KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 34. Rasa di Sanggar Pelangi Jingga


__ADS_3

"Ayo turun," kataku pada Luluk, kami sudah tiba di sanggar Pelangi Jingga. Namun sahabatku itu masih mengerjap mata, belum percaya akan bertemu dengan putra dari pemilik Superindo.


"Bentar, ngaca dulu bentaran." Luluk mengamati ddirinya di kaca spion mobil seraya merapikan letak poninya dengan jemarinya sebentar.


Aku melongo, Luluk nampak grogi dan ingin tampil sempurna hanya karena akan bertemu seorang yang katanya terkenal di kalangan para pakarnya advertising. Aku menggeleng seraya berdecak geli.


Melangkah masuk ke dalam sanggar, mata kami di manjakan dengan aneka jenis tanaman berbunga warna-warni, kolam ikan dan taman bermain yang di tata apik dilengkapi ayunan klasik dari kayu hingga nampak sekali nuansa alaminya.


Melihat tempat les yang kutaksir menghabiskan cukup banyak rupiah untuk mendirikannya itu membuatku heran, biaya les di sanggar ini tergolong murah, Pak Julio apa tidak rugi, ya? aku membatin bingung.


"Kok bisa kenal Julio Wardhana kalau ngak pernah masuk ke dalam sanggar?" tanya Luluk heran.


"Ketemu dirumah sakit waktu lagi sama Fahmi, ternyata ia gurunya anakku, hehehe."


"Oh gitu? bentar aku chat orangnya, kita harus menemui di sebelah mana ini."


Saat Luluk sibuk mengetik di ponselnya seraya berjalan, kami melewati sekumpulan ibu-ibu muda cantik di sebuah saung bambu yang luas sedang menunggu anak mereka yang masih les melukis. Hatiku berdesir nyeri, melihat kenyataan jika Pak Julio setiap hari ada di sekitar kaum hawa yang memanjakan matanya, bukankah itu sebuah peluang baginya untuk bisa tergoda salah satu atau lebih diantara wanita cantik itu untuk jadi persinggahan hatinya?


Aku memejamkan mata mengusir pikiran buruk yang melintas, kenapa perbuatan tercela Mas Bayu seakan membekaskan sebuah trauma dalam pemikiranku. Tidak semua pria mudah tergoda wanita yang cantik fisiknya, Hani.Jangan bodoh mengambil kesimpulan... aku berusaha membantah isi kepalaku sendiri.


"Itu orangnya?" Luluk bertanya padaku seraya menunjukkan seorang pria yang tengah di kerubuti anak-anak seusia delapan tahunan di sebuah saung bambu, sepertinya tengah mengoreksi hasil karya bocah-bocah yang nampak riang itu.


"Iya, benar itu." Aku mengangguk mengiyakan Luluk.


Tak salah lagi, itu Pak Julio. Pria itu terlihat begitu dekatnya dengan anak-anak itu. Aku menunduk kecewa...lihatlah, Hani, pria itu tak hanya dekat dengan putramu saja, jangan berbesar hati merasa ia akan menjadi pria istimewamu dan anakmu. Hati kecilku terus saja membisikkan keraguan hingga rasa percaya diriku menciut kembali.


"Pak Julio." Luluk melambaikan tangan seraya memanggil lembut pria berkulit sawo matang itu.


"Oh iya, hallo. Sebentar, Bu Luluk dan Bu Ha-ni..." Pak Julio sedikit gugup saat menyadari akulah yang datang bersama Luluk.


Pria berkaos denim warna army dan celana jeans santai itu mengarahkan anak-anak asuhan les lukisnya agar merapikan kembali peralatan mereka, ia pun menutup sesi les lukis kala itu.


"Di saung sini saja kita lesehan ngak apa-apa ya, ibu-ibu." Pak Julio menerima kedatangan kami dengan hangat, seperti sikapnya yang kukenali.


