KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 68. Aku Sangat Rindu


__ADS_3

POV Bayu


Aku memegang sapu lidi bergagang panjang, mengumpulkan dedaunan Akasia yang berserakan menutupi halaman gedung, terus menyapu hingga permukaan jalan bersih mudah dilalui. Puluhan pohon Akasia mengitari halaman muka hingga ke belakang gedung, menggugurkan dedaunan yang tak terbilang jumlahnya. Kuusap peluh di dahi, berhenti sejenak meluruskan punggung setelah tak henti bergerak dari pagi-pagi sekali.


Di sinilah aku, di sebuah gedung perkantoran seperti dulu. Namun, kini aku hanya seorang petugas kebersihan, bukan lagi duduk di ruangan ber-AC yang sejuk dan nyaman. Aku sudah dibonceng Hilmi usai subuh tadi agar lebih dulu sampai sebelum para petinggi, staf dan karyawan perkantoran ini tiba.


"Pak Bayu belum pernah sekalipun jadi petugas kebersihan? Baiklah saya akan jelaskan dengan cepat, tolong perhatikan!" Dengan runut, supervisor kebersihan kami menjelaskan pekerjaanku. Aku hanya mengangguk patuh, merasa diriku bukan siapa-siapa di hadapannya.


Ah, mendengar tugas-tugas pekerjaan kasar itu saja telingaku sudah sesak, hingga membuatku merasa benar-benar menjadi kaum jelata. Tak perlu wawancara berbelit atau seleksi ketat, hanya dengan dibawa oleh Hilmi saja aku mulai bekerja pagi ini setelah menyerahkan data diriku.


Usai menyapu dedaunan, aku bersama seorang rekan harus buru-buru membuka ruangan-ruangan sekaligus mengumpulkan sampah, lalu membuangnya ke bak penampungan. Menatap ruangan-ruangan kantor itu sungguh membuatku pilu, teringat dulu aku pun bergelut di dalam ruang serupa dengan gagah dan dihormati bawahanku. Kini, semuanya tinggal kenangan saja.


Semua tugas harus dikerjakan dengan cepat, membuat napasku habis serasa tinggal setengahnya saja. Rasa lapar dan dahaga terasa cepat menyapa tubuhku. Tadi pagi aku hanya sempat mengisi perut dengan sedikit roti manis yang kubeli di warung pinggir jalan.


Aku menatap Hilmi yang tak kenal lelah mulai menyapu ruangan-ruangan dalam gedung, lalu memintaku membantunya mengepel lantai. Wajah pria muda itu tetap terlihat cerah tak ada lekukan cemberut seperti raut mukaku. Iya, aku akui, aku masihlah setengah hati menjalankan pekerjaan ini, mungkin rasa tak ikhlas itulah yang membuat rasa lelah lebih cepat menderaku. Tak seperti Hilmi yang terlihat ringan hati bekerja meski cukup menguras tenaga.


Lantai ruangan sudah mengkilap dan harum satu per satu penghuni gedung perkantoran ini mulai berdatangan dengan balutan pakaian rapi dan wangi, membuat dadaku sesak menatap seraya bertanya kapan aku bisa kembali seperti mereka lagi?


Dalam ruangan kecil di dekat pantry kantor, kami diberi waktu sejenak untuk melepas dahaga, sebelum melanjutkan membersihkan toilet, kaca, dan merapikan mebeler ruang-ruang yang kurang rapi. Belum lagi harus mengecek nyala AC di tiap ruangan, dan sederet pekerjaan lain yang masih menanti. Sungguh pekerjaan yang amat melelahkan.


Dulu, aku tak pernah menghargai jerih payah para pekerja kebersihan di gedung Superindo tempatku bekerja. Kupikir mereka hanya orang yang remeh tugasnya, ternyata justru orang-orang seperti mereka inilah pejuang rupiah yang sangat hebat. Siang pun menjelang, aku bisa bernapas lega, kembali kami boleh beristirahat di ruang dekat pantry tadi.


"Ya ampun, Mas. Ternyata seberat ini pekerjaannya," ucapku lirih pada Hilmi, menahan lapar dan lunglai tubuh yang tak bersisa lagi tenaganya.


