
Menjelang sore adalah waktu yang selalu kutunggu, saat itulah aku akan bertemu dengan anakku kembali usai kami berpisah seharian. Seperti senja ini, aku menyusuri jalan untuk menjemput Fahmi.
Namun, di tengah jalan, Fahmi menelepon memintaku untuk langsung pulang ke kontrakan saja. Ia sudah dalam perjalanan pulang diantar oleh guru ekskullnya...ia bersama Pak Julio.
Aku tak bisa mencegah keinginan putraku yang terdengar senang saat memberiku kabar itu, tak mungkin kuminta ia untuk turun dari mobil Pak Julio dan menungguku di jalan untuk menjemputnya bersamaku. Aku hanya bisa mengiyakan.
Aku sadar membayangkan putraku dan Pak Julio btelah menunggu di depan pagar dan membuatku salah tingkah membuka pintu gerbang diliputi rasa cemas karena tak berani memintanya untuk langsung pulang saja. Namun, dugaanku salah, setibanya di rumah tak nampak olehku sebuah mobil terparkir di depan pintu pagar rumahku.
Kubuka pagar rumah dengan heran, seharusnya Fahmi lebih dulu tiba. Apakah mungkin mereka singgah dulu ke suatu tempat?
Gelisah, aku menunggu di teras. Rasa penasaranku terjawab ketika nampak olehku Fahmi turun dari mobil Pak Julio dengan membawa banyak belanjaan saat senja semakin gelap.
"Maaf, kami mampir beli oleh-oleh dulu."
Belanjaan sebanyak belasan kantung besar itu yang disebutnya sebagai oleh-oleh? Itu serupa menafkahi kebutuhan dapur seorang janda untuk setengah bulan lamanya.
"Pak Julio berlebihan. Saya harus terima semua itu? Kenapa ngak di bagikan kepada yang lebih membutuhkan agar bermanfaat?"
"Loh kalau itu aku sudah rutin lakukan, Bu. Aku memberikan semua itu sebagai hadiah untuk Fahmi karena prestasinya dia sekolah, kok. Bukan buat Bu Hani."
"Oh...tapi..."
"Fahmi, Pak Julio haus, ada air putih ngak?" tanya Pak Julio cepat pada Fahmi yang sibuk memindah barang belanjaan dari bagasi mobil ke dapur di bantu bibi, ia mengabaikan ucapanku.
Aku menggeleng membuang napas pendek hanya bisa pasrah tak bisa mendebat kehadiran pria itu yang langsung duduk di teras rumah.
"Aku saja yang bikin es teh sama bibi, Bun." serunya riang.
"Di sini gerah ya, padahal anginnya sejuk. Kenapa, ya?" tanya Pak Julio padaku yang masih berdiri mematung di sudut teras.
"Itu karena langitnya mendung. Awan yang menutupi permukaan bumi membuat suhu semakin..."
"Bukan, Bu Hani. Awannya bukan di permukaan bumi, tapi di wajah Bu Hani, makanya aku kegerahan." Pak Julio mulai kumat sifatnya yang tak serius menyikapi keadaan yang serius.
Aku yang biasanya akan langsung tergelak acap kali mendengar gurauannya, kali ini aku hanya tersenyum tipis sejak tahu menjaga aurat wanita pada lawan jenisnya itu juga mencakup menjaga sikap.
__ADS_1
"Pak, ini sudah mau maqrib. Kenapa Pak Julio singgah di rumah seorang wanita, tadi itu langsung saja antar Fahmi kesini ngak perlu mampir dulu belanja."
"O, jadi kalau aku datangnya lebih awal boleh singgah, ya? Baiklah besok aku datang lebih cepat."
"Bukan begitu." jawabku hampir putus asa.
"Kalau aku datang untuk tawarkan pekerjaan bagaimana, bukankah itu rejeki Bu Hani? Menolak rejeki boleh ngak?"
"Pak Julio kenapa jadi mbulet gitu, sih. Saya ini masih istri orang, Pak. Andaipun kita hanya sebatas wali murid dan guru, kita berlainan jenis jadi ada batasan yang harus dijaga."
"Kalau saat kamu di kantor bagaimana? Bukankah banyak rekan priamu? Anggap saja aku begitu. Jadi aku ke sini sebagai rekan kerja."
"Bagaimana bisa Pak Julio mau mengelabui pandangan Allah?"
"Mengelabui bagaimana? Aku ke sini sungguh-sungguh mau tawarkan pekerjaan untuk Bu Hani."
