
Buru-buru Dini meraih gelas minuman didepannya, lalu segera meneguknya sebelum batuknya makin menjadi saat tersedak puding. Rupanya kata-kata ku cukup telak membuatnya merasa tertuduh sebagai pencuri suamiku.
"Aduh, Hani orang lagi makan itu jangan di ajak bicara terus! Kesedak kan jadinya, Dini" ibu menegurku sambil berdiri dari tempat duduknya dan mengusap lembut punggung Dini.
Aku hanya mengangkat bahu, bukan salahku jika wanita yang berani dekat-dekat dengan suamikuitu sampai tersedak, karena dia merasa perkatanku tadi memang benar.
"Mas Bayu sepertinya ketiduran dengan Fahmi. Mbak Dini mengemudi sendiri bisa kan? kalau kemalaman nanti bisa ngantuk waktu nyetir bahayakan," kataku saat Dini kala sudah tenang kembali.
"Eem, iya akku juga mau pamit ini tapi masih kangen," ujar Dini.
Kangen? Hah bukannya kalian sudah menghabisankan waktu bersama hingga malam berhari-hari yang lalu.
"Kangen sama Mas Bayu?" tanyaku sambil tertawa, pura-pura meledek.
"Mbak Hani bisa saja. Kangen sama ibu dong," kelitnya wanita bermat besar itu salah tingkah.
"Kamu tinggal di daerah mana? Coba kamu pindah saja di daerah sini biar bisa sering main," kata iibu mengalihkan pembicaraanku yang mulai memanas.
Ternyata, ibuku memberi ruang untuk menghadirkan Dini dalam rumah tanggaku. Apa dia sungguh-sungguh ingin menggantikan posisiku dengan calon menantu impiannya ini? Apa kurangnya aku, Bu? Aku jadi berpikiran buruk pada ibu.
Dini tersenyum padaku, "Ngak enak sama Mbak Hani, Bu, kalau nanti sering kesini. Nanti bisa ngerepotin," kata Dini nampak pura-pura tersipu.
"Eem em, ini kan rumahku. Aku bolehkan ngudang siapa saja yang datang kesini. bener kan, Han?" ibu menatapku sekilas.
"Iya, silahkan saja datang kalau mau nemuin ibu. Kalau mau ketemu Mas Bayu yang pastinya tidak usah di rumah ini juga masih bisa ketemu kan?" kataku sambil tertawa.
"Hahahaha iya betul, kami kan sekantor. Mbak Hani suka bercanda juga rupanya. Saya pamit saja ya, Mas Bayu pasti lelah perlu istirahat," Dini berdiri sambil cilingukan, seperti dia mengharapkan Mas Bayu keluar.
"Nanti aku pamitkan pada Mas Bayu, ya. Suami aku kalau sudah sama anaknya lupa segalanya. Fahmi banyak kehilangan waktu bersama ayahnya'" kataku sambil menatap Dini tajam.
__ADS_1
"Aku pamit pulang ya, Bu. Kapan-kapan aku jemput, ibu pengen kemana saja aku temenin." Dini merangkul ibu.
"Tunggu sebentar, ada sesuatu untukmu," ibu berlalu menuju kamarnya, entah apa yang akan ibu berikan Dini.
"Mbak Dini tak terbesit mau berumah tangga?" Aku berkata lirih, mendekat pada wanita yang berparas cantik yang masih duduk menunggu ibu.
"Aku? Kebetulan sekali baru saja aku menjalin hubungan dengan seseorang. Mint doanya saja, Mbak. Semoga aku berjodoh dengannya." Dini menarik sedikit ujung bibirnya, mengulas senyum misterius.
"Wah, bagus kalau begitu, ya? Syukurlah, berarti Mbak Dini tak boleh dekat-dekat dengan Mas Bayu, kasihan dong calon suaminya nanti," kataku dengan tegas.
"Mmm...i-yaa dong. Eh, ibu kok lama, ya?" Dini tergagap mengalikan pembicaraan.
Sudah jelas, tak ku ragukan lagi jika Dini masih berharap bisa bersama lagi dengan Mas Bayu. Dia pasti merasa menang karena ibu mendukungnya. Jika dia memang mencintai dari dulu, kenapa kala itu tak memperjuangkan Mas Bayu? aku merasa heran.
