
"Sudah di baca sungguh-sungguh isinya? tanya Pak Julio menatapku sekilas, lalau beralih memandang Fahmi yang sedang makan jajanan kemasan di ujung depan.
Pria jangkung itu memintaku membaca ulang isi poin kerja sama hasil buah pikirannya. Kami duduk di kursi selasar tempat tunggu untuk menjemput siswa, usai Fahmi selesai ekskul. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa guru yang melintas untuk pulang.
"Sudah. Bapak lucu juga bikin draftnya," jawabku menahan tawa sambil menunjuk sebuah poin dalam draft dengan jariku.
"Loh, itu sesuai permintaanmu. Katanya kita tidak boleh saling memandang. Ya udah aku tulis juga di situ, 'Mencuri pandang kena pinalti push up sepuluh kali', mau ganti juga boleh, pinaltinya nyanyi topi saya bundar sepuluh kali, gitu?"
Pria yang duduk si samping berjarak dua kursi dariku itu asli memang lucu, penyabar juga kurasa.
"Kenapa ngak dibuat formal sih kontrak kerja kita? Ini lucu-lucuan apa gimana?" Aku berujar, mengungkapkan perasaan takjubku kok ya ada businessman konyol seperti dirinya.
"Kata siapa itu lucu-lucuan? Itu tidak benaran, aku ngak akan sanggup push up di dekatmu karena jantungku sudah push up duluan.Itu hukuman beraat, jadi aku tentu ngak akan berani mencuri pandang," gurauan Pak Julo semakin lucu saja, tapi ada benarnya juga.
Aku menepuk keningku, menyerah tak bisa lagi menimpali senda gurau pria beralis tebal itu. Semakin banyak alasan kucari-cari untuk membentengi kedekatan kami agar tak menabrak nilai agama, pria itu tetap mencari cara agar bisa dekat denganku.
"Aku boleh tahu sesuatu?" tanyaku akhirnya.
"Tanya saja. Tentang apa? Asal jangan tanya kenapa akau takut nonton film horor."
"Pak julio takut hantu? Wah, baru tahu malah." Aku tergelak.
"Duh, jadi ketahuan aibnya. Mau nanya apa tadi?" Pak Julio menegakkan punggungnya di sandaran kursi dengan raut culun sedikit memelas.
"Kenapa istrinya Pak Julio dulu pergi ninggalin Bapak? tanyaku lirih.
Pria itu tercenung, mengetuk-ngetuk lantai dengan ujung sepatunya. Seolah enggan menjawab. Aku menerka jika ia punya sebuah luka yang mendalam di masa lalunya. Seketika aku merasa bersalah. Aku menatap pepohonan rindang d sekitar sekolah Fahmi, mencari keteduhan dan kesejukan di antara rimbun daunnya.
"Eh, ngak jadi tanya saja. Pasti Pak Julio sangat mencintai wanita itu sampai susah untuk cerita, maaf kalau aku bikin sedih ingat mantan istrinya," ucapku buru-buru meralat tanya.
"Eh, ngak-ngak, ngak apa-apa. Justru karena aku ngak ingin mengingat Salsabila lagi jadi malas cerita."
'Oh, jadi namanya Salsabila?" lirihku lagi.
"Iya. Salsabila."
Senyum Pak Julio kembali merekah, sorot matanya semakin terlihat menawan saja. Aku menunduk cepat, jaga pandangan!
Mendengar nama itu, sepertinya aku pernah dengar juga sebelumnya, tapi dimana ya? Rasa-rasanya sih waktu di kantorku jika tak salah ingat.
'Kita bahas kerjaan aja deh. Jadi mulai kapan kita take pembuatan iklannya?" tanyaku mengalihkan suasana yang kurasa mulai tak nyaman.
'Wanita emang gitu ya? Suka menghindari satu hal hanya karena ngerasa ngak enak hati." Pak Julio bukannya menjawab tanyaku, tapi justru mengomentari sikapku.
__ADS_1
"Yah kan aku ngak ingin bikin Bapak jadi ngerasa ngak nyaman dengan pertanyaanku tadi."
"Hmm, itu tuh yang bikin timbul bibit perselisihan suami istri. Saat istri mendam sendiri sesuatu yang bikin dirinya ngak nyaman pada suami, itu bisa jadi bom perasaan yang mudah meledak satu ketik nanti kalau muncul sedikit saja pemicunya."
