ke luar negeri untuk Bu Hani, Bu Luluk dan team. Kita atur nanti timing yang tepat, boleh pilih-pilih dulu masalah besar ini, ya."
Aku mengangguk berbinar, tak menyangka akan ada reward liburan ke luar negeri nantinya. Sungguh Allah memberiku nikmat di sela ujian yang kuhadapi. Terbukti sudah sebuah ayat petunjuk dari Allah yang kuyakini, 'Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan....sesudah kesulitan itu ada kemudahan.'
Mengejar waktu, aku berusaha melangkah cepat mengikuti kaki jenjang Pak kevin yang terayun lebar. Keluar dari lift, secara kebetulan kami bertemu dengan pak Dito Wardhana. Seketika aku terbayang wajah dari putra pemilik Superindo itu, raut muka mereka ada sedikit kesamaan, hanya warna kulit mereka yang berbeda. Pak Julio berkulit sawo matang seperti mamanya.
"Pak Kevin sama Bu hani ada janji bertemu dengan siapa?"
"Kami ada perlu dengan divisinya Bu Dini, Pak."
"Apa belum clear pembayaran royaltinya? Saya kira sudah. Mari ke ruangan saya dulu."
Pak kevin mengangguk, aku pun sama. Kami masuk lift kembali untuk menuju ruangan Pak Dito.
Begitu duduk di ruangan Pak Dito, dengan sopan Pak Kevin menjelaskan keheranan pemilik Superindo itu.
"Kenapa Bu Dini masih menahan pembayaran pembelian paten produk, ya? Sudah lama sekali, harusnya selesai tanda tangan pembayaran dulu itu sudah harus diproses. Biar saya panggil ke ruangan ini sekarang, saya ingin dengar penjelasannya langsung."
Beberapa menit stelah Pak Dito memanggil lewat telepon kantor, sekretarisnya memberi tahu jika Bu Dini tak berangkat ke kantor tanpa kabar, begitu pun Mas bayu. Mendengar ketidak hadiran mereka secara bersamaan, aku diselimuti rasa heran. Kiranya apa yang membuat keduanya mangkir bekerja tanpa ada pemberitahuan. Apa sesuatu telah terjadi pada mereka? Pikiranku menerka tak tentu.
__ADS_1