
Aku terdiam membeku cukup lama di depan mesin ATM, kecewa dan rasa sakit yang menggunung tak lagi mampu membuat air mata ku menggenang. Aku hanya mampu melangitkan doa-doa dan berharap ALLAH mendengar pintaku untuk memberiku bahu yang kuat.
Mungkin ini siasatnya Mas Bayu agar aku menelponnya, lalu memohon meminta hak nafkah padanya. Lalu, dia akan menyudutkan ku yang memilih sendiri pergi darinya. Dia salah, aku tidak akan melakukan itu. Lebih baik bersandar pada yang Maha Kuasa, menjemput rupiah sendiri daripada mengemis pada suamiku itu.
Kudekap dompet, mengatur nafas panjang ku. Aku punya tabungan sendiri, sisa gajiku waktu masih kerja dulu, namun sudah aku gunakan untuk membayar kontrakan rumah sehingga tinggal sedikit saldonya. Baru seminggu bekerja, masih lama lagi jika berharap pada gaji bulanan ku nanti.
Tak apa, aku memang harus mulai bisa membiayai kehidupan ku dan Fahmi tanpa bantuan Mas Bayu lagi, mulai saat ini juga. Hatiku memang berdarah, merasa benar-benar sudah di singkirkan, tapi tidak mungkin aku terus menerus berharap dari nya.
Dengan tangan gemetar, akhirnya aku mengambil uang simpanan ku sendiri meski tak akan cukup untuk bertahan hingga akhir bulan. Ah, wanita itu kembali mendatangkan masalah bagiku. Tak cukup hanya merebut suamiku, kini dia mampu membuat Mas Bayu tega menghentikan biaya hidup untuk buah hatinya sendiri.
Aku menatap kaca di sisi ruangan ATM, melihat diriku dari atas kepala sampai ujung kaki. Dini memang jauh lebih tinggi dari ku, wajahku juga tak sekencang wanita itu. Ku pejamkan mata menahan perih,kembali menghirup napas panjang menghempaskan rasa cemburu pada wanita masa lalu suamiku itu. Aku bisa lebih baik dari wanita itu, aku akan buktikan, iya aku pasti bisa.
Sepanjang jalan menuju kantor, hanya wajah Fahmi yang terbayang, membuat ku bertekad tak akan ada lagi tangisan meratapi kemalangan ku. Cukup sudah aku berharap Mas Bayu akan kembali lagi menjadi imam keluarga kecil ku. Aku sudah berusaha mencoba menyemai lagi kedekatan hati kami, namun dia tetap dimabukan pesona Dini.
Terburu, aku melesat keruangan kerja. Sudah agak terlambat masuk kantor karena pikiran ku sempat kosong sejak dari mesin ATM tadi, hingga tak berani melajukan mobilku cepat. Jangan sampai atasanku tahu aku tak tepat waktu, bisa mengurangi pertimbangannya untuk tetap memilih ku memenuhi kriterianya bisa tetap ikut presentasi nanti.
"Aku briefing team, mereka ngak ada tuh yang ku lihat mencurigakan gelagatnya ngak setuju kamu presentasi gitu" Luluk langsung mengajakku membahas nasib presentasi ku.
"Sssst.. nanti siang saja kita bahas itu, masih ada waktu dua hari lagi ini. Aku punya orderan iklan baru yang harus selesai siang ini. Nanti Pak Kevin kesal lagi kalau aku ngak profesional kerjanya" ujarku serius, lalu segera menyiapkan laptop.
"Baiklah, baiklah. Aku juga ada kerjaan, nanti kita bahas lagi" Luluk mengacungkan kedua jempolnya untuk memberiku semangat.
Seketika kami pun sibuk berkutat mengejar target perkejaan yang di buru closing. Waktu bergulir tanpa terasa, suasana begitu hening saat sebuah nada dering panggilan berbunyi nyaring dari ponselku siang itu.
Kutatap di layar ponselku terbaca sebuah nama yang sedang sangat ingin ku enyahkan ke dasar perut bumi yang terdalam, Mas Bayu.
__ADS_1
"Iya, Mas?" tanya ku lesu usai mengucap salam.
"Fahmi kenapa tidak sekolah hari ini? Ibu macam apa kamu, anak ngak bisa sekolah tapi ngak bikin surat izin ke wali kelasnya! Ngak usah sok mau minggat bawa anak kalau ngak bisa urus dengan baik!" Mas Bayu membentak ku dengan suara baritonnya hingga telingaku berdengung.
Aku begitu terkejut, tak percaya mendengar penuturan suamiku. Fahmi tak masuk sekolah? mana mungkin.
"Ngomong apa sih kamu, Mas? Aku antar Fahmi sampai gerbang sekolah tadi pagi kok. Jangan mengada-ada."
"Fahmi ngak ada di sekolah, kamu masih ngak percaya? Coba kamu buka pesan WA, pasti ada chat dari wali kelasnya. Ceroboh sekali, ada chat penting sampai ngak tahu, hah?" Mas Bayu mencercaku dengan sangat marah.
