KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 43. Just Dinner


__ADS_3

"Diammu sudah memberikan jawaban. Kamu pasti sedang bersama pria kaya itu." Lagi, Mas Bayu melontarkan dugaan seolah aku yang paling banyak khilaf.


"Fahmi memanggilku, Mas. Besok telepon Fahmi lagi saja. Assalamu'alaikum." Kututup panggilan segera, menahan diri untuk tak terbawa amarah Mas Bayu.


Jahat? Iya, Mas Bayu telah berbuat zholim padaku. Tak sedikit pun terlintas di pikiranku ia akan tega membuangku. Namun begitu, tak sedikit pun tersimpan di hatiku rasa dendam terhadapnya. Bagiku, ia tetap ayahnya anakku. Semua yang telah terjadi aku kembalikan pada Sang Khalik, hanya dengan begitu ketengan hati bisa kurasakan meski berat.


Lirih suara Fahmi di teras rumah mengusik diamku hingga angan tentang Mas Bayu berlalu dalam dinginnya angin malam. Dari ruang tamu, bisa kulihat buah hatiku berlarian menuju pagar rumah, menyambut sosok yang tengah mereka tunggu kedatangannya.


Pria jangkung berkulit sawo matang itu telah tiba. Ia mengucapkan salam, melukis senyuman hangat di wajahnya, dan mengusap kepala buah hatiku. Ibu mana yang tak akan mengembun sudut matanya jika melihat pemandangan sehangat itu, menyaksikan anaknya berbinar menghambur dang direngkuh penuh kasih oleh seorang yang menyerupai ayah mereka.


Di depan jendela ruang tamu aku tercenung, ragu untuk menyambut Pak Julio yang mulai terlihat gelisah mencari keberadaanku yang tak kunjung keluar menemuinya. Sesaat, rasa takut menyergapku. Apa bedanya aku dengan mas Bayu jika saat ini kutanggapi perhatian dari pria rendah hati itu. Belum resmi bercerai, namun memberi jalan bagi pria lain untuk mendekatiku, bukankah itu sama saja merajut jalinan terlarang?


"Bunda..." seru Fahmi memanggilku, ia celingukan seraya masuk mencariku keruang tamu.


"Eh, iya. Bunda di sini," ucapku lirih.


Di dekat jendela, aku masih berdiri menahan gemetar tubuh karena dalam pandanganku terlihat jelas Pak Julio duduk di kursi teras persis di depan mataku, hanya tersekat oleh kaca dan tirai berbentuk jalah yang menghalangi pandangan orang luar.


"Ayo, sudah ditunggu Pak Julio," bisik Fahmi.


Serupa patung, kakiku serasa berat untuk diayunkan. 'Pria itu bertamu, memuliakan tamu itu ada adabnya,' bisikan hatiku mengenyahkan kegamangan sisi lain batinku


"Sebentar," ujarku amat lirih.

__ADS_1


"Nanti kemalaman, bun."


Fahmi meraih tanganku, menuntunku pelan hingga kakiku pun terbawa oleh langkahnya.


"Assalamu'alaikum. Aku bawakan ini. Jangan anggap sebagai hadiah, tapi bentuk apresiasiku atas kesuksesan Bu Hani. Aku turut berbahagia." Pak julio berdiri, memberikan beberapa tote bag padaku dengan senyuman mengembang.


"Wa'alikumsalam. Pak Julio berlebihan, saya berhasil brading juga karena bantuan bapak. Tapi, ini terlalu banyak. Saya ambil satu saja bagaimana?" ujarku seraya meletakkan kembali enam tote bag itu di meja teras.


Bukannya menjawabku, Pak Julio justru menoleh pada Fahmi yang menatap kami dengan gelisah, sepertinya tak sabar untuk segera pergi makan malam. Pria jangkung itu pun membuka kunci pintu kendaraannya melalui remote, lalu meminta Fahmi untuk menunggu di mobil.


"Please, jangan ditolak. Ini semua baju muslimah, pasti bermanfaat buat Bu Hani. Beri aku kesempatan dapat pahala, bukankah setiap dipakai untuk menutup aurat maka aku akan dapat juga pahala kebaikannya?"


"Sa...ya... seperti apa model bajunya? Maksud saya, apa sesuai untuk muslimah?" tanyaku bingung memilih kata, cemas membayangkan pilihan pria modern itu kuduga jauh dari pakaian muslimah yang seharusnya. Selain itu, menerima pemberiannya sungguh bisa menjadi beban bagiku. Kiranya bisa menimbulkan fitnah nantinya.


