KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 40. Tangisan Ibu Mertua


__ADS_3

"Bagaimana, Bu Hani? Tawaranku cukup menarik itu. Oh ya, aku juga akan mengatur kebutuhan anakmu tiap bulan. Deal? Kapan kamu akan pindah dari kota ini?" Dini memegang erat jeruji pagar, berdiri menahanku yang sudah ingin masuk ke rumah. Ia tak menyerah membujukku.


"Rumah, deposito, pekerjaan, biaya bulanan anak... sudah itu saja?" tanyaku sinis seraya mengangkat alis.


Dini menatapku tak mengerti, wanita berbibir merona itu berkata lagi, "Itu besar sekali nilainya. Jangan serakah!"


Aku menggeleng-gelengkan kepala, membalikkan badan untuk masuk ke rumah. Diamku adalah cara terbaik untuk menampar Dini, menyadarkan wanita itu jika tidak bisa dibeli dengan harta.


"Hei! Sombong! Sudah, nikmati saja rumah kontrakanmu ini. Ingat, jangan harap uang Bayu akan sampai di tanganmu lagi meski anakmu butuh biaya nanti," serunya, geram melihatku yang meninggalkannya begitu saja.


Aku hanya menoleh sekejap, kulihat Dini menendang kesal pintu pagar sebelum berlalu ke mobilnya.


Aku tersenyum sendiri saat mendengar deru mobil wanita perebut suamiku itu. Ia yang tega menyakiti hati wanita lain, namun kini ia juga yang kelimpungan melihatku tetap kuat menanggung badai yang dibawanya. Sungguh, sulit rasanya bertahan mencintai seseorang yang hatinya terbagi untuk orang lain. Sekuat apapun aku berusaha memperjuangkan namun tetap berujung lara. Dekat namun seperti jauh, erat namun seperti renggang. Aku tidak sanggup hidup lebih lama serupa itu dengan Mas Bayu.


Sudah cukup aku menguatkan diri, aku yang bisa mengukur beban yang sanggup kulalui. Bukan Bayu, bukan juga Dini. Jalan ini sudah kupilih. Mungkin awalnya, kepergianku tak membuat suamiku merasa kehilangan sedikit pun, tak membuatnya berpikir bahwa ia telah menyia-nyiakanku. Kini, saat aku tahu cara mundur dari kehidupannya, ia baru tersadar berbalik memintaku kembali.


Seminggu lagi sidang mediasi dijadwalkan untukku dan Mas Bayu. Aku berharap bisa segera terlepas dari ikatan pernikahanku, semoga lelaki yang telah beristri lagi itu tak mempersulit prosesnya. Bukan karena aku ingin cepat mendapat pendamping hidup kembali, namun aku membutuhkan status diri yang jelas.


"Tante Dini sudah pergi?" tanya Fahmi, ia sedang mengadu secangkir teh di meja ruang tengah.


Aku mengangguk tersenyum.


"iya"


Fahmi memberikan cangkir berisi teh hangat padaku. Rasa haru merebak di dadaku. Putraku begitu sayang pada ibunya hingga selalu ada untuk menghibur saat bundanya ini baru mengalami kejadian buruk, meski ia hanya baru bisa membuatkan secangkir minuman.


"Makasih, Nak."


Fahmi mengangguk tersenyum.


"Bunda boleh menikah lagi, asal calon ayahnya sayang sama bunda."


"Fah-mi?" Aku menoleh, tergagap, tak menyangka ia akan tiba-tiba membahas hal seperti itu.


"Bunda tinggal pilih ayah yang baik saja, seperti Pak Julio mungkin, aku pasti setuju."


Aku melongo. Fahmi sudah remaja, memang sudah seharusnya aku meminta pertimbangannya dalam mengambil keputusan untuk masa depan kami. Tapi ucapannya tadi, masihlah tetap menggambarkan sisi anak-anak dalam dirinya. Ia belum tahu, tak semudah itu orang dewasa memilih pasangan hidup.

__ADS_1


"Makasih, Nak. Tapi tugas utama bunda adalah mengantar kamu hingga sukses dunia akhirat. Soal ayah untuk kamu... itu masih rahasia Allah."


"Fahmi hanya kasihan sama bunda kecapekan kerja. Kalau ada Pak Julio, bunda bisa tinggal di rumah saja kaya dulu."


"Itu namanya Fahmi melihat sesuatu dari sisi baiknya saja. Kita bahkan belum kenal lebih jauh Pak Julio. banyak yang harus ditimbang-timbang, Nak. Tergesa-gesa itu tidak baik."


"Gampang saja, Bun. Pak Julio sering kok cerita apa saja. Aku tahu rumahnya di mana, sukanya jajanan apa, hobinya juga aku tahu. Dan aku juga bunda disukainya."


Aku tergelak. "Sudah dulu, ah, bicara tentang Pak Julio. Kita ini wajib ikhtiar perbaiki diri saja, rajin ibadah jangan lupa. Nanti Allah yang mengatur semuanya. Paham, ya?"


"Oke, Bunda. Tapi jadi ya kita foto untuk iklan bajunya?"


"Lihat nanti, ya. Dah mandi dulu sana." Aku mengusap kepala putraku untuk menenangkan hatinya.


Kusesap teh hangat perlahan di ruang tengah sembari menunggu Fahmi selesai membersihkan diri. Kembali teringat tawaran Dini tadi, mendadak hatiku tak tenang jadi teringat pada ibu mertuaku.