Dengan gemetar, segera kucari pesan chat yang di maksud Mas Bayu. Terburu ingin menyelesaikan pekerjaan membuat ku mengabaikan pesan-pesan yang masuk dari aplikasi hijau itu.
Aku terbelalak membaca pesan dari wali kelas Fahmi yang menanyakan kenapa Fahmi tidak masuk sekolah, pesan itu masuk dari jam delapan pagi tadi. Jelas saja aku abai, saat itu aku baru tiba di kantor dan langsung sibuk memulai pekerjaan ku yang di batasi tenggang waktu.
"Sudah baca pesannya? Cari Fahmi sekarang! Aku telepon anak itu tapi ngak di jawabnya, sekarang malah ponselnya ngak aktif. Kalau sampai terjadi hal buruk pada putraku,aku ngak akan maafin kamu, ngerti?"
"Oke. Aku sedang tak ingin bertengkar kali ini. Kamu cari kemana saja terserah, aku akan cari ke sekitar sekolah barangkali satpamnya melihat arah perginya." Mas Bayu menyudahi perdebatan kami.
Segera aku tutup panggilan, tersedu menghampiri Luluk yang menatapku kebingungan sejak aku menerima telepon tadi.
"Ada apa?" tanya Luluk ikut cemas.
"Fahmi pergi entah kemana, dia tidak masuk ke sekolahnya. Aku yakin dia sudah masuk gerbang tadi pagi, tapi....."
"Sudah cepat cari Fahmi." Luluk memotong isakanku sambil mengusap punggung ku.
__ADS_1
"Tolong, jangan sampai Pak Kevin tahu masalah rumah tanggaku ini. Tolong kasih tahu alasan lain jika dia mencari ku sampai sore nanti. Bisa-bisa aku gak boleh ikut presentasi beneran."
Luluk mengangguk cepat, lalu memintaku segera mencari Fahmi.
Berdebar, aku berusaha melangkah menahan gelisah yang membuat lemas kakiku. Pikiran buruk melintas, ketakutan andai putraku mengalami depresi karena perpisahan ku dengan ayahnya.
Aku sering melihat kenakalan remaja yang terpicu kekecewaan pada tingkah laku bapaknya yang menikah lagi. Akankah putraku juga mengalami itu? meski hati kecil ku tak yakin, tapi segala kemungkinan bisa terjadi walaupun aku mengenal Fahmi sebagai sosok anak yang berjiwa besar.
Berulang kali mencoba menelpon nomor ponsel Fahmi, namun tak juga dapat aku hubungi. Segala yang ada di kepala ku saat ini hanya tentang putraku. Dia dimana, kenapa sampai tega membohongiku dengan pura-pura ke sekolah tapi tidak ada di kelasnya.
Seperti di topang kekuatan luar biasa yang di miliki seorang ibu, aku yang melangkah pulau kini mampu berpacu di jalanan untuk mencari putraku.
Aku mengingat-ingat, jika ada keanehan pada sikap Fahmi tadi pagi sebelum tiba di sekolahnya.
"Nanti, bunda jemputnya agak telat gak apa-apa, aku ada tugas kelompok jadi dikerjakan dulu di perpustakaan sekolah." Terngiang kembali ucapan Fahmi seusai Salim sebelum berlalu masuk melalui gerbang sekolahnya.
Aku mengusap wajah ku dengan gusar, apa sebaiknya kutunggu saja sampai nanti sore sesuai janji Fahmi saat meminta di jemput terlambat? Bukankah dia akan menungguku di gerbang sekolahnya nanti sore meskipun dia ternyata tidak masuk sekolah? Bagaimana ini, aku tak berani ambil resiko dengan hanya menunggu hingga sore nanti. Tapi kemana aku harus mencari Fahmi.
Mas Bayu menelpon ku saat aku masih berputar-putar menyusuri jalan, menatap sudut jalan yang aku lewati.
"Sudah. Aku sudah menemukan Fahmi. Satpam sekolah melihatnya saat pergi tadi, putramu putar cari alasan jadi satpamnya tidak curiga. Kamu kesini, Fahmi tidak mau ku ajak bersama ku. Didiklah dia dengan benar, atau aku akan memasukkannya ke sekolah yang ada asramanya. Semua gara-gara kamu yang sombong merasa pintar cari duit sendiri. Cepat kesini, aku tunggu!"
Aku hendak bertanya, kemana aku harus menjemput Fahmi, ketika terdengar sayup-sayup sebuah pemilik suara mendayu yang sangat aku kenali berbicara pada Mas Bayu.
"Sudah, antar saja Fahmi ke bundanya, kita ada rencana berdua yang lebih penting kan?"
__ADS_1
Itu suara Dini? Suara wanita itu membuat pikiran ku kembali tak tenang. Wanita itu sudah kehilangan kewarasannya, dia selalu saja nempel kemana pun Mas Bayu pergi.