KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 59. Untuk Apa?


__ADS_3

Aku pernah membiarkan pikiranku berjalan liar mengikuti anganku, dengan begitu saja menerima kedekatan yang ditawarkan Pak Julio. Meski terlambat menyadari, meski tak tega melihat pria baik itu sedikit kecewa harus menjauh sementara dariku, meski itu juga berat bagiku namun kupilih jalan berliku ini.


Dalam anganku kini, langkahku haruslah lebih tertata. Meski status menjadi menantu seorang Dito Wardhana sudah menungguku, aku tetap tak ingin gegabah melangkah.


Aku mengemudi dengan perlahan, hati-hati kususuri jalanan di siang yang terik saat pikiranku terbagi. Salsabila, nama itu mulai menggelayuti benakku, sebenarnya kenapa Pak Julio melarangku ikut terlibat proyek dari perusahaan wanita itu? Sungguh aku masih bingung menerka.


Rasa haus mendera, jarak ke kantor masihlah harus kutempuh agak lama. Aku memperhatikan tepi jalanan, mencari kios atau minuman. Di sebuah minimarket Alfasana kuhentikan laju mobilku. berjalan tergesa menghindari terik matahari, aku ingin masuk secepat mungkin ke minimarket untuk membeli sebotol minuman.


Baru saja mendekat pintu masuk minimarket, aku melihat seorang wanita yang kukenali hendak membuka pintu mobilnya. Dini, wanita berbibir merah menyala itu akhirnya kutemukan lagi. Aku tak boleh melewatkan pertemuan tak terduga ini, mungkin saja ia tinggal di sekitar sini.


Mengurungkan niatku membeli minuman, secepat langkah aku menuju mobilku kembali dan mengikuti kemana kendaraan Dini berpacu. Hani, kamu lupa harus ke kantor saat ini? Bisiku dalam hati mengingatkan kewajiban pekerjaan yang sudah menunggu. Ah, tapi ini lebih penting. Demi siapa aku lakukan ini? Kembali batinku menegur. Entahlah, demi siapa?


Tak jauh dari minimarket mobil Dini terhenti di sebuah rumah minimalis bernuansa warna abu-abu dengan pagar semi kayu yang elegan. Aku segera membunyikan klakson sesaat setelah wanita itu membuka gembok pagar dan ia pun menoleh dengan terkejut melihat kehadiranku.


"Bu Dini," seruku terburu turun dari mobil.


"Bu Hani bagaimana bisa sampai sini?" tanya wanita itu keheranan masih dengan raut terkejut.


"Saya beruntung sekali melihatmu di minimarket tadi. Rupanya kamu ngumpet di sini setelah kabur bawa lari uang perusahaan?" aku bertanya memburu.


"Saya? Apa ada buktinya saya bawa kabur uang? Yang benar saja, Bu?" jawabnya santai tanpa dosa.


"Nurani kamu dimana? Bayu sudah kehilangan keluarga saat menikahimu. Lalu dibalas dengan fitnah, kembalikan uang itu pada yang berhak."


"Hahaha, Bayu yang malang apa kabarnya? Jadi ia mengadukan saya padamu, ya." Wanita itu terkikik menahan tawanya.


"Jangan menertawakan kesulitan orang lain, Bu. Kamu yang bawa petaka itu dan akan berbalik pada dirimu sendiri." Aku masih berdiri seraya menatap geram, heran ada wanita setega dirinya.


Dini diam membisu. Ia hanya menyerigai menatapku sambil memainkan kunci mobilnya.


"Bayu sudah jual semua aset miliknya, sekarang entah tinggalnya dimana. Kamu kejam, Bu Dini." Aku membulatkan mata, menatap kesal wanita itu.


"Bayu jual asetnya?" Wanita berbibir merah menyala itu menggumam lirih seraya menatap kosong, sepertinya ia tak mengira Mas Bayu akan berani mengorbankan harta bendanya.


"Ayolah, selagi masih ada umur jangan sia-siakan hidupmu. Temui Bayu, kembalikan uang itu. Saya sudah mengalah pergi, lalu kenapa kamu justru curangi Mas Bayu. Kurang baik apa saya sama kamu?" ucapku lirih.


"Tunggu-tunggu. Apa kalian balikkan lagi setelah saya pergi?" Wanita itu menatapku menylidik.


"Maksudnya?"


"Kamu terima Bayu kembali gitu." Suara Dini terdengar mengejekku.


