KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
APA KURANGNYA AKU DARI WANITA ITU?


__ADS_3

Aku tercengang mendengar akhir dari kalimat ibu, Dia membuka lebar-lebar pintu untuk wanita lain menginap serumah dengan anak yang jelas-jelas sudah punya istri dan anak. waah bukan main.


"Wah, bisa bahaya kalau aku sampai menginap disini, Bu. Betul ngak, Mas Bayu?" Dini menatap Mas Bayu lekat.


"Siap Bu Bos." Tawa dibantara dua orang itu, di tambah lagi kerlingan nakal Dini membuat tawa mesra mereka lebih lama lagi, menyakitkan sekali aku harus menyaksikan kegilaan mereka berdua.


Mas Bayu duduk disamping bersebelahan dengan ku, tapi perhatiannya bisa aku rasakan hanya tertuju pada wanita tinggi. nan cantik dihadapan ku itu.


"Boleh nginep kok nanti ibu lapor Pak RT saja. Ada kamar tamu, itu fungsinya memang untuk tamu biar istirahat jika kemalaman." Aku menekankan kata tamu, menyadarkan Dini bahwa dirinya hanya seorang tamu.


Ibu menetapku terkejut, karena tak mengira aku akan berkata seperti itu. Dini langsung terdiam dan langsung memotong kue serabi untuk ibu.


"Makan serabinya sudah dulu, nanti ibu kekenyangan sebelum menemanimu makan," titah ibu pada Dini agar berhenti menyuapi serabi.


Dini meraih tisu di meja, begitu telaten dia menyeka bibir ibu dari sisa kuah serabi yang lengket. Kulihat dengan jelas dia begitu tulus memberi kasih sayang pada ibu. Huft kusadari itu satu nilai plus yang membuatku mengerti kenapa ibu dulu pernah begitu menginginkannya menjadi menantunya.


"Anak mu mana? aku penasaran ingin melihatnya' Mas. Apa dia mirip kamu? semoga saja tidak, kulitmu terlalu gelap untuk di wariskan pada keturunanmu hahaha?" Dini berketa sambil tertawa, mengejek suamiku yang katanya sahabatnya.


Eeemmm....'SAHABAT TAPI MESRA'


Mas Bayu tertawa lepas, dia tak menyahuti gurauuan Dini. Bahkan ibu ikut menimpali juga. Mereka saling melempar candaan, bersahut-sahutan, suasana begitu harmonis dan akrab.


Satu lagi yang kusadari, Dini dengan sikapnya yang hangat. dia bisa membuat orang yang beradadi sekitarnya merasa nyaman. Aku menerawang kembali mengingat kapan terakhir aku bercanda mesra dengan Mas Bayu, rasanya sudah lama sekali.


Aku menemukan kekuranganku lagi, kelelahan sendirian mengurus semua hal dan rutinitas dirumah telah membuatku jadi manusia yang monoton dan membosankan. Saat bersama suami, aku yang sudah lelah dan pikiranku yang sudah jemu tidak memikirkan lagi untuk bercanda meski ku jalankan kewajibanku melanyaninya.


"Jadi, Mbak Dini ini asli dari malang?" Aku bertanya ramah.

__ADS_1


"Betul, Mbak. Aku dulu kost di kota ini, beruntung aku bertemu Mas Bayu bisa sering singgah ke rumah ini, jadi saya punya ibu kedua" Dini merangkul bahu ibu, begitu pula ibu menyambutnya dengan membelai kepala Dini


Tak kurang aku juga menyanyangi ibu mertuaku. Aku belikan apa saja yang ibu inginkan, kuturuti kemauanya juga.


Namun, karena ibu membatasi diri dari ku jadi kami susah untuk menjadi dekat. Rupanya ibu tak sepenuhnya menerimaku dengan ihklas sebagai istrinya Mas Bayu karen sudah lebih dulu ada wanita lain yang di impikan menjadi menantunya.


"Sekarang kita makan dulu saja ceritanya di lanjutkan nanti lagi, ibu sudah masak makanan kesukaan mu" ibu menarik tangan Dini untuk berdirin.


"Eeeemm, aku jadi tidak sabar mau nyicipin masakan ibu" sahabat tapi mesra suamiku itu tersenyum manja.


Mas Bayu berdiri di sampingku, cpat ku sejajarkann diriku dan mengandeng tangannya mesra. Aku inngin tunjukan bahwa aku lah yang berhak bersanding di sisinya. Suamiku tersenyum dingin tapi tetap melangkah dengan kikuk.


