KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU

KU BALAS PERSELINGKUHAN SUAMIKU
Bab 66. Ancaman Salsabila


__ADS_3

Layar laptop masih memuat hasil desainku siang ini ketika seorang office girl dengan sopan permisi masuk ke ruanganku, ia membawa pesan jika ada Salsabila ingin bertemu dan menantiku di lobi. Setelah pertemuan kami berapa waktu yang lalu, kukira urusan diantara kami telah selesai, ternyata masih saja ia datang mencariku.


Usai menyimpan desain dan berpamitan pada Luluk, aku mengayun langkah seperti orang yang tengah menjemput ketidakpastian. Salsabila, wanita cantik itu sungguh mulia kurasakan mengganggu ketenangan hidupku. Apalagi yang diinginkannya dariku sekarang?


Ruang lobi terlihat sepi siang ini, hanya ada beberapa office boy yang tengah lewat membawa berkas ke beberapa ruangan. Mantan istri Pak Julio itu mengulas senyuman saat melihatku datang menghampirinya, senyuman yang dipaksakan. Ia memintaku duduk di depannya dan menatapku dari ujung jilbab hingga alas kakiku.


"Bu Hani cantik, tapi menurutku terlalu berumur untuk Julio. Pria itu sangat ingin punya keturunan. Aku belum beri ia anak, itu sih yang dulu membuatnya berang padaku." Salsabila langsung bertutur saat aku baru saja menempati tempat duduk dengan ragu-ragu.


"Alhamdulillah kalau saya dinilai cantik, itu karunia Allah saja. Dan, tentang Pak Julio, bukan tempatnya kita bicarakan di kantor sini. Saya banyak pekerjaan, Bu! Tolong hargai waktu saya," jawabku jelas dan tegas.


"O, o, o, boleh juga loyalitas kerja Bu Hani. Baiklah-baiklah, ini masih tentang proyek kita, kok." Wanita cantik itu bertepuk tangan perlahan, lalu membuka sebuah map yang diletakkannya di meja.


"Apalagi, Bu? Kurang jelas pertemuan kita yang lalu?" Aku membesarkan suaraku, merasa tak ada habisnya saja urusan pengunduran diriku.


"Jelas , sangat jelas. Ini kesepakatan untuk pengunduran itu. Tanda tangani di sini dan Bu Habi bebas dari team proyek saya." Wanita cantik itu menyodorkan selembar kertas di dalama map itu untukku.


"Apa isinya? Sya harus baca dulu," ucapku berhati-hati mengambil langkah.


Dengan teliti, kubaca satu persatu isi lembaran kertas itu. Salsabila sebagai pihak pertama rekanan setuju atas pengunduran diriku dari proyek. Aku masih paham poin-poin yang kubaca, hingga sampai pada sebuah pasal yang menyatakan syarat pengunduran diri, jika aku tak akan menerima lamaran dari Julio. Sebagai kompensasinya aku akan mendapat imbalan lima puluh persen dari hasil launching produksi pertama.


"Sudah paham? Tanda tangan di sini. Ini nanti sebagai perjanjian kita berdua saja. Itu syarat saya setuju Bu Hani mundur tanpa pinalti ke perusahaan sini." Salsabila mengulas senyuman lagi, terlihat lega melihatku selesai membaca.


Aku menelan ludah dengan sesak, menatap surat bermaterai yang mungkin sudah disusun Salsabila dengan pemikiran matang. Wanita berkulit putih bersih itu bahkan rela memberiku nilai rupiah yang amat besar demi menghalangi Julio menikahiku.


"Ayo tanda tangan, jangan tolak rezeki. Mungkin ngak seimbang dengan kekayaan yang akan Bu Hani miliki jika menjadi istri Julio, tapi ini lebih baik daripada nikah tapi terus cerai ngak dapat apapun." Ia mendesakku.


Aku bergeming. Saraf-saraf di otakku bertautan bekerja keras, memikirkan cara keluar dari pengaruh dan ancaman Salsabila ini. Namun, tak juga kutemukan jalan keluarnya.


"Ayo, tanda tangan! Ibu harus berjanji menepati isi kertas itu. Bayangkan jumlah uangnya nanti. Ibu bisa kuliahkan anak ibu memberi masa depan untuk dia," bujuknya dengan raut wajah yang sangat manis.


