
"Dini itu, masa kamu lupa pernah bertemu dengannya? Dia penjabat baru di jajaran direksi. Bu Andini itu lho, kamu pernah ku ajak berkenalan di acara pisah sambut" Mas Bayu menjawab ku dengan salah tingkah.
"Ooo yang itu? Mana aku tahu. Kamu saja menyebut namanya sedekat itu tanpa embel-embel panggilan ibu seperti bukan rekan kerja" Aku bersungut sambil menatapnya tajam.
Mas Bayu menggenggam tanganku erat, meraihku dalam pelukannya sambil berbisik "Jangan cemberut begitu, nanti cantiknya hilang”
Pujian Mas Bayu tak membuatku merasa senang, justru terdengar di paksakan yang keluar dari lisannya.
"Aku masih ingin bertanya kenapa...."
"Sudah malam, aku ingin beristirahat. Besok harus berangkat pagi dan ini hampir jam tiga pagi" Mas Bayu memotong pembicaraan ku dan beranjak ke kamar mandi.
Berakhir sudah usahaku jika pria tegas yang menikahi ku belasan tahun lalu itu mengambil jarak lagi dariku. Jangan sampai aku membuatnya semakin menjauh.
Salahkah diriku jika merasa cukup dengan berdandan cantik dan wangi saat bersama suamiku?. Aku tak habis pikir, pria biasanya akan merasa nyaman bila istri dirumah menyenangkan kan di pandang mata. Namun nyatanya tidak dengan Mas Bayu, dia juga menginginkan istri yang cerdas.
"Mas, sudah ngantuk sekali, ya" Tanyaku lembut. Aku belum menyerah, karena aku belum berhasil mencari tahu siapa sosok perempuan cerdas pujaan suamiku.
"Hmm" Dia hanya bergeming sambil naik ke tempat tidur.
"Aku mau bekerja lagi boleh?" Ujarku pelan, sambil Kurebahkan diri di samping suamiku.
"Apa? kamu serius? siapa nanti yang akan mengurus Fahmi dan menemani ibu!" terkejut sekali Mas Bayu mendengar permintaan ku.
"Katamu anak sudah besar dan ibu tidak rewel orangnya? Dan kita bisa pakai jasa ART lalu aku akan mulai berkarir lagi" aku berkata sambil mengelus dadanya lembut.
Pria yang berbaring di hadapanku ini seketika terdiam beberapa detik. Wajahnya datar, tak bisa ku tebak isi hatinya. Baru aku sadari, ada celah terbentang dalam hubungan kami ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin berkerja lagi?" tanyanya gelisah.
Aku pandangi Mas Bayu tanpa berkedip, mencari sedalam apa arti aku dalam sorot matanya.
"Tentu, aku ingin mengembangkan diri, mengembalikan Hani yang Smart dan cerdas!" Ku perjelas akhir dari ucapan ku, ingin menyadarkan suamiku bahwa istrinya tidak terlalu b*doh.
"Eem gitu? hahaha percuma Hani. Dunia kerja saat ini sudah berbeda saat jauh kamu berkerja dulu. Belum tentu kamu bisa ngikutin, bisa stres nanti kamu karena tuntutan pekerjaan" Mas Bayu tertawa geli.
"Mas lupa? Kalau aku ini orangnya gigih? Tidak ada yang tidak mungkin bagiku, Dan aku percaya kuasa Allah akan hadir pada kesungguhan seseorang" Jawabku tak mau kalah.
"Sudah lah, tidur saja sudah larut malam" ucapannya dengan memelukku setengah hati.
*****
"Sarapan dulu, Bayu" Ibu mertuaku menegur Mas Bayu yang tergesa menjijing tas kerjanya.
Suamiku menghampiri ibu dan mengulurkan tangannya untuk berpamitan "Aku sudah di tunggu rekan kerja ku, Bu. Ibu ingat Dini engak? yang dulu sering main kesini untuk pinjam komputer ku. Sekarang dia sekantor dengan ku Bu."
Aku yang masih menyiapkan bekal makan untuk Fahmi anakku. Mendengarkan pembicaraan seru antara ibu dan anaknya itu dengan hati berdebar. Ada yang baru aku ketahui tentang sosok Dini di masa lalu Mas Bayu.
