KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 44. Tundukan Pandangan


__ADS_3

Sesaat kemudian, kami berempat sudah menyusuri jalanan kota. Sepanjang waktu, Fahmi dan Pak Julio bercerita banyak hal tentang kegiatan di sekolah mereka. Sementara aku, menatap punggung Pak Julio sembari menyimpan rasa heran pada pria yang segala bujuknya padaku tak mengenal lelah.


Apa yang diperjuangkan Pak Julio pada sosokku? Calon janda dengan anak dua, berusia tak lagi muda lagi, dan kalah cantik dibanding wanita dalam kehidupannya sebelum mengenalku. Kiranya, apa yang membuat pria di depanku ini sampai menaruh hatinya padaku. Dan lagi, seyakin itu ia merasa aku pun akan menerima sosoknya di kehidupanku usai sendiri nanti.


"Sudah samapi. Ngak jauh kan? Jam sembilan nanti kita akan pulang. Jam sembilan." Pak Julio melambatkan laju mobil seraya memasuki parkiran restoran. Anakku tergesa turun lebih dulu dengan tak sabar.


"Maaf jadi bikin ribet dan repot, Pak," ucapku lirih, hampir hanya terdengar olehku sendiri.


Pak Julio menoleh ke arahku, "Bu Hani berkat sesuatu?"


"Ngak penting, kok, Pak," kataku bersiap untuk turun.


"Tapi aku dengar. Kamu ngak pernah merepotkanku, Hani. Bahkan andai kamu memintaku memberimu sebuah tempat tinggal saat ini, itu tak merepotkan aku. Kamu tahu rumah mewah yang dekatnya rumah artis Anang Hermansyah?"


Aku menggeleng bingung. "Itu rumah Pak Julio?"


"Bukan, entah rumah siapa," kata Pak Julio tergelak.


Aku hanya menatapnya menahan senyum. "Maksudnya apa, Pak?"


"Ngak ada. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum saja. Ayo kita turun, kasihan Fahmi."


Berjalan berjarak, aku memilih agak jauh di belakang Pak Julio yang berjalan lebih dulu bersisian dengan Fahmi.


Tak berapa lama, kami sudah duduk berempat di sudut restoran, menanti pesanan datang. Fahmi memilih menu makanan ayam, sedangkan aku menyerahkan pilihan yang sama dengan Pak Julio. Aku ingin tahu, yang kiranya cocok untukku.


Belum lagi pesanan kami datang, Fahmi berpamitan ke toilet. Kubesarkan bola mataku, putraku sudah keterlaluan mereka-reka suasana agar aku hanya duduk berdua berhadapan dengan guru desain grafisnya itu.


"Biar Bunda antar saja, sekalian Bunda juga mau ke toilet. Kami ke toilet dulu, Pak." ucapku pelan, menatap lekat Fahmi agar ia paham tak baik berlebihan mendekatkanku dengan pria yang duduk di depanku ini.

__ADS_1


Putraku mengangguk seraya menitipkan ponselnya pada Pak Julio, lalu berjalan cepat berlalu mendahuluiku. Aku menatapnya hingga tak nampak dan berbelok di sudut restoran. Kepergianku dari rumah di hari itu, pasti sangat membekas di ingatan Fahmi, kurasa ia begitu memahami lara hati bundanya hingga ia tega abai pada ayahnya.


Rapuhnya jiwa anakku yang kutakutkan sejak resah menimbang untuk berpisah dari suamiku, ternyata tak memakan waktu lama. Rasa kehilangan akan sosok Mas Bayu, perlahan bisa kami lalui berdua.


Andaipun Allah mudahkan datangnya sosok pengganti Mas Bayu, pendapat anakku tentu akan menjadi pijakan utama untuk menentukan keputusanku.


Aku kembali lebih awal dari Fahmi, mendaratkan bobot tubuhku pada kursi depan Pak Julio. Dan mengajukan pertanyaan.


"Ia setinggi kita sudah. Apa harapanmu padanya?" ucap Pak Julio lirih saat melihatku terus menunggu kedatangan Fahmi.


"Harapanku pada Fahmi?" tanyaku balik dengan gugup.


"Iya" jawab Pak Julio cepat.


"Aku sangat ingin ia tercukupi agamanya, kehidupannya dunia, dan juga akhiratnya. itu doaku setiap usai sholat." Tanpa sadar, dalam berbincang aku sudah mulai menyebut diriku sebagai aku, bukan saya lagi seperti biasanya. Mungkin aku mulai merasa lebih nyaman begitu.


"Super keren. Best mom. Insyaallah terwujud. Putramu bagus karakter pribadinya, tak banyak muridku sebaik dirinya. Kami hampir mirip sifatnya, cepat sekali nyambung tiap bahas apa saja."


