KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 41. Pria Berwajah Lesu


__ADS_3

Tanpa sempat kucegah, pria itu datang kembali ia sudah berdiri diluar rumah, dengan masih berdiri menunggu di depan pagar di samping mobilnya yang terparkir.


Takut-takut Mas Bayu melangkah ke teras rumah seraya dengan menundukkan wajahnya. Nampak ada kerinduan di wajahnya, ragu, aku melangkah menyambut kedatangannya.


Mas Bayu melepas napasnya kasar, lalu duduk di undakan teras seperti orang yang kebingungan. Menatap langit yang hampir gelap, kurasa seharusnya bukan waktu yang tepat bagi Mas Bayu untuk datang, sebentar lagi azan maqrib. Bahkan aku belum sempat membersihkan diri sejak baru pulang tadi, namun lisan ini tak kuasa memintanya pergi.


"Aku ngak tahu kenapa dari kantor pulang ke sini," lirih Mas Bayu tertunduk dalam.


Mendengar ungkapan pria yang berwajah lesu itu, aku merasa iba nmun tak sanggup mengucap kata untuk menghiburnya, hatiku masih menanggung lara yang belum lagi pulih. "Sebentar, aku ambil minum dulu, Mas," kataku tak tega melihat pria itu tertunduk lemas tanpa gairah.


Meski hatiku menyimpan lara, tapi aku tetap membuatkan Mas Bayu secangkir teh. Lalu memanggil Fahmi, memintanya mengantar minuman itu untuk ayahnya. Sementara itu, aku ingin mandi dulu secepat yang aku bisa sebelum datang waktu maqrib.


Setengah hati dengan wajah ditekuk Fahmi memenuhi permintaanku. Kupandangi tubuh tegapnya melangkah ragu menemui ayahnya di teras. Semoga dengan melihat putra kesayangannya bisa sedikit menghibur hati Mas Bayu. Meskipun iba, aku sungguh belum bisa lagi ada di sisinya saat ini.


Meski hanya mengguyur badan sekejap waktu, penat dan lelah tubuhku kerena seharian bekerja pun berganti dengan rasa segar. Kumandang azan sudah terdengar tadi, aku tergesa ke teras ingin memanggil Fahmi untuk sholat jamaah maqrib.


Kulihat Fahmi tengah duduk terdiam berjarak cukup jauh di undakan yang sama dengan Mas Bayu. Langkahku tertahan , saat kudengar putraku bercakap dengan suara berat pada sang ayah.


"Kenapa tehnya belum diminum juga? Ayah ingin lebih lama di sini?" tanya Fahmi.


"Ayah masih capek. Sebentar lagi, ayah masih ingin duduk di sini. Sekolahmu bagaimana?" Kudengar Mas Bayu mencoba mencari topik pembicaraan dengan putranya.


"Apa Tante Dini ngak marah ayah ke sini? Belum lama tadi tante itu datang marahin bunda. Fahmi ngak mau ayah bikin bunda sedih terus. Cepat pulang saja, Yah." Fahmi menjawab datar, ia justru membahas tentang rasa kesalnya pada Dini.

__ADS_1


"Tante Dini ke sini?"


Kulihat Fahmi mengangguk, hingga Mas Bayu cepat berdiri dengan raut marah.


"Fahmi, sudah azan, kita shalat dulu," Aku cepat berseru dari belakang punggung mereka, hingga keduanya menoleh bersamaan. Entah aku merasa takut putraku akan berkata yang tak sopan jika dibiarkan terus bicara.


"Iya, Bun. Fahmi wudhu dulu," jawab putraku seraya melangkah meninggalkanku dan ayahnya.


"Hani, bolehkah aku ikut sholat di sini?"


Hanya bisa mengangguk, aku tak mungkin meminta pria itu pergi tanpa sholat dulu. Berjalan beriringan, aku berlalu kedalam diikuti Mas Bayu. Kami melangkah perlahan dalam sunyinya malam serupa dua orang yang memangul beban berat di pundak. Mungkin dalam hati kami masih tersimpan sedikit kenangan indah selama belasan tahun pernah bersama. Namun, kenyataan yang ada kini tak seindah kenangan itu.


"Wudhunya di sana, kita sholat di ruang tengah saja," tuturku dengan suara datar, aku meninggalkan pria itu untuk menyiapkan keperluan sholatnya.


Nampak raut kesedihan di wajah pria yang sudah digantikan posisinya sebagai imam sholat oleh putranya itu. Raut mukanya semakin lesu, nampaknya Mas Bayu merasakan jika ia terbuang, benar-benar bukan bagian dari kami berdua lagi.