"Iya Dini yang suka memijit ibu sebagai upah meminjam komputer ku untuk menggarap skripsinya hahaha" Mas Bayu tertawa renyah.
Sepertinya istimewa sekali Dini di bayangan kedua orang ini yang masih lanjut membicarakannya. Menggenang sosoknya kala hadir dirumah ini. Begitu senang wajah mereka setiap menyebutkan nama perempuan itu. Bahkan ibu mertuaku tak menghargai aku yang ada disisinya saat ini. Dia terus saja memuji perempuan yang istimewa baginya tanpa memikirkan perasaan ku.
"Aku pamit, Bu. sudah telat" Mas Bayu menyudahi obrolannya dengan ibu.
"Ya, ajak Dini min kesini, Ibu kangen" Ibu meminta Mas Bayu mengundang perempuan lain kerumah ini tanpa bertanya dulu bagaimana pendapat ku.
__ADS_1
Aku hanya bisa diam membisu, menatap ibu mertua dengan nelangsa. Namun wanita paruh baya itu sepertinya tak merasa bersalah atas permintaannya pada Mas Bayu untuk mengundang perempuan lain dalam rumah kami.
"Hani, aku sarapan di kantor saja. mana Fahmi?" Mas Bayu menanyakan buah cinta kami.
"Fahmi sudah sarapan, dia mengambil tas sekolahnya di dalam kamar" jawabku lirih.
"Apa perlu mengundang Bu Andini untuk datang ke rumah jika tak ada acara, Bu?" Tanyaku memberanikan diri.
Ibu mertua terkejut mendengar pertanyaan ku, lalu menjawab sengit. "Kamu ngak ngerti cara menyambung silaturahmi? Memangnya ngak boleh orang bertemu hanya karena kangen"
Aku tergagap, memang benar alasan ibu, aku tak berani lagi menentang perkataannya. Mungkin sebaiknya saat ini aku mengalah dulu. sembari mencari cara tetap mempertahankan diriku yang sepertinya mulai memudar di hati Mas Bayu.
"Aku juga mau pamit, sekalian mau mengantarkan Fahmi dan aku juga akan memasukan lamaran kerja" pelan aku berkata pada Mas Bayu dan ibu. Kuraih tangan suamiku dan juga ibu bergantian untuk meminta izin.
"Ternyata kamu sungguh-sungguh dengan ucapan mu semalam, ya? Mau kerja dimana? Terserahlah aku tak ada waktu lagi, aku berangkat dulu" Mas Bayu melepaskan tanganku, beranjak dari samping ibu seraya memanggil Fahmi.
"Kamu mau kerja lagi? Bukannya uang belanja tidak pernah kurang?" Ibu menatapku heran.
"Maaf, ibu. Mas Bayu ingin aku mengembangkan wawasan pada diriku. Karena menurutnya aku ketinggalan zaman kalau hanya sibuk ngurus rumah saja" Aku menjawab dengan santun.
"Nanti siapa yang ngurusin rumah? tidak mudah mencari pembantu yang jujur dan rajin saat ini?" Ibu membuang napas karena kesal
"Kami sudah bicara semalam, Bu. Mas Bayu sudah memberi izin. Nanti aku carikan pembantu yang bagus, ibu jangan khawatir aku carikan yang telaten menemani ibu" Aku menyalami ibu mertua, lalu menunggu Fahmi berpamitan juga.
"Kamu sudah bosan menemani ibu selama ini" sengit mertuaku, Dia salah mengartikan perkataan ku.
"Maaf...maaf, Bu. Bukan seperti itu, Hani sangat menyayangi ibu, tapi untuk kali ini aku harus bekerja lagi" Kupeluk tubuh mertuaku, tidak ingin melukai perasaannya.
__ADS_1
"Sudah berangkat sana, nanti cucuku terlambat" Ibu mengurai pelukanku.
Di perjalanan aku asyik mengobrol dengan Fahmi anakku. Sesekali aku mengusap kepalanya karena gemas dengan ucapannya. Perbincangan hangat ini dilakukan sembari mengemudi, kususun langkah-langkah dalam benakku apa saja yang harus aku lakukan., dan apa saja yang harus aku persiapkan. Andai Mas Bayu menuruti keinginan ibu untuk mengundang Dini kerumah.