"Sabar saja, Mas. Nanti juga terbiasa. Saya belikan makan dulu, ya. Mau yang berapaan sebungkus?" Hilmi menatapku iba.


"Eemm, yang paling murah saja." Aku mengulurkan selembar uang dengan sungkan.


Tak peduli lagi sekelilingku, aku membaringkan tubuh di lantai berbantal kedua tangan untuk menyangga kepala. Malang sekali hidupku kini. Menerawang langit-langit ruangan, terlintas wajah-wajah orang yang kurindukan membuat lelahku sedikit bisa keabaikan. Aku telah menjadi suami yang gagal untuk Hani, tapi aku tak ingin menjadi ayah yang gagal untuk anakku, biarlah nestapa ini kujalani demi harga diriku sebagai lelaki.

__ADS_1


Tak berapa lama, Hilmi pun kembali membawa dua bungkus nasi untuk kami, diajaknya aku menikmati menu sederhana itu di halaman samping gedung. Kata Hilmi, lebih bebas menghirup udara segar di sana seraya melihat lalu lintas jalanan, aku pun menurut saja.


"Mas Bayu sebelumnya pernah kerja di mana? atau baru merantau k kota ini, ya?" tanya Hilmi sembari menatapku yang lahap menyantap makanan karena telah kehabisan tenaga. Aku hampir tersedak, susah payah menelan makananku. Mendengar pertanyaan pria muda itu lidahku keluh, tak mungkin kukatakan jabatanku sebelumnya yang cukup berkelas.


"Eh, itu. Saya dulunya karyawan kantor tapi ada pemutusan kerja jadi nganggur. Biasalah ada sedikit cobaan hidup. Oh ya, saya lupa belum berterima kasih sudah diajak kerja," jawabku gugup.


"Santai, Mas. Sama-sama. Saya seneng jadi ada teman ngobrol."


Waktu istirahat kami tak banyak, Hilmi buru-buru menarik lenganku mengajak berwudhu untuk shalat zhuhur di mushola kecil gedung ini. Aku terkesiap sesaat, sudah lama keimananku tertinggal jauh terbuang hingga tak kutunaikan lagi panggilan shalat.


"Mas Hilmi duluan saja, masih keringetan nanti saya nyusul," ucapku menahan rasa malu.


Langit terlihat begitu cerah dengan terik matahari yang sedikit menyengat. Aku mengusap peluh, mengingat ibadahku yang makin hari makin tak jelas sejak bersama Dini dan semakin jauh kutinggalkan saat terdampar dari kenyamanan hidupku.


Cukup lama aku terpekur, menatap sosok Hilmi yang bersemangat antri mengambil air wudhu meski kelelahan menderanya dan banyak rekannya memilih terlelap daripada shalat selama waktu istirahat yang sesaat ini.


Berjalan beriringan dengan Hilmi, aku keluar dari mushola dengan hati yang lebih tenang. Kami berdua kembali memburu waktu untuk melanjutkan pekerjaan. Tergesa aku ikuti pria muda yang baru menjadi temanku itu, memutar ke halaman depan untuk lebih cepat masuk gedung perkantoran dari mushola.


Sebuah mobil yang sepertinya pernah kulihat nampak melintas pelan di halaman depan, seketika aku teringat siapa pemilik kendaraan itu. Seseorang yang sebelumnya kucari keberadaannya namun susah kutemukan.


Sekuat tenaga aku berlari mengejar mobil itu sembari meneriakkan nama wanita di dalam kendaraan mewah itu. Namun sayang, tak bisa lagi terkejar olehku.


"Kenapa dikejar, Mas kenal orangnya? tanya Hilmi yang berdiri di tepian halaman gedung menungguku berbalik lagi.


"Iya, itu teman saya. Apa Mas Hilmi tahu di ruangan mana kerjanya?"


"Wah, maaf, Mas. Saya kurang paham. Banyak tamu yang sering datang ke sini. Tapi kayaknya sih saya beberapa kali lihat mobil itu melintas, biasanya saat jam istirahat gitu."


