KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
TAKKAN BERHARAP LAGI


__ADS_3

Usai meminum beberapa teguk dari botol minuman air mineral yang di bantu oleh putranya, ibu kembali menatapku penuh arti seakan ingin memastikan aku tidak marah padanya tadi. Aku mencoba mengulas senyum meski hatiku perih, tidak tega bersikap tidak baik pada wanita paruh baya itu. Tidak berselang lama, perawat memanggil nama ibu untuk bertemu dokter.


Aku menolak untu ikut masuk kedalam, biar mereka tahu aku mulai menunjukkan sikap membatasi diri dan tidak lagi menjadi orang terdekat mereka berdua.


"Antar ibu ke mobil dulu, aku mau menebus obat ke apotik," pinta Mas Bayu sedikit kesal melihatku hanya duduk menunggu sampai selesai bertemu dokter.


Aku hanya mengangguk mengiyakan, serupa orang yang membantu seikhlasnya saja. Biarlah, aku sedang tidak sanggup menjadi orang yang berhati baik untuk saat ini. Salahkah! Toh mereka juga tidak memikirkan kebaikanku selama ini. Bukan aku hitung-hitungan amal kebaikan, bukan! Tapi aku juga butuh untuk menguatkan diriku sendiri saat ini. saat tidak ada lagi tempat bersandar.


"Gimana kata dokter tadi, Bu?" lirihku saat ibu sudah duduk di dalam mobil.


"Eeem, ibu tensinya tinggi, asam lambung juga naik." jawabnya lesu.


"Semoga lekas membaik, ya, Bu," harap ku tulus sambil menyusul duduk di samping ibu.


"Maksudmu apa? Kamu tidak ingin lama-lama merawat ku saat sakit begini?" gumam ibu sengit, lalu memalingkan muka ke samping.


"Loh, bukan begitu , Bu. Hani mendoakan ibu cepat sembuh. Apa ibu tidak ingin cepat sehat lagi?" jawabku serba salah, tidak menyangka perhatianku justru menyinggung perasaan ibu mertuaku.


Ibu hanya diam, membuatku di dera rasa tidak enak hati. Tunggu dulu, apa ibu bersikap begitu hanya sebagai siasat agar aku merasa bersalah dan tidak jadi pergi dari rumah membawa cucu kesayangannya. aku mulai di hinggapi prasangka buruk lagi tentang ibu mertuaku ini.


****


Aku tidak punya tempat tinggal yang bisa aku tuju. Rumah warisan orang tuaku, kini di tempati adik lelakiku yang telah berkeluarga, tidak tega rasanya andai aku harus merepotkannya dengan bernaung di sana.


Meski aku bingung, tidak menghalangi tekad ku untuk tetap pergi dari rumah membawa Fahmi. Aku yakin dan berserah saja sama Allah, akan ada jalan bagiku yang telah di dzolimi suami.


Kabut masih menyelimuti bumi saat dini hari, aku sengaja bangun lebih awal, aku pun langsung sibuk mengemas beberapa pakaian Fahmi lalu masukkan ke dalam mobil saat semua orang masih terlelap. Nanti aku akan berselancar di sebuah market place online untuk mencari sebuah kontrakan untukku dan Fahmi tinggal. Bertahap aku akan mempersiapkan kepergian ku dari rumah ini,setelah menjemput Fahmi sepulang sekolah.

__ADS_1


Mbak Min yang sudah mulai sibuk berkutat di dapur, melihatku yang bolak balik menggeret koper ke garasi dengan tatapan heran. Aku tahu dia ingin bertanya tai tidak berani. ku dekati dia setelah selesai menunaikan sholat shubuh dan membangunkan Fahmi.


"Mbak Min, aku titip ibu, jaga dan rawat yang baik. Aku dan Fahmi akan pergi lama, ini buat nambah belanja keluarga Mbak Min. Untuk gaji bulan ini, nanti bapak yang bayar saat akhir bulan. Kalau ada apa-apa telepon saya, ya." aku berpesan panjang lebar tanpa memberi kesempatan Mbak Min untuk menyela ucapanku.


Buru-buru aku tinggalkan Mbak Min yang nampak ingin bertanya, aku harus cepat bersiap kekantor dan memastikan agi persiapan presentasiku. Tidak lama kemudian, Mas Bayu terbangun saat aku baru selesai berganti pakaian.


"Kamu mau pergi kerja? ibu kan lagi sakit!" tanya Mas Bayu.


"Aku ada presentasi penting. Kalau Maas mau, bisa mint Dini yang tidak usah kerja, suruh untuk merawat ibu. Aku di kejar waktu, ini mau sarapan sama Fahmi. Ibu masih tidur" aku menjawab tanpa menatap Mas Bayu, lalu bergegas meninggalkan kamar.


"Hani aku masih belum selesai bicara!" hardik Mas Bayu.


Tidak aku hiraukan laki-laki yang hanya memikirkan keinginannya sendiri itu. Aku melenggang kekamar Fahmi. Tabungan sewaktu aku kerja dulu masih aman untuk bertahan mencukupi kebutuhanku dan Fahmi. Ada juga simpanan perhiasaan, tinggal bekerja giat semoga Allah mampukan aku berpisah dari Mas Bayu secepatnya.


