
Part Dini
Melewati gerbang masuk gedung tinggi itu, seorang satpam menghentikanku dan dengan sopan memintaku lebih dulu mengisi buku tamu di dalam pos. Aku turun dari mobil usai menepikan mobilku di tepian gerbang, di depan pos itu. Di dalam pos, cepat aku menuliskan nama dan agenda keperluanku.
Tak sengaja, mataku tertumbuk pada seorang wanita yang berusia senja yang duduk di trotoar sebelah pos satpam. Wajah tuanya mengernyit menahan panas mentari yang mulai menyengat, sepertinya ia seorang tunawisma yang menumpang istirahat di situ. Wajah kelelahan wanita berpakaian lusuh itu membuatku merasa iba.
Seketika hatiku tergerak untuk mendekat, namun tak tahu bagaimana cara memberinya sedikit uang karena wanita itu tak menengadahkan tangan untuk meminta. Ia hanya duduk bersandar di tembok pos seakan ingin melepas penat.
"Ini untuk membeli sedikit makanan, Bu," ucapanku sembari menyisipkan selembaran uang di tangannya.
"Untuk saya? Tapi saya ..."
"Iya. Saya buru-buru. Permisi, Bu."
Wanita senja berkerudung hitam itu, sorot matanya teduh tapi menyimpan duka. Ia menatapku lembut lalu memandang uang di tangannya dengan bingung, sepertinya ia tak menyangka akan mendapatkan lembaran warna merah itu dariku.
"Saya pemulung, Mbak. Tapi makasih sekali uangnya. Moga Mbaknya sehat terus, berkah rezekinya, bejo dunia akhirat, diberkahi gusti Allah." Ia segera berkata lagi dengan berkaca-kaca sebelum aku melangkah dari hadapannya. Doa dari lisannya itu terdengar sangat tulus membuat hatiku bergetar dan langkah kaki tak jadi terayun.
Merinding tubuhku entah sebab apa. Aku mengangguk, tersenyum haru dan mengucap terima kasih atas doa tulusnya. Lirih kudoakan kebaikan yang serupa untuk wanita senja itu hingga senyumnya mekar.
__ADS_1
"Saya permisi," ulangku lagi sebelum berlalu.
Tiba-tiba saja rasanya aku ingin bisa menghilang dari dunia ini saja, merasa begitu hina di depan wanita renta itu. Mana mungkin deretan doa baik darinya itu akan dikabulkan Allah sedangkan perbuatanku penuh cela dan dosa hingga takdirku . Ah iya, mungkin memang Allah berikan aku takdir seburuk ini karena besarnya dosaku.
Langkahku melambat, merasa hampir limbung ... aku butuh bahu untuk bersandar, butuh telinga untuk mendengar sesak hatiku, tapi kenyataannya aku pilu sendirian. Mana yang katanya dibalik kesulitan akan ada kemudahan? Buktinya aku merasa dibalik kesulitanku justru muncul lagi kesulitan lainnya. Arggh, aku benci dengan takdir ini.
Sampai di depan mobilku kembali, napasku memburu menahan goncangan batinku. Terburu aku masuk ke dalam mobil lagi. Aku pun memutar kemudi berlalu dari depan Pos satpam, ingin segera menuju tempat parkir gedung tinggi itu dan menemui orang yang sudah membuat janji bertemu denganku siang ini.
Melewati halaman gedung yang cukup luas, bisa kulihat lalu lalang orang-orang berpakaian rapi sepertiku. Bedanya, wajah mereka bersemangat menjalani hari, tak seperti aku yang terpuruk tengah berkubang kerumitan hidup. Mungkin aku terlihat baik-baik saja dari luarnya, namun jauh di dalam diriku bersemayam rencana-rencana keburukan. Ada apa dengan jiwaku? Aku tahu aku salah jalan, tapi tak tahu bagaimana car memulai jalan yang benar.
Andini, woi dini! Apa tak takut masuk neraka jika terus berbuat tercela? Kamu mau melangkah kemana lagi ini? Jika keburukan lagi yang kamu tumpuk, kamu hanya jalan di tempat, berenang terus dalam kubangan dosa. Mau sampai kapan? Makin kacau, rumit, dan memusingkan saja ulahmu, Dini! Teguran-teguran baik mulai melintas di pikiran kosongku. Kuinjak rem mobil kuat-kuat hingga laju kemudi terhenti di tengah halaman gedung. Kepalaku tertunduk, semakin dalam dan menangis sepuasnya di balik kedua telapak tangan yang kutangkupkan ke wajah.