Kami pun duduk di bantalan kursi yang biasa digunakan anak-anak untuk alas duduk yang berjajar melingkari saung. Kelihatanya diatur seperti itu agar suasana lebih hidup bisa saling berinteraksi semuanya.


Luluk terus saja menatap Pak Julio dengan kekaguman besar di matanya. Sedangkan aku sudah tak begitu berani menderukan rasa mendapat sebuah keberuntungan seperti waktu lalu. Aku bukan siapa-siapa, tak berani lagi merasa mendapat perhatian lebih dari pria rendah hati itu.


"Bu Luluk satu kantor sama Bu Hani rupanya? Apa kabar bundanya Fahmi?" tanya Pak Julio hangat padaku.


"Alhamdulillah baik, Pak," jawabku singkat, tak berani banyak bicara.


"Betul Bu Hani baru bergabung di team saya. Makanya saya ajak lah untuk banyak belajar lagi advertising yang kekinian pada ahlinya. Tadi Bu Hani kaget tuh, ternyata ketemuanya di sanggar yang biasa ia lewati," cerocos Luluk.


Pak Julio manggut-manggut paham, menatapku seraya mengernyitkan dahi saat melihatku diam menunduk.


"Sudah sore, kita mulai saja giman, Pak? Nanti kalau kelamaan saya ngak sanggup kasih fee nya kan, ya? Luluk melempar gurauan.

__ADS_1


"Oke. Mohon dicatat, saya ngk pelit ilmu selagi bermanfaat bagi kemajuan hidup orang lain, dengan syarat saya ada waktu dan kemampuan, dan saya ngak pernah mematok uang lelah."


Pak Julio menanggapi gurauan Luluk dengan sedikit serius, lalu membuka laptopnya dan mulai menanyakan apa saja yang ingin Luluk pelajari. Sahabatku itu buru-buru minta maaf, lalu menyampaikan perihal proyek-proyek yang sedang kami tangani.


"Bu Hani kenapa ngak tanya-tanya juga?" Pak Julio melirikku.


"Team leadernya Bu Luluk, Pak," jawabku menutupi sikap diamku sejak sadar terlalu berbesar hati mendapat perhatian pria itu namun kiranya aku salah duga.


"Jadi team leadernya Bu Luluk, ya?" tanya Pak Julio mengulangi ucapanku.


"Iya, saya masih sangat baru di team, tapi karena dibantu sahabat saya ini jadilah saya bisa ikut presentasi hingga menang tender. Bu Luluk yang cakap advertising, saya di bagian presentasinya."


"Baiklah kalau gitu Bu Luluk boleh simak ebook materi saya dulu. Bu Hani bisa ikut saya sebentar? Saya ingin tunjukan hasil kreasi putranya, selama ini saya belum punya kesempatan itu. Di sebelah sana!"


Pak Julio menunjukan saung di sebelah kiri kami. Aku hanya bisa mengangguk pelan, sementara Luluk sudah langsung mengiyakan seraya membuka ebook yang harus dipelajari.


Aku melangkah malu-malu di belakang Pak Julio, tak berani berjalan cepat agar tetap berada di balik punggung pria itu.


"Aku bukan tour guide, ya. Kamu bisa jalan di sini," Pak Julio tersenyum sembari menunjuk ke samping kirinya.


"Ya? Tapi jalan setapak itu sempit..." kilahku. Memang jalan penghubung antar saung hanya satu meteran saja kukira ukurannya, bisa kujadikan alasan mengindari berdekatan dengan pria itu.


"Hmm, baiklah. Sudah sampai juga, kok," katanya, jarak antar saung memanglah cukup dekat.


"kamu tahu, dari cerita Fahmi aku merasa mengenalmu sangat dekat meski kita belum pernah bertemu sama sekali. Dan..."


"Dan, saat pertama bertemu sore itu, melihatmu begitu anggun dengan jilbabmu, aku..." ujar Pak Julio.