"Ngak saya hanya kasihan, Mas Bayu tetaplah ayahnya Fahmi. Saya ngak ingin anakku sedih kalau ayahnya ada masalah di kantor."


" Hahaha hebat kamu, masih saja perhatian sama suami berng_sek. Terserah saya mau begini, kek, mau begitu, kek. Ngak usah kamu ngatur-ngatur ." Dini mulai jengah mendengar ucapanku.

__ADS_1


Wanita bermata lentik itu berlalu masuk ke mobilnya, melajukan pelan masuk ke halaman rumah tanpa menghiraukan kehadiranku lagi. Aku berdiri mematung di depan pagar. Untuk apa aku mengikuti wanita itu hingga sampai di sini? Untuk apa? Berulang aku bertanya sendiri tetapi buntu menemukan alasannya.


"Dah pulang sono, Bu Hani. Urusi lagi Bayu. Maaf saja saya sudah bisa move on dari pria berng_sek itu," seru Dini mengusirku.


Kata-katanya menamparku membuat kakiku perlahan beringsut dari depan pagar. Tetapi, lagi-lagi nuraniku membawa langkah kaki mendekat kembali pada wanita perebut suamiku itu.


"Saya baru akan pergi setelah kamu janji akan kembalikan uang Superindo. Saya beri waktu dua hari." Entah, aku pun tak tahu kenapa aku membela kepentingan Mas Bayu dan berusaha mengurai kesulitannya.


"Ya ampun. Saya ngak salah dengar? Ngak salah saya pilih ninggalin Bayu. Kamu masih ingin balikan sama suamimu." Dini menyeringai lebar, menuduhku.


"Saya baru saja resmi cerai. Kamu selalu saja berpikir jelek padaku."


"Iya. Kamu pergi ninggalin Bayu berlagak jadi wanita tangguh. Kamu terus saja ada diantara saya dan Bayu meski sudah ngak ada di rumah itu lagi. Kamu membuat Bayu membuang saya." Dini memekik sambil mengguncang bahuku geram.


Setelahnya, wanita itu memandangku tajam, lalu menerawang jauh ke jalanan seakan menghitung jejak langkah hidupnya yang silam.


"Maksud kamu apa, sih? Kamu yang memberi saya pahitnya hidup. Kenapa seolah saya yang salah? Sya bahkan pernah berpikir mengalah untuk diduakan demi anak. Tapi syukurlah anak baik-baik saja saat saya bawa pergi." Aku berbalik menyalahkan Dini.


"Saya ngak salah! Bayu yang salah, Bayu!" teriak Dini kalut.


Aku melihat sorot kemarahan yang begitu dalam di manik mata wanita itu, Mas Bayu dicintainya tapi juga dibencinya? Ah, wanita ini sepertinya punya sebuah kisah kelam dengan Mas Bayu.


"Saya memang bodoh. Terjerumus berkali-kali tapi tetap saja ngak sanggup melihat kenyataan. Belum lama baru kupahami, semua yang sudah rusak, ngak akan kembali seperti dulu. Sekarang saya sudah puas lihat Bayu sengsara. Jadi, biarkan saja Bayu terim karmanya, oke? Silahkan pergi dari sini." Dini menudingkan jarinya ke arah pintu pagar, mengusirku.


"Sudah-sudah, jangan ceramah! Biar Bayu datang sendiri cari saya."


Tanpa memandangku lagi, Dini berlalu masuk ke dalam rumah berwarna abu-abu itu. Aku menarik napas panjang. Apa ada yang salah dalam diriku? Kenapa susah sekali untuk bersikap masa bodoh dengan nasib Mas Bayu.


Ya Rabb, ku pernah menguatkan tali sabar untuk suami dan ia pilih membuangku. Kini, saat ia terpuruk, masih saja hatiku diselimuti rasa iba padanya. Apa aku salah? Terpejam mataku mengingat kembali lara di hatiku saat itu. Bantu aku menjadi wanita yang tegas bersikap ya Allah, jika membantu Mas Bayu membawa kebaikan untukku maka mudahkanlah, jika membawa keburukan untukku maka jauhkanlah aku dari kerumitan hidup pria itu.


Aku mengayun langkah menuju mobilku di luar pagar, sepintas lalu kulihat seorang pria berdiri di tepi jendela seraya menatap kepergianku. Siapa pria yang serumah dengan Dini itu, wanita itu telah melacurkan dirinya dengan pria lain setelah meninggalkan Mas Bayu? aku segera menepis pikiran buruk itu.


