
Angin berhembus lembut menerpa pucuk jilbabku, perlahan aku melangkah diantara kilau lembayung senja yang menerpa sebagian wajahku. Fahmi berseru senang, melihatku menghampiri mereka.
"Bunda, sini,"Fahmi menggamit lenganku.
Pria yang bersandar di mobilku itu tersenyum hangat, lalu menghampiriku seraya mengulurkan tangan menyapaku.
"Saya Julio, tapi bukan Julio Iglesias jadi saya ngak bisa menyanyi." Pria berpembawaan tenang itu mengenalkan namanya, sedikit melucu membuatku seketika tersenyum jenaka.
"Guru ekskul di sekolahku, Bun," ujar Fahmi.
Aku menatap buah hatiku dan juga pria itu yang baru kutemui namun serasa sudah seperti bukan orang asing lagi karena keramahannya.
Rasanya sungkan untuk balas menjabat tangan pria itu, rasa tak percaya diri menyergap, merasa tak nyaman karena kini aku hampir menjadi seorang janda. Selain itu, aku sedang berusaha jadi muslimah yang taat, ingin mulai bisa menghindari bersentuhan dengan lawan jenis.
"Saya Hani, tapi bukan Hani seperti panggilan Pak haji Roma." Aku mengatupkan kedua tanganku di dada, menimpali gurauan pria bernama Julio itu.
Terbahak, pria itu sepertinya tak menyangka aku akan senada dalam gurauan dengannya.
"Mi, bundamu kartun juga, nih. Pak Julio suka." Pria itu menilaiku lucu, dia mengangkat kedua tangannya, Lalu disambut oleh telapak tangan Fahmi hingga mereka berdua tos dengan kompak.
Aku mengernyitkan dahi kebingungan, karena putraku punya rahasia bersama pria itu yang tak kuketahui.
"Bunda, Pak Julio ini yang ngajar aku ekskul desain grafis di sekolah. Cocok itu sama kerjaan bunda yang bikin-bikin iklan." Fahmi memberi tahu.
"Oh ya, maaf saya kurang hafal nama-nama guru Fahmi dan mengajar apa saja di sekolah dia." Aku menahan malu.
Sekian lama mengantar jemput anak, sebagai ibu rumah tangga tulen aku jarang menyempatkan diri berbincang dulu dengan para guru, selalu terburu karena banyak pekerjaan rumah yang masih harus kuselesaikan. Apalagi sejak bekerja, waktuku semakin berkurang saja.
"Bu Hani biasa buat iklan rupanya, Fahmi malah belum cerita tentang itu. Boleh dong saya ikutan proyeknya." Pak Julio tersenyum, tapi aku merasa dia tak serius memintaku memberinya peluang kerja sama.
__ADS_1
"Haduh, Pak. Saya masih amatiran, belum lama ini mulai karir lagi di iklan. Saya ada satu proyek besar dari Superindo kalau Pak Julio mau, bisa ikut bantu."
"Jadi Bu Hani sedang tangani proyek branding di PT Superindo ya? Kenal sama pemiliknya belum? Kenalkan Julio Wardhana." Lagi-lagi pria itu mengulurkan tangannya.
Aku terkekeh bingung, pria itu terlihat sangat suka bercanda hingga membuatku tak bisa membedakan ucapannya serius ataukah gurauan. Jika dilihat kulitnya yang sawo matang, sangat tak mungkin jika dia keturunan Pak Darma Wardhana yang berkulit lebih terang.
Apalagi pria yang seusia Mas Bayu itu sangat sederhana penampilannya. Tubuh tegapnya hanya berbalut kaos oblong longgar dan celana jeans santai, tak ada aksesoris mewah melekat semisal jam tangan mahal seperti pria kaya pada umumnya.
"Jadi Pak Julio ini guru desain grafis atau pemilik perusahaan? Gakje bener, alias gak jelas." Senyumku lepas menghias wajahku yang merona, menutupi kebingunganku.
"Hahaha iya, Bu, saya memang gakje jadi jangan di percaya, ya. By the way, saya senang sekali bisa kenal bundanya Fahmi. Dia anak yang baik seperti ibunya." Pria itu pun mengelus lembut pucuk kepala Fahmi, membuat hatiku menghangat saat melihatnya.
"Makasih, Pak Julio. Bapak mau jenguk seseorang yang sakit?"
"Mama saya sedang opname di sini, makanya waktu Fahmi bolos ekskul saya ngak tahu, waktu itu guru lain gantikan saya yang harus izin bawa mama dirawat. Tapi esoknya Fahmi cerita semua kejadiannya. Bu Hani yang sabar, ya, ujian rumah tangganya besar."