Dari sikap Dini tadi aku bisa membaca jika ia dan Mas Bayu tengah memburuk hubungannya. Bisa-bisa keretakan mereka juga berimbas pada ibu mertuaku. Apa kabar ibu mertua? Mungkin aku bisa menanyakan kabarnya pada Mbak Min.


Suara Mbak Min terdengar senang saat menerima telepon dariku. Tapa kutanya ia langsung bercerita banyak suasana di rumah ibu mertuaku sejak Dini tinggal di sana. Setiap harinya, Mas Bayu pulang larut. Tapi anehnya lelaki itu tak pernah pulang bersama istri sirinya itu.


"Kasihan nenek, Bu. Tiap malam susah tidur. kalau Bu Dini sudah pulang kerja, nenek mengurung diri di kamar. Saya yang dipanggilnya setiap butuh sesuatu. Nenek jadi lebih cerewet, Bu," tutur Mbak Min.


"Tapi nenek sehat saja kan, Mbak?" tanyaku cemas.


"Terakhir kali, sih, sehat. Eeem, saya sudah ngak kerja di sana diberhentikan sama bu Dini. Maaf saya belum sempat kasih tahu ibu karena saya langsung cari kerja di tempat laundri jadi repot."


"Oh...Ya, Mbak. Maaf gangguin kerjanya, ya. Biar nanti saya telepon ibu saja. Makasih, Mbak Min."


Dengan hati tercekat, aku mengakhiri telepon, terbayang seperti apa keadaan ibu mertuaku yang harus mengurus rumah tanpa ada yang membantunya. Bahkan terakhir kali bertemu, ibu sempat cukup lama dirawat di rumah sakit. Apa Mas Bayu tidak berpikir jika ibu bisa sakit kembali, lalu kenapa dibiarkannya Dini menghentikan pekerjaan Mbak Min? Aku pun resah merenung sedirian.


"Bunda, aku sudah selesai mandi." Fahmi menepuk lenganku yang masih memandangi layar ponsel, tengah bimbang untuk menelepon ibu mertuaku ingin tahu kabar kesehatannya.


Aku mendongak dan tersenyum menatap putraku yang baru selesai mandi." Fahmi mau telepon nenek ngak? Tanyakan apa nenek sehat-sehat saja, ya."


"Boleh, Bun?"


"Boleh dong. Nenek kan keluarga kita, bunda juga kangen, kok."

__ADS_1


Bangaimanapun harus tetap kusambungkan jalinan kasih sayang ibu mertuaku dengan cucunya meski aku bukan menantunya lagi. Aku juga berkewajiban mengajari buah hatiku menghormati dan menyayangi neneknya.


"Nenek apa kabar?" tanya Fahmi sendu.


Sudut mataku terasa menghangat melihat Fahmi bertukar sapa dengan neneknya, nampaknya ibu mertuaku tak hentinya bertanya pada cucunya.


"Nenek ingin bicara dengan bunda," Kata Fahmi seraya memberikan ponsel padaku dan berlalu ke teras rumah untuk menyirami tanaman kesayannganku.


"Apa kabar, Bu?" tanyaku serak, menahan kerinduan saat membayangkan keadaan ibu usai mendengar cerita dari Mbak Min sebelumnya.


"Kalian apa kabar?" Tak menjawab tanyaku, ibu mertua justru balik bertanya, seakan enggan menceritakan keadaanya kini.


"Kapan kalian akan berkunjung ke sini?" tanya ibu lagi, meski belum sempat kujawab pertanyaan sebelumnya.


"Hani usahakan bisa ke tempat ibu nanti. Kebetulan sedang banyak kerjaan kantor. Ibu sudah makan?"


"Jemput ibu ke tempat kalian, Hani, ibu kangen dengan cucu ibu," pinta ibu dengan suara serak tersedu menahan tangisnya.


Aku tergagap, tak mengira akan diminta untuk memboyong ibu ke rumah kontrakan kami.


"Tapi, Bu? Kontrakan Hani kecil saja, tak sebesar rumah ibu."


"Ibu tak peduli. Rumah besar ibu sudah tak nyaman untuk tinggal."


"Tapi kenapa, Bu?"


"Jemput saja, ibu ngk bisa jauh sama Fahmi. Apa ibu ngak boleh menginap di situ? Kamu masih dendam sama ibu lebih memilih Dini?"


Aku terdiam. Ibu tak berubah, meski ia sedang dilanda kesulitan karena ulah Dini namun tetap saja bersikap ketus padaku. Tadinya kupikir setelah tahu perilaku Dini yng ternyata tak seindah bayangannya, akan membuat ibu mertua sadar telah mengabaikan kehadiranku selama menjadi menantunya. Rupanya aku keliru.


"Minggu besok jemput ku, kutunggu!" Ibu mertua berucap lagi, tegas memaksaku, lalu mengakhiri percakapan dengan mengucapkan salam dan mematikan panggilan.


"Bunda, ada ayah datang." Fahmi berteriak memberi tahu seraya berlari dari teras menghapiriku.


Aku yang masih tertegun dengan permintaan ibu mertuaku, semakin gemetar memegang ponsel mendengar teriakan Fahmi.


Tadi ibunya yang membuatku jantungan, dan sekaarng anaknya, batinku seraya menatap Mas Bayu yang tengah berdiri di depan pintu pagan

__ADS_1


__ADS_2