"Pak Julio ngak bercanda?" Aku bertanya bingung seraya menahan malu karena salah sangka, sulit sekali bicara dengan orang yang suka bergurau itu.
"Iya. Aku baru luka butik pakaian muslimah. Aku perlu model untuk foto iklan bajunya. Aku mau Bu Hani jadi modelnya. Jangan khawatir, posenya sopan."
"Ada banyak. Tapi aku mau bikin iklan pakaian muslim sekeluarga gitu. Modelnya Bu Hani, Fahmi, dan...aku."
"Aku sudah setuju, Bunda." Fahmi yang datang membawa nampan berisi minuman, tiba-tiba menimpali ucapan Pak Julio.
"Hah?" Aku menutup mulutku dengan telapak tangan, tak bisa menahan rasa terkejutku.
Pak Julio melirikku yang masih lemas tak bisa bicara lagi. Ia mengambil cangkir berisi es teh yang dibuat Fahmi dan meminumnya hingga tak bersisa lagi.
"Deal, ya. Baiklah aku pamit, nanti aku kabari Fahmi lagi kapan kita mulai kerja bareng-bareng. Oke?" Pak Julio mengajak Fahmi tos, lalu berpamitan padanya seraya berpesan agar ia selalu patuh dan membantuku dengan rajin.
Kami mengantar pria itu hingga masuk ke mobilnya. Fahmi terlihat senang sekali.
"Pak Julio, saya perlu waktu untuk tawaran itu. Bolehkah...." Aku berkata ragu, namun tak jadi meneruskan ucapan kala kulihat Fahmi menatapku dengan kecewa.
"Baiklah, Pak, saya bersedia. Tapi nanti kita buat aturannya sama-sama, ya."
__ADS_1
"Baik, Bu, tentu. Materainya kita tempel selusin nanti." Gurau Pak Julio seraya melajukan mobilnya.
Aku baru tertawa setelah mobil itu melaju, pria berkulit sawo matang itu memang limited edition.
****
Hari berlalu, minggu berganti. Pekan pertama di bulan Januari, saat aku yang baru pulang kerja dikejutkan oleh sosok yang sangat ingin kuhindari terlihat menunggu kepulanganku di pintu pagar. Aku pun meminta Fahmi untuk masuk lebih dulu ke rumah.
"Bu, rasanya anda kurang rasa syukurnya. Saya pikir, hidup anda sudah tenang sejak sudah punya suami. Kenapa masih saja ganggu hidup saya. Dari mana anda tahu rumah ini?" tanyaku tanpa meminta Dini masuk ke dalam rumah, kami hanya berdiri di depan pintu pagar.
"Aku bisa cek lokasi rumahmu dari ponsel Bayu." Dini menunjukkan ponsel milik suamiku.
"Ooo, pemilik ponselnya mana? Bisa ya ponsel itu di bawa anda."
"Bayu masih ada di kantor. Ia suami yang baik, ia bantu selesaikan kerjaanku di kantor. Gampang saja ambil ponsel ini darinya. Oh ya, aku ada tawaran bagus buatmu." katanya menyeringai dengan tatapan serius.
"Haduh, Bu, maaf. Saya ngak minat. Tolong jangan ganggu saya. Pulanglah!"
"Dengar dulu. Ini kunci rumah di kota sebelah dan deposito atas namaku yang kita bisa cairkan sama-sama nanti. Aku juga akan siapkan pekerjaan untukmu di sana."
"Untuk apa semua itu?"
"Untuk kepindahanmu ke kota sebelah. Pergilah dari kota ini tanpa meninggalkan jejak lagi."
"Kenapa?"
"Bayu masih sering ingat anaknya. Terus terang aku ngak suka itu, ia jadi sering melamun. Kamu kan juga larang Fahmi ketemu ayahnya, jadi anggaplah aku membantumu."
"Hei, atau Bayu juga ingat hari-hari bersamaku yang ternyata lebih bahagia dibanding ketika bersamamu saat ini?"
"Jangan membuat saya menarik tawaran, kamu ingin Bayu jauhi anakmu kan?"
"Bu Dini... Pulanglah!"
"Kau selalu menyulitkan setiap aku meminta sedikit pengertianmu. Kamu tahu? Bayu harus tetap bersamaku, karena ia harus mengembalikan kehormatanku."
__ADS_1
Apa maksud Dini berkata begitu? Aku menatapnya dengan raut kebingungan. Wanita itu seolah menyimpan banyak kerunyaman hidup yang tak ada habisnya.