KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 63. Jarak


__ADS_3

POV Julio


Ia Hani. seorang wanita dengan manik mata berwarna coklat indah. Ibu dari satu orang anak yang menjadi murid asuhanku, Fahmi namanya. Sebelum perjumpaanku dengan wanita itu, aku mengenalnya lebih dulu dari cerita Fahmi, anak lelakinya. Satu hari, bocah remaja itu bolos dari sekolah dan tak hadir dalam kelas ekskul yang kuampu.


Esoknya, saat kutanya Fahmi tentang alasannya bolos, ia justru menunduk pilu. Lalu mengalirlah kisah tentang sekelumit perselingkuhan ayahnya, yang membuat bundanya kecewa dan tersisih. Bocah remaja itu bahkan terpanggil untuk bekerja secara diam-diam demi bisa membantu keuangan bundanya.


Aku dan Fahmi menjadi dekat sejak itu, aku memberinya ruang dalam hatiku yang tulus untuk mendampinginya tetap tegar untuk menguatkan bundanya. Setiap anak membawa cerita dan kesakitan berbeda saat kedua orang tuanya bertikai hingga akhirnya memilih bercerai. Aku tahu rasanya, aku pun memberikan bahuku pada Fahmi dan menjadi penyemangat setiap bocah itu menumpahkan sesak dalam dadanya.


Senja itu, pertama kalinya aku berjumpa langsung dengan Hani secara tak sengaja di sebuah parkiran rumah sakit. Sosoknya yang kulihat nyata sepadan dengan cerita yang kudengar dari buah hatinya. Cahaya matahari sore membias di wajahnya yang dirias sederhana namun justru terlihat jelita. Satu hal yang sangat aku sukai, adalah sorot kelembutan dari manik matanya yang berwarna coklat indah.


Meski sudah memiliki seorang anak, Hani masih terlihat segar. Wajah wanita itu mungil, bermata bulat, hidungnya tak terlalu mancung namun tetap terlihat cantik dengan dagunya yang indah. Raut mukanya yang bagiku tak membosankan untuk dipandang mata, mungkin itu yang membuatnya terlihat masih muda di mataku.


Satu lagi yang membuatku langsung menaruh hati pada wanita itu, balutan jilbabnya membuat ia semakin terlihat anggun dan tak mudah disentuh. Pernikahanku sebelumnya yang gagal, membuatku bermimpi mempunyai wanita pengganti yang lebih shalihah yang taat pada Tuhan.


Hani wanita yang ramah, berbincang dengannya menyejukkan hati. Sikapnya juga hangat, begitu saja bisa berbagi tawa denganku. Sungguh, hanya sekali bertemu sudah mampu membuatku mendambanya. Aku menginginkan Hani menjadi tambatan hati yang akan kubahagiakan bersama buah hatinya.


Senja itu aku bahkan berani melindunginya saat melewati masa yang sulit. Kala suami dari Hani masih saja mengganggunya yang kukuh ingin berpisah, aku pun menjadi pria tangguh serupa kekasihnya.


"Hani sayang itu, ia siapa sebenernya, Ijul? Beraninya kamu kenalin ke mama sebagai tamu istimewa tapi tak pernah cerita sebelumnya," tanya mama dengan penasaran, usai dijenguk Hani dan anaknya.


"Tenang, Ma, belum saatnya. Aku juga baru penjajakan dulu. Tapi orangnya baik kan, Ma?"


"Iya, sikapnya santun dan lembut. Berbeda jauh dengan Salsabila. Wes to, cocok karo kowe pokoke {Sudah lah, cocok sama kamu pokoknya}." Mama memberikan pendapat dan persetujuannya.


"Mama kalau ketemu yang luwes lembut gitu selalu saja ngak sabaran. Hani ini belum sah pisah, Ma. Masih nunggu putusan cerai," ujarku menjelaskan.


"Tapi Hani ini luwes lembutnya terlihat tulus, tidak dibuat-buat seperti Salsabilul." Wanita yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit itu menyakinkan lagi pandangannya pada Hani.


