KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 67. Penyesalan Bayu


__ADS_3

POV Bayu


Sesal, selalu datang terlambat, hingga meratapi nasib pun tak bisa mengubah yang telah terlanjur terjadi. Buntu, bahkan untuk terbangun membuka mata melihat matahari esok pun anganku tak sanggup lagi merajut hariku.


Andai lelaki pantas meraung dan berguling meneriakkan kepedihan, mungkin telah lama akan kulakukan. Detik ini, terpaksa menyewa sebuah kamar kost sempit sendirian, aku hanya berteman dengan cicak dan kecoa, tanpa seorang pun menemaniku terpuruk di sudut kasur tipis dan terasing dari keluargaku. Kamar kost ini berada di pemukiman yang tak jauh dari perumahan tempat tinggal Hani. Aku sengaja mencari di daerah ini agar tak begitu jauh dari ibuku.


Malam beranjak larut, bahkan hampir menjelang pagi, tapi mataku belumlah bisa terpejam. Pikiranku sesak, dipenuhi banyaknya kerumitan yang menerpaku. Belum juga bisa kurebut kembali hati Hani dan anakku, kini bertambah lagi kesulitan hidupku, aku kehilangan pekerjaan dan semua aset yang kumiliki.


Andai Dini tak usah pernah saja kukenal dalam hidupku, mungkin saat ini aku masih tertidur lelap memeluk Hani. Umurku dua puluh tahun saat melakukan perbuatan Nista bersama wanita itu. Apa yang kupikir sederhana di usia itu nyatanya membawa penyesalan yang mendalam di masa kini. /Penyesalan yang tak pernah hilang sampai kapan pun, bahkan mungkin sampai aku mati.


Kini, aku terseok di jalanan tanpa kendaraan pribadi lagi, harus menelan sulitnya mendapat pekerjaan yang layak. Citra burukku setelah diberhentikan sebagai tertuduh penggelapan uang perusahaan, menjegal langkahku bekerja lagi di gedung perkantoran menjulang.


Tak ada teman yang percaya padaku lagi, mereka memicingkan mata saat aku meminta pertolongan berbagi pekerjaan. Satu saja keberuntungan yang masih kumilik, seorang Hani yang berhati baik masih mau membantuku merawat ibuku.


Di sudut kamar sempitku, teronggok bersusun tumpukan kardus berisi barang-barang penting milik ibu dan keluarga kecilku, semua sudah kupilih untuk disimpan saat rumah kami terjual. Aku menatap kardus-kardus itu dengan hati perih. Entah, kapan akan terbeli lagi sebuah rumah beserta isinya untukku dan ibu tinggal nanti.


Aku anak yang tak berguna, memberi kesedihan di hati ibu dengan merenggut rumah indah penuh kenangan. Aku juga suami tak tahu diri, membalas pengabdian Hani dengan menduakannya menuruti rayuan hasrat yang terlarang. Penyesalan itu terus bergaung di relung hatiku.


Angin malam kian dingin menyelusup melalui lubang angin besar di atas jendela, akhirnya mampu membuaiku memeluk sunyinya malam menanti lelap.


Kadang saat terbangun di kamar kost sempit ini, aku masih menatap tak percaya di sinilah aku saat ini berdiam. Kehilangan semua kenyamanan hidup membuatku merasa benar-benar dilupakan Tuhan. Sepertinya Tuhan sengaja menghukum atas dosa masa laluku, juga perbuatan tercela ku pada Hani. Menuai hasil nistaku di dunia saja sudah sepedih ini rasanya, lalu seberat apa azab yang akan kutuai di akhirat kelak. Sesak memikirkan dosa, aku mengusap wajah seraya menarik napas berat.

__ADS_1


Pagi ini seperti biasanya harus sabar bergantian kamar mandi dengan penghuni kost yang lain, aku meringkuk di pojok kasur memikirkan apa yang mulai bisa kulakukan hari ini untuk bangkit kembali meski sulit kutanggung petaka ini.


Berhari-hari sudah aku terpuruk tanpa asa, tak tahu harus memulai dari mana susunan hidupku, yang telah terlanjur hancur berantakan tak menyisakan sedikitpun keberuntungan dan bahagia.


Hanya bayangan ibu, Hani dan anakku yang masih menguatkan aku untuk terus bernapas menjalani hari suram ini. Kadang, setiap waktu ingin berlari ke tempat tinggal Hani andai rasa malu sanggup kutanggung, namun aku sudah tak punya muka lagi


"Yud, ada pekerjaan di divisimu ngak ya? Aku lagi nganggur nih," tanyaku pada Yudi, aku menemuinya di kantor cabang perusahaan multinasionalnya pagi ini.


