KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 36. Sahabat Berhati Emas


__ADS_3

"Iya. Aku dengar sendiri Julio menyebut Bu Hani itu tamu istimewa saat ngenalin ke mamanya, waktu dirawat di rumah sakit. Aneh, sangat aneh belum cerai saja sudah nekat sedekat itu sama pria lain. Apa motifnya kalau bukan ingin balas dendam padaku?"


Menggebu Dini menudingkan tuduhan, jelas terlihat raut kedengkian di wajah wanita berbibir merah menyala itu. Pola pikir seseorang seringnya memang sama dengan karakter pribadinya. Seorang pendengki akan berpikir orang lain pun menyimpan dengki dan dendam sepertinya. Kurasa ia terjebak bayang-bayang keburukan sikapnya sendiri.


Mungkin ada yang harus membuka lebar isi benak Dini yang tertutup nafsu dan ambisi itu agar sadar. Wanita lulusan S2 luar negeri itu memang lebih cantik dariku, lebih tinggi jabatan dan pendidikannya. Namun, ia terlupa jika cantik fisik di mata manusia tak ada nilainya di mata Allah jika tak membawa kebaikan nilai hidup.


"Bu Dini! Kalau saya mau, saya bisa seret anda dan Mas Bayu ke ranah hukum. Ada undang-undangnya yang bisa menjerat suami nikah tanpa seizin istri pertama. Tapi untuk apa saya repot? Saya memilih pengadilan Allah saja"


"Heh, apa maksud anda saya akan dapat pengadilan Allah, sembarangan bicara," rutuk Dini gusar.


"Bu! Itu nyata. Anda ngak merasa sudah berbuat zholim? Harga diri anda hilang ke mana sebagai wanita mampu merebut milik wanita lain. Eh, tapi mungkin memang anda ngak punya harga diri, ya?" sahutku tak mampu menjaga lisanku hingga berucap kasar dan wanita itu menyeringai tak terima.


"Merebut gimana? Suamimu sendiri yang mau." Sahut Dini tetap tak mau salah.


Melihat sikap keras hati wanita yang cantik parasnya tapi kurang akhlak itu membuatku menggeleng gemas, malas menjawabnya lagi. Tak ada habisnya melayani mulut tajam Dini. Masih ada yang lebih penting, kulihat Luluk nampak diam saja sejak mendengar ucapan Dini tentangku dan Pak Julio tadi.


"Luluk..." lirihku berbisik memanggil sahabatku dan ia hanya mengedipkan bahu seraya membuang napas pendek, sikapnya membuatku cemas.


"Jangan buang percuma waktu kamu untuk berdebat di luar proyek kita. Tenang saja saya akan monitoring terus potensi brandingnya di pasaran. Kami ngak pernah pertaruhkan nama baik, kerja kami selalu maksimal." Akhirnya Luluk bicara, ia menengahi perdebatan.


Dini menyeringai lagi, ia bahkan menantangku untuk menghitung waktu, membuktikan kecakapan kerjaku atau karirku akan hancur ditangannya. Katanya, ia punya sebuah jalan rahasia untuk menumbangkan karir yang baru kurintis. Tak cukup merebut suamiku, ia juga ingin aku kalah, benar-benar kalah darinya.


Luluk yang awalnya memendam kerisauan padaku, kulihat mulai menghalau resahnya lalu beralih memberiku dukungan. Ia pun berbisik padaku, "Tetap waras, tetap jadi wanita terhormat. Jangan ikuti kegilaan wanita itu, biarkan ia berperang dengan kemarahannya sendiri. Kurasa ia sedang ada masalah dengan Bayu, jadi dilampiaskannya amarah itu padamu."


Aku mengangguk terharu, Luluk memang sahabat terbaikku. Ia tak egois meski tengah memendam curiga padaku namun tetap menjagaku sebagai sahabatnya.


Aku dan Luluk saling menatap, seolah sepakat untuk segera berlalu saja meninggalkan ruangan Dini. Kami pun serentak bangun dari tempat duduk.


"Kalian ngak sopan, lihat saja akibat sikap kalian padaku nanti." Dini melontarkan ancaman saat melihatku dan Luluk pergi dari ruangan beraura panas itu.

__ADS_1


****


"Luluk ada yang ingin kamu tanyakan? Jangan diam saja." tanyaku sendu. Kami sudah dalam perjalanan kembali ke kantor.


"Hmmp". Luluk hanya bergumam, membuatku serasa sedang dihukumnya.


"Aku minta maaf," lirihku, hanya meminta maaf yang bisa kuharapkan merebut hati sahabatku kembali.


