KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
SURAMNYA SANG SENJA


__ADS_3

Bagai hilang kesabaran, aku memacu laju mobilku sedikit kencang, ingin cepat tiba di sekolah Fahmi.


Jalanan yang cukup padat, sore ini setiap orang nampak memacu kendaraan ingin saling mendahului untuk bisa sampai di tujuan bertemu dengan orang yang tersayang. Aku pun begitu, ingin segera bertemu bersama anakku kembali.


Wanita yang Katanya sangat di cintai Mas Bayu di masa lalu sebelum bertemu dengan ku itu, kenapa harus muncul sekarang saat rumah tangga kami seharusnya di penuhi ke hangatan. Kehadirannya bagai menyapu semua kebaikan yang ada padaku, sehingga tidak nampak lagi sedikit pun pengorbanan ku di mata Mas Bayu untuk jadi alasan setia padaku.


"Tadi ayah kesini mau jemput aku, tapi saat aku mau telepon bunda baterai ponselku drop. Ayah telepon ngak?" Fahmi berlari menghampiri ku, begitu melihat ku tiba.


"Iya, ayah bilang mau ngajak kamu kerestoran, tapi kerestoran mana?" kataku gelisah, ingin aku labrak kedua orang itu karena sudah mengusik anakku.


"Aku tahu restorannya, tadi ayah sudah aku untuk ikut tapi aku tetap tidak mau. Ada Tante itu jadi aku malas. Aku juga sudah bilang kalau bunda akan jemput aku, setelahnya pergi? gerutu Fahmi dengan kesal.


Aku menatap Fahmi dengan nelangsa, dia begitu memihakku, di usianya kini dia pasti sudah bisa membaca apa yang akan terjadi dalam pernikahan ayah dan bundanya.


Tanpa membuang waktu, Fahmi masuk kedalam mobil, memintaku ke sebuah restoran menu Korea di tengah kota. Jarak yang cukup jauh tidak menyurutkan keinginan kami untuk memberi peringatan kepada mereka.


Fahmi tidak banyak bicara, dia mengawasi jalanan seolah memastikan laju kendaraan ku yang cepat masih dalam situasi aman. Sesekali dia melarang ku menyalip, sesekali pula dia memintaku mendahului kendaraan yang lambat di depan kami. Putraku memang benar-benar ingin menjagaku, hatiku mengharu di buatnya.


"Makasih, ya, Nak. sudah patuh pada pesan bunda" lirihku saat hampir sampai ke restoran yang kami tuju.


Fahmi tersenyum hangat, menatapku iba.


"Aku sebenarnya ingin marah sama ayah, tapi takut nanti bunda yang di marahi balik sama ayah"


"Fahmi paham yang terjadi di antara ayah sama bunda?" tanyaku tersendat.


"Paham lah bun. Aku sudah mau masuk SMA, aku ngerti ayah menyukai wanita itu, jahat sekali tante Dini"


Aku mengernyitkan dahi, Fahmi beranggapan ayahnya tetaplah orang yang baik? Jadi dia merasa Dini yang merebut Mas Bayu dari kami. Ah, tentu saja begitu, anak-anak pasti sayang sama ayahnya dan berpikir wanita itu yang jahat telah menggoda lebih dulu. Entah aku harus merasa bersyukur atau tidak jika nyatanya anakku masih bisa sedikit menghargai sang ayah.


"Bunda yakin mau menemui mereka, atau kita pulang saja dan tinggalkan ayah" titah Fahmi layaknya seorang yang mencemaskan perasaanku.

__ADS_1


"Biar ibu yang cari mereka sendiri?" lirihku.


"Aku bantu bunda cari mereka?" kata Fahmi masih mengkhawatirkan ku.


Putraku mengangguk yakin. Namun hati kecilku melarang, tak elok rasanya jika Fahmi sampai berkata kasar pada ayahnya atau pada wanita itu, jika Fahmi bertemu mereka duluan tanpa bisa ku dampingi untuk mengingatkannya tetap berlaku sopan.


"Nanti kamu lihat dari jauh. Giman?" tanyaku


"Baiklah" Fahmi mengangguk lalu menuntunku erat masuk ke restoran.


Kami mengedarkan pandangan, angin senja terasa menusuk kulit di restoran yang bernuansa terbuka dengan gazebo-gazebo kecil untuk privasi tiap pengunjung, mengusir dingin aku segera mempercepat langkah.


Aku pandangi satu per satu pengunjung yang duduk di dalam tiap gazebo, hingga sebuah suara terdengar memanggil namaku dengan keras.


"Bu Hani"


ku menoleh. Nampak olehku seorang wanita cantik, tinggi semampai dengan dagu lancip, mengenakan blus ketat yang menampakkan lekuk tubuh berisinya tersenyum membusungkan dada menantapku.


"Mau bergabung dengan kami? Kebetulan pesanan baru saja diantar karena ramai pengunjung. Masih ada waktu untuk pesan lagi dan kita makan bersama." Dini berujar dengan pongahnya.