Sore itu adalah hari pertama aku mengenakkan jilbab, dan pria berkulit sawo matang itu menganggapku anggun kerena jilbab yang kupakai. Andai saat itu aku belum berjilbab, mungkinkah Pak Julio akan terkesan seperti saat itu juga? Allah Maha Pemberi Petunjuk, kebaikan yang kita taati nyata membuahkan kebaikan juga.


"Aku sudah lama mencari sosok yang menutup auratnya hanya untukku saja, yang keibuan dan lembut hati, sabar kuat batinnya.


,..."


"Saya bukan sosok itu, bukan. Saya tak layak..."


Aku cepat menukas ucapan Pak Julio sebelum ia lebih banyak memujiku. Hari di saat aku mulai menutup aurat, bahkan suamiku sendiri tetap cuek dan tak komentar sedikitpun ketika melihatku berjilbab. Mas Bayu masih tetap memilih bersama Dini yang selalu memoles bibirnya hingga merah menyala.


"Aku ngak terburu-buru, kita baru mengenal sependek jengkal, masih ada banyak waktu. Ikuti saja goresan takdir dan kuasa Allah. Seperti kita melukis di kanvas, atau mendesain sebuah iklan... tak bisa sekejap mata kan?"


Aku tercenung, dengan ucapan Pak Julio hingga dipenuhi kegelisahan.


"Saya rasa Luluk sudah menunggu kita." Aku menoleh menatap ke arah saung di sebelah kanan kami, was-was jika Luluk sampai mendengar ungkapan rasa Pak Julio untukku.


Saung -saung di sanggar ini hanya berdinding setinggi setengah badan orang dewasa, dibangun melingkar sangat nyaman bisa merasakan hembusan angin hingga tak kegerahan. beruntung posisi kami berdiri membelakangi saung di mana Luluk berada, hingga ia tak begitu melihatku.


"Apa ada ucapanku yang salah? Kenapa kamu merasa tak layak? Apa karena Dini lebih cantik darimu? Cantik itu tak bisa dinilai atau disamakan. Aku bahkan bisa memilih banyak wanita cantik, tapi bukan itu yang kucari."

__ADS_1


"Rasanya bukan waktu yang tetap untuk membicarakan itu. Saya datang ke sini bersama Luluk, untuk belajar advertising."


Baiklah, tunggu undangan ke rumah, ya. Maaf aku cukup sibuk membagi waktu karena merawat mama, sejak terakhir kita berpisah aku belum lagi sempat ngobrol sama Fahmi."


Aku menunduk, tak menjawab apapun, aku masih merasa semua datang terlalu cepat. Apalagi Luluk...


"Ayo tarik napas dulu, ngak ingin sahabatmu ngira aku berbuat jahat sampai kamu tegang? Bu Hani sayang yang tak mau disayang, hehehe. Aku punya banyak rahasia tentang diriku, kamu juga harus tahu dulu. So, see you next time...di rumahku."


Pak Julio membentangkan tangan kanannya, memintaku berjalan lebih dulu menemui Luluk. "Lady first. Saya nanti nyusul, mau telepon mama dulu sebentar."


Aku mengangguk, berlalu meninggalkan Pak Julio dengan gugup. Samar, kudengar pria itu mulai menyapa mamanya lewat sambungan telepon. Pria yang sangat menyayangi ibunya, seperti putraku terhadapku, aku melangkah kembali dengan hati mengharu.


"Lama amat di sana, ngapain aja?"tanya Luluk saat aku kembali duduk di dekatnya.


"Ngak ada cuma membahas masalah Fahmi yang nilainya tambah bagus" jawabku serak.


"Wah, itu karena gurunya hebat pastinya, kamu sampai terharu gitu. Mana Pak Julio?" kata Luluk.


"Hadir. Maaf, tadi harus telepon mama dulu. Ayo kita mulai diskusinya. Bu Luluk sudah lihat ebook, pasti sudah banyak pertanyaan?" Tiba-tiba Pak Julio sudah masuk ke saung lalu duduk melingkar diantara kami, seolah tak terjadi apa-apa antar aku dan dirinya tadi.


