KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
WANITA ITU MULAI BERTINGKAH


__ADS_3

Aku duduk sendiri sambil berfikir saat menghabiskan jam istirahat di kantor siang ini. Terbayang wajah Fahmi tadi pagi begitu ceria ketika akan di antar ayahnya ka sekolah, setelah seminggu lebih tidak mendapat perhatian dan waktu bersama dengan sang ayah.


Tiba-tiba timbul keinginan untuk menelpon Mas Bayu, bertanya bagaimana Fahmi tadi pagi sampai kesekolahnya. Apakah terlambat atau tidak, apakah buah hati kami meminta sesuatu lagi pada ayahnya yang akhir-akhir ini terlihat sibuk. Aah... apakah sedatar itukah yang ingin aku tanya kan pada suamiku, hanya seputar kewajibannya sebagai seorang ayah.


Aku mengusap mukaku kasar, seketika menyadari mungkin benar aku terlalu membosankan sebagai seorang istri. Di kepalaku selama ini, hanya berputar-putar tentang rutinitas sebagai seorang ibu rumah tangga. Mungkin aku kurang menyenangkan hati suamiku saat di ajaknya bicara, sehingga membuatnya merasa jenuh.


Aku menyesap secangkir kopi hangat, mendamaikan keresahan hatiku. Seharusnya aku lebih banyak memberikan perhatian pada suamiku saat kami punya waktu berbincang berdua, agar hatinya tidak sampai terpikat untuk dengan wanita yang dipujanya di masa lalu.


Jadi benar kata-kata ibu mertua? Aku harus manyadari posisiku menjadi yang kedua saat ini, karena Dini yang lebih dulu menghuni relung terdalam hati suamiku, bahkan mungkin ada rasa penasaran di hati Mas Bayu karena dulu belum bisa memiliki wanita yang di dambakannya.


Teringat kembali kejadian tadi pagi saat Mas Bayu bersikap mesra menyuapi ku sarapan, aku kembali tergugah untuk terus mencoba mendekap keutuhan pernikahan kami. Ku raih ponsel, menyentuh menu panggilan untuk menelpon Mas Bayu, pastinya dia juga sedang istirahat siang ini hingga dia lebih leluasa menerima telepon ku.


"Wa'alaikum salam, Bu Hani." terdengar suara merdu seorang wanita menjawab ucapan salamku, seperti suara Dini? kenapa dia yang menjawab telepon ku, sebebas itu ponsel Mas Bayu bisa berada ditangannya sampai wanita itu berani menerima panggilan telpon ku.


"Ini nomor suamiku kan ya? Kenapa ponselnya ada pada Bu Dini?"tanyaku sangat heran.


"Iya benar. Mas Bayu sedang di ruangan ku, Bu. Dia sedang sibuk, eemm ... sibuk apa ya susah untuk menjelaskan nya hihihi." Dini menjawab ku dengan suara mendayu-dayu, membuat rasa muak menyeruak dalam dadaku.


"Bu! saya kenapa ponsel Mas Bayu bisa disentuh ibu. itukah barang pribadi suami saya." kataku ketus.


"Sabar, Bu. sabar dong. saya lagi melihat galeri foto di ponsel Mas Bayu, foto-foto kami berdua hihihihi." wanita itu terkikik kembali usai berucap, membuat darahku hampir naik ke ubun-ubun saja.


"Foto apa? Foto dua orang pendosa sedang berpose bersama?" tanyaku sebal. "Berikan ponselnya pada suamiku,aku ingin bicara penting"


"Ish, Bu Hani curiga benar sama saya hihihi, ini foto-foto produk kami di pasaran. Mas Bayu kan yang nyimpan foto update produk kami di distributor, ini baru di kirim dari team marketing kami. aku harus mindahin ke file aku dong, ya." tuturnya.


"Terserah foto apapun itu bukan urusan saya. Kalau ada telpon, harunya ibu segera berikan pada pemilik ponsel, bukan malah di embat sendiri." Aku memejamkan mata mengusir geram, tidak ingin semakin terpancing amarah.


"Iya, iya... Mas ini ada telepon dari ibu negara. cepat di sapa agar tidak cepat tua nungguin kamu," ejekan Dini kembali terdengar olehku, benar-benar ingi menguji kesabaran ku.

__ADS_1


Sayup-sayup aku dengar tawa lepas Mas Bayu, dia bisa tertawa lepas sebahagia itu saat bersama dengan Dini. Sungguh sangat menyakitkan mendengarnya. Mereka sekarang punya waktu lebih banyak untuk bersama karena mereka berada dalam satu kantor di divisi yang sama pula. Sedangkan aku hanya dapat waktu Mas Bayu yang tersisa saja.


