
Fahmi memang bukan anak-anak lagi, dia sudah beranjak remaja, tubuhnya sudah setinggi tubuhku. Setelah dikhitan, suaranya sudah terdengar berat, badannya terlihat lebih kokoh dengan bahu yang tegap.
"Ada apa, Nak?" tanyaku lembut ingin tahu.
"Aku ingin bicara dengan ayah sebentar saja." Wajah Fahmi menyiratkan jika keinginannya tak boleh aku tolak, membuatku tak tega.
"Bunda antar, ya?" lirihku hati-hati,tak ingin mematahkan keinginannya.
"Ngak usah, Bun. Bahaya. Fahmi bisa sendiri." Fahmi melarangku dengan gusar.
Aku yang sudah sangat letih rasanya, tak bisa lagi berpikir untuk menerka kemauan Fahmi. Aku hanya bisa mengangguk,lalu menatap putraku turun dari mobil untuk menemui ayahnya.
Cepat aku turunkan kaca jendela di samping kananku dan menajamkan pendengaran, gelisah dengan apa yang akan dikatakan Fahmi pada ayahnya.
"Turun, Yah" Fahmi berseru pada ayahnya yang masih duduk di dalam mobil seraya menatap heran melihat putranya mendekat ke mobilnya.
Meski Mas Bayu nampak kebingungan, tapi dia tetap menuruti keinginan putranya.
"Ayah harus minta maaf sama bunda sekarang juga, atau aku ngak mau di anggap anak ayah lagi!" seru Fahmi.
Mas Bayu yang masih melangkah menghampiri putraku, seketika berhenti menderap kakinya. Dia diam terpaku, aku yakin rasa marah mulai menguasai dirinya.
Sama seperti Mas Bayu, aku pun tak kalah terkejut mendengar ucapan Fahmi. Tak menyangka putraku seberani itu menegur ayahnya. Sikap dewasanya kurasakan mulai berlebihan, keinginannya untuk membela harga diri bundanya membuncah, hingga lupa batasan usia antara dirinya dan sang ayah.
"Untuk apa ayah minta maaf, Nak?" Mas Bayu tak mau terlihat kalah.
"Ayah ngak merasa salah? bunda pergi dari rumah ini karena ayah selalu membuat bunda sedih. Minta maaf dulu jika ayah mau bertemu aku" desak Fahmi menuntut ayahnya.
__ADS_1
"Tapi, Nak, ayah..."
"Baiklah mulai saat ini ayah bukan ayahku lagi. Ayah ngak berhak lagi atas aku, dan bunda," putus Fahmi saat ayahnya tetap ragu untuk mengalah meminta maaf padaku dan mengakui kesalahannya.
Dini yang mendengar semuanya, nampak mulai terpancing untuk ikut membela pujaan hatinya. Dia turun dari mobil dengan raut wajah yang bersungut lalu memacu langkah untuk mendekati Mas Bayu.
Melihat kedatangan wanita itu, Fahmi berbalik arah, berlari berputar menuju pintu samping mobilku lalu masuk dan memintaku kembali melaju. Aku yang masih terpana dan tak percaya dengan yang baru saja terjadi, hanya bisa membunyikan klakson berpamitan pada Mas Bayu dan melajukan kembali mobil dengan hati yang masih terkesima.
Kami berlalu meninggalkan dua orang yang masih terpaku menatap kami dengan wajah-wajah gusar.
Fahmi hanya diam menatap jalanan dari samping kaca jendela. Tak ada lagi perkataan yang ingin di ucapankan sepertinya sangat ingin bisa beristirahat. Aku pun mempercepat kemudiku, hanya ingin cepat sampai rumah, tak lagi berani membahas kejadian tadi dengan Fahmi, Ake sangat paham luka hati putraku pada ayahnya.
****
Pagi yang mendebarkan pun tiba, hari ini aku akan pergi menuju kantor besar perusahaan Mas Bayu bersama Pak Kevin, Luluk dan team kami.
Tak lupa, syal pemberian Mas Bayu juga melengkapi penampilanku hari ini, kain bercorak abstrak itu melingkar cantik di leherku. Bukan karena aku ingin mengenang pemberian Mas Bayu, tapi hanya ingin menamparnya agar ingat pada janjinya dulu saat memberi benda itu padaku.
Tatapan terkejut nyata terlihat di mata Mas Bayu saat kami bertemu di ruang meeting perusahaannya. Dia yang duduk di deretan kursi Dini, terus memperhatikan gerak gerik ku. Hari ini impianku terwujud, akulah yang tetap di pilih untuk presentasi saat lelang tender proyek iklan di perusahaan Mas Bayu.
