KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 65. Penyesalan


__ADS_3

Duduk di teras usai pulang kerja, aku menatap Mbak Wati yang baru saja naik ke atas boncengan sepeda motor suaminya. Saat deru kendaraan menyala, wanita muda itu menganggukkan kepala padaku berpamitan. Setelah, ia memeluk erat pinggang sang suami yang menjemputnya, begitu mesra dan bahagia. Potret kehidupan yang menyentuh kalbuku sore ini. Bahagia itu sederhana bagi orang yang bisa menciptakannya.


Aku masih memandangi kepergian wanita yang membantuku di rumahku itu hingga menghilang di belokan blok perumahan.


Semburat senja semakin tajam, buru-buru aku masuk kedalam rumah. Betapa terkejutnya aku melihat mantan ibu mertua berdiri di ruang tengah seraya menjinjing tas pakaian kecil miliknya dengan raut datar.


"Hani ibu mau pamitan," kata mantan ibu mertuaku ketus.


"Ibu mau kemana?" tanyaku khawatir.


"Pulang ke rumah ibu. Biar saja masih direhab, mungkin masih bisa sambil ditempati juga. Ibu hanya mau minta tolong kamu antar ke ATM dulu ambil sedikit uang simpanan ibu, terus antar ke rumah. Bisa?" desak wanita paruh baya itu padaku.


"Ibu sudah ngak betah di sin?" tanyaku, bingung haruskah memberi tahu ibu yang sebenarnya tentang rumah yang sudah terjual.


"Betah. Tapi kalian berdua sudah berbeda sikap sama ibu. Aku sadar sekarang sudah bukan mertuamu lagi, pasti kamu terpaksa ibu tumpangi lebih lama lagi," ucap ibu cemberut.


"Ngak, Bu, itu perasaan ibu saja, kok." Buru-buru kubesarkan hati wanita berusia senja itu.


"Ngak usah basa-basi, Hani. Kalau ngak ikhlas jujur saja. Ibu mau pulang, antar saja sekarang," seru mantan ibu mertuaku tetap menuduhku.


Apakah semakin tua seseorang, akan semakin galak, bawel, kekanakan, menyebalkan, dan sulit dipahami? Aku menggumam sendiri melihat sikap ibu mertuaku seraya berpikir bagaimana cara berkata jujur padanya. Sungguh, aku tak tega menyampaikan berita buruk itu.


"Bu, sebenarnya Mas Bayu sedang diuji kesulitan," ucapku lirih.


"Maksudnya gimana, kesulitan apa? Kamu jangan mengarang cerita." pekik ibu panik.


Pelan, kuambil tas dari tangan ibu mertua dan menuntun wanita itu duduk di kursi.


"Mas Bayu harus ganti uang kantor yang dibawa Dini, Bu. Jumlahnya sangat banyak, terpaksa rumah dan mobil sudah dijual. Tabungannya juga sudah dikuras habis." Perlahan aku memberi tahu ibu yang sebenarnya.


"Ya Allah. Ngomong apa kamu?" tanya ibu mertua dengan suara gemetar, tangannya memegang tanganku erat.

__ADS_1


"Benar, Bu. Hani ngomong yang sebenarnya, Mas Bayu belum berani jujur sama ibu."


"Ya Allah, ya Allah. Bayu ..." Ibu mulai terisak, tangannya semakin erat menggenggam tanganku.


"Barang-barang di rumah ibu bagaimana, banyak barang ibu yang di lemari kamar."


"Barang-barang Hani juga masih ada di sana, Bu. Mungkin Mas Bayu sudah menyimpannya." Aku menenangkan ibu mertua sebisaku.


Napas ibu mertua tersengal, panik dan wajahnya memucat. Kupijat lembut punggungnya, memintanya bersabar dan mengingat Allah. Terlihat kesedihan menghujam sangat dalam di wajah ibu, bahkan untuk menggerakkan lisan pun sudah tak mampu.


Ibu mertua mengedarkan pandangan menatap isi ruang tengah dengan tatapan kosong, lalu menyapu wajahku lekat, dan tergugu memelukku. "Semua sudah diambil secepat ini. Aku ngak punya apa-apa, Bayu juga meninggalkanku di sini tanpa kabar lagi. Ibu harus gimana?"


Aku membalas pelukan ibu mertua erat. Cukup lama ibu menumpahkan tangisannya, lalu mencoba bangun, berdiri menjinjing tasnya kembali. "Antar ibu sekarang, ibu mau lihat rumah peninggalan suamiku untuk yang terakhir. Tolong antar."


"Ini sudah mau maqrib, kita pergi sebentar lagi, ya, Bu," ucapku lirih seraya bernapas lega melihat ibu mertua mulai berusaha bersikap tenang.


Aku memanggil Fahmi, memintanya menemani neneknya sebentar. Kubuatkan teh hangat untuk ibu mertua. Sungguh, aku tak pernah mendoakan keburukan untuk Mas Bayu dan ibunya meski mereka berlaku zolim. Jika akhirnya mereka harus terbelit kesulitan, itu buah dari perbuatan tercela yang mereka tabur sendiri.


