
POV. Julio
Hidup di kota metropolitan Ibukota sebuah propinsi, aku tumbuh menjadi pemuda rupawan dan ambisius dengan keinginanku sendiri. Belumlah terpikir untuk mengejar masa depanku jika hanya harus meneruskan perusahaan papa. Bukan serupa itu mimpiku.
Menurutku, orang yang hanya mengharap warisan orang tua, umumnya menjadi orang yang malas bekerja, dan kurang gigih. Ketika akhirnya dapat warisan, tak bisa mempertahankannya dan dalam beberapa tahun kembali ke taraf hidup yang biasa saja. Aku bukan tipe orang yang seperti itu, aku ingin berjuang sendiri. Jika akhirnya harus meneruskan perusahaan papa, itu adalah pilihan terakhir saat papa tak mampu lagi menopang sendiri.
Kurasa aku orang yang cukup ramah, selalu riang, memiliki kemampuan interpersonal yang hebat dan dengan siapa saja mudah akrab. Kusadari itu sebagai bekal karakter yang baik untukku menggeluti masa depanku sendiri.
Perlahan, dengan kelembutan mama bisa melunakkan papa yang keras hati ingin mengatur yang ingin begini dan begitu seperti inginnya. Akhirnya papa bisa bersikap bijak, menyadari jika aku pun dasarnya pekerja keras dan membiarkan aku memilih jalan sendiri.
Kepiawaianku merintis usaha menjadi daya tarik bagi rekan-rekan papa untuk mengambilku sebagi menantu. Silih berganti mereka berkunjung untuk memperkenalkan putrinya. Sampai ketika Salsabila, gadis primadona di kota ini, anak seorang pengusaha rekanan papa dipertemukan denganku. Ia setuju perjodohan kami, mau meninggalkan pemujanya lantas memilihku saat melihatku pada pandangan pertama.
Kuakui Salsabila cantik dan cerdas, namun bukan wanita seperti yang kuharapkan menjadi ibu dari anak-anakku. Sikapnya terlihat tak wajar, perangai lembut dan keramahannya seolah dibuat-buat dan terkesan tak terpancar dari hatinya. Mama pun belum begitu setuju saat papa memilih Salsabila untuk mendampingiku. Setiap kami bertemu, ia sibuk merapikan penampilannya. Terbayang olehku, ia sangat pandai merawat diri tapi sepertinya nanti tak akan bisa mengurus anak-anakku sendiri.
"Kalau jadi nika, nih, hidup kita akan lebih nyaman jika kamu lebih banyak di rumah merawat anak-anak," kataku, mulai menjajaki kesetaraan pemikiranku dan Salsabila, kami sedang makan malam bersama di sebuah restoran ternama.
"Aku belum siap punya anak. Kita tunda dulu saja! Aku masih ingin bebas berkarir dan bertemu teman-teman." Salsabila berkilah lembut.
"Berapa lama kamu siap? Usiaku saudah cukup untuk menjadi seorang ayah. Kamu masih boleh punya kegiatan di luar, tapi tetap mengurus keluarga dulu."
Salsabila hanya diam, mendengkus kesal, namun sesaat kemudian memaksa tetap tersenyum. "Gampang lah itu nanti kita pikirkan. Nikah saja dulu, kita perbesar perusahaan dengan kerja sama."
"Pernikahan kita bukan pernikahan bisnis, Salsabila. Sedangkal itu tujuanmu ingin menikah denganku."
Lagi-lagi Salsabila terdiam.
"Perusahaan itu milik orang tua kita dan kita punya jalan sendiri membangun dunia rumah tangga dan karir. Aku bukan siapa-siapa tanpa nama papa, kamu masih sedia menikah denganku?" tanyaku menelisik kesungguhannya menikah tanpa memandang kejayaan orang tua kami.
__ADS_1
Kupandangi wajah molek Salsabila, kuakui aku terpesona pada kecantikan dan kulitnya yang putih bersih. Namun, desir di dadaku belum begitu menggebu karena kami belum ada chemistry yang kuat.
"Ya sudah, kamu maunya aku punya anak cepat? Oke," jawabnya ringan tapi tak cukup meyakinkan.