"Kenapa? Apa karena Bayu memilih wanita lain lalu kamu anggap gagal jadi istri yang baik, begitu?"


"Entahlah, Pak Julio. Duniaku rasanya runtuh saat tahu-tahu ada wanita lain. Aku pernah meratapi kekuranganku, berusaha belajar dari kelebihan wanita lain itu, dan tetap saja gagal bertahan."


"I fell you. Aku pernah merasakan juga. Berhentilah menyimpan rasa tak berharga itu. Bukan karena kesalahanmu suamimu memilih wanita lain, ia yang rugi menyia-nyiakn wanita sebaik kamu."


Kepalaku yang dari tadi menunduk, seketika mendongak diselimuti rasa tak percaya. Sungguh, aku tak mengira pria baik itu pernah merasakan lara sebuah penghianatan.


Rasa penasaran menyergapku, namun urung bertanya saat Fahmi datang hampir bersamaan dengan pramusaji yang menghampiri meja kami untuk mengantar pesanan. Putraku duduk di sisi Pak Julio, namun saat melihat aquarium yang menarik di pandang ia beranjak mendekat pada aquarium.


"Pak Julio pernah ditinggal pacarnya?" tanyakku perlahan.

__ADS_1


"Bukan pacar. Tapi istriku."


Aku tergagap saat sepasang mata teduh itu lagi-lagi menatapku. Setan sedang bertebaran diantara kami, aku menyadari itu.


"Tolong jangan sering menatap saya, Pak. Tundukkan pandangan. Perlu waktu lama untuk membicarakan norma agama tentang ikhtilat. Kita cepat mulai makan saja sekarang. Bapak bisa cari ilmunya sendiri nanti. Aku juga sedang dalam proses belajar jadi lebih baik karena aku ingin jalan hidup yang terbaik yang Allah berikan untukku."


"Of course. Makasih sudah diingatkan. Sama, aku juga baru mulai belajar jadi orang baik. Nantilah aku ceritakan banyak lagi yang kamu perlu tahu tentang aku."


Pria itu tiba-tiba terdiam, membuatku mengkhawatirkannya.


"Maaf, Pak Julio. Aku tak bermaksud menggurui atau menyinggung perasaanmu."


"Kenapa kamu selalu minta maaf untuk hal yang memang harus kamu ingatkan padaku. Seperti itulah seharusnya memang. Kamu tak perlu risaukan aku, setelah ini kita ngak akan sering ketemu. Beri perhatian saja anakmu dengan baik."


"Maaf, Pak Julio."


"Minta maaf lagi?"


"Hehehe, iya, maaf."


"Tiada maaf bagimu."


"Hehehe." Lidahku kelu, hanya bisa tertawa kecil.


Untung Fahmi datang sebelum semuanya semakin rumit saja. Saat ini, aku belum menemukan kata yang tepat, tak bisa menjelaskan pada Pak Julio jika pandanganku pada cinta sudah sangat berbeda. Jika dulu aku tahu mencintai Mas bayu sepenuh jiwa tanpa paham cara menjaga cinta itu agar bernilai ibadah hingga ke surga bersama, kini aku bermimpi memiliki sepasang tangan yang menuntunku beribadah dalam pernikahan hingga ke jannah-Nya.


Buah hatiku begitu riang menikmati kebersamaan kami. Sekarang Pak Julio lebih banyak bicara dengan anakku, sedikitpun tak menatapku lagi. Ia juga tak menanyakan apakah menu yang dipilihnya untukku kusukai. Ada rasa lega memenuhi rongga dadaku, setidaknya Pak Julio mulai tahu nilai hidup yang kuyakini.


Waktu terasa cepat bergulir. Seperti janjinya, pria itu mengajak kami segara pulang usai makan. Kami pun beriringan menuju pintu keluar restoran dengan menyimpan angan masa depan dalam diri masing-masing.

__ADS_1


Sesempurna rencana manusia, rencana Allah selalu lebih sempurna. Aku tak pernah tahu kebaikan apa yang dirahasiakan Allah di lembaran hari-hariku ke depan. Percayalah, Hani, Allah tak akan pernah ingkar ... Yang dijanjikan untukmu akan ditepati suatu waktu jika terus berpegang pad nilai agama. Lihatlah kini, ranting yang patah sudah mulai tumbuh dan lebih indah dari yang sebelumnya. Bisikan-bisikan hatiku, menguatkan keyakinanku seraya melangkah tenang di balik punggung pria berkulit sawo matang yang berjalan bersisian dengan putraku.


__ADS_2