Kuraih tisu di atas dashboard mobil, perlahan kurasa aku mulai bisa berdamai dengan diriku sendiri. Kasihan sekali wahai raga dan jiwaku. Aku tersadar lupa berterima kasih pada raga ini, pada jiwa ini yang telah sekian lama menjalani beratnya hidup kelamku.
Wanita berusia senja itu, doa tulusnya seakan menamparku, sungguh tak layak doa sebaik itu dilirihkannya untuk orang sepertiku. Ia dihadirkan dalam penglihatanku tadi pasti bukan tanpa maksud. Mungkinkah Allah menegurku yang mulai jauh tersesat dari jalannya? Siapa tahu ini adalah titik terberatku tapi tinggal selangkah lagi akan menuju bahagia. Tapi benarkah?
Sulit rasanya merubah pola pikirku, Laraku pada Bayu masih menganga. Iri dengkiku pada Hani yang dianggap lebih baik dariku masihlah membuncah. Hingga nasehat baik dari mama dulu pun tak bisa mengetuk kesadaranku. Susah, sangat susah menerima kenyataan diriku.
Kuraih ponsel dengan gemetar, mungkin berbicara dengan mama bisa membuatku jadi lebih tenang. Wanita yang melahirkanku itu, hanya dirinya yang selalu bisa memahamiku dengan penuh kasih sayang yang tulus.
__ADS_1
"Ma, apa kabar. Mama sehat?" sapaku tersendat.
"Sehat, Din. Kamu? Sehat juga kan? Mama kangen, perasaan mama selalu resah tiap ingat kamu. Kapan pulang?"
"Dini juga kangen. Aku mau minta doa mama, doakan rumah tanggaku sakinah."
"Iya, Din, iya. Mama dari dulu sudah mendoakan. Ikhlas dengan keadaan itu termasuk ibadah yang besar, ikhlaslah, jangan memaksa takdirmu, Din. Hanya kamu yang bisa menasehati dirimu sendiri." Suara mama serak, mungkin hatinya lelah padaku yang keras hati tiap mendengar nasehatnya.
Rasanya ingin segera menghambur ke pelukan mama, pulang ke kotaku dan mengakhiri kerumitan ini, tapi aku belum bisa menerima kekalahan dan impianku belum terwujud.
Suara klakson mobil di belakangku beruntun berbunyi, rupanya posisiku menghalangi kendaraan lain yang yang akan lewat. Aku menepi, menaruh ponsel dan mengusap kasar wajahku. Overthinking menderaku, untuk apa aku masih ada di depan gedung ini? Bertemu Salsabila? Ingat nasehat mama tadi, Dini! Hanya diriku yang bisa menasehati diri sendiri. Pergi dari sini, pergilah ...
Dering pesan masuk dari tadi terdengar di ponselku yang tergeletak di kursi samping kemudi, tak lama kemudian menyusul terdengar dering panggilan masuk. Telepon dan pesan itu dari Salsabila. Aku tak bersemangat lagi, kubiarkan saja. Ia pasti sudah menunggu kedatanganku, sangat menunggu.
Jika Hani saja sanggup berjuang saat tersakiti karena ulahku dan Bayu, aku pun pasti juga bisa bertahan menahan sakit hati karena kebekuan sikap Bayu. Bukankah aku ingin terlihat lebih baik perempuan bermata coklat itu?
Yang kuperlukan saat ini adalah menyendiri dulu. Iya, aku butuh menyepi, merenungi cela, dan menjadi menang versi diriku. Setiap orang berbuat baik sesuai versinya, kenapa aku harus menjadi seperti versi orang lain.
(Sudah sampai belum, saya nunggu di lobi lantai satu gedung.)
__ADS_1
Pesan dari Salsabila kubaca tanpa membalas pesan itu. Buru-buru, kembali kunyalakan mesin mobil sebelum pikiranku berubah. Memutar arah, aku menyusuri halaman gedung untuk segera pergi. Namun, panggilan telepon dari Salsabila terus saja berdering membuatku tak bisa mengemudi dengan tenang.