"Mama mulai lagi manggil begitu. Ngak baik, Ma, ngganti nama orang sesukanya. ucapku tersenyum menegur mama.


"Habisnya mama kesel sama kelakuannya. Oh, ya, kapan undang Hani ke rumah? Mama pengin kenal lebih dekat."


"Sabar, Mamaku yang cantik. Julio cari dulu waktu yang tepat."

__ADS_1


Sama sepertiku, mama juga langsung jatuh hati saat berjumpa Hani untuk pertama kalinya. Entah, wanita itu biasa saja jika dibandingkan dengan banyak wanita lain di sekelilingku. Namun, saat menatap mata coklat Hani yang teduh dadaku berdesir. Aku juga iba melihat kesulitan yang menimpa wanita itu. Hatiku sudah lama tersayat saat mendengar kemalangannya dibuang suami, tapi aku jatuh hati bukan karena rasa kasihan semata.


Meski diuji dengan suami yang memberinya kepahitan di ujung pernikahan mereka, Hani tetap tangguh. Ia tak menyalahkan Allah atas kesusahan dan cobaan yang dialami, juga tak meninggalkan Allah saat bertahan melewati pahitnya takdirnya.


Hani tak mudah disentuh, ia berpegang teguh pada tali ajaran agama. Wanita lembut itu merentang jarak dan batasan denganku. Ia begitu percaya pada kuasa Allah. Baginya, perintah Allah adalah untuk kebaikan hambanya. Aku paham, Hani begitu yakin rencana baik Allah akan digenapkan pada waktunya usai berikhtiar melewati kesulitan.


"Kamu bisa dekati Hani lewat papa, mudah itu. Nanti kita beri bonus tranveling, lalu kamu ikut tuh waktu ia berwisata ke negeri orang," Papa yang duduk di samping ranjang mama pun ikut memberi dukungan.


Papa dan mama tersenyum seraya menatapku penuh arti, memberiku semangat untuk membawa Hani ke pelaminan. Menyenangkan sekali mempunyai orang tau sebaik mereka saat ini. Iya, saat ini kerena dulu hubunganku dan papa tak serekat sekarang.


Dito Wardhana, pengusaha sukses pemilik perusahaan besar itu ayahku. Lelaki yang dulu amat menakutkan bagiku, segala aturannya yang kolot membuatku jengah dan liar menentang inginnya. Aku lebih betah berkeliaran tanpa tujuan hidup daripada mendengar segala tuntutan papa. Setiap waktu aku bertengkar dengannya tiap kembali ke rumah.


Tumbuh dalam lingkup keluarga berada, aku dibesarkan oleh seorang wanita lembut penuh kasih bernama Aisyah. Mamaku itu mempunyai sejumlah butik ternama di beberapa titik kota. Papa memang memberi mama kesempatan berkarya namun harus tetap bisa mendidik dan mengasuh anak dengan baik di rumah.


Besar bersama dua saudara perempuan, aku adalah satu-satunya anak lelaki di keluargaku. Kakak perempuanku tinggal di Singapura, mengelola sebuah usaha bersama suaminya. Sedangkan adik perempuanku di Australia menjadi ibu rumah tangga biasa dan mendampingi suaminya yang bekerja di negara itu.


Boleh dibilang aku anak mama, wanita melahirkanku itu selalu sabar menjadi penengah di setiap perselisihanku dengan papa. Namun begitu, aku tetap ingin menjadi diriku sendiri tanpa bayang-bayang nama besar papaku.


Beranjak dewasa, aku sanggup menunjukkan kepiawaianku merintis usaha dengan keringat sendiri. Aku berproses dari menjadi seorang guru melukis di sebuah sekolah dasar, lalu dengan gaji yang kutabung mulai kubuka usaha percetakan kecil-kecilan. Semakin tahun usahaku berkembang meskipun memakan waktu yang cukup lama.


Tanpa terasa waktu berlalu cepat, sudah beberapa bulan aku mengenal Hani. Sedikit demi sedikit kupahami sikapnya meski cukup menyulitkan karena ia begitu membuat jarak denganku. Aku memahami keadaanya yang masih berproses untuk berdamai dengan trauma perceraiannya. Aku pernah ada di posisinya saat harus mengakhiri pernikahanku.


