
Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin aku ingin lebih memperbaiki diri sebagai seorang istri. Kesadaranku terlambat, aku kurang merawat diri dan gagal membuat suamiku setia sepanjang pernikahan hingga akhir usia kami.
Aku sadar, dulu terlena hanya sibuk mengurus rumah. Kurangnya diri ini mencari bekal pernikahan di majelis ilmu juga membuatku lengah. Aku tak mampu membawa suami lebih dekat pada Sang Pemilik Kehidupan, hingga saat godaan Dini itu datang, suamiku tak cukup kokoh imannya.
Gagal menjadi istri yang mampu menawan pandangan mata suamiku hingga terjadi perceraian ini, apa iya aku siap menikah kembali dengan Pak Julio hanya dalam hitungan bulan usai kami saling mengenal?
"Istirahatlah yang cukup. Besok ngak usah ngantor dulu," ucap Pak Julio melirih, suara lembutnya membuyarkan isi benakku saat masih menunggunya berpamitan.
Dengan cemberut, Pak Julio berpesan padaku yang duduk di teras rumah. Sementara saat tiba tadi, Fahmi sudah lebih dulu langsung masuk untuk membersihkan diri.
Pria itu berdiri di undakan teras, tak berniat singgah. Ia hanya mengantar kami, sejenak memastikan kondisiku dan bersiap akan langsung pulang.
"Aku sehat saja. Tadi hanya lelah sama lupa makan," jawabku lirih teringat besok ada janji bertemu dengan Bu Salsabila.
"Jangan keras kepala. Mengabaikan kesehatan itu juga zhalim namanya."
Aku terdiam, pria beralis tebal itu juga. Kami sama-sama menekan perasaan setelah kejadian aku tertidur ditopang oleh kokohnya tubuh Pak Kevin.
"Iya, semoga sehat. Lihat besok saja, aku ada janji dengan customer pagi-pagi," ucapku akhirnya, tapi tak berani memberi tahu jika Salsabila yang akan kutemui.
"Hmmp. Tadi itu yang namanya Pak Kevin?"
"Iya."
"Kalian cukup dekat?"
"Tadi, aku pingsan di depan ruangan Pak Kevin. Tapi, aku tertidur setelah Luluk pulang. Sungguh, aku ngak tahu Pak Kevin ada di dekatku saat bangun itu."
"Ya, aku percaya."
"Lalu kenapa dari tadi diam saja?"
"Aku hanya menenangkan diri, takut jadi bicara menyakitkan saat hatiku kesal. Sudahlah, jadian pelajaran untuk hati-hati. Untung Pak Kevin ngak berbuat macam-macam saat kamu sendirian tertidur gitu."
Tak ada teriakan, tak ada makian, pria itu tetap berusaha terlihat tenang. Melihat dan mendengar perhatian pria jangkung itu, dugaanku jika Pak Julio seorang pencemburu pun tumbang, sepertinya ia hanya khawatir terjadi hal buruk padaku saat bersama Pak Kevin tadi.
"Aku pulang, pamitkan pada Fahmi," ucap Pak Julio sembari menatapku sekilas.
"Makasih, maaf sudah bikin repot."
Pria baik itu hanya memberi isyarat dengan tangannya jika ia tak merasa direpotkan, lalu perlahan menuruni undakan teras melangkah menuju mobilnya. Sikapnya meninggalkan tanya di hatiku, sungguhkah ia tak marah lagi?
"Ada tamu rupanya?" tanya ibunya Mas Bayu, ia baru keluar saat aku melangkah pelan mengantar Pak Julio ke mobilnya.
"Assalamu'alaikum, Bu," sapa Pak Julio sopan.
"Wa'alikumsalam. Teman kerjanya Hani?" tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Saya Julio, gurunya Fahmi. Maaf saya mau permisi pulang." Dengan langkah terburu, pria baik itu melanjutkan niatnya untuk segera pamit.
__ADS_1
"Sebentar-sebentar, kayak pernah dengar namanya ... " Mantan ibu mertuaku termenung menatap Pak Julio yang telah masuk ke dalam mobilnya.
"Oh, iya, aku ingat sekarang. Julio anaknya Bu Dito?" seru wanita berwajah mirip Mas Bayu itu, namaun mobil Pak Julio telah berlalu melewati gerbang rumahku.