"Hani! Hani!' panggilnya berulang kali, Mas Bayu membuntuti langkahku.


"Dini dan aku ada pertemuan penting, akan ada lelang tender rekanan advertising nanti" Hanya kamu yang bisa membantuku menjaga ibu."


"Maaf ya, Mas. ku ada persentasi penting. Sama kayak kalian. Cari saja istri yang mau di rumah saja dan tidak pintar-pintar amat yang bisa merawat ibu. Aku bukan Hani yang dulu lagi, yang katamu tidak nyambung kalau di ajak bicara'" aku berkata ketus dan kesal.


"Kamu ingin membuktikan kalau kamu itu smart gitu? Percuma saja, jangan mimpi di siang bolong." ejeknya menghinaku.


"Rendahkan saja aku terus, Mas! Nyatanya kamu tak sanggup melepaskan aku." kataku telak, membuat pria itu terdiam tanpa bisa menyangkal ucapanku.


Aku terus berjalan ke kamar Fahmi, tidak mau lelah hati terlalu lama berdebat yang membuatku berkata tidak baik nantinya.


"Bagus belum seminggu kerja kamu sudah merasa hebat. pergi saja kalau itu mau mu, tapi jangan bawa Fahmi!" Mas Bayu mencekal langkah ku dengan menarik paksa tanganku untuk berhenti.

__ADS_1


Aku menggeleng. "Kamu tidak akan sanggup mengurus Fahmi. Kenyataannya kemaren saja Dini lebih berharga bagimu daripada Fahmi."


Ku hentakkan tangan Mas Bayu. "Hentikan pertengkaran ini, nanti Fahmi mendengar kita saling memaki." aku memperingatkannya.


"Berulah kamu ya, mentang-mentang bisa cari duit sendiri. Memangnya kamu kerja di mana? Tidak mungkin kerja di perusahaan yang dulu kan? Itu semua mustahil, kamu tidak tahu perkembangan advertising saat ini." teriak Mas Bayu tidak peduli pada ucapan ku.


Aku tersenyum melihat kegusaran Mas Bayu. Mungkin dalam pikirannya hanya wanita seaktif Dini yang bisa mengikuti perkembangan teknologi. Wanita yang berkutat di dapur belasan tahun macam aku mustahil mengejar modernisasi zaman. Dia lupa, Allah memberiku otak cemerlang yang tinggal di asah jika ada keinginan untuk bisa.


Sebetulnya, di luaran sana mungkin lebih banyak istri-istri yang pengorbanannya di rumah tidak di hargai olah suaminya dan memilih bertahan dengan segunung kesabaran. Namun, saat ini aku belum sanggup untuk memilih sikap serupa itu. bukan karena aku kurang bersabar tapi kehadiran wanita lain yang tak bisa lagi aku terima dengan lapang hati.


Ketika Fahmi selesai sarapan, aku buru-buru mengajaknya ke mobil, ku minta dia berpamitan dulu dengan ayahnya yang baru menyusul sarapan. Jangan sampai koper-koper dalam bagasi mobil yang sudah aku susun akan terlihat dari pandangan Mas Bayu, bisa gagal rencanaku pergi dari rumah hari ini juga.


Ku lajukan mobil segera, hatiku sedikit tenang sekarang, senja nanti akan menjadi langkah pertamaku memmulai pembuktian diri jika aku punya nilai diri meski ragaku sudah tidak secantik dulu lagi di mata suamiku.


"Bunda, tadi malam pulang jam berapa dari klinik? Aku ketiduran waktu bunda datang dari klinik." pertanyaan Fahmi membuyarkan angan-angan ku yang sedang mereka reka langkah saat nanti mulai meninggalkan rumah.


"Sudah larut malam pulangnya. Jangan cemas nenek hanya butuh istirahat saja, kok." kataku, paham kalau Fahmi pasti mengkhawatirkan keadaan neneknya.


"Tadi Fahmi mau nemuin nenek untuk salim, tapi jadi malas kaena ada ayah di kamar nenek. Aku masih malas dekat-dekat ayah" kata putraku dengan tidak bersemangat.


Aku melambatkan laju mobil, menatap Fahmi yang ada di samping ku, sebisa mungkin menahan kesedihan yang menyeruak menyelimuti diri.


"Ada saatnya Nenti bunda akan menjelaskan alasan ayah sibuk akhir-akhir ini. Kamu harus tetap menyayangi ayah" perlahan aku memberi jawaban terbaik yang aku mampu.


Rasanya aku tidak punya harapan lagi untuk kembali meneruskan jalinan pernikahan ku dengan Mas Bayu. Ayah dari anak ku itu lebih memilih Dini karena aku tak secantik dan sepintar dirinya, Setega itu dia membuat sosokku dari hatinya tanpa ingat lagi saat dia dulu gigih mengemis menyakinkan ku untuk menikah denganya.


Saat ini mau tidak mau, meski aku sudah tak lagi muda, aku harus meniti karir lagi demi masa depanku dan anakku andai akhirnya aku tidak lagi bisa bertahan bersama suamiku.

__ADS_1


__ADS_2