KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
THE WORLD IS NOT OVER


__ADS_3

Pagi yang cukup sibuk, aku mati-matian mempersiapkan segalanya untuk presentasi di perusahaan Mas Bayu siang nanti. Semua kemungkinan yang bisa ditanyakan untuk menjatuhkan proposal ku dalam presentasi nanti sudah aku pikirkan masak-masak. Aku bertekad untuk lolos tender, harus!.


Sarah baru datang usai di panggil pak Kevin, dengan tergesa-gesa masuk ke ruang kerja kami lalu duduk seraya menatapku dan rekan team yang dilihatnya sangat serius berdiskusi. Seperti dia membawa kabar penting usai bertemu dengan pimpinan kami tadi.


"Istirahat dulu, Mbak say. Nanti malah kelelahan bisa tumbang saat mendekati hari yang penting itu.Ada kabar terbaru, waktu presentasi di undur tiga hari lagi. Take a rest, bawa santai saja dulu." Luluk mengingatkanku yang tidak ada hentinya membalas ulang isi proposalku bersama team.


"Tidak bisa aku belum bisa tenang sampai semua detil siap di debat. Dikit lagi udahan kok, kenapa di undur waktunya?" jawab ku keras kepala.


"Direksinya ada urusan mendadak hari ini. Sini, pindah duduk di dekat ku sini. ALL team boleh istirahat dulu. Mau ngemil, ngopi, apa ngeteh bebas, refresh pikiran dan tenaga kita dulu, ya." Luluk tersenyum menatap rekan dalam team ku satu per satu, meminta meninggalkan ruangan kami untuk jeda rehat.


Aku menuruti permintaan Luluk, mematikan laptop dan beralih duduk di depan mejanya.


"Kayaknya kamu tertekan deh, ku lihat ada ketakutan besar di dirimu kalau gagal menang tender nanti, jadinya kamu membebani diri nyiapin presentasi mati-matian gitu. Kamu tidak lupa kasih perhatian buat anakmu kan?" tutur Luluk panjang lebar.


"Wajarlah aku tertekan. Ini satu-satunya peluang untukku bisa di kagumi suamiku lagi sekaligus nunjukin ketangguhan ku sama wanita penggoda suami orang itu" Aku menjawab seraya menerawang jauh.


"Iya, aku paham. Tapi kamu juga harus siapin sisi hati untuk kecewa andai kit gagal tender nanti, ya. Ada banyak jalan menuju roma, Oke?


"Oke, makanya aku berjuang mti-matian biar tidak kecewa" jawab ku masih keras kepala.


Bukannya mengangguk setuju, Luluk menatapku dengan tatapan iba.


"Iya, tapi aku lihat kamu sudah berlebihan sampai lupa istirahat, tidak baik kayak gitu. Eeemm, gimana kalau kita temui konselor pernikahan saja"


"Luluk? Aku masih bisa atasi sendiri masalah suamiku, belum perlu konseling segala." lagi-lagi aku menjawab dengan keras kepala.


Luluk menatapku lagi, masih dengan tatapan iba.


"Tuh kan? Kamu jadi mudah tersinggung gitu ngak, sih? Maksudku, lihat aku! Jadikan kesalahan ku dulu sebagai contoh yang buruk" Luluk memegang kedua bahuku, tersirat rasa peduli di raut wajahnya..


"Jadi aku harus gimana? Tetap di rumah saja di pojokan dapur meratapi suami yang di embat pelakor? Tidak usah sibuk membuktikan diri, gitu?" kataku sendu.


"Bukan begitu maksud aku, Hani"

__ADS_1


"Jadi, cara apalagi?"


"Emm, maksud ku jika bertemu ahli konseling pernikahan, setidaknya kamu lebih terarah untuk ambil langkah dan keputusan. Jangan kayak aku, dulu tergesa merasa pilihanku untuk tetap berkarir itu yang paling benar, akhirnya aku kehilangan suami" Luluk menurunkan nada suaranya , mengusap bahuku pelan.


Aku tidak kuasa menjawab hanya mampu menekuri jari jemariku yang saling ku tautkan dengan hati gelisah, mengganti posisi duduk, lalu menyesap segelas minuman yang di ambilkan Luluk dari meja ku.


"Menurutmu, berapa lama waktu yang bisa ku coba untuk tetap bertahan?" Akhirnya aku berbagi keresahan ku dengan Luluk, meminta pendapatnya untuk mengambil sikap.


"Jangan tanya aku, deh. isi kepalaku suka ngak bener, nanti aku salah kasih sarannya." Luluk menjawab sambil nyengir tak jelas.


Aku yang tadinya di penuhi kegelisahan, akhirnya justru tertawa melihat jawaban konyol sabahatku itu.


"Iya bener juga sih memang. Tapi sekali-kali tidak apa-apa aku ikutan ngak bener kayak kamu biar cuek ambil keputusan mungkin ya?" ujarku tidak kalah konyolnya dengan Luluk.


Luluk terbahak mendengar jawabanku, tapi tidak lama dia kembali menampakkan raut muka serius.


"Rencanamu apa? Maksudku saat mencoba bertahan dulu di sisi Bayu mau gimana? tanya Luluk.


Luluk merengkuh bahuku, lalu menghibur ku dengan banyak kata untuk membuat ku tidak terbawa kesedihan hati. Dia tidak mau aku menjadi rapuh karena merasa akan terbuang dari singgasana hati suamiku.


Menurut Luluk, tidak masuk akal Bayu rela melepaskan aku yang sudah memberinya buah hati yang sangat di sayangnya. Andaikan aku ingin tetap bercerai, Luluk yakin Bayu akan siap untuk merebut hak asuh denganku.