Fahmi menyalamiku usai sholat, barulah ia berani meraih tangan Mas Bayu setelah aku memberikan isyarat agar Fahmi juga salim pada ayahnya. Putraku, masih saja terlihat menekuk wajahnya.


"Kalian baik-baik saja selama di sini?" tanya Mas bayu padaku lirih saat Fahmi kembali ke kamar untuk menyimpan sajadahnya.


Aku mengangguk pasti. "Cepatlah pulang, Mas, sudah malam. Kita akan segera bercerai, ngak sepantasnya masih berdekatan begini."


"Selama belum diputuskan, kamu masih istriku. Aku masih berhak menemuimu."

__ADS_1


"Untuk apa masih mencariku? Sudah ada Dini, kurang apa lagi ia? Pintar dan cantik. Pulanglah cepat!" Aku berjalan ke arah pintu rumah, berharap Mas Bayu mengikutiku keluar.


"Jika aku beri tahu alasanku menikahi Dini, apakah bisa membuatmu memaafkan aku?"


Aku menggeleng cepat, tak ingin mendengar apapun lagi yang bisa menambah sayatan lara di hatiku.


"Katamu aku membosankan...hanya tahu mengurus rumah, tak menarik lagi dan tak sepintar Dini. Kamu lupa belasan tahun aku yang menemanimu, melayanimu sampai lupa mengurus diri. Ngak, Mas! Ngak usah katakan alasanmu menikahi Dini, cukup! Aku sudah nyaman dengan keadaanku sekarang."


"Julio. Pria itu yang membuatmu merasa sudah nyaman. Iya, kan, Hani? Iya, kan?" tanya Mas Bayu bertubi seraya memegang bahuku kuat-kuat.


Menggeleng cepat seraya berusaha lepas dari tangan kekar Mas Bayu di bahuku, aku mengingatkan pria itu agar melirihkan suaranya demi kebaikan putranya. Tangan pria itu luruh dari bahuku, ia pun melangkah gontai keluar rumah. Aku menatap punggungnya dari ambang pintu, hingga tiba-tiba ia berhenti berjalan dan berbalik.


"Katakan Hani, apa sudah tidak ada sedikitpun rasa sayang di hatimu untukku?" tanyanya dengan tatapan penyesalan.


"Aku pernah cemas menunggumu pulang hingga larut, tapi kamu justru sedang bersenang-senang dengan wanita itu. Aku selalu ada tapi kamu tiadakan, aku yang berjuang bersamamu tapi wanita lain yang kamu anggap secantik bidadari. Jadi, menurutmu apa bisa hatiku masih menyimpan rasa sayang?" kataku seraya mendekat pada Mas Bayu, agar dilihatnya ketegaran di wajahku.


"Aku ngak akan datang sekalipun ke persidangan. Biar diputuskan hakim, setidaknya masih ada peluang untukku memintamu rujuk karena aku tak sekalipun pernah mengucap kata pisah. Iya, aku akan tunggu sampai kamu bisa memberiku maaf."


Tercekat tenggorokanku mendengar ucapan Mas Bayu. Tak habis pikir dengan keras sikapnya. Ia yang memilih berpaling pada wanita lain, tapi kini dengan mudahnya ingin memintaku menerimanya kembali. Ia tak menyadari dalamnya kecewa dan luka di hatiku. beruntung Allah masih memberiku ketegaran, memudahkan jalanku untuk bekerja lagi dan menghadirkan seorang sahabat setangguh Luluk si sampingku.


"Jaga diri baik-baik. Jangan mudah terpikat pada Julio. Aku ngak akan menyerah sampai kamu melihat kesungguhanku. Aku pulang." Mas Bayu mengucap salam, melangkah lagi ke mobilnya dan melajukan kendaraannya cepat.


Meski perasaanku masih ada untuk Mas Bayu, perlu ia pahami bahwa dia sudah tak lagi ada. Bagaimana ia telah terbagi dengan wanita lain. Sulit, berat, bahkan seakan tidak percaya pria itu sanggup berpaling.

__ADS_1


Terkadang, Allah seakan-akan membuat sesuatu hilang seperti direnggut, padahal sebenarnya ingin digantikan dengan yang lebih patut. Jikapun Allah menakdirkan aku dan Mas Bayu bersama lagi, pasti akan ada jalan kebaikan yang menjadi rahasia dan kehendak Allah. Yang aku tahu, kini aku hanya ingin secepatnya resmi bercerai dari pria itu.


__ADS_2