"Oh, iya, mungkin ngak kerja di sini, hanya ada urusan pekerjaan di perusahan sini."

__ADS_1


"Iya, Mas. Ayo kita kerja lagi biar cepat selesai."


Aku mengangguk, tapi benakku dipenuhi rasa ingin tahu tentang mobil milik Dini yang kulihat tadi. Semoga aku akan dipertemukan dengannya lagi nanti di area gedung ini. Detik berikutnya, terbetik olehku untuk membeli sebuah ponsel agar bisa kugunakan mencoba menghubungi wanita itu lagi. Sekarang aku sudah kerja dan sisa uangku tak jadi untuk modal usaha.


"Mas, nanti bisa minta tolong mampir beli ponsel sebentar? Saya butuh buat telepon orang," ucapku sambil melangkah sejajar dengan Hilmi.


"Bisa, Mas, santai saja."


Aku tersenyum, menepuk bahu Hilmi dengan rasa terima kasih mendalam. Terbayang bisa memilki benda pipih yang mahal itu lagi, rasa bahagia sudah memenuhi rongga dadaku karena akan bisa lagi menelepon ibu, anakku dan ... Hani.


Matahari senja berganti dengan awan tebal yang berarak menutupi langit. Aku menyimpan ponsel yang baru kubeli dalam kantong plastiknya dan memasukkan ke tas punggungku. Terburu Mas Hilmi memacu motor tuanya berpacu dengan rintik gerimis yang mulai turun. Kami sepakat untuk tetap meneruskan perjalanan pulang yang tak jauh lagi.


Dinginnya Rinai air hujan tak kami hiraukan, terus menerobos padatnya jalanan demi bisa sampai ke kamar kos sebelum maqrib datang.


Bersyukur kami selamat tiba di kontrakan meski harus basah kuyup menggigil menahan dingin.


Malam bergulir, aku mengaktifkan kartu SIM yang baru kubeli tadi, lalu memasukkan nomor ponsel orang terdekatku yang kuingat di luar kepala. Sembari menyuap makan masi bungkus mengisi perutku, aku mulai mengetik pesan untuk Dini yang kulihat mobilnya siang tadi di halaman gedung.


Belum banyak makanan yang masuk ke perutku, ketika rasa mual tiba-tiba menyerang tak bisa kutahan. Aku berlari ke kamar mandi, lalu kembali ke kamar dengan lemas. Keringat dingin membasahi bajuku, tubuhku mulai menggigil. Tak lagi berselera menghabiskan makananku, rasa mual belum lagi menghilang dan lidahku terasa pahit.


Menyedihkan sekali, aku meringkuk sendirian di atas kasur tipis. Tak ada tempatku bermanja, tak ada yang merawatku saat badanku lemah terserang sakit. Sepertinya tubuhku yang kelelahan tak sanggup manahan dinginnya air hujan hingga jatuh sakit.


Andai aku tak menduakan Hani hingga menyakiti hatinya? Ah, Hani, cinta sejatiku hanya dirinya. Mungkin selamanya akan begitu. Enam belas tahun bersamanya ternyata membekas dalam hatiku dan tak ada yang bisa menghapusnya. Hani, aku membutuhkanmu.


Demam mulai menyerangku, tak ada obat yang kumiliki saat ini. Untuk pergi keluar pun rasanya aku tak akan sanggup. Meminta pertolongan Hilmi atau teman kos lainnya rasanya tak enak mengganggu waktu istirahat mereka. Aku hanya bisa menahan sakit sendirian, iya, sendirian.


Sungguh aku rindu dekapan dan tulusnya kasih Hani. Meski sudah tak pantas merindukannya, aku sangat rindu.


Seorang lelaki, mungkin tak akan menyadari kelemahan tubuhnya ketika dirinya masih berjaya dalam kemapanan hidup. Namun, saat terbuang sendirian dan sakit mendera raga sepertiku saat ini, barulah sadar jika perhatian seorang istri yang tulus ikhlas merawat suami itu tak ternilai, tak tergantikan dan tak bisa dibalas dengan kemewahan, atau dengan harta sebanyak apapun.

__ADS_1


__ADS_2