
"Mas, kamu sungguh keterlaluan! Mengabaikan putramu demi bisa berduaan dengan Dini." cecar ku pada Mas Bayu, ku telepon dia saat itu juga usai ku dengar kekecewaan putraku.
Aku menepi ke sudut belakang gerai ayam krispi saat putra ku mulai menikmati makanannya, tak sabar menunggu hingga aku dan Mas Bayu bertemu di rumah nanti.
Mendengar kebencian Fahmi pada ayahnya usai melihat kemesraan Mas Bayu dengan wanita lain selain ibunya tadi, tak bisa membuat ku menahan diri lagi.
"Ya ampun, iya aku lupa mau jemput Fahmi. Kamu sudah jemput kan? Aku ada kerjaan yang belum terselesaikan jadi ngak inget" jawabnya tergagap.
"Kerja katamu? Kerjaan apa yang kamu tangani di mall, hah?" bentak ku tajam.
"Kamu ini ngomong apa? Mas Bayu berkilah.
"Aku akan kirim sebuah foto, dari ponsel Fahmi. Dia yang mengambil gambar kalian berdua tadi. Fotomu dan wanita itu!"
Aku menutup panggilan telepon memejamkan mata sebentar mengatasi perihnya hatiku yang tersayat oleh penghianatan Mas Bayu. Ku tatap Fahmi dari kejauhan, Fahmi terlihat tak begitu menikmati makanannya, wajahnya nampak sedikit muram, hatinya pasti tak rela melihatku diduakan oleh ayahnya.
Ponselku berdering, Mas Bayu rupanya langsung menelpon balik.
"Kalian ada di mall saat ini? Di sebelah mana?" ucapannya dengan suara bergetar, aku yakin hatinya tak tenang saat ini memikirkan perasaan Fahmi.
Pria yang tengah lupa pada istrinya itu, terdengar begitu cemas setelah mengetahui putranya telah menangkap basah dirinya berduaan dengan Dini.
__ADS_1
"Nikmati saja kebersamaan mu dengan wanita pujaan hati, tidak perlu risau kan kami!" kataku sengit.
"Sampaikan maaf ku pada Fahmi, tolong, Hani," pinta Mas Bayu memohon.
"Untuk apa kamu saja tak menghiraukan urusannya. Kamu sudah siap kehilangan kami berdua? Baiklah jika itu mau mu!" ancam ku tak mau tahu lagi dengan permintaan suamiku tadi.
Cepat ku tutup sambungan telepon dan aku matikan ponsel, tak ingin lagi Mas Bayu menelpon untuk bermain kata. Ku hampiri lagi Fahmi, mengajaknya bersenda gurau sambil menikmati makanan, membesarkan hatinya karena telah diabaikan oleh ayahnya.
Aku melirik jam dipergelangan tangan ku, sebentar lagi senja. Aku pun mengajak Fahmi untuk pulang dan berjanji akan membawanya pergi membeli makanan kesukaannya lagi di lain waktu.
"Bunda, nanti saat dirumah, aku belum mau ketemu ayah. Aku masih kesal tolong larang ayah menemui ku." Fahmi berkata padaku dalam perjalan pulang dari mall, dia sungguh tak rela melihat ayahnya bersama dengan wanita lain.
"Kamu tidak boleh begitu, biar bagaimana pun ayah sayang sama kamu, hanya saat ini lagi sibuk." Aku mencoba meredam kekesalannya.
Kulajukan mobil dengan menahan nyeri di dadaku. Merasa begitu sedih, aku telah gagal menjadi istri yang bisa membuat suamiku tetap setia pada janji pernikahan kami. Kini, putraku harus melihat hal buruk yang membuatnya memendam kebencian pada ayahnya. Yang aku takutkan, andai kejadian di mall tadi nantinya akan menjadi sebuah trauma yang di simpan dalam ingatannya. Harapanku putraku tetap akan baik-baik saja.