"Hmm, kamu itu, ya, sudah berani ngajak pulang laki-laki itu!" gerutu mantan ibu mertuaku seraya menatap kesal.
ku menoleh, sudah menduga mantan ibu merta akan bersikap begitu jika tahu pria itu adalah Pak Julio.
"Hani mau ke kamar mandi dulu, Bu."
"Eh, ibu masih ngomong malah ditinggal!" Ibu mertua berusaha menggapai lenganku, namun aku sudah lebih dulu berlalu.
Aku tetap melangkah, rasanya tak ikhlas untuk tetap diam dan menghargai ibu mertuaku yang masih ingin didengar ucapannya. Andai Mas Bayu bisa kuhubungi untuk merawat ibunya di sini dan aku akan segera pindah rumah, tapi nomor ponsel mantan suamiku itu sudah tak aktif lagi.
Keesokan paginya, aku merasa cukup sehat untuk berangkat kerja. Kupandangi ponselku, bimbang untuk berkirim kabar pada Pak Julio tentang keadaaanku. Apa aku perlu meminta izinnya untuk tetap pergi ke kantor? Tapi kami belumlah ada ikatan pernikahan, jadi untuk apa?
Kutaruh ponsel ke atas meja makan, tapi sesaat kemudian mengambilnya lagi, berulang kali seperti itu.
"Kamu itu kenapa? Itu Fahmi sudah ke mobil duluan, telat nanti." Mantan ibu mertuaku menegur dengan raut heran melihat tingkahku.
"Iya, Bu." Segera kuteguk sisa air putih dalam gelasku dan berdiri untuk menyusul Fahmi.
"Orang ko pagi-pagi sudah melamun mikir laki-laki itu saja sampai lupa waktu, huh." Suara mantan ibu mertuaku terdengar bersungut, dan aku membiarkannya saja biar wanita paruh baya itu tahu aku mengabaikan ucapannya.
Tiba di kantor, aku belum jadi memberi kabar pada Pak Julio. Toh, pria itu juga tak bertanya kabarku bukan? Sudah lah, memang seharusnya kami tetap menjaga jarak jika tak ada hal yang amat mendesak untuk dibicarakan.
"Kamu sudah ditunggu di ruang Pak Kevin, katanya Bu Salsabila hampir sampai sini," kata Luluk saat melihatku masuk ke ruangan kami. Sahabatku itu memang selalu bisa disiplin mengatur waktu, ia sering datang lebih dulu dariku.
"Kamu sudah sehat kan?" tanya Luluk menelisik wajahku.
"Iya."
"Ada apa memangnya Bu Salsabila mau ketemu?"
"Ngak tahu, katanya aku harus ketemu sendiri untuk mundur dari team."
"Wow, ada sesuatu kayaknya. Siapin mental saja, jangan baper. Jangan sampai sebut-sebut nama Julio profesional kerja." Luluk mengingatkan aku.
"Iya, makasih sarannya."
Memastikan jarum jam sudah mendekati angka delapan, barulah aku beranjak ke ruangan Pak Kevin. Sesampainya di ruang atasanku, pria itu menyambutku hangat dan berusaha menyimpan sorot kekagumannya padaku agar tak lagi terlihat.
"Jadi Bu Hani sudah sehat? Pria yang jemput bersama anaknya kemarin Julio Wardhana kan ya?" tanya pria bijak itu lirih.
"Sudah sehat, Pak. Iya, itu Pak Julio, kebetulan beliau gurunya anak saya."
"Oh, gitu. Bukan teman dekat Bu Hani?" tanyanya lagi dengan wajah mulai berbinar.
"Selamat pagi." Sapaan dan ketukan di pintu yang terbuka membuatku urung menjawab pertanyaan atasanku itu.
__ADS_1
Pak Kevin berpaling dari menatapku, dan kami bersamaan menoleh ke pintu ruangan. Nampak olehku seorang wanita semampai, berparas cantik dengan hidung lancipnya menunggu kami untuk menjawab sapanya.
"Silahkan Bu Salsabila, pagi juga." Pak Kevin buru-buru menghampiri wanita yang ternyata tamu yang kami nanti kedatangnya, ia lah Bu Salsabila.