"Eh, pusing amat dengarnya." Gelakku pelan.
"Ini serius, Hani." Tatapan teduh pria itu menyorotku dalam.
'Iya, maaf. Habisnya aku ngak tega lihat wajah Bapak memelas kayak mau bunuh diri aja tadi, hehe," gurauku mencairkan kebekuan Pak Julio yang mulai terlihat serius.
"Pertanyaanmu tentang mantanku tadi ngak salah, aku yang belum siap menjawabnya. Jadi andai kamu nanti masih ingin tanya apapun jangan dipendam, tanya saja. Komunikasi suami istri itu penting banget. Aku sebagai suami ngak mau kamu mendam perasaan sendiri, nanti jadi ngak bahagia," jelas pria bermata teduh itu lembut.
"Suami istri? Kapan kita nikahnya?' ledekku lagi.
"Eh belu ya. Jadi kapan dong nikahnya kita?" tanyanya memelas dengan wajah konyol.
"Kapan-kapan kalau ngak hujan."
Pria jangkung itu terkekeh.
"Sidang cerai ketiganya kapan?"
"Dua hari lagi," jawabku sambil mengangkat dua jariku.
Lalu kujelaskan detailnya, saat sidang pertama dulu, aku ditemani oleh pengacara di ruang sidang. Ditanya-tanya oleh hakim tidak samapi sepuluh menit. Inilah kelebihan menggunakan pengacara, lebih mudah karena sebelumnya sudah diurus olehnya. Sidang kedua aku tak sekalipun mau hadir dalam sidang hingga semua jadi lebih lancar. Sidang ketiga besok, aku harus mendatangkan saksi, aku sudah meminta bantuan Mbak Min dan Luluk. Setelah itu, aku tidak perlu lagi menghadiri sidang dan hanya menunggu akte cerai keluar.
"Memang Pak Julio tahu shalat istikharah itu apa?" Aku meledeknya. Menyenangkan sekali rasanya jika bisa melempar canda ada pria itu, serasa bisa balas dendam karena pria itu sering meledekku juga.
"Tahu, shalat minta hujan kan?"
"Bukaaan. Itu namanya shalat istisqa," sanggahku sembari menahan tawa.
"Dengar dulu, bukan minta hujan air tapi hujan petunjuk kebahagiaan. Do you agree?"
"Wonderful, anda benar," jawabku malu-malu.
"Setelah sidang ketiga, siap-siap saja sidang di rumahku. Aku mau ajak kamu ketemu keluarga besar. Bakalan banyak pertanyaan dari mereka nanti. Tapi lihat aku, keluargaku sifatnya hampir sama denganku. Kamu jangan takut, ya."
"Apa'an Pak Julio? Sidang ceraiku saja belum diputuskan." Aku merasa terlalu cepat permintaan pria itu untuk membawaku ke rumahnya nanti.
"Insyaallah lancar langsung ketuk palu. Kudoakan. Dah makin sore kita bahas draft itu lagi biar cepat bisa pulang."
Pria berkulit sawo matang itu lalu beralih membahas rencana pengambilan foto kami bertiga untuk pembuatan iklan baju-baju muslim di butiknya.
__ADS_1
Sesaat kemudian, Pak Julio memanggil Fahmi untuk mendekat pada kami,ia ingin membahas konsep iklan dengnan melibatkan anak juga.
"Jadi konsepnya sudah kuserahkan pada Fahmi. Ia sudah jago, ini jadi proyek pertamanya. Biar aku yang bikin logo merk bajunya. Bundanya yang nabungin royalti Fahmi. Sepakat?" Pria bermata teduh itu menguraikan pembagian job kami.
"Pak Julio. Nanti sekolah Fahmi jadi terganggu kalau konsepnya dibebankan ke mereka juga," lirihku mengingatkan.
"Itu keinginannya, aku yakin ia sudah bisa atur waktu. Biar anakmu latihan berkreasi sekaligus dapat uang, itu bagus buat bangun jiwa mandiri dan kreatif bikin pekerjaan sendiri," jelas pria jangkung itu dengan bijak.
