KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 51. Calon Janda


__ADS_3

"Saya asli dari Yogya, hanya saja ikut suami tinggal di kota ini." Bu Dito mencoba memulai percakapan dengan ibu mertuaku.


"Oh gitu? Saya asli sini. Oh ya, tadi katanya anak ibu teman dekat menantu saya?" tanya ibu mertua dengan suara meninggi.


"Iya memang. Julio sudah dekat dengan Hani dan anaknya. Makanya saya main ke sini, kangen sama Fahmi saya ini."


Hampir saja aku tersedak mendengar perdebatan ibu mertua dan bU dito. Bru-buru aku menarik napas panjang, lalu meraih tangan ibu mertua untuk membantu menyiapkan makan malam bagi tamu kami.


"Masaknya saya siapkan untuk makan malam, ya, Bu Dito. Maaf, kami tinggal ke dalam sebentar. Saya panggilkan Fahmi sekalian," ucapku dengan gugup.


Meski terlihat enggan, ibu mertua terpaksa mengikuti ajakanku ke dalam. Pelan aku menuntun tangannya yang berkeringat dingin.


"Benar katanya itu tadi?" bisik ibu di telingaku.


"Apanya, Bu?"


"Anaknya itu teman dekatmu. Jadi ternyata kamu juga mengkhianati Bayu?" tuduh ibu mertuaku tiba-tiba, tatapan tajamnya membuat aku seperti orang yang tak tahu diri.


"Ibu salah paham. Hani memang dekat dengan anaknya, tapi kami kenal setelah aku pergi dari rumah, Bu," jelasku lirih.


"Halah sama saja. Kamu kan belum cerai, sudah berani dekati lelaki lain itu apa namanya kalau bukan main belakang?"


"Hani ngak dekati lelaki lain, Bu. Julio itu kebetulan gurunya Fahmi. Kami belum lama kenal."


"Eemmp. Ibu ngak percaya, kamu tega banget sama Bayu. Pantesan kamu tetap gugat cerai, sudah nemu gantinya." Ibu mertua menaruh kotak-kotak taperware berisi makanan di atas meja makan dengan sewot.


Aku menatapnya seraya mengelus dada, watak ibu mertuaku belumlah berubah.


"Hani panggil Fahmi dulu, Bu."


Ibu mertuaku tak menjawab, ia menarik kursi lalu duduk menopang dagu di meja makan dengan raut amat marah.

__ADS_1


Rasanya tak enak hati membuat Bu Dito lama menunggu sendirian di ruang tamu, segera kupanggil Fahmi untuk ke ruang tamu lebih dulu. Aku kembali ke meja makan, menata masakan di meja dan menyiapkan peralatan makan untuk kami berlima.


Baru saja Fahmi keluar menemui Bu Dito, sudah terdengar keriuhan canda tawa mereka dari ruang tamu. Wajah ibu mertuaku semakin masam, ia meraih sebuah sendok dan menjatuhkannya ke lantai dengan kesal.


"Bu, tolong pahami keadaan Hani, kita harus memuliakan tamu. Jika ibu tak sanggup menemani tamuku, ibu boleh istirahat di kamar dulu. Nanti Hani antar makan malamnya ke kamar." entah keberanianku datang karena apa, aku tak ingin ibu mertuaku berulah saat bersama Bu Dito nanti.


Aku mengenal ibu mertuaku dengan sangat baik. Pham betul seperti apa saat ia sudah tak setuju dengan satu hal yang tak bisa diterima di hati dan pemikirannya.


"Kenapa kamu ngak suruh aku pulang saja? Beraninya kamu berkata begitu." Ibu mertuaku berdiri dangan tatapan tajam.


"Bu, malu kalau didengar Bu Dito, jangan keras-keras. Maaf kalau Hani salah bicara. Tapi Bu Dito orang yang baik, ngak pantas kita bersiap tak ramah padanya." Aku mencoba menenangkan ibu mertua.


"Ya. Bela calon mertua barumu itu, ia lebih kaya dari kami kan? Aku mau telepon Bayu, mau pulang sekarang." Dengan kesal ibu hendak beranjak ke kamar.


"Bu, kalau Mas Bayu sudah pulang pasti sudah jemput ibu ke sini. Ibu bisa temani tamuku, tapi Hani harap kita hati-hati membawa diri."


"Aku ke kamar saja."


