
"Yakin kamu mau kerja? Dulu bukannya kamu ingin merawat dan mendidik anak dengan menjadi full mom?" Luluk bertanya tidak percaya, usai mendengar cerita ku.
Aku menggeser sedikit laptop yang ada di mejanya, agar pandangan Luluk beralih dari layar laptop dan bisa melihatku dengan jelas.
"Yakin, hanya kamu yang bisa menolongku. Bantu aku agar aku bisa berkerja di sini lagi. Berapapun gajinya, aku terima. Aku hanya butuh identitas diri, agar tak di padang sebelah mata oleh suami ku". Ku tatap sahabat terbaikku dengan melas.
Luluk mengerucutkan bibirnya menatap ku geli. "Mau di kasih imbalan apa aku?"
"kamu mau shopping kemana? Ayo aku lempar sekarang" Aku tertawa siap mengangkat tubuh Luluk yang lebih berisi dariku.
"Ampun sayang, aku banyak berhutang budi padamu, aku sudah yakin aku akan membantu mu, iya kan?" Luluk tertawa mengejekku.
Kami pun tertawa bersama. Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Aku merasa telah kembali pada masa mudaku. Lama sudah ku tinggalkan dunia kerja, tempat aku bisa leluasa mengekspresikan diri bersama sahabat dan rekan kerja ku. Ah, ternyata punya waktu bersama teman itu menyenangkan.
"Nanti akan ku hubungi kamu jika aku sudah bertemu dengan boss besar. Barangkali bisa menyelipkan kamu kedalam departemen mu yang dulu."
"please, Luluk. Kalau pun tak bisa, izinkan aku bantuin pekerjaan mu saja. Hanya beberapa waktu saja, aku perlu pekerjaan yang berhubungan dengan kerjaan Mas Bayu."
"Oke, tapi ingat anakmu jangan sampai terabaikan. Sudah cukup anakku saja yang di asuh ART, dan cukup aku saja yang jadi single parent. pertahankan keluarga mu."
"Sungguh aku terharu dengan ketulusan Luluk, ku peluk dia untuk menguatkannya. Dulu saat Fahmi masih balita, aku memutuskan untuk berhenti kerja karena belajar dari hancurnya rumah tangga Luluk. Suaminya berhubungan dengan perempuan lain karena Luluk tidak cukup waktu untuk bersama keluarga.
"Sudah jangan membuatku lemah, aku sudah bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang. Semua sudah pilihan hidup pasti ada suka dukanya, yang penting kamu usahakan yang terbaik yang bisa kamu lakukan." Luluk berujar sambil menepuk pundak ku.
Aku mengangguk sambil mengacungkan kedua jempol "Ku tunggu kabar baik darimu, aku pulang dulu sayang."
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, kus sempatkan singgah untuk belanja kebutuhan dapur. Tak lupa aku belikan makanan kemasan kesukaan Fahmi. Seandainya besok aku sudah masuk kerja, semoga bisa tetap memberikan perhatian pada Fahmi meski hanya di sisa waktu yang ada.
Sampai dirumah ibu tengah sibuk melepaskan sarung bantal di kursi ruang tamu saat aku masuk rumah. Ucapan salamku dijawab hanya sepintas lalu, ibu mertua terlihat bersemangat dengan aktifitasnya tanpa bergerak sedikitpun untuk menoleh saat kepulangan ku. Nampak olehku satu set sarung bantal pengganti yang sepertinya bukan sarung cadangan yang aku simpan di lemari perkakas rumah.
"Sarung bantal baru ya, Bu? Hani belum pernah lihat sebelumnya." Tanyaku sesudah melekatkan belanjaku di meja dapur dan kembali menemui ibu mertua.
"Ini sudah lama sekali tapi ibu simpan, ini di belikan Dini dulu. Gambar bunga sakura kesukaan ibu, bagus kan?." Jawab ibu berbinar seraya memamerkan sarung bantal yang hendak dipasangnya itu.
"Eemm" jawabku sambil menahan rasa nyeri di hati.
"Ibu pengen banget bisa ke jepang lihat bunga sakura yang asli. Dulu Dini pernah berjanji pada ibu kalau sudah sukses dia akan mengajak ibu lihat bunga sakura." Ibu mertua lagi membanggakan sosok Dini padaku.