"Tenang saja, Bun. Aku kerjakan setelah tugas sekolahku selesai kok." Fahmi menenangkan aku.
Aku menatap mereka berdua yang terlihat begitu semangat dan bahagia, lalu akhirnya menyerah untuk mengangguk setuju.
Kami pun berpisah usai saling membubuhkan tanda tangan di atas kertas surat perjanjian kerja sama iklan butik Pak Julio itu. Pria lucu, bijak, penyabar, jangkung, berkulit sawo matang, dan bermata teduh itu tetap tak meminta nomor ponselku saat kami kembali akan berpisah jarak dan waktu, itu keren.
Tiba di rumah kembali saat maqrib hampir tiba, aku terkejut mendapati pagar rumahku tak tergembok. Harunya jika Mas Bayu dan ibu sudah pulang, pagar dan rumah sudah dikunci oleh Mbak Wati dan anak kunci cadangan itu dibawanya pulang. Kedua ibu dan anak itu ... mereka masih ada di dalam rumahku?
Dengan lemas aku meminta Fahmi turun dari mobil dan mendorong pintu pagar, lalu aku kembali menyalakan kendaraan agar mobilku bisa segera masuk.
"Assalamu'alaikum," lirihku lunglai seraya masuk ke dalam rumah.
Aku langsung mengelus dada saat tak lama kemudian terdengar suara yang menjawab ucapan salamku, nampak ibu keluar dari kamar menyambut kami dengan tergopoh.
"Ibu?" Aku sangat terkejut melihat ibu masih tinggal di rumahku.
Ibu tak berani menatapku, aku hampir menegur ibu, tapi anakku butuh istirahat jadi tak mungkin aku langsung berdebat dengan ibu.
"Kalian istirahat dulu di kamar, nenek akan masak makanan kesukaan cucu nenek untuk makan malam." Ibu menuntun Fahmi ke kamar putraku itu.
Tak terlihat rasa bersalah, ibu bersikap seolah semua berjalan seperti dulu saat kami masih harmonis dalam satu atap. Andai ia tak jauh lebih tua dariku, mungkin saat ini juga sudah kutegur ibu. Bagaiman aku bisa istirahat setelah melihat ibu masih tinggal di rumahku?
Aku meredakan penat di tubuh, duduk di sofa ruang tengah mencoba merendam rasa kesal agar bisa berpikir tenang. Tapi sesaat kemudian, kembali ibu melintas hendak pergi ke dapur.
"Bu, Mas Bayu mana? Ibu ngak jadi diajaknya pulang?"
"Maaf, Hani. Kata Bayu rumah ibu sedang direhabnya. Kami belum dapat rumah untuk disewa, jadi ibu masih numpang di sini dulu, ya."
Rasnya ingin segera kujelaskan pada ibu tentang masalah yang dialami Mas Bayu. Lalu bisa melihat penyesalan menggunung di mata ibu hingga ia meratapi kesalahannya, dan meminta maaf karena sering tidak menghargaiku sebagai menantu. Tapi, lidahku kelu, tak kuasa brucap. Aku tersiksa dengan kelemahanku yang tak mudah tega menyakiti hati orang lain.
"Mas Bayu janji sama Hani tadi pagi, sore ini akan dapat rumah sewa untuk ibu tinggali. Kita tunggu saja, ya, Bu," kataku akhirnya.
"Kamu kok kayak ngak sabar lagi ingin ibu cepat pulang dari sini? Kamu ngak ikhlas ibu nginap di sini selama ini?" ibu berkata dengan wajah memerah.
"Hani ikhlas, Bu. Hanya saja Mas Bayu yang sudah janji begitu. Apa Mas Bayu titip pesan untukku sebelum pergi tadi?" tanyaku mulai cemas mengingat Mas Bayu tak punya ponsel lagi untuk dihubungi.
__ADS_1
"Ngak ada. Kamu kok kayak takut Bayu mau kabur kemana saja." Ibu cemberut, lalu beranjak ke dapur.
Ikhlas, Bu. Aku ikhlas saja andai harus menampung ibu tinggal di sini sampai putramu dapat tempat tinggal. Tapi tolong, jaga sikap dan bicaranya, jangan lagi ikut campur dalam kehidupanku dan anakku, aku hanya menggumam sendiri dengan lunglai