
Kebekuan begitu terasa di sekeliling meja makan pagi ini. Mas Bayu hanya menunduk menopang dagu dengan lesu, pun ibu mertuaku, yang hanya duduk menatap kosong masakan yang sudah kami siapkan bersama usai subuh tadi.
Mengatur napas panjang, aku berusaha tak larut dalam perasaan iba. Harus tega, harus. Setelah sarapan nanti hanya sedikit waktuku untuk membicarakan kepulangan kedua ibu dan anak itu dari rumah ini.
Suara langkah kaki menghampiri kami di meja makan, memecah keheningan. Nampak olehku Mbak Wati yang biasa membantu di rumah tergopoh berjalan mendekat.
"Bu, saya agak telat datang, maaf." ucap Mbak Wati yang baru masuk lewat pintu dapur dan buru-buru menemuiku.
"Iya, Mbak. Ngak apa-apa," jawabku seraya mengikuti langkah Mbak Wati yang berbalik ke dapur lagi, ada yang akan kubicarakan dengannya.
"Mbak Wati, minta tolong nanti pastikan ibu mertuaku sudah pulang sebelum sore. Tolong juga, bantu ibu berkemas, ya." Aku berpesan pada Mbak Wati perlahan dan wanita yang masih muda itu pun mengangguk.
Tak lupa kujelaskan siapa Mas Bayu pada Mbak Wati karena ia baru kali ini bertemu, ia pun mengangguk paham dengan maksudku yang memintanya membantuku. Kembali ke meja makan, kulihat Fahmi sudah duduk di dekat Mas Bayu, mengajaknya berbincang sambil mulai menyendok sarapannya.
"Ayah ingin, kamu tetap semangat sekolahnya meski ayah sudah tidak bisa lagi tiap hari bareng kamu, tetap harus giat belajar," ucapan Mas Bayu lirih dengan suara tersendat, membuat ludahku terasa pahit melihatnya.
"Iya, Yah." Fahmi menjawab singkat sambil menganggukkan kepala.
"Nenek boleh lebih lama tinggal di sini ngak? Masih belum hilang kangennya sama kalian," ucap ibu mertuaku pada Fahmi.
"Rumah nenek giman dong, nanti kalau ke lamaan ditinggal pasti akan cepat rusak." ucap Fahmi dengan wajah datar.
Kan ada ayah yang jagain. Atau kamu mau ikut ke rumah nenek beberapa hari gitu ya? Nanti biar dianter lagi ke sini sama ayah." Ibu mertua berujar dengan berbinar penuh harap.
"BE, eh, Fahmi sedang banyak kegiatan di sekolah, Bu. Nanti saja nunggu liburan semester, berapa bulan lagi paling." Tergagap Mas Bayu buru-buru menimpali ucapan ibunya.
Mendadak aku tak tega melihat Mas Bayu ke kebingungan sepucat itu. Sepertinya selain mobil SUV miliknya, rumah ibu mertua sudah dijualnya juga. Jadi, bagaimana ini, ibu harus pulang ke mana andai Mas Bayu belum dapat tempat tinggal lagi?
"Ayo, sarapannya habiskan dulu, nanti kesiangan." Cepat kupotong percakapan yang membawa pilu bagi Mas Bayu itu.
Tak masalah bagiku aset Mas Bayu dijualnya semua untuk ganti uang perusahaan. Aku lebih memikirkan anak yang pasti akan terpengaruh mentalnya andai ayah mereka sampai di penjara karena kasusnya di kantor. Saat awal memilih bercerai pun tak ada harta gono gini yang kuharapkan. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada berbagi suami dengan wanita lain, saat itu aku hanya mendambakan hidup tenang dengan secepatnya resmi berpisah dari Mas Bayu.
Sarapan pagi yang sendu bagi ibu dan Mas Bayu, namun aku berusaha menguatkan hati untuk tetap mengabaikan raut menyedihkan di wajah mereka. Mengakhiri sarapan, Fahmi segera salim dengan ayah dan neneknya, lalu kuminta ia ke mobil lebih dulu.