Pak julio meraih ponsel dari sakunya, Lalu tergesa-gesa dengan jari bergetar menunjukkan foto-foto baju muslimah padaku. Seketika, aku menahan senyuman geli, ternya pria itu merasakan tak percaya diri juga berada di dekatku hingga jemarinya bergetar.


"Harus secepatnya, ya? Lagian Pak Julio sudah cukup sibuk masih juga sempat buka usaha butik. Saya harus atur waktu dulu," ujarku seraya memegang ragu tote bag di meja.


"Butik ini persiapan untuk istriku nanti. Menurutku, saat seorang wanita telah menikah semestinya harus rela membuang ambisinya demi menciptakan surga dalam rumah untuk suami dan anak-anaknya. Jadi, istriku tak perlu kerja."


"Loh, butiknya kan harus dikelola. Istri Pak Julio nanti tetap harus ninggalin rumah, dong." Kuberanikan diri berbeda pendapat dengan pria itu, pembicaraan ini cukup membuatku terpacu untuk bersuara sedikit keras.


"Iya. Tapi, kan ya ngak setiap hari. Sesekali saja. Butiknya bisa autopilot dikelola karyawan. Biar istriku ngak sumpek di rumah saja, ia bisa tetap merasa punya jati diri kalau punya kegiatan. Bukankah kamu setuju?"

__ADS_1


"Setuju. Mak ... sud saya, pendapat Pak Julio ada benarnya."


Aku menunduk kian dalam, mungkin wajahku memerah menahan malu, merasa sangat bo-doh terbawa untaian kata pria itu hingga terjebak menyingkap rasa di hatiku.


"Ayo, ah. Keburu malam, kasihan Fahmi tuh." Tergesa pria itu berdiri seraya menungguku bangkit dari tempat dudukku.


"Pak Julio. Bisakah makannya dekat-dekat sini saja? Kita bukan mahram, maaf harusnya ngak boleh pergi bersama. Tapi karena kita perginya bertiga ya masih bisa, hanya saja harus jaga sikap. Kalau bisa perginya jangan lama-lama."


"Hmmmp. Kenapa? Ngak enak dilihat orang lain? Aku juga ngak macam-macam kan? Just dinner."


"Bunda, cepetan aku mulai menguap ini, ayo berangkat," seru Fahmi dari dalam mobil.


Pak Julio mengacungkan jempolnya pada Fahmi, lalu terburu melangkah menuju mobil hitamnya. Aku menggeleng resah, kenapa putraku begitu menggebu mendekatkan aku dengan gurunya itu? Seolah ia begitu kecewa dengan perbuatan ayahnya padaku hingga ingin melihatku kembali bahagia.


Sesaat kemudian, Pak Julio menoleh menatapku yang belum juga mengunci pintu rumah. Bahkan aku belum membawa tas ataupun hanya sebuah dompet di tanganku. Pria itu kembali mendekat, lalu berucap lirih, "Kita bisa taarufan dulu nanti, Bu Hani sayang. Yakinlah, aku ngak main-main. Aku sabar sampai semua halal untuk kita."


Sepasang mata teduh itu menatapku, tapi tak kuasa aku membalasnya. Aku justru sibuk bertanya sendiri, benarkah Pak Julio sedalam itu memahami ajaran agama kami? Keherananku bukan tak berdasar, pria itu terlihat modern dan dari kalangan businessman. Apa iya dirinya punya cukup waktu mendalami ilmu agama?


"Terus, kalau nanti taarufnya tak berlanjut karena satu alasan bagaimana?" tanyaku gugup.


"Move on, Bu Hani. Tujuan kita meraih kebaikan bukan? Move on! Jangan bawa lagi masa lalu. kalau kamu minta, aku akan bantu perpisahanmu. Tapi aku ngak berani nawarin, nunggu kamu siap saja untuk move on dari suamimu. Aku hanya berusaha berjuang. ANdai kalah, aku tetap berbesar hati terima takdir."


"Aku tunggu di mobil, anggap saja aku supir kalian malam ini jika itu membuat perasaanmu lebih ringan untuk pergi."

__ADS_1


"Pak Julio. Maaf, saya ngak bermaksud keras hati atau sok alim. Tapi begitulah yang saya yakini sepanjang sedikit ilmu yang saya tahu." Sungguh aku hanya bisa meminta maaf, aku tahu pemilik mata teduh itu tengah menatapku seraya dirundung kesal.


"Not mind. Aku juga terlalu serius dari tadi, jadi semakin lapar rasanya. Kamu tega melihatku pucat menahan lapar? Ayolah." Senyuman kembali mengulas wajah beralis tebal itu, membuatku hanya mengangguk.


__ADS_2