Dengan anggun, Salsabila menghampiriku. Aku segera berdiri dari sofa tempatku duduk, mengulas senyuman seraya mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
Aku balas mngamati wanita cantik di depanku, nampak sekali ia pandai merawat diri hingga masih terlihat seperti seorang gadis. Anganku melayang pada Pak Julio, tak habis pikir kenapa ia bisa tak berjodoh lama dengan wanita sesempurna Salsabila ini.
"Sya sudah lama ingin ketemu Bu Hani, loh. Baru ini ada kesempatan. Oh ya, Pak Kevin, bisa saya minta waktu berdua dulu dengan Bu Hani?" Salsabila bertanya pada Pak Kevin.
Atasanku mengangguk ragu seraya menatapku dan Salsabila bergantian, seolah tamu kami pagi ini berlebihan permintaannya. Berdebar, kutunggu mantan istri Pak Julio itu mengucap kata, namun ia justru sibuk membuka-buka layar ponselnya.
"Bu Hani kenal ini siapa?" Salsabila menunjukkan layar ponselnya padaku.
Aku menajamkan pandangan menatap sebuah foto yang ditunjukkan padaku. Nampak olehku sepasang lelaki dan wanita dalam balutan busana pengantin modern elegan sedang tersenyum bahagia, mereka terlihat sangat serasi dalam ketampanan dan kecantikan yang sepadan. Ludahku terasa pahit, ada sesak memenuhi rongga dadaku saat menatap foto kemesraan sepasang pengantin itu.
"Itu Bu Salsabila?" tanyaku pelan.
"Iya. Dan seorang lagi ibu kenal?" Salsabila bertanya dengan napas tersengal, seolah menahan gemuruh amarah dalam dirinya.
"Iya. Itu Pak Julio."
"Sedekat apa Bu Hani dengan Julio? Apa ibu tahu saya mantan istrinya jadi mundur dari team proyek kita?" tanya Salsabila menyelidik.
Aku tak menyangka akan mendapat pertanyaan serumit itu, wanita itu tak sungkan lagi melontarkan tuduhan bahkan saat kami baru bertemu beberapa saat lamanya.
"Pak Julio gurunya anak saya. Kami juga punya sebuah kerja sama pembuatan klan." Aku menjawab seperlunya saja.
"Ibu tahu saya mantan istrinya?"
Sesaat aku terdiam. lalu memutuskan untuk menggeleng, terpaksa berbohong demi menghindari terbelit masalah lebih jauh lagi.
"Sungguh ibu tak tahu?"
"Kita baru sekarang ini bertemu kan, Bu?" Aku mengelak dari tuduhannya.
"Iya. Tapi, ibu tak pandai berbohong. Ibu pasti sudah tahu saya mantan istri Julio."
Aku tak menjawab, lalu mencoba menatap Salsabila, menegaskan jika aku tak paham maksudnya ingin bertemu denganku.
"Sudah lama saya pisah dari Julio, tapi ia masih harus membayar mahal perbuatannya pada saya."
"Bu Salsabila, kita ketemu untuk bahas proyek kita kan?" tegasku mengingatkan wanita cantik di depanku itu.
"Baiklah, kita bahas proyek dulu. Pertama, saya hanya mau team diganti jika ada pinalti ganti rugi. Pilihan keduanya, saya cabut proyek itu dapat uang pengganti dan nominalnya sesuai permintaan saya. Pilihan ketiga, Bu Hani tetap ada dalam team."
Salsabila menyeringai, merasa di atas angin bisa menekan untuk lanjut mengerjakan proyek darinya. Ia berdiri, lalu berpindah dudu di sampingku.
"Hati-hati dengan Julio, ia terlihat baik hanya di luarnya saja. Saya ngk akan rela pria itu bisa hidup bahagia dengan siapapun wanita yang dipilihnya. Ia tak layak punya pendamping hidup. Sya korbannya, dan saya ngak akan tinggal diam mendengar Julio mendekati Bu Hani." Salsabila berbisik di telingaku dengan suara ditekannya berat, seolah memberiku peringatan.
__ADS_1
Aku bergeming, mematung menahan rasa terkejut mendengar semua ucapannya. Terbayang wajah Pak Julio, tak ada sedikitpun keraguanku akan kebaikan dirinya. Namun wanita cantik ini kenapa bisa membawa hasutan serupa aib buruk dari pria berkulit sawo matang.