"Maaf, Bayu. Belum ada," jawab temanku di gedung perkantoran sebelahku dulu dengan raut tak bersahabat seperti dulu.


Lunglai, kutinggalkan gedung itu seraya menatap ke bangunan kokoh Superindo di sebelah, tempatku bekerja dulu.


Semua kesusahan hidupku ini hanya karena Dini. Rasanya, aku ingin memaki wanita keji itu jika sampai kutemukan nanti. Ia menghilang begitu saja. Setelah pergi dari rumah, berulang kali aku pernah meneleponnya tapi tak ada jawaban. Pesan yang kukirim pun tak juga dibalasnya. SEpertinya ia ingin membuatku hancur dan putus asa tanpa bisa menghubunginya.


Dalam perjalanan, sempat terlintas keinginan untuk menemui Julio dan menerima tawaran pekerjaan darinya di waktu lalu. Namun, harga diriku membuncah tak ingin mengakui kehancuran hidupku.


Rasa rindu pada ibu, Hani dan anakku sering membawa langkahku berjalan terseok mengamati rumah Hani dari jauh di waktu malam. Aku ingin melangkah ke dalam sana bercengkerama dengan Fahmi, tapi aku tak merasa layak lagi menjadi seorang ayah yang istimewa baginya seperti dulu.


Aku turun dari bis kota, menyusuri ramainya para pedagang kaki lima di jalanan, mencari sebuah peluang ide usaha untuk kugeluti. Lapar dan haus tak kurasakan lagi, bayangan Hani menari-nari membuatku bersemangat untuk terus mengayun kaki sampai jauh dan penat.


Dari pagi hingga hampir datang senja, aku melangkah tak tahu arah. Sesekali singgah di kedai minuman saat haus tak tertahankan, lalu menderap langkah kaki mengejar bis kota untuk sampai menuju kamar kostku yang sempit lagi.

__ADS_1


Kembali malam menjelang, membawa luka kesepian lagi. Entah sudah berapa lama hidupku tergelincir tapa semangat, tanpa asa dan serasa ingin berakhir saja kisah hidupku jika tak ingat panasnya api neraka. Iya, aku hanya punya banyak dosa. Tak ada kebaikan yang bisa kuingat sebagai bekalku bertemu malaikat maut.


"Mas Bayu." Sebuah panggilan dan ketukan di pintu terdengar saat aku meringkuk mencoba terlelap.


Tergesa aku membuka pintu yang berderit keras saat celahnya memberiku ruang untuk melihat siapa yang mencariku. Nampak seorang pria muda yang kulupa namanya, ia tinggal dua kamar di sampingku. Kami pernah berkenalan saat aku baru datang, tapi pikiranku yang kalut tak memberiku ingatan yang kuat akan namanya.


"Iya, Mas? Ada apa, ya?"


"Mas Bayu sedang cari kerja, ya? Saya ada lowongan tapi ngak gede gajinya. Ya cukup untuk makan sama baya kost saja gitu. Tapi nanti kalau sudah diangkat karyawan tetap bisa nambah uang makan."


"Kerja dimana, Mas?" tanyaku berdebar, rasa ingin tahu aduk dengan rasa takut jika itu jenis pekerjaan kasar yang tak biasa kusentuh.


"Pegawai kebersihan gedung, Mas."


"Gedung di daerah mana?"


"Di dekat tanjung plaza sana, agak jauh dari sini. Tapi nanti kita bisa berangkat sama-sama boncengan." Pria itu menjelaskan dengan sabar.


"Tapi apa ngak merepotkan Mas ... Mas siapa, ya? Aduh maaf saya lupa namanya."


Aku menggaruk kepala salah tingkah. Sebenarnya aku masih perlu berpikir untuk mengambil tawaran pekerjaan itu. Menjadi petugas kebersihan gedung, bisa kubayangkan seperti apa jenis pekerjaannya karena aku sering melihat mereka di gedung Superindo dulu. Ya Tuhan, kenapa hukuman-Mu seburuk ini? Bagaimana jika di gedung itu nanti ada orang yang mengenaliku mungkin? Mau ditaruh dimana mukaku ...

__ADS_1


"Saya Hilmi, Mas. Gimana diterima ngak? Mumpung belum saya tawarkan ke teman lain yang butuh kerja juga."


Aku mematung. Memegang pintu dengan gelisah. Apa tak ada jalan lain untukku menyambung hidup selain harus melakukan pekerjaan yang jauh dari profesiku dulu? Aku menarik napas berat, menimbang tak tentu


__ADS_2