****


"Beneran lupa waktu kamu, ya? Jam segini baru nyampai sini. Dua jam lagi sudah waktunya pulang." Luluk membelalakkan matanya menegur kelalaianku lambat datang ke kantor.


"Maaf."


"Lupa semuanya kalau sudah sama Julio, huft." Luluk cemberut melirikku.


"Bukan gitu. Aku ketemu Mas Bayu, habis itu aku aku lihat Dini, terus aku ikuti wanita yang ..."


"Cukup-cukup. Kerja! Ke ruang sebelah, team kita di situ. Proyek Anifarma sudah mulai kita garap, untung baru briefing konsep tadi. Cepat sana, aku nyusul nanti." Luluk memotong penjelasanku dengan wajah serius.


"Maaf tapi aku mau mundur dari proyek itu."

__ADS_1


"What? Kenapa?"


Aku mematung di hadapan Luluk, susah untuk menjelaskan. Ada saja kerumitan hadir. Setelah Dini, kini ada wanita lain bernama Salsabila yang tak kukenal sama sekali namun menurut Pak Julio berniat tak baik padaku.


"Ini orang ya, bukannya jawab, kenapa malah diem aja." Luluk menepuk lenganku dengan kesal.


"Itu, Luk, Bu Salsabila yang dari Anifarma itu mantan istri Pak Julio." Aku tergeragap memberi jawaban.


"Halah-halah, kamu baper amat. Memang kenapa?" Luluk mengerucutkan bibirnya tak habis pikir mendengar jawabanku.


"Kata Pak Julio, Salsabila mungkin tahu kedekatanku dengannya dan terlalu riskan kalau aku ikut dalam team proyek punyanya itu," jelasku.


"Ngak lah. Kenal aja kagak kan kalian berdua?"


"Ya tapi, aku juga takut kalua itu benar. Aku pegang proyek lain lagi yang lebih berat pun aku mau. Lembur malam juga siap."


"Gimana ngomongnya ke Pak Kevin coba? Kamu tercantum dalam proposal proyek itu. Kalua faktanya kamu ngak terlibat, costumer bisa komplain." Sahabatku itu mengembuskan napas berat, ia terlihat sumpek mendengar masalahku.


"Bantu aku, please. Nanti aku bantuin kamu cari jodoh biar bisa masuk surga dari pintu suamimu," pintaku seraya bercanda.


"Ngerayu kamu, nih. Aku maunya nikah sama Julio kamu setuju?" ledek Luluk dengan kesal.


"Kalau itu sudah takdirmu yang ngak apa-apa." Aku menjawab dengan wajah tak berdosa.


"Duh, tiap ketemu kamu nih ya, bukannya kerja malah ada aja masalah yang dibahas. Ngadep Pak Kevin sendiri sono, seterah caramu mundur, aku ngak berani bantu." Luluk mendorongku keluar dari ruang kerja kami tanpa ampun lagi.


Rasa haus dan lapar yang tak kurasakan sejak siang tadi, kini mulai membuatku semakin lemas melihat Luluk tak mau susah payah membantuku menjelaskan pada Pak Kevin untuk mundur dari proyeknya Salsabila.


Dengan gontai, aku menuju ruang atasanku, lalu mengetuk pintu perlahan. Tak lama, suara berat Pak Kevin memintaku masuk. Wajahnya yang tetap terlihat segar meski waktu sudah menjelang sore, semakin berbinar kala melihatku yang menemuinya.


"Ya, Bu Hani?"


"Ada yang mau saya bicarakan, Pak."


"Iya, silahkan." Ia pun memintaku duduk di sofa kecil di sudut ruangan.


"Saya mau mundur dari team proyek Ani farma. Kalau boleh, saya pilih tangani proyek yang lain saja." Seperti tercekik, suaraku tersendat di tenggorokan.


"Kenapa, ya? Bu Salsabila pilih Bu Hani jadi leader padahal kan?"


"Iya, sya tahu. Saya masih ada masalah rumah tangga, saya tidak siap, Pak. Maaf saya mundur, semoga bisa di pahami."


"Hemmm, gitu, ya? Tapi saya tetap harus konfirmasi ke Bu Salsabila dulu, ya. Sebentar saya telepon dulu."


Lelaki yang cukup bijak itu mengambil ponselnya, lalu menunggu panggilan telepon tersambung dengan raut gelisah, sama sepertiku yang gundah menanti Bu Salsabila mengiyakan atau tidak pada permintaan mundurku dari team proyeknya.

__ADS_1


__ADS_2