Salsabila mendekat, aroma parfumnya yang kuat menusuk penciuman membuat kepalaku semakin pusing. Kemudian Salsabil duduk di sampingku, seolah memaksa untuk cepat membubuhkan tanda tangan tanpa aku sempat berpikir lagi.


"Katanya ngak ada hubungan dengan Julio, kenapa Bu Hani terkejut dan nampak keberatan dengan isi perjanjian ini?" Wanita cantik itu terus menyudutkanku saat aku terlihat diam dan masih ragu.


Masih berpikir mencari kata, cukup lama aku terdiam dan wanita cantik itu menyeringai seakan merendahkan aku yang disangkanya munafik tak mau mengakui hubungan dengan Julio.


"Saya sungguh ngak ada hubungan dengan Pak Julio, tapi membuat perjanjian seperti itu menurut saya menyalahi kuasa Allah. Kita ngak pernah tahu rencana takdir Allah kan, Bu? Anak saya juga ngak akan saya nafkahi dari menjual tanda tangan seperti ini, tapi hanya dengan hasil kerja halal." Aku menegaskan penolakanku.


Aku berhenti bicara dengan rasa lega bisa menemukan pemikiran untuk menentang Salsabila saat detik-detik terakhir ia mulai menetap sinis padaku.


Benakku mulai terbang menbak-nebak, kiranya sedalam apa perpisahan Salsabila dengan Pak Julio hingga ia begitu dendam dan tak menginginkan pria itu menikahiku. Aku tak pernah mengenal wanita cantik ini dan tak ada perselisihan apapun dengannya sebelum saat ini. Namun ia berani bertaruh untuk memberiku jumlah uang yang nilainya fantastis demi sakit hatinya.


"Dan lagi, ini seperti taruhan karena jumlah uangnya tak bisa kita prediksikan sampai produknya terjual nanti. Itu tidak dibolehkan dalam perjanjian kerja sama." Kembali aku menguatkan alasanku.


"Apa perlu saya tuliskan langsung saja jumlahnya? Mau berapa banyak?" Salsabila menantangku dengan pandangan tajam dan merendahkan.

__ADS_1


"Bukan maksudnya saya setuju asal jumlah sesuai, bukan! Hanya memberi Bu Salsabila wawasan yang benar. Sya tetap ngak mau menjual tanda tangan mendahului kuasa Allah."


"Berbelit sekali berbicara dengan Bu Hani ini. Ya sudah akui saja hubungannya dengan Julio, dan ingat saya ngak akan diam saja jika sampai kalian menikah."


Pandanganku terus tertuju pada kertas yang disodorkan Salsabila. Wanita itu seolah ingin membuatku tak berkutik.


"Bu Salsabila masih taat menjalankan ibadah shalat?" tanyaku lirih.


"Untuk apa tanyakan hal seperti itu?" tanyanya gusar.


"Kemarin Bu Salsabila meragukan jilbab yang saya kenakan. Kenapa saya ngak boleh tanya hal yang serupa? Jawab saja, masih shalat rutin?"


"Itu urusanku." Salsabila membesarkan matanya dengan kesal.


"Sepertinya Bu Salsabila sudah cukup jauh dengan Allah. Saya lihat, hidup ibu jauh dari ketenangan. Apa yang ibu inginkan dalam hidup?" Aku tak menyerah bertanya.


"Bukan urusanmu, sudah kukatakan dari tadi!"


"Sekarang menjadi urusan saya, karena Bu Salsabila terus memaksa saya melakukan satu hal yang mengajak untuk menjauhi keyakinan saya pada takdir."


"Memangnya apa hubungannya shalat sama surat perjanjian kita? Aneh saja saya dengarnya." Ia mendengkus kesal.


"Shalat akan mencegah berbuat yang keji dan munkar. Keji itu seperti berbuat zina, judi, fitnah dan semisalnya. Munkar lebih umum, artinya semua perbutan yang dilarang Allah. Jika ibu masih belum shalat dengan baik, akan nampak dalam sikap dan perbuatan Bu Salsabila."


"Kamu jangan menggurui saya! Kamu ngak pernah merasakan sakitnya direndahkan oleh keluarga Dito. Saya ingin tolong kamu, ngerti!" Salsabila mulai kehilangan kesabaran, ia sudah tak lagi menyapaku dengan menyebut sebagai Bu Hani.