Hanya sebulan setelah pertemuan itu, papaku dan papanya Salsabila menggebu menyatukan kami di depan penghulu. Pertimbangan mama untuk tak terburu meminang Salsabila, tak dianggap dalam pendengaran papa. Aku bimbang memutuskan, namun Salsabila terus meyakinkan akan menjadi istri yang baik untukku.
Ditilik dari pendidikan, aku dan Salsabila memang selaras secara intelektualitas. Dipandang dari strara sosial pun kami berdua sepadan. Sebuah pernikahan yang dibangun atas dasar kesamaan kedudukan dan kekayaan. Entah, belum terbayang olehku bagaimana kami akan saling memadankan karakter yang awal kenal sudah terlihat jauh berbeda.
Yang kutakutkan terjadi. Setelah kami menikah, Salsabila tetaplah dirinya yang enggan berdiam di rumah. Aku mendukung saja ia ingin tetap berkarir, tapi harus bisa membagi waktu untukku juga. Salsabila yang cerdas, percaya diri dan penuh gagasan, melejit sukses dengan bisnisnya hingga semakin sibuk saja. Orang memandangku dan Salsabila sebagai pasangan yang sempurna. Rumah tangga kami dinilai sebagai sepasang suami istri ideal yang dilimpahi finansial melimpah, namun tak ada yang tahu jika istanaku hampa dan dingin di dalamnya. Seiring jalanya pernikahan, aku lelah mengingatkan tingkah Salsabila. Istriku mementingkan kesenangannya sendiri di luar rumah dan tak ada lagi waktu untukku. Setiap kulirihkan sebuah nasehat, hanya teriakan yang akan kudapat.
Di luar sana, aku bahkan tahu siapa saja yang mulai menggoda Salsabila. Aku terus mencoba bicara, lagi, dan lagi, meski aku tahu istriku tetap keras kepala. Akhirnya, aku menarik diri menjauh, tak ingin terluka lebih dalam lagi.
Salsabila juga tak bisa dipegang janjinya, ia menunda punya keturunan dengan meminum pil kontrasepsi secara diam-diam, kenyataan ini semakin meruncingkan perselisihan kami.
Seperkasa-perkasanya aku, tetaplah membutuhkan seseorang yang bisa memanjakan, memuja dan mengisi hatiku dengan kehangatan yang membara. Salsabila tak punya waktu dan ruang untuk menjadikanku raja di istanaku.
Aku limbung, bagaikan rajawali yang terluka, melebarkan sayapku untuk merengkuh Salsabila kembali. Namun istriku tetaplah tergila-gila pada lelaki muda itu, ia kerap pergi dengan alasan perjalanan bisnis. Sekuat tenaga aku pertahankan keutuhan sarangku di ketinggian puncak gunung, mecoba mengabaikan terpaan badai, berharap ini hanya berlangsung sementara. Namun, semua runtuh saat Salsabila memilih pergi.
Baru kusadari keputusanku mempertahankan Salsabila itu salah, bertahun-tahun sarangku merepih dan nyaris terkoyak, namun dipaksakan untuk terus bertengger di ketinggian dalam keadaan tambal sulam. Dasar pernikahan kami memanglah sudah tak kuat dari awalnya, kami tak selaras namun dipaksa disatukan dalam pernikahan demi sebuah kejayaan strata sosial.
Akhirnya, aku memilih mengistirahatkan sayap-sayapku yang kelelahan menahan deru badai. Lalu berhenti untuk meneruskan perjuangan menjaga keutuhan rumah tanggaku. Melepas Salsabila untuk lelaki lain yang dipilihnya.
Hanya beberapa bulan berlalu sejak kepergiannya, datanglah ia wanita dengan potongan rambut serta aroma parfum yang berbeda dan semua terlihat serba asing di mataku ... Salsabila kembali pulang. Merintih dan meminta untuk melanjutkan lagi jalinan pernikahan yang hampir putus. Namun, hatiku sudah tertutup rapat dan harga diriku sudah tak bisa disentuhnya lagi.
"Ingat berapa sering aku mengingatkan tentang kesibukanmu di luar bersama banyak lelaki dan teman bisnismu?" Aku menghardiknya, sangat tegas.
"Aku ingin dimanjakan olehmu, tapi kamu hanya bisa mengaturku, memuakkan!" teriak Salsabila menantangku.