Hening, Dini mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dia terlihat mengetik di layar ponselnya, aku yakin dia mengirim pesan pada Mas Bayu. Hahahaha besok pagi pesan itu baru akan ter baca, karena aku sudah menaruh obat tidur dalam minuman suamiku usai makan tadi hingga rasa kantuk menjemputnya lebih cepat.
Dini nampak gelisah, aku hanya memandangnya, menikmati wajah gusarnya karena tak kunjung berbunyi notifikasi pesan masuk.
Dini mengangkat wajahnya dari menatap layar ponsel, terkejut dengan ucapanku. Bibirnya bergerak, namun tak mampu mengeluarkan kata-kata. Dia menunduk kembali, lalu berdiri cepat keluar.
"Aku tunggu ibu di teras saja biar ngak ngantuk." Dini berkata dengan wajah masam.
"Boleh, nanti ku beri tahu ibu." Tak lama ibu keluar dengan bungkusan plastik di tangannya. "Loh mana Dini, Hn?"
"Ada di teras"
Ibu berjalan tergesa, meninggalkanku tanpa kata. Sesuatu yang di pegang ibu aku harus mencegahnya memberikan pada Dini agar wanita itu tidak semakin yakin ibu di pihaknya.
"Bu..." aku memanggil sambil mengikuti langkah wanita yang sudah aku anggap ibuku sendiri. Kami sudah sampai di ruang tamu, semakin dekat dengan teras rumah.
__ADS_1
"Apa" ibu menjawab sambil terus berjalan.
"Sebesar apa ibu mencintai mendiang bapak" tanyaku.
"Apa? kenapa kamu bertanya seperti itu?" ibu memperlambat langkahnya.
"Maksud Hani, cinta mendiang bapak kepada ibu bolehkah dibagi untuk wanita lain?" ku perjelas perkataanku.
Langkah ibu tiba-tiba berhenti, hampir saja aku menabraknya. perlahan ibu membalikan badan, kami berhadapan sangat dekat sekarang. Berdebar, kuraih ibu untuk duduk di kursi, ku tunggu ibu untuk mengucapkan kata.
"Kamu memang istri yang baik, tapi ibu tahu Bayu sangat mencintai Dini."
"Jadi ibu mendukung mereka bersama kembali?" aku menutup mulutku tak percaya.
"Bukan seperti itu, Dini karirnya bagus, dia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Andaikan mereka bersama lagi, itu tak akan terpengaruh pada terpenuhnya kebutuhan rumah tanggamu kan?" ujar ibu tanpa memahami perasaanku.
sependek itukah pemikiran ibu ternyata. Baginya hanya soal materi saja yang menjadi landasan sebuah rumah tangga. Tak terpikirkan olehnya bagaimana jalinan kasih sayang Mas Bayu dan cucunya? Apa ibu pikir aku mau di poligami?
"Bu, andai waktu itu mendiang bapak nikah lagi apa ibu izinkan? tegakah ibu melihat anak ibu tersakiti hatinya saat tahu ibunya diduakan?" Aku menyentuh lengan ibu, memastikan ibu sadar dengan ucapannya tadi.
Ibu, membuka bungkusan plastik memandangi syal rajut ditangannya, dia memandangi huruf-huruf yang di rangkai dari benang rajut hingga tersemat nama anaknya dan nama Dini.
"Kamu sungguh-sungguh mencintai Bayu? Akan mempertahankan meski seperti apapun sikapnya padamu?" tanya ibu.
"Maaf han, ibu belum melihatnya bahagia selama bersamamu tak seperti saat bersama Dini. Jadi ibu pikir Bayu tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu,"
"Ingat Bu, garis takdir sudah mengikat kami menjadi satu keluarga, ada Fahmi...... cucu ibu! tidak kah ibu takut kehilangan cucu? tentu aku akan membawa Fahmi jika kami berpisah." aku tak bisa lagi menahan kekesalan ku lagi.
"Jangan han! Maafkan ibu.ini syal akan ibu buang saja."
__ADS_1
Ibu hampir memberikan syal ditangannya, namun tiba-tiba Dini masuk lalu cepat berkata, " Ibu mau memberikan ku apa? Sini aku lihat."
Terlambat! wanita itu sudah melangkah cepat dan mengambil syal di tangan ibu. Aku yang duduk di dekat ibu tak sempat mencegahnya. Mungkin Dini sudah mendengar semua pembicaraanku dan ibu tadi?