"Bu, mungkin nanti aku sudah ke kantor waktu ibu pulang sama Mas Bayu. Hani belum sempat beli oleh-oleh untuk ibu bawa. Nanti kapan-kapan Hani main ke rumah ibu." Aku mengulurkan tangan, mengajak ibu bersalaman. Itulah caraku dengan halus meminta ibu cepat pergi dari rumah ini.
Dengan enggan, ibu menyambut uluran tanganku, memeluk erat seraya berujar, "Makasih boleh nginap sini. Sayangnya kamu keras kepala ngak mau ngalah demi keutuhan kasih sayang kalian buat anakmu."
__ADS_1
"Bu? Tolong jangan bahas itu lagi. Hani sudah capek jelasinnya. Ibu tetap ku anggap ibuku, anakku juga tetap cucu ibu. Hani pamit kerja. Nanti Mbak Wati yang bantuin ibu nata baju," kataku tetap berusaha tersenyum, melepas pelukan seraya menatap ibu.
Ibu hanya menghela napas kasar, lalu melihat ke arah lain seolah membuang rasa kecewanya.
"Hani, ayo kuantar ke mobil" Mas Bayu sepertinya memberiku isyarat untuk bisa bisa bicara berdua saja.
Pria yang belasan tahun pernah kulayani sepenuh hati itu mengikutiku keluar rumah.
"Aku belum punya tempat tinggal untuk ibu. Rumah dan isinya, juga mobil sudah kujual untuk ganti uang kantor. Seminggu ini aku ngak ke luar kota, tapi urus itu semua. Dan aku baru sempat nyewa satu kamar kos saja saat ini," ucap Mas Bayu lirih.
"Ya ampun. Uang perusahaan memangnya habis untuk apa?"
"Diambil Dini? Aku sedang cari wanita kejam itu, tapi belum ketemu jejaknya."
"Wanita kejam? Katamu Dini pintar dan can ... tik, hehe," Aku menyeringai, tak kuasa menahan lisanku menyindirnya.
Mas Bayu mendengkus kesal seraya menatap jauh kejalanan dari teras rumahku.
"Lah, terus gimana? Kamu sudah ngak pegang uang?" tanyaku lagi.
"Ada, tapi buat pegangan dulu selama belum dapat kerja lagi."
"Iya. Kesalahanku fatal."
"Yang sabar, ya. Mungkin Allah sedang ingetin kamu untuk jadi lebih baik, Mas," ucapku tulus membesarkan hati Mas Bayu.
"Makanya aku titip ibu dulu."
"Gimana ya? Aku senang saja ibu tinggal di tempatku sementara. Tapi terus terang sikapnya membuat kami kurang nyaman. Aku beri waktu Mas cari kontrakan sampai sore nanti, gimana?" kataku terpaksa tetap harus tega.
"Eeemm, baiklah kuusahakan. Tolong jangan kasih tahu ibu dulu."
"Iya, Mas."
Mas Bayu tak henti menatapku lekat, seakan mencari setitik saja rasa cinta yang masih tersisa untuknya dalam sorot mataku. Aku bisa saja meluapkan rasa kecewaku padanya dengan melontarkan hinaan saat melihat kesusahannya saat ini, tapi untuk apa? Toh itu tak akan menambah kebahagian hidupku. Menurutku, menyaksikan kenyamanan dan ketenangan hidupku sekarang ini sudah cukup menjadi hukuman bagi Mas Bayu.
Merasa jengah dengan sikap calon mantan suamiku, terburu aku menjauh darinya, melangkah menghampiri anakku yang sudah duduk di dalam mobil.
__ADS_1
Aku mengetuk jendela dan Fahmi cepat menurunkan kacanya. "Bunda nitip map ini buat Pak Julio, ya," kataku pada Fahmi. Kuserahkan map itu pada putraku karena cukup merepotkan saat mau masuk ke mobil.
"Map apaan itu?" seru Mas Bayu curiga, ia berdiri di samping mobilku ingin melepas kami yang hampir berangkat.
"Draft kontrak iklan butiknya Pak Julio," kataku sekilas sambil buru-buru masuk dan menutup pintu mobil.
"Hei, tunggu-tunggu. Jadi benar kamu ada kerjaan sama pria itu? Hati-hati, Hani. Itu hanya akal bulusnya." Mas Bayu berujar, mengabaikan jika ada anaknya diantara kami.