Fahmi sudah menunggu di meja makan. Wajahnya tak ceria, dia menekuk wajahnya hingga nampak kekesalan dalam dirinya.


"Fahmi ayo salim dulu sama tante Dini" pinta ibu pada cucunya.


"Tante, ngak capek habis kerja ngak pulang dulu?" tanya Fahmi sambil menjulurkan tangan untuk ssalim.


"Capek sich, tapi karena pengen ketemu kamu jadi hilang dech capeknya. Kamu mirip ayahmu, tinggi besar. kelas berapa sekarang?" Dini berusaha menjalin keakraban dengan Fahmi.


"Kelas sembilan," jawab Fahmi ketus.


"Wah, tante kira sudah mau kuliah lho"


Fahmi tidak menghiraukan ucapan Dini, Fahmi merapatkan diri pada ku. Jadilah kami bertiga berhimpitan di samping meja makan. Mas Bayu melepas gandengan tanganku, dia menarik kursi untuk Dini. Sungguh keterlaluan memangnya Dini tak bisa menarik kursinya sendiri, sungutku kesl dalam hati.


Aku menarik kursi untuk ibu, lalu menuntun Fahmi untuk duduk kembali. Kugandengan kembali tangan Mas Bayu, aku berbisik di telinganya "Jaga sikapmu di depan Fahmi. Kamu boleh mengabaikan aku, tapi jangan sakiti hati anak kita"

__ADS_1


Mas Bayu terdiam, bagus kalau ia memahami ucapanku tadi, dia pun mengeser kursi di samping Dini untuk duduk disebelah ku. Syukurlah dia terbuka pikirannya setelah aku peringatkan. Dia sangat menyayangi anaknya, pasti dia tidak ingin melihat kedekatanyadengan Dini.


Hanya ibu dan Dini yang banyak bicara, Mas Bayu lebih banyak diam tapi matanya lebih sering mencuri pandang pada Dini. Fahmi bicara jika hanya di tanya, dan aku hanya sesekali menimpali percakapan mereka.


"Sudah larut malam aku belum menyiapkan keperluan Fahmi sekolah. Aku izin mengatar Fahmi ke kamar dulu sebentar." aku meraih tangan Fahmi lembut.


"Iya aku juga sudah bosan mengobrol terus dari tadi. Aku kekamar dulu ayah. Fahmi mengantuk, Nek," kata Fahmi dengan muka masam pada ayah dan neneknya.


Mas Bayu berdiri, dia merangkul Fahmi sebentr sambil menepuk bahunya "Nanti ayah nyusul kekamar. Ayah janji besok ayah yang antar jemput kesekolah."


"Bentul ya, yah." Fahmi memeluk ayahnya senang, hatiku mengharu melihatnya.


Andai saja wanita yang di samping ibu itu tak kembali lagi kekota ini dn hadir dalam kehidupan kami, tentu, Mas Bayu tidak akan tergoda dan berpaling dariku.


Kenapa aku melimpahkan kesalahan pada Dini? Mungkin aku pun punya kelalaian juga sehingga Mas Bayu merasa nyaman denngan wanita lain. Apakah aku harus berubah dan menjadi seperti Dini?Tidak juga, aku harus bisa mengambil sikap , tetap menjadi diriku sendiri namun harus memperbaiki hubungan ku dengan suamiku.


Tergesa ku antar Fahmi kekamar, memberi arahan sebentar untuk tugas sekolahnya lalu kembali lagi ke ruang makan.


"Mas, di tunggu Fahmi di kamar. Seminggu kemaren kan sibuk terus, kamu sama sekali ngak ada waktu untuk Fahmi," kataku lembut.


Mas Bayu mengangguk, dia berpamitan pada Dini sambil tersenyum. Wanita itu mengacungkan jempolnya tanda persetujuan.


Aku menawarkan puding pada Dini. "Dicicipi pudingnya, Mbak. ini semua ibu yang bikin, aku beeruntung sekali memiliki mertua sebaik ibu. tadi aku ngak sempat bantu ibu masak."


"Oh, ya? Mbak Hani bukannya ibu rumah tangga ya?" tanya Dini sambil mengambil puding.


"Tadinya sich begitu, tapi akusudah berkarir lagi. Aku ingin memanfaatkan waktu, tapi bukan berarti aku mengabaikan keluarga loh. Ibarat harta, keluarga adalah harta yang harus aku jaga dari pencurian manapun." Aku menatap Dini penuh arti sehingga membuaat wanita itu tesedk puding.

__ADS_1


__ADS_2