__ADS_1
"Aku pun meminta waktumu sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi kamu ngak peduli," seruku, sama lantangnya.
Tak ada kata maaf yang terucap dari kami berdua. Sama-sama keras pendirian. Bedanya, aku masih setia pada pernikahanku dan sabar menunggu kami selaras, sedangkan Salsabila memilih berpaling ke pelukan lelaki lain.
Aku tak bisa memaafkan ketidak setiaan, sementara Salsabila menganggap aku lah yang salah karena tak becus menjadi suami tangguh baginya hingga ia berpaling.
'Jangan jadikan alasan itu sebagai pembenaran atas perselingkuhanmu," geramku. " Selingkuh, tetap salah! Apapun alasannya!" ucapku jelas menolak kehadiran Salsabila lagi dalam istanaku.
Salsabila menatapku lebih tajam dengan kemarahan tertahan. "Papa pasti ngak akan memaafkanku jika aku ngak bisa kembali menjadi istrimu, Julio! Kamu tega melihatku dibuang keluarga?"
"Kamu cuma tahu dirimu begini lalu begitu? Lalu perasaanku ngak kamu pikirkan, hah!"
"Apa kamu punya perasaan? Yang kamu bisa hanya memerintah tanpa mau tahu aku suka atau tidak dengan aturanmu!" Wanita cantik itu memaki, sedikitpun tak terlihat penyesalan di matanya.
Tak ada tatapan teduh diantara kami, dari dulu tak pernah ada. It's going to hurt, hanya ada saling menyakiti. Our best day is yet to come ... Tak akan pernah datang hari indah itu diantara kami berdua rasanya.
"Kuharap, ini terakhir kali kita bertemu. Pengacaraku akan mengurus perceraian kita." Aku mengusir Salsabila dari hadapanku dengan halus.
"Sombong, beraninya kamu merendahkan seorang Salsabila. Aku ngak akan membiarkan kamu bisa menikah lagi dengan wanita manapun, itu sumpahku!"
Wanita cantik, molek, dan berkulit putih itu mendorong tubuhku keras dengan penuh kebencian. Entah apa yang sudah dialaminya dengan lelaki muda yang menjalin asmara dengannya itu hingga ia meluapkan amarahnya padaku.
Salsabila pergi meninggalkanku dengan kecamuk dan mata memerah. Saat itu aku tak yakin ia bersungguh-sungguh dengan sumpahnya. Tapi, nyatanya hingga bertahun-tahun kemudian begitu sulit bagiku untuk mendapatkan pasangan hidup kembali. Dalam pemikiranku, mungkin itu hanya karena aku lebih hati-hati memilih wanita yang akan kudekati dan tak mudah jatuh hati pada wanita yang mengejarku karena strata sosial saja.
Kegagalanku memahami dan membimbing wanita serupa Salsabila, meninggalkan jejak yang dalam di hatiku. Aku berusaha membangun karakter satu saat akan menemukan sosok yang selaras dengan kebaikan diriku yang terus kuperbaiki. Dan kini, Hani hadir sebagai jawaban dari doa-doaku selama hampir sepuluh tahun lamanya. Semoga ia adalah jodohku hingga akhir hayat.
Sebagian orang mungkin bertanya; apa arti kehidupan ini? Akan banyak sekali jawaban untuk satu pertanyaan ini. Sebagian jawaban, bahwa kehidupan adalah uang. Sehingga setiap detik kehidupan ini yang dicari adalah uang. Apabila tidak memiliki uang, seolah-olah kehidupannya telah hilang. Sebagian lagi menjawab, bahwa kehidupan adalah kedudukan. Sehingga setiap detik yang dicari adalah kedudukan. Sebagian lagi memandang bahwa kehidupan adalah kesempatan untuk bersenang-senang. Maka bagi golongan ini kesenangan duniawi adalah tujuan utama uang dicari-cari.
__ADS_1
Kehidupan ini adalah sebuah kesempatan yang sangat berharga untuk kita. Jangan sampai kita sia-siakan kehidupan di dunia ini untuk sesuatu yang tidak jelas dan akan sirna. Kenikmatan dunia ini pun kalau mau kita pikirkan dengan baik, maka tidaklah lama. Sebentar saja, bukankah demikian?