"Ayo jalan. Bun. Kita kesiangan macet nanti jalannya." Fahmi berseru cepat sebelum aku menjawab celeotehan Mas Bayu, lagi-lagi putraku melindungiku dari tekanan ayahnya.
"Kami berangkat, ingat janjimu tadi, ya, Mas. Waktunya sampai sore nanti." Kunyalakan mesin mobil, lalu mengucap salam meninggalkan kegelisahan di wajah Mas Bayu.
"Ngak ada perlengkapan sekolah yang tertinggal?" tanyaku pada Fahmi setelah beberapa waktu kami melaju di jalan.
"Ngak ada." Fahmi menggeleng seraya menjawab. Padatnya kendaraan di pagi hari, membuatku harus mengejar waktu.
Di sebuah lampu merah mendekati sekolah Fahmi, putraku itu membuka suara saat mobil kami baru saja berhenti menunggu lampu hijau menyala kembali.
"Itu bukannya Tante Dini, Bun." Fahmi mnegejutkanku.
Aku yang konsentrasi ke riuhnya jalanan akhirnya menoleh ke arah yang ditunjuk Fahmi. Di sisi kanan jalan terdapat sebuah galeri deretan mesin ATM. Nampak olehku Dini turun dari sebuah mobil mewah yang parkir di bahu jalan bersama seorang pria menuju ke salah satu mesin ATM. Mereka berdua bergandengan mesra, aku terpana tak percaya melihatnya.
"Ih, wanita apaan tante itu," celetuk Fahmi sambil mengedikan bahunya.
Rasanya ingin turun dan menemui Dini, tapi kendaran begitu padat tak memungkinkan mobilku menepi. Waktuku juga sudah tipis untuk bisa sampai di kantor tepat waktu. Dengan cepat, aku mengambil ponsel dan mengabadikan gambar wanita itu bersama pria yang digandengnya. Tak lupa kufoto juga mobil mewah yang mereka tumpangi.
Aku melajukan mobil lagi dengan diselimuti rasa heran dan penasaran, masih terbayang kemesraan Dini dan pria yang cukup berumur itu. Siapa pria itu? Jika Dini semesra itu dengan pria tadi, lalu bagaimana kisah asmaranya dengan Mas Bayu? Apa wanita itu punya hubungan khusus dengan pria tadi, lalu Mas Bayu dianggapnya apa? Pemandangan tadi benar-benar membuatku penasaran.
"Bunda, nanti jangan lupa aku ada ekskul." Fahmi berpesan padaku sebelum masuk ke gerbang sekolahnya.
Aku mengangguk, lama juga aku tak melihat dan bertegur sapa dengan pria berkulit sawo matang itu. Nanti sore, akankah kami berjumpa? Huft, bisikan setan mulai mengujiku, mengusik kerinduan pada pria yang bukan mahramku.
Harusnya, map berisi draft kerja sama itu kuserahkan sendiri saja pada Pak Julio nanti sore, bukankah itu bisa bertutur sapa dengannya? Ya Tuhan, Hani! Jangan seperti remaja yang tak tahu aturan ... aku menegur anganku yang kelewatan.
Cinta memang bisa datang begitu saja, kadang menggebu tanpa terelakkan. Kokohnya iman pun dipertaruhkan saat hadirnya hasrat ingin bersama dan memiliki meskipun ada benteng tinggi yang selalu berusaha kubangun diantara aku dan Pak Julio. Aku belum lagi bercerai.
Usai mengantar anak, aku terburu waktu meluncur ke kantor. Dengan tak sabar segera kuceritakan pada Luluk tentang Dini yang kulihat di jalan tadi dengan menggebu.
__ADS_1
"Wanita itu memang tak sebaik penampilannya. Terbukti kan, cantik dan smart tak menjamin akhlak wanita itu baik. Aku kira, Dini hanya memanfaatkan Bayu, tapi entah untuk tujuan apa. Kita hanya baru bisa menduga." Luluk menyampaikan pendapatnya.
Aku duduk sambil menopang dagu, merenungkan dugaan Luluk. Andai benar begitu, kasihan sekali Mas Bayu dan ibu. Ia mengkhianatiku, tapi tak sadar jika ia juga dikhianati wanita yang dipujanya.