"Di sebelah mana?" tanyaku singkat.


Dini menunjuk di bagian samping kanan kami, aku pun Fahmi menghampiri ayahnya. Yang berdiri dari dalam gazebo, senyuman yang mengambang membuatku teriris, sepertinya Dini telah berhasil mengambil hatinya hingga dia bersuka cita berada disini. Ku dekati Dini dengan terus menatapnya dari ujung kaki hingga kepalanya.


"Sebentar, kita perlu bicara berdua dulu" kataku.


"Di sini? ini di tengah jalan. Kita berbincang di gazebo saja sekalian ku traktir makan," ujar Dini, dia mengibaskan tangannya, masih dengan gayanya yang sombong.


"Di toilet saja. Disini lebih layak unyuk membicarakan keburukan seseorang" jawabku sengit seraya menarik tangan wanita itu ke arah toilet.


Dini berusaha melepaskan tangannya dari genggamanku. Namun aku tak memberi ruang untuk melawan, hingga wanita itu terpaksa mengikuti langkahku.

__ADS_1


Alunan musik instrumental yang merdu tak bisa melunakkan hatiku yang tengah terluka. Aku tidak peduli tatapan orang-orang yang melihatku menarik paksa Dini bersamaku hingga wanita itu masuk ke dalam toilet wanita.


"Kamu boleh dekati suamiku, sesukamu saja. Tapi jangan harap bisa mengambil hati anak-anakku, mereka milikku. Kalau Mas Bayu? Aku tak minat lagi memilikinya, ambil saja dan bawa yang jauh dari kami." Aku berbisik keras di telinga Dini, seraya menyalakan kran air di wastafel.


Wajah Dini mengeras, dia menghentak tanganku yang masih menggenggamnya. Buru-buru di cucinya kedua tangannya tanpa menjawab ucapanku.


"Kamu tahu Mas Bayu hanya penasaran ingin memilikimu saja, itu yang membuatnya lupa anak dan istri. Setelah dia menjalani kehidupan denganmu nanti, dia akan menyesal ternyata bersamamu tidak sebahagia seperti yang di pikirkannya. Yakinlah akan seperti itu kalian nanti." kataku lagi.


Dini menegakkan badannya usai mengeringkan kedua tangannya yang basah di mesin pengering. lalu menimpali ucapanku. "Oh, ya? Itu hanya ungkapan kekecewaanmu saja, kamu tidak bisa terima ternyata aku lebih menarik di mata suamimu, kan"?


Dengan sombongnya, Dini berbalik menghinaku. Namun aku tak surut kata, segera aku membalas lagi ucapannya. "Tiap wanita di beri nurani kebaikan untuk peduli pada wanita lain. Entah denganmu, kurasa nuranimu sudah membatu hingga gelap mata mengejar pria beristri. atau, kamu merasa sebagai perawan tua ngak laku lagi cari bujangan?"


Tangan Dini terangkat ingin melayangkannya ke wajah ku, namun aku cepat menangkapnya kuat.


"Jangan sampai tangan yang kamu gunakan menggandeng suami orang itu menyentuh wajahku. Kamu tidak bisa meninggalkannya kan? Maka jangan campuri kehidupanku dan anak-anakku lagi? Ingat Dini, cinta yang tulus tidak ada di hati macam Bayu, buktikan saja."


Aku menghempaskan tangan Dini dengan kuat hingga badannya terhuyung, lalu meninggalkannya dengan perasaan puas. Setidaknya aku sudah menyemai rasa tak berharga sebagai wanita dalam dirinya. Itu pun andai memang wanita itu punya harga diri.


Keburu kembali menuju gazebo untuk menjemput buah hatiku, nampak olehku Fahmi sudah berdiri di tangga gazebo dengan gelisah menungguku.


"Bunda dari mana, ayo kita pergi dari sini" kata Fahmi menyambutku yang menghampiri mereka.


Bisa aku lihat wajah Mas Bayu mengeras menahan amarah. Entah apa yang telah terjadi diantara mereka berdua tadi.


"Kami pulang dulu, yah." aku mengucap kata pamit seraya mengulurkan tangan mengandeng putraku.


Aku melihat Mas Bayu masih berdiri tegak tanpa menghampiri kami lagi sebelum kami benar-benar pergi.


Dengan menahan kecewa, aku menuntun putraku menuju parkiran mobil, Mas Bayu tidak lagi mencoba mencegah anaknya pulang bersamaku. Dering ponsel, menghentikan langkah kaki. Aku meminta Fahmi menunggu di mobil dulu, ada panggilan masuk dari Mas Bayu.


"Sopan santun mu perlu di jaga. Sekali lagi kamu berani mengusik Dini, aku akan segera menikahinya. Satu hal lagi ajari anak laki-lakimu sopan santun juga, dia berani berkata tak pantas padaku tadi." suara Mas Bayu terdengar bagai gemuruh ombak yang menerjang dinding hatiku, menghujam sangat menyakitkan. Wanita itu telah mengadu dan suamiku lebih memilihnya.

__ADS_1


__ADS_2