Benar kiranya, perceraian adalah hal yang di bolehkan namun juga hal yang paling dibenci oleh Allah karena usai bercerai akan ada anak yang tidak bisa lagi utuh mendapat dekapan kasih kedua orang tuanya.


"Dulu, aku nekat bercerai karena kupikir aku bisa menciptakan sebuah perceraian yang indah"


"Mana ada itu, perceraian yang indah?" tanyaku sambil tersenyum, kerasa lucu.


"Iya. Perceraian yang setidaknya bisa ku kenang indah, maksudku tanpa meninggalkan penyesalan. Tapi...ah sudahlah. Penyesalan tiada artinya lagi, toh mantan suamiku sudah bahagia sama istri barunya, jadi buat apa aku menyimpan rasa sakit yang bikin rugi diri sendiri, benar ngak?"


Aku mengangguk dengan raut wajah yang serius. Keluh kesah Luluk tidak urung membuat nyaliku untuk buru-buru berpisah jadi sedikit menciut. Aku kembali merenung, akan seperti apa jika anak ku asuh sendiri nanti. Juga, seberapa lama aku sanggup bangkit dari luka perceraian itu, sebab menjadi janda itu biasanya di pandang sebelah mata oleh masyarakat luas, sanggupkah aku?


"Kok diem? Kamu ragu untuk berpisah dari Bayu? Ya sudah, kamu bisa coba dulu bertahan, lebih manjakan suamimu itu. Bikin Bayu selalu ingin dekat sama kamu biar tidak mempan digaet Dini"

__ADS_1


"Nah, itu tuh yang aku tidak bisa yakin"


"Maksudmu, kamu merasa tidak sepadan bersaing sama Dini? yaelah... kamu masih cantik, Hani! Bayu itu lagi kasmaran saja ketemu cinta masa lalunya. Tapi aku yakin, Dia akan menyesal nanti kalau beneran nikahin Dini, baru tuh bisa ingat semua kebaikan kamu sewaktu jadi istrinya."


"Kamu hanya mau bikin hatiku senang saja kan? Nanti kalau sudah lihat cantiknya Dini, baru kamu mengerti. Wanita itu cantik, semampai, bersih kulitnya glowing, smart dan juga bagus karirnya. lalu aku mah apa atuh?"


"Kamu? Kamu ibu dari anaknya Bayu, menantu yang penurut, istri yang rela jadi Upik abu di rumah tanpa banyak menuntut. Aku ngak sabar pengen ngomelin Bayu, dia ngak mikir apa nanti Dini bisa jadi istri sebaik kamu?"


Jujur, pujian Luluk tidak lantas membuatku merasa sudah jadi wanita yang hebat, justru aku merasa makin banyak kekurangan, belum bisa membuat suamiku setia hanya pada ku saja. Aku rasa pilihan ku untuk mencoba pergi dari rumah sudah tepat, aku ingin Mas Bayu sadar arti kehadiranku di sisinya.


"Aku sudah niat pisah sebenarnya, sudah bawa koper di bagasi. Sore nanti rencananya mau langsung pindah ke kontrakan habis jemput Fahmi, dan aku tidak pamit dulu. Menurutmu, salah tidak?"


"Salah sih. Tapi buat kasih pelajaran suamimu itu tidak apa-apa juga. Tapi, mau ngontrak di mana? Dan caramu kasih pengertian sama anak gimana?" Luluk menatapku khawatir.


"Aku sudah cari kontrakan, nanti jika lolos tender mungkin bisa beli rumah sederhana. Sekarang kamu pasti paham kenapa aku mati-matian ingin gol proyek kita. Masalah ku sekarang tinggal memberi Fahmi sebuah alasan untuk jauh dari ayahnya."


Luluk mendengar kan aku, mengernyitkan dahinya seolah ikut berpikir merasakan kesulitan ku.


"Kita ini sebagai wanita pasti dikasih kepekaan sama Allah, buat merasakan suami kita itu bisa tulus tidak menerima diri kita apa adanya. Nikah itu kan inginnya sama-sama bahagia. life must go on.. mau pilih bertahan, sendiri atau bersama yang lain jika Allah beri jodoh lagi. The world is not over... begitu kan?" Sarah berujar, lumayan cerdas kali ini.


"Tapi berat pilihannya, Luluk!"


"Take your time. Boleh pergi dari rumah, kamu adi punya waktu untuk menimbang bercerai atau bertahan. Oke?"


Aku baru saja mau menjawab ucapan Luluk saat tiba-tiba manajer kami masuk dan memanggil kami untuk keruangannya. Pak Kevin terlihat tak sabar ingin membicarakan sesuatu yang penting.


"Bu Hani, dengan berat hati, saya ingin mempertimbangkan ulang untuk menyertakan ibu di presentasi nanti." Pak Kevin menatapku dengan raut yang sangat serius.


Sangat mengejutkan, presentasi yang sudah terbayang akan ku jadikan pijakan untuk mengawali karir dan menang tender tiba-tiba harus melayang dari jangkauanku.


"aya salah apa, ya, Pak? Mohon bimbingannya jika ada kekurangan." Aku cepat menimpali ucapan Luluk, mencoba mencari tahu alasan Pak Kevin.


Ruangan Pak Kevin yang nyaman dan sejuk, terasa begitu mencekam bagiku saat ini. Akankah jalanku untuk bisa berpisah dari Mas Bayu terhambat karena karirku akan terhenti di awal langkah ini?

__ADS_1


__ADS_2