Aku terkejut, tak menyangka Fahmi berani bercerita tentangnya yang bolos untuk kerja jaga warnet lalu membuka kisah rumah tanggaku pada pria itu. Rasanya ingin segera menegur Fahmi, tapi saat melihat wajah menunduk putra remajaku itu, di hatiku mnelesup sedikit kesadaraan untuk paham jika mungkin dia butuh seseorang yang jadi tempat berbagi hatinya yang terlika. Bisa jadi Pak Julio sudah sangat dekat dengan putraku, hingga dia nyaman berkeluh kesah pada pria itu.
Aku mengangguk, saat pria itu selangkah pergi, terbesit keinginan untuk menyempatkan waktu menjengguk mamanya. Aku merasa ingin ikut membesarkan hati pria itu saat harus merawat wanita terkasihnya. Setidaknya karena pria ramah itu sudah sangat baik pada anakku selain itu dia juga gurunya.
"Pak Julio," panggilku cepat.
"Iya?" Pria itu menoleh, tersenyum hangat.
"Mama di ruang mana, boleh saya jenguk sebentar?"
Pak Julio menjawabku cepat seraya mengangguk berbinar, dia merengkuh pundak Fahmi untuk berjalan bersisian dengannya menuju Paviliun Cendana yang disebutnya seraya melangkah lebih dulu menjadi petunjuk jalan.
Kami berjalan senada serupa sebuah keluarga kecil yang harmonis. Ragaku bergetar, jiwaku merepih saat tak bisa lagi mengingat kapan terakhir kalinya Aku, Mas Bayu dan Fahmi mengayun kaki beriringan sebahagia ini.
__ADS_1
Tiba di sebuah ruang rawat VVIP di Paviluin Cendana untuk kalangan berada yang berkantung tebal, Pak Julio mengantarku masuk menemui mamanya. Mataku membulat sempurna, ada Dini tengah berdiri di samping ranjang pasien. Untunglah Fahmi menunggu di kursi depan kamar rawat hingga tak perlu bertemu lagi wanita yang tak dia sukai.
Sel-sel otakku segera bertautan mencerna pemandangan di depan mataku. Mungkinkah Dini di sini untuk menjenguk istri pemilik perusahaan tempatnya bekerja? Jadi Pak Julio itu benar-benar...
Aku menarik napas mengumpulkan rasa percaya diriku. Mendekat pada wanita yang tengah berbaring sakit yang baru pertama ini bertemu.
"Ma, ini tamu istimewaku, ingin kenal dengan mama." Pak Julio menyentuh lembut lengan mamanya.
Dini pun menatapku tak suka, dia yang terlihat masih jengah bertemu denganku lagi setelah kejadian di kamar rawat ibu mertuaku sebelumnya, seketika terkejut mendengar ucapan Pak Julio tentang aku. Dia pun mundur menjauh tanpa menyapaku.
Dengan lirih, aku mengenalkan diri sebagai ibu dari murid putranya. Wanita berparas anggun itu mengangguk lemah, berterima kasih seraya tersenyum lembut. Tulus kulisankan agar kesabaraan ada bersama wanita paruh baya itu.
"Saya titip salam saja buat Pak Darma. Semoga Ibu Darma cepat sehat kembali," pamit Dini akhirnya.
Pak Julio menoleh, lalu menghampiri Dini yng sudah bersiap beranjak ke pintu kamar.
"Iya, Papa masih cari kopi di kantin. Nanti saya sampaikan."
Dini tersenyum getir menjabat tangan Pak Julio,seperti dia merasa gelisah setelah baru saja mendengar jika aku diperkenalkan sebagai tamu istimewa dari putra pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Tante Dini di sini?" Sayup kudengar suara Fahmi dari depan ruang kamar. Aku masih berdiri di samping ranjang, menemani mamanya Pak Julio.
"I-y-a," jawab dini gugup.
"Fahmi kenal ibu ini?" Kudengar Pak Julio bertanya pada putraku.
"Iya, Pak Julio. Tante Dini itu..."
"Maaf sedang buru-buru, saya pamit dulu." Terdengar olehku, Dini berkata panik memotong ucapan putraku.
__ADS_1
Dengan keindahan senja, aku di pertemukan dengan seorang pria berada namun rendah hatinya, humoris, baik sikapnya dan begitu hangat pada putraku. Dengan semangat, aku memijat lembut kaki wanita terkasih pria itu. Wanita bertutur lembut itu terus melirihkan tanya, ingin tahu lebih banyak tentangku.