"Bu Hani sudah paham catatan dari saya untuk di tambahan proposalnya kan? Masih ada waktu kalau ada yang ingin ditanyakan, ayo tanyakan saja." Pak Kevin bersisik lirih dari sampingku.
Melihat lelaki lain duduk berdekatan dan berbisik padaku, ekor mataku menangkap Mas Bayu terlihat begitu gelisah memperbaiki postur duduknya, dia nampak tak suka.
"Insya Allah saya paham, Pak. Doakan lancar, ya." Aku sengaja berbisik sangat dekat di telinga Pak Kevin hingga tipis sekali jarak wajah kami.
Aku menikmati saat-saat ini, Mas Bayu harus tahu jika duniaku tidaklah berakhir begitu saja karena penghianatannya. Aku buktikan, jika aku tak akan diam saja menerima perlakuannya menyisihkan ku demi wanita dari masa lalunya itu.
__ADS_1
Usai pemaparan dari beberapa peserta lelang tender, hampir tiba giliran temanku dan Luluk untuk presentasi. Aku menenangkan diri dan menyakinkan hati bahwa aku pasti mampu, demi masa depan anak dalam pengasuhan ku nanti andai terpaksa resmi cerai, sendiri tanpa Mas Bayu.
Dini berulang kali menatapku dari mejanya, dia terlihat begitu resah hingga akhirnya berdiri dan menghampiri ku, seraya membungkuk dia pun berbisik di telingaku.
"Semoga beruntung, jangan sampai pulang bawa penyesalan," ujarnya merendahkanku.
Wanita yang hari ini terlihat tak kalah cantiknya denganku itu memberiku semangat namun nada suaranya penuh ejekan. Aku tahu dia ingin menjatuhkan mental ku. Hmm, Dini belum tahu seberapa tangguhnya aku saat ini. Ras sakit hati pada suami, telah sanggup meletupkan semangatku untuk memenangkan tender ini. Aku harus bisa membuktikan wanita setangguh apa diriku ini di hadapan Mas Bayu dan Dini.
Tepuk tangan yang gemuruh, aku tersenyum puas. Kelihatannya jajaran petinggi perusahaan Mas Bayu tertarik pada proposal kami meskipun presentasi ku masih berjalan separuh waktu. Pertanyaan mereka bisa Ake beri penjelasan memuaskan hingga sesi presentasiku berakhir. Aku sangat yakin, dengan kuasa Allah, teamku akan menang tender.
Dini memicingkan mata saat melihatku berjalan menghampiri jajaran pejabat direksi untuk bersalaman dan menyapa mereka, termasuk menyapa wanita itu.
"Apa kabar, Bu Dini? Senang bertemu dengan ibu," sapaku pura-pura ramah.
"Kabar baik, Bu Hani," jawabnya gugup.
Aku menyempatkan menatap Mas Bayu sesaat, dia masih menyorotkan rasa tak percaya jika tadi baru saja berdiri presentasi di depan, adalah istrinya yang belasan tahun hanya menjadi ibu rumah tangga saja, yang sudah di buang dari sisinya saat ini.
Menunggu sesi pengumuman hasil pemenang tender iklan, semua peserta diberi jeda istirahat untuk menikmati coffe break. Saat itulah Dini menghampiri mejaku lagi.
"Jadi, kamu punya rencana apa jika tendermu menang? Berharap suamimu akan kembali padamu gitu?" ejeknya lagi dengan senyum sinisnya.
"Bu, anda harus tahu jika Allah Maha Menilai mana hambanya yang layak untuk dipersatukan? wanita baik-baik hanya pantas untuk pria baik. Dan wanita seperti ibu sudah pasti lebih layak bersama pria pengecut yang terjebak pada masa lalunya seperti Bayu," jawabku dengan santai.
"Hahaha, begitulah? Ingat Bu Hani, pelayan itu selamanya lebih pantas di dapur. Mimpi ibu untuk berkarir lagi kayaknya ketinggian deh. Balik lagi urusin rumah saja, Bu!" Terang-terangan Dini menghinaku, sepertinya dia abai jika presentasiku tadi mendapat sambutan gemuruh tepuk tangan banyak orang.
Aku tetap menjaga kewarasan pikiranku, hanya diam tak membekas hinaan wanita disampingku itu sama sekali. Aku tak mau sama buruknya jika ikut melontarkan hinaan, akhirnya Dini berlalu meninggalkan ku tetap dengan melangkah pongah. Dia tetap merasa lebih baik dariku? Kita lihat saja nanti, wahai wanita perebut suami orang.
__ADS_1