"Ooh, hehehe" Aku menahan diri supaya tak berucap, agar aku tidak berkata-kata yang nantinya hilang kendali.
"Eemmm bukan, bukan begitu maksudku, Bu. Aku senang jika ibu merasa senang. Terus kenapa baru sekarang Dini kembali ke kota ini?" Cepat-cepat aku redam kekesalan ibu mertuaku, biar aku sedikit mengalah dulu demi kesenangan ibu.
Aku ikut memasang sarung bantal dengan gugup. Menata hati, melapangkan dada untuk terus bersabar jika harus mendengarkan kisah Dini yang sepertinya sangat istimewa.
"Tidak tahu juga, lulus kuliah dulu tiba-tiba ngak ada kabarnya gitu. Padahal ibu dulu berharap bahwa dia akan menjadi istinya Bayu." terang ibu mertuaku tanpa memikirkan perasaan ku atas ucapannya.
Aku menghentikan menarik resleting sarung bantal, tercengang mendengar penuturan ibu mertua. Rupanya ada kisah yang belum selesai antara Dini dan Mas Bayu.
Belum jodohnya Mas Bayu mungkin Bu, jadi Allah hadirkan aku sebagai pengantinnya dan menjadi menantu ibu". Aku mengulas senyum tulus sambil memegang tangan ibu lembut.
"Mungkin, jodoh memang tidak ada yang tahu. Kadang sudah kenal lama dan dekat ngak kebetulan, yang kenal bentar eh malah ke pelaminan. Mungkin sudah rezeki mu jadi istrinya Bayu" ibu berusaha tersenyum pada ku.
__ADS_1
"Jadi rencana Dini mau kesini kapan, Bu?"
Aku menata bantal di kursi, lalu meraih tangan ibu untuk duduk bersisian denganku.
"Tidak apa-apa ya kalau ibu minta Bayu mengundang Dini kesini besok malam? Kita masih bisa menyiapkan menu makan malamnya" ibu bertanya padaku dengan terbata. seperti merasa tak enak padaku.
"Ya, tidak apa-apa, Bu. Mau masak apa nanti aku siapkan." Aku tetap tersenyum memendam kegelisahan hati ku, berusaha meredam luka hatiku.
"Sebentar aku telpon Bayu dulu"
Dengan semangat empat lima ibu mertua pergi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya, meninggalkanku yang tiba-tiba merasa terkikis kebahagiaan diriku seiring hadirnya bayangan gelap Dini dalam pernikahanku. Diusia belasan tahun pernikahan, secepat inikah badai menerpa rumah tanggaku.?
Ingin ku cari tahu sosok Dini itu? Huft, kenapa tidak terpikirkan dari tadi untuk menjelajahi dunia sosial media. Wanita aktif seperti Dini mana mungkin tidak punya akun dunia Maya.
Tak tahu nama lengkapnya, ku ketik saja nama Andini di pencarian. Beruntung aku sepintas bertemu dengannya pada acara kantor lepas sambut jabatan di kantor Mas Bayu. Memudahkan ku mengenalinya dari foto profil.
Ooh, ternyata foto-foto yang di unggahnya di IG menunjukkan sosok perempuan hebat yang bergelimang prestasi. Dari foto profil aku dapat info jika Dini lulusan S2 dari luar negeri, mungkin saat kuliah di negeri orang itu Dia menghilang dari dunia Mas Bayu.
Ku buka kolom komentar di postingan Poto terbarunya. saat acar perkenalannya sebagai pejabat baru di kantor Mas Bayu. berdebar jantung ku saat menemukan nama suamiku ikut menyematkan kata pujian, dan lebih mengejutkan lagi dia menyapa perempuan itu "My Dini".
Tak sabar, ku skip postingan hingga beberapa tahun sebelumnya. Membayangkan ada foto kebersamaan Mas Bayu dan Dini saat muda dulu. Mataku sudah mengembun, hatiku yang mudah sedih telah kelenjar air mataku mengalirkan buliran kristal yang dengan susah ku tahan.
Segera aku hapus tetesan bening disudut mata saat mendengar langkah kaki ibu mertua mendekat sambil berbincang dengan Putranya ditelepon.
"Dini jadi kesini besok malam. kamu temani ibu belanja ke supermarket. Ibu mau belanja bahan masakan kesukaan Dini," ucap ibu berbinar.
__ADS_1