Aku meminta Fahmi untuk tetap berdiam diri di rumah, aku memberi penjelasan padanya jika aku dan neneknya ada urusan yang lebih mendesak. Kuminta Fahmi berhati-hati di rumah selama aku dan ibu mertua pergi.


Dua puluh menit kemudian kami tiba di rumah ibu, rumah luas beratap model limas yang kokoh itu telah berpindah pemilik. Ibu mengetukkan gembok di pintu pagar seraya mengucap salam dengan nyaring, namun sepi tak ada sahutan dari dalam sana. Mungkin, rumah ini belum dihuni pemilik barunya.


"Di rumah itu Bayu kutimang dan kubesarkan. Di rumah itu pula suami ibu berpulang. Di dalam sana, banyak kenangan manisku dengan cucu ibu dari mereka lahir. Rumah itu juga saksi kebaikanmu selama menjadi menantuku. Sekarang, ibu ikhlas melepasmu memilih mau melanjutkan pernikahan dengan siapa." Memegang erta jeruji besi pagar, ibu melirihkan sesak yang dirasanya.


Kata-kata ibu terdengar tulus, sangat tulus bahkan. Wanita paruh baya itu telah memenangkan peperangan dalam batinnya dengan mengakui kekhilafannya selama ini, meski harus kehilangan semua yang dimilikinya dalam sesaat. Aku merengkuh bahu ibu mertua dengan keharuan.


Manusia memang begitu, untuk mendapatkan sebuah hikmah baik kadang harus dibuka mata hatinya dengan kepahitan hidup lebih dulu. Itulah perlunya berhati-hati dalam memilih sikap terhadap orang lain, karena kita tak akan pernah tahu kebaikan dan keburukan sika kita yang mana yang suatu saat akan kembali pada kita.


"Sepertinya rumah ini belum ditempati. Ibu mau kuantar ketemu Dini? Bisa minta hak ibu kembali hak ibu kembali nanti" tanyaku.


Terlintas olehku mungkin aku bisa membantu untuk mengantar menemui Dini, meminta hak kedua ibu dan anak itu yang dirampas oleh wanita perebut suamiku.

__ADS_1


"Kamu tahu dimana Dini? Ayo antar ibu ke sana dulu," kata ibu bersemangat.


Aku mengangguk, berpacu dengan malam kulajukan mobil menuju tempat tinggal Dini yang lumayan jauh jaraknya.


Dengkuran halus ibu mertuaku terdengar lirih, aku menoleh menatap wajah berkerutnya yang terlihat begitu lelah menanggung kesedihannya. Semarah apapun, meninggikan derajat orang tua masih sanggup aku coba lakukan. Aku tetap membantu ibu mertua melawati kesulitannya.


Ibu terjaga kembali saat mobilku melambat berhenti di depan rumah abu-abu kediaman Dini. Aku berpesan agar ibu tetap bersikap tenang demi kesehatannya sendiri.


Setelah berulang kali kuketuk pintu pagar sembari mengucap salam dengan keras. Akhirnya seorang pria nampak menyibak sedikit tirai jendela, mengintip sesaat, lalu buru-buru menutupnya kembali.


Setelahnya pintu rumah itu terbuka, nampak wanita yang kami cari berjalan malas dalam balutan gaun malam tipis yang ditutupnya dengan jaket rajut pendek.


"Wanita ja_lang, tinggal dengan lelaki siapa lagi itu?" bisik ibu kesal sesudah sempat melihat pria tadi dan menjumpai Dini dalam gaun malamnya.


"Tenang, Bu. Fokus pada tujuan kita saja," ucapku lirih.


"Wow, kalian sudah berbaikan? Mau apa malam-malam ke sini. Kenapa bukan Bayu yang datang sendiri!" Dini berkata sembari mengangkat satu matanya dengan sengit.


"Heh, dengar, ya. Sama orang tua ngak ada sopannya. Kamu sudah hancurkan kehidupannya anakku." Ibu mulai naik pitam.


"Bu ... saya ngak mau hancur sendirian. Bayu juga harus merasakan kehancuran hidup sampai ingin mati saja rasanya," ujar Dini tetap tenang.


"Ibu tidak sangka, kamu tega sekejam itu sama kami."


"Kejam? Itu setimpal dengan perlakuan kalian padaku. Ibu mau apa sekarang? Mengaturku untuk bersikap meniru Hani lagi? Hahaha." Dini menyeringai sinis.


"Bu Dini. Ibu hanya mau uang milik Superindo dikembalikan. Berikan hak mereka, BU!" ucapku nyaring.


Dini tak menjawab, wanita itu merapatkan jaket rajutnya dan lebih mendekat pada kami, hingga kami berhadapan persis di balik jeruji pagar semi kayu itu.


"Aku hanya mau Bayu yang mencariku." Tanpa membuka gembok, Dini segera berlalu meninggalkan kami. Membuat ibu berteriak-teriak menyumpahinya dengan kesal.

__ADS_1


Dini hilang di balik pintu, ia tetap berkeras Mas Bayu harus datang mencarinya. Aku menenangkan ibu, tak apa hari ini gagal asalkan sudah berikhtiar menjumpai wanita itu. Kembali seorang pria menyibak tirai jendela, kali ini ia tersenyum lebar pada kami. Remang wajahnya tak bisa kuingat, siapa sebenarnya pria itu?


__ADS_2