Ibu mertuaku tipe orang yang tidak bisa menutupi rasa tidak sukanya jika ia tidak selaras dengan satu hal. Sedangkan Bu Dito kuamati terlihat lembut dan hangat. Aku hanya tak tega pada Bu Dito, jika ibu mertuaku tak bisa menahan dirinya saat tahu lebih dekat mengenalku dan anakku.


"Hampir dua bulan ya kita ngak ketemu?" tanya Bu Dito saat aku baru saja duduk kembali menemuinya di ruang tamu.


"Iya, Bu. Cepat sekali waktu berlalu. Ibu sudah sehat benar?" Aku tersenyum.


"Iya. Aku nunggu kalian main ke rumah kok ngak jadi juga. Ya sudah aku saja yang ke sini. Eh, ibu mertuanya mana?"


"Eeemm, di kamar Bu. Sedang tak enak badan."


Dengan gugup kujawab pertanyaan tentang ibu mertuaku, lalu akau meminta Fahmi untuk mengantar secangkir kue untuk supir Bu Dito yang memilih menunggu di mobil saja.


"Jadi ibu mertua ikut tinggal sama kalian? Katanya Hani sudah mau cerai kan?"

__ADS_1


"Ibu mertua ada tempat tinggal sendiri kok, Bu. Kebetulan sedang ditinggal anaknya keluar kota jadi menginap di sini dulu."


"Oh gitu? Kamu pinter ambil hati ibu mertuamu rupanya. Sepertinya ia masih sayang sama kamu, belum rela kamu nikah lagi tuh."


"Saya sudah anggap ibu mertua seperti ibu sendiri, bagaimanapun beliau neneknya Fahmi, dan saya pernah lama tinggal serumah."


"Iya, kelihatan, kok. Wajar kalau ibu mertuamu itu kurang senang aku ke sini."


Kami berbincang sebentar, hingga waktu shalat isya tiba. Berjamaah kami menunaikan empat rakaat, tapi ibu mertua tetap tidak mau keluar dari kamar.


Fahmi pamit untuk mengerjakan tugas sekolahnya usai kami makan malam bersama. Masih belum jam delapan malam, Bu Dito masih terlihat betah berada di tempat kami.


"Jadi Julio sudah nanya kamu belum?" tanya Bu Dito seraya menepuk pahaku, kami duduk bersisian di sofa panjang.


"Nanya apa, ya, Bu?"


"Itu loh, kalian mau nikah kapan?"


"Kami baru dekat saja, Bu. Saya belum resmi cerai, masih ada masa iddah juga nantinya. Ibu tidak malu punya menantu janda anak satu?" tanyaku sopan.


"Aku ngak pernah nuntut Julio dapat anak gadis. Yang mau nikah kan si Ijul, ia yang jalanin yang merasa bahagia dan cocok tidaknya. Kalau kamu jadi janda itupun bukan salahmu."


"Tapi kebanyakan orang anggapannya wanita yang salah jika sampai cerai. Apalagi kalau suami punya wanita lain, istri yang dianggap tidak becus urus suami. Ibu ngak takut saya tidak layak untuk Pak Julio?"


"Julio itu pernah kami paksa nikah, tapi kami salah pilih calon istri. Jika menurut Ijul kamu wanita baik, aku dan papanya yakin saja."


"Makasih, Bu. saya punya anak, dia juga jadi pertimbangan saya untuk nikah lagi."


"Jangan khawatir, anakmu nanti kusayangi sama seperti cucuku yang lain. Nanti buat perjanjian pranikah kalau kamu ragu."


Aku termangu, membayangkan akan masuk dalam keluarga pengusaha sekelas Pak Dito sudah membuat nyaliku menciut lebih dulu. Pak Julio memang seorang duda, tapi dengan strata sosialnya yang bagus ia bisa dapat istri yang masih gadis dan lebih setara dengannya. Ketakutan membayangiku, bisakah Pak Julio tetap setia jika wanita lain hadir diantara kami nanti? Rasanya aku belum mengenalnya dengan baik.

__ADS_1


"Aku telepon Julio, ya. Aku mu dengar Ijul lamar kamu saat ini juga." Bu Dito mengambil ponsel dari dalam tas kulit hitamnya."


"Bu Dito, saya ingin bicara sebentar." Suara ibu mertuaku? Aku menoleh ke arah ruang tengah. Nampak ibu mertuaku berdiri di belakang sofa tempat kami duduk. Wajahnya sangat masam, guratan kemarahan terlukis jelas di sana.


__ADS_2