Apa yang harus aku lakukan saat ini? Memperbaiki kualitas diriku sebagai seorang istri dan wanita berumur? Tapi kekuranganku seberapa banyak? Selama ini aku telah berkutat mengurus buah hati dan seisi rumah dengan segenap jiwaku, melayani suami dengan sebaik mungkin dan menjadi menantu yang sabar mengurus keperluan mertuaku. Kurang apa lagi aku ini? Hatiku gemas bertanya sendiri.
"Bunda kita salah jalan!' teriak Fahmi membuyarkan pertikaian diri yang sedang berkecambuk dalam sanubariku.
"Hah? Oh iya, seharusnya kita belok kanan tadi, ya. Kenapa bunda malah lurus." kataku saat menyadari kelalaianku dalam mengemudi.
__ADS_1
Fahmi menatapku heran, sepertinya dia menyadari jika bundanya sedang banyak pikiran sehingga tidak lagi memperhatikan jalan.
"Kita berhenti dulu juga ngak apa-apa, kok. Kalau bunda haus bisa minum dulu." lirih Fahmi penuh sayang padaku.
Aku tersenyum haru menahan buliran hangat di pelupuk mata, putraku begitu perhatian. Aku menepikan mobil di bahu jalan yang agak sepi. Menoleh ke sekeliling jalan mencari jalan alternatif untuk putar balik ke arah jalan pulang.
"Maaf, ya. Tadi bunda lupa belokannya jadi kelewatan. Kita bisa putar balik di depan sana deh. Kalian masih sabar kan untuk sampai rumah?" tanyaku dengan wajah lucu dan berusaha mengoda buah hatiku.
"Aku mau kursus mengemudi boleh? tinggi ku sudah cukup untuk bisa melihat jalan dari belakang setir. Jadi nanti aku bisa gantikan bunda kalau lagi capek nyetir." pinta Fahmi tiba-tiba tanpa aku duga akan berkeinginan sejauh itu, membuat mataku kembali berkaca menahan haru.
"Eeem, Fahmi kan belum tujuh belas tahun. Masih dua tahun lagi baru boleh belajar nyetir. Meski sudah tinggi badannya tapi usianya belum cukup. Oke?" lirihku lembut.
Sekuat diri aku menahan keharuan di hati saat melihat tulusnya keinginan putraku untuk menjadi tempatku bersandar, menggantikan ayahnya yang seharusnya menjadi penopang ke sulitanku.
****
Sudah lewat jam sembilan malam, tapi Mas Bayu belum juga pulang ke rumah. Dengan gelisah, aku menajamkan pendengaran ku berharap segera mendengar deru mobil suamiku memasuki halaman rumah.
Aku dan Fahmi sudah tiba di umah, pulang dari mall yang kami kunjungi tadi sejak tiga jam yang lalu. Lalu kemana lagi Mas Bayu usai dari mall tadi? Heran! Kenapa dia tidak langsung pulang meski tau putranya sedang kesal karena melihat tingkah lakunya bermesraan di tempat umum dengan Dini?
Bayangan Mas Bayu dan Dini dua manusia dewasa yang sedang di mabuk asmara itu seketika menyeruak di angan ku. Pikiran buruk tak bisa ku tepis, menduga jika kedua orang itu tengah menghabiskan malam ini bersama, entah dimana mereka. Aku membuang napas kesal.
__ADS_1
Bosan menunggu suamiku datang, aku duduk bersandar di pembaringan seraya menekuk kaki, lalu membenamkan kepala di sela kedua lutut ku dalam hening nya malam. Menyakitkan sekali rasanya di hantui kecurigaan dan bayangan orang terdekatku sedang bersama wanita lain. Sampai kapan aku akan berteman dengan rasa pahit ini.
Aku meraih ponsel ku. Ingin rasanya segera menelepon Mas Bayu dan bertanya padanya kenapa belum pulang kerumah. namun. pilu di hatiku membuat keinginan ku kembali sirna. Biarlah suamiku pulang atas keinginannya sendiri, saat dia sudah puas bersama wanita di luar sana. Apakah aku salah jika memilih bersikap begitu? Kembali aku gelisah merenung sendiri.