"Kenapa minta maaf?"


"Eemm, aku juga ngak tahu salah apa, tapi aku tetap mau minta maafmu. Kulihat kamu diam saja, kamu marah?"


"Iya. Sampai kamu cerita kenapa Dini menuduhmu mendekati Julio."


Aku mengangguk ragu, disergap kebimbangan memilih kata untuk memberi tahu Luluk. Andai kejujuran akan menghancurkan persahabatan kami, lalu apa aku harus berbohong demi tetap menjadi sahabatnya? Aku menangkupkan kedua tanganku ke wajah dan cukup lama bersembunyi dalam telapak tanganku seraya mengambil napas dalam-dalam.


"Luluk, kita bicarakan nanti di kantin kantor saja sekalian makan siang. Pelankan mobilnya," pintaku menahan nyeri melihat Luluk menyalip kendaraan-kendaraan di depannya dengan cepat.


Seolah tak mendengarku, Luluk terus melaju. Pandangannya hanya tertuju ke jalan, seperti menganggapku tak ada bersamanya saat ini.


"Pak Julio guru anakku." Akhirnya aku mulai memberi jawaban yang diinginkan Luluk di sela laju mobilnya.


"Aku sudah tahu."


"Pertama bertemu di rumah sakit, aku baru tahu ia ternyata sangat dekat dengan Fahmi."


"Ya, lalu kamu memanfaatkan itu, begitu?"


"Bukan! Aku dan Fahmi menjenguk Bu Dito di ruang rawat dan aku dikejutkan cara Pak Julio mengenalkan ku pada mamanya, ada Dini juga saat itu di sana. Sungguh, Luluk, aku ngak genit atau menggoda pria itu," tersedu aku berkata jujur menahan beban di hatiku.

__ADS_1


Luluk melambatkan laju mobil, menoleh mengamatiku yang tergugu di sampingnya.


"Aku masih ngak percaya diri menerima pria yang mendekat, kamu pasti tahu rasanya kan Luluk? Dikhianati itu sakit. Perceraianku juga baru di proses, aku butuh waktu untuk sanggup menikah lagi."


Luluk menepikan mobilnya di bahu jalan, lalu menimpali ucapanku, "Kalau ada pria yang baik yang kasih lampu hijau, itu rezekimu, meeeen! Yaaaa mungkin nantinya aku akan pindah dari kota ini daripada gantung diri lihat kamu dinikahi Julio."


"Luluk?"


"Iya. Kamu pikir aku kayak Dini gitu? Buat apa rebutan pria kalau jelas-jelas itu sukanya sama kamu. Aku punya ini, sama ini." Luluk menunjukkan kepala dan dadanya, meski rasa kecewa masih terlihat dalam pias wajahnya.


"Pindahnya jangan jauh-jauh, siapa tahu kita bisa jadi madu gitu." Aku mulai berani meledek Luluk.


"Enak saja. Yang ada kita akan jambak-jambakan tiap hari rebutan duitnya."


Luluk terisak, tapi ia juga tertawa.


"Apes memang aku, lama ngak nemu pria yang menarik. Sekali nemu, sudah duluan suka sama sahabat sendiri. Dosaku apa, ya Allah." Luluk berusaha menghibur diri seraya mengusap air mata, membuatku mengharu melihat kebesaran hati wanita yang mengajariku untuk selalu tangguh itu.


"Gimana kalau kita sama-sama ngak usah jadi istri Julio?" kataku cepat.


"Jangan gila, sayang amat sia-siakan pria sebaik Julio. Kalau kamu ngak mau, aku yang maju ngejar pria itu."


Aku hanya tergelak, rasa syukur menyusupi hatiku. Allah Maha Baik, memberiku kekuatan melalui seorang sahabat sebaik Luluk. Andai nanti Allah panggil untuk bersaksi si Yaumil akhir, aku akan beratkan banyaknya timbangan kebaikan wanita berhati emas itu.


Sebenarnya aku pun akan bersikap seperti Luluk juga andai aku yang ada di posisinya. Sepertinya konsep rezeki yang tak akan tertukar pemiliknya, jodoh pun begitu juga.


Hari yang hampir menggetarkan rekatnya persahabatanku dan Luluk membawa anganku kembali teringat pada Pak Julio.


Pria berkulit sawo matang itu, sungguhkah ia ingin membasuh lara di hatiku? Aku semakin semangat memperbaiki akhlakku, bukankah menjadi istri yang shalihah ada ilmunya? Dan aku merasa aku belum punya bekal apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2