"Apa Mbak Min kasih kabar tentang ibu di rumah?" tanya Mas Bayu tanpa menyapa hangat lebih dulu.


"Belum. Aku hanya mau ingetin untuk jemput Fahmi nanti sore. Kamu dah janji sama dia mau jemput"


"Iya beres. kamu tidak telepon Mbak Min tanya gimana kabar kondisi ibu? Gimana sih kamu kok tidak perhatian banget."


Aku menautkan kedua alisku heran, bukankah seharusnya yang lebih perhatian itu Mas Bayu pada kesehatan ibu dan bisa cari tahu sendiri pada Mbak Min. Kenapa aku yang di salahkan sementara dia sendiri justru terlena berdua dengan Dini, aku mengguman dalam hati.


"Maaf ya, Mas. Harusnya kamu yang lebih perhatian sama ibu, sempetin dong tanya sama Mbak Min. Sudah ya, jangan lupa makan siang."


Gagal sudah keinginan ku untuk bertutur manis dan perhatian pada Mas Bayu karena kehadiran Dini di antara percakapan kami tadi. Aku mengucapkan salam lalu menutup telepon dengan hati kecewa.


****


"Oh, ayahnya pasti kelupaan untuk menjemput. saya akan ke sekolah sekarang, titip Fahmi sebentar, ya, Bu, terima kasih.


Aku segera melajukan mobil, mencari jalan alternatif agar tidak terjebak kemacetan. Kalau memang tidak bisa menjemput seharusnya Mas Bayu memberiku kabar. Huft, apakah bersama Dini lebih penting baginya dibandingkan dengan memperhatikan putranya sendiri kesal sekali rasa hatiku.


Terburu aku parkiran mobil begitu sampai di sekolah Fahmi. Putraku itu tetap cemberut saat melihatku tiba, dia langsung masuk ke dalam mobil tanpa menyapa ku terlebih dahulu.


Ku tatap lembut Fahmi yang duduk terdiam di samping ku tanpa keceriaannya seperti biasa.


"Maaf, sayang. Bunda kira ayah yang jemput, sudah jangan ngambek Mama jadi sedih nih" ku bujuk Fahmi.


"Aku bukan kesal sama mama, tapi sama ayah." Putraku itu bersungut kesal.


"Mungkin ayah sibuk jadi kelupaan. Ayah pasti ngak inget buat kasih kabar ke bunda juga."

__ADS_1


Putraku masih menekuk wajahnya, dia terlihat sangat kesal. Andai Mas Bayu melihatnya saat ini pasti dia akan sangat bersalah membuat Fahmi kecewa. Apa yang membuat suamiku itu lupa pada janjinya dengan anaknya.


Aku harus membuat anakku tersenyum kembali, ku putuskan untuk membawanya ke mall untuk membeli camilan kesukaannya.


"kamu boleh pilih makanan kesukaanmu apa saja, sekalian kita makan ayam krispi," kataku saat mobil memasuki parkiran mall.


"Loh kita kesini? aku nanti les robotik." Fahmi mengingatkan ku.


"Libur dulu tidak apa-apa kan, sudah lama kita ngak jalan-jalan kan?" jawabku santai


"Asyik" Fahmi senang.


Pengunjung mall kalau sore hari begini biasanya padat. Aku berjalan beriringan dengan Fahmi saling bertukar senyum.


"Bunda, aku ke toilet ya, Nanti aku nyusul di kedai ayam krispi" bisik Fahmi.


"Iya, sayang, hati-hati"


Cukup lama Fahmi tak kunjung menyusul aku jadi merasa sangat khawatir meski kami sering ke mall ini dan Fahmi sudah hapal seluk beluk tempat ini. Eemm, mungkin toiletnya antri, aku meredam ke khawatiran ku.


Fahmi tiba dengan wajah Sangat kesal. Ada apa dengannya? Putraku memberikan ponselnya padaku. "Lihat di galeri foto." Fahmi berkata lirih sepertinya tak ingin ada yang mendengar semua yang di ucapkan nya.


Aku mengangguk, dengan penasaran aku membuka galeri foto. Betapa terkejutnya aku melihat foto Mas Bayu dengan Dini berjalan dengan bergandengan tangan di mall ini.


"Tadi aku melihat mereka di eskalator samping yang mau kelantai tiga. Aku bohong sebetulnya tidak ke toilet tapi ingin ikuti mereka," Kata Fahmi dengan wajah kesalnya.


Aku masih menatap layar ponsel dengan tak percaya, lalu beralih memandang putraku dengan cemas, takut jika apa yang di lihatnya itu menyakiti hatinya.


"Aku benci ayah, juga wanita jahat itu." Fahmi menggerutu lirih, membuat ku sangat khawatir.

__ADS_1


__ADS_2