Aku menarik panjang tanpa melepas tanggaku di bahunya. "Oke. Bu Salsabila juga ngak berhak menekan hidup orang lain karena amarah pribadi. Bayangkan jika ibu diperlakukan seperti itu oleh orang lain, apa ibu mau?"


Wanita itu melengos, melepaskan bahunya dari tanganku. Cukup lama ia berpaling tak mau menatapku. Aku bangun dan berdiri, bermaksud menyudahi pertemuan kami.


"Saya kira sudah jelas, ya. Sya juga punya hak dan kerja di sini bukan sebagai orang yang semaunya sendiri. Silakan jika ada pinalti bebankan saja pada saya, jangan pada team atau perusahaan ini."


Aku diam, menunggu Salsabila menimpali ucapanku.


"Boleh saya permisi, Bu? Masih banyak pekerjaan yang belum tuntas." Aku meneruskan ucapanku.


Melihat wanita cantik itu masih saja diam, aku tak peduli dan tetap mengayun langkah. Biar saja Salsabila tak suka dengan semua pendapatku, tapi setidaknya ada orang yang sudah mengingatkan sikapnya yang kurang terpuji.


Beberapa langkah berjalan, aku menoleh, ingin memastikan jika wanita itu tak ingin berucap sesuatu lagi padaku. Kakiku terhenti, kulihat Salsabila mendongak seakan menahan air mata yang hampir jatuh. Ingin aku berbalik, tapi keberanianku tak cukup untuk ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan mantan istri Pak Julio itu.


Sampai di ruanganku kembali, jiwaku begitu terusik untuk menceritakan pada Luluk tentang Salsabila. Tapi, sebisa mungkin aku menahan diri. Kuabaikan tatapan ingin tahu sahabatku, lalu pura-pura mulai sibuk membuka layar laptop.


Baru saja aku mulai memulihkan pikiran untuk kembali fokus pada desainku yang sempat terjeda. Sebuah panggilan telepon terdengar mengusik, dan tertera nama Pak Julio di layar ponsel.


"Sudah makan siang? tanya pria jangkung beralis tebal itu usai kami berbalas ucapan salam.

__ADS_1


"Sudah. Pak Julio sudah juga kan?" tanyaku.


"Sudah dong, aku ngak mau mati kelaparan sebelum jadi nikah."


"Hehehe. Sudah shalat zhuhur?"


"Sudah dong, juga berdoa setelahnya. Meminta Allah memudahkan jodohku."


"Hehehe." Aku hanya tertawa, meski hatiku bergetar mendengar ucapannya.


"Kok hanya tertawa. Aamiin nya mana?"


"Hehehe, aamiin," ucapku gugup.


"Duh, aku ganggu kerjanya ya?"


"Sudah tahu nanya."


"Jujur amat! Ya sudah, aku berubah jadi laptop saja biar tiap hari bisa memandangmu." Tawa Pak Julio yang khas menenangkan hatiku yang resah usai bertemu Salsabila tadi.


"Nggombal. Sudah ah aku masih bikin desain ini."


"Tunggu-tunggu. Kamu suka nasi goreng ngak?"


"Suka saja. Kenapa?"


"Aku mau jadi tukang nasi gorengnya dong, biar bisa tiap malam bisa lewat depan rumah kamu." Pria itu kembali tertawa girang.


"Nggombal mulu. Inget umur, Pak!" ucapku tertawa kecil.


"Biarin, aku senang bisa mendengarmu tertawa lagi." Suara pria itu terdengar begitu tulus dan mengkhawatirkanku, membuatku tersksa karena bimbang dan gusar jika kerinduanku semakin bersemi, aku takut itu salah.


"Hani? Kapan masa iddahmu selesai?" tanyanya tak sabar.


"Sebentar lagi," jawabku lirih.


"Tapi kapan tepatnya?" Ia mendesak ingin tahu.


"Rahasia."


"Hahaha, awas ya kamu. Aku beneran jadi tukang nasi goreng nih nanti malam. Mau mangkal di depan rtumahmu." Lagi-lagi pria berkulit sawo matang itu tertawa.


"Hehehe."


Aku menahan tawaku yang sebenarnya sudah ingin tergelak dari tadi, tapi sungguh aku ketakutan kedekatan kami ini melewati batasan sebelum halal, dan wajah Salsabila juga membuatku berpikir lebih jauh lagi

__ADS_1


__ADS_2