Tak pernah kutekan Hani untuk begini dan begitu. Sama seperti wanita bermata coklat itu, aku pun menjalani kedekatan kami seperti riak ombak yang mengikuti arus laut.


Malam beranjak larut, pikiranku resah. Kemarin sore Hani pingsan di kantornya, ia kutemukan tertidur bersandar di bahu seorang lelaki berpenampilan rapi dan gagah. Wajah mungilnya begitu lelap dan nyaman saat tangan lelaki itu menopang kepalanya agar tak luruh. Hatiku bergemuruh tak rela, namun aku sadar aku bukan siapa-siapa bagi wanita lembut itu.


Hani sudah resmi bercerai, namun ia justru semakin mengibarkan bendera merah untuk membentangkan jarak diantara kami. Aku berusaha bersabar, semampuku. Pagi tadi, bahkan aku harus kecewa karena ia tak juga memberiku kabar tentang kesehatannya. Dan, nyatanya ia tetap pergi bekerja, melanggar laranganku.


Jemariku memegang ponsel dengan gelisah, besar keinginan untuk meneleponnya lagi malam ini meski siang tadi aku telah bertanya kabarnya lewat sambungan telepon. Ah, biar saja ia marah, aku tak sanggup menanggung resah ini sendirian.


"Assalamu'alaikum," lembut suaranya menerima panggilan teleponku malam ini.


"Wa'alikumsalam. Belum ngantuk?" tanyaku memulai percakapan.

__ADS_1


"Belum. masih menemani Fahmi belajar. Ada yang penting, Pak Julio?" tanyanya dengan suara serak.


Ah, pikirannya selalu saja dipenuhi aturan-aturan. Hani tetap saja menjaga sikap meski kami berbincang dipisahkan jarak dan waktu .


"Ngak ada. Ngak boleh telepon kalau ngak penting?" jawabku dengan suara sedikit putus asa.


"Eemm, entah. Tapi begitu, sih yang aku tahu. Pria dan wanita yang bukan mahram ya ada batasannya." Wanita itu terdengar melembutkan bicaranya.


"Iya-iaya. Aku hanya ingin memastikan kamu sehat. Itu saja." Akhirnya aku menyerah untuk patuh pada maunya.


"Alhamdulillah sehat, makasih." Suaranya terdengar kembali ceria.


"Hmmmp. Ya sudah," ucapku lirih, menanggung kecewa sendirian.


Aku terdiam, tak bisa lagi melucu, tak berani lagi menggodanya seperti biasanya. Sabaaar!


"Pak Julio." Tiba-tiba ia berbicara lagi, membuatku kembali berbinar.


"Iya?"


"Ada lagi yang penting yang mau dibicarakan?"


"Ngak ada." Huft, ternyata hanya itu kata yang kudengar darinya, aku mengeluh sendiri dalam hati.


"Ya sudah."


Kepalaku cenat cenut rasanya, kenapa jadi membosankan dan hambar begini perbincangan kami yang biasanya hangat. Adakah sesuatu yang membuat Hani berpikir buruk tentang aku hingga ia semakin merentang jarak denganku?


"Hani, jangan tutup dulu teleponnya," kataku terburu.


"Iya?"


"Keimananku mungkin belum sebagus dirimu, tapi aku akan berusaha terus lebih baik lagi. Jangan bosan terus membimbing dan mengingatkanku, Hani."

__ADS_1


"Pak Julio, maaf. Aku pun belum jadi muslimah yang baik, jangan berlebihan menganggapku orang yang suci begitu. Ngak enak dengarnya."


Aku mengangguk sendiri, huft konyol! bukankah Hani tak bisa melihatku? Aku yang dulu cukup berpikir jika surga bisa diraih hanya dengan berbuat baik, kini ternyata harus lebih banyak belajar lagi setelah bertemu wanita yang bernama Hani.


__ADS_2