Luluk tertawa, lalu tanpa sungkan dan malu mulai mengajak Pak Julio berdiskusi hingga mereka berdua asyik mengutak-ngatik materi desain grafis di laptop. Duduk di antara Pak Julio dan Luluk yang sama-sama cerdas, membuatku lebih banyak diam menyimak saja seraya menenangkan hati dan pikiranku.


Waktu mungkin berlalu begitu cepat bagi Luluk yang merasa sangat asyik berdiskusi dengan Pak Julio, sementara terasa begitu menyiksa bagiku setiap melihat cara Luluk menatap Pak Julio, tapi pria itu justru lebih sering melirikku.


"Kenapa baru sekarang saya bisa temui anda, Pak Julio?" Luluk mengungkapkan rasa puasnya bisa tambah banyak ilmu sore ini. Ia menatap pria itu dengan tatap kekaguman, aku mulai menyadari ada yang aneh dalam sorot mata sahabatku itu.


"Mungkin karena Bu Hani yang ditakdirkan lebih dulu ketemu dengan saya." Pak Julio melirik ke arahku yang hanya diam dari tadi, membuatku semakin dalam menundukkan wajah.


"Maksudnya?" tanya Luluk tak mengerti seraya menatap Pak Julio, ia lalu menoleh padaku mengikuti tatapan pria itu yang tengah tertuju padaku.


"Bu Hani sering lewat ke sini, lalu sering antar Fahmi ekskul di sekolah, tapi kami ngak pernah ketemu. Sama dengan kita, Bu Luluk sudah lama dengar profil advertising saya, tapi ngak juga bisa ketemu. Nah, ternyata Bu Hani dulu yang ketemu, baru Bu Luluk. Gitu kan?" jelas pria itu tertawa, entah serius entah bercanda, ia biasa membingungkan memang.


"Ngomong-ngomong nih, ya. Pak Julio high skill advertising, tapi kenapa papanya justru cari jasa dari orang lain. Lebih untung gede kalau putranya sendiri yang bikin dong," celetuk Luluk heran.


"Saya lebih suka kerja tanpa bayang-bayang kesuksesan papa, Bu. Saya bikin usaha jasa, terima anak muda yang memang ingin belajar sekaligus kasih lapangan kerja untuk mereka. Untuk apa saya kerja ikut papa jika saya mampu berdiri sendiri, biar papa berbagi rejeki dengan orang lain," ujar Pak Julio memberi alasan.


"Tentu. Semoga dapat bonusnya liburan bisa lihat patung singa di itali, ya," jawab Pak Julio.


Patung singa bukannya di singapura, ya," tanya Luluk lirih seraya menahan tawa.


"Oh sudah pindah, ya? Kok saya ngak dipamitin waktu pindahannya?" Gurau Pak Julio seraya melirikku sekilas.


"Hahaha Pak Julio suka bercanda deh." Luluk tergelak lama.


Aku menahan senyuman, tak bisa tertawa lepas meski pria itu melontarkan gurauan. Jantungku berdegup kencang, cemas andai Luluk menyadari Pak Julio sudah cukup dekat denganku. Sejak kudapati tatapan kagum Luluk pada pria humoris itu, aku sadar arti Pak Julio di hati sahabatku itu. Tegakah aku melihat kekecewaan di mata Luluk andai tah ada perhatian Pak Julio padaku?


Senja di ufuk barat, membuatku teringat anak-anak yang hanya berdua di rumah. Asisten rumah tangga yang membantuku hanya bekerja hingga jam lima sore, aku belum cukup uang membiayai asisten untuk menginap di rumah. Aku pun mengajak Luluk untuk pulang, bisa kulihat sahabatku itu masih enggan untuk berpamitan meninggalkan Sanggar Pelangi Jingga, nampaknya ia belum ingin berpisah dengan pemilik sanggar itu.

__ADS_1


__ADS_2