
Waduh. Rasanya aku tak ingin lebih sering bertemu Pak Kevin, ada rasa sungkan setelah tahu ia menaruh perhatian lebih padaku.
Ponselku berdering nyaring, ada telpon dari Mas Bayu rupanya, menyelamatkan aku dari ajakan Luluk untuk cepat ke ruang Pak Kevin saat aku belu siap ketemu pria mapan itu lagi.
"Kamu aja duluan, telepon penting dari Mas Bayu nih kayaknya. Aku dah ajukan gugatan cerai, mungkin ini ada hubungannya dengan itu," kilahku memanfaatkan kesempatan untuk menghindari ajakan Luluk.
"Hmmm ya sudah!" Luluk manyun, tapi tak urung ia pergi juga sendiri ke ruang Pak Kevin.
"Iya, Mas?" tanyaku usai mengucapkan salam. Dengan malas aku menerima panggilan telepon Mas Bayu.
"Fahmi sehat?" tanyanya ragu.
"Alhamdulillah sehat," jawabku singkat.
"Nanti sore boleh aku datang? Aku ingin mengirim makanan kesukaan Fahmi." tanyanya lagi.
Aku diam, menimbang apa akan memberinya ruang untuk bersama buah hati kami. Rasanya tak perlu, bisa-bisa nanti Fahmi akan dipengaruhinya untuk susah lepas darinya dan dekat kembali dengannya. Tapi, anakku masih tetaplah anaknya, sekejam itukah aku akan memisahkan dari Mas Bayu?
"Kalau mau kirim-kirim makanan, antar lewat kurir saja kan bisa. Ada mbak yang bantuin beres-beres di rumah. Jadi ngak perlu nunggu ketemu anak pun bisa." Kucoba menutup ruang untuk Mas Bayu dengan halus.
"Kamu memang keras kepala! Kasihan Fahmi pasti terlantar makanya karena kamu tinggal kerja!" Mas bayu membentakku.
Kecamannya tak sanggup mempengaruhiku, bahkan kujawab dengan setenang mungkin, " Aku sudah biasa mengurus semua kebutuhan anak, jangan risau. Meski tak ada nafkah darimu lagi, Allah masih mengasihi kami."
"I-t-t-u. Aku lupa mengaktifkan lagi rekeningnya. Maaf." Tergagap Mas Bayu tersudutkan oleh perbuatan buruknya sendiri.
"Ngak perlu, Mas. Aku sudah jual simpanan perhiasan, masih cukup sisa uangku sampai waktunya gajian nanti." Sengaja aku sindir pria itu, menorehkan rasa bersalah dan penyesalan di hatinya hingga semakin tersayat.
"Ta-pi anak butuh biaya banyak. Nanti ku transfer, tolong biarkan kutemui mereka di kontrakan." Pria itu memohon dengan sebuah janji transferan uang, dipikir aku mata duitan.
"Ngak perlu transfer lagi ngak apa. Oh ya, gugatan cerai sudah kulayangkan. Tunggu panggilan sidang kita, usahakan hadir atau akan diputus absentia," kataku lembut tapi menekan akhir ucapanku.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Hani! Secepat itu keputusanmu? Apa aku ngak layak dimaafkan?" Serak suara Mas Bayu, menggetarkan sesalnya.
"Kamu justru yang lebih cepat memutuskan, Mas. Iya, kamu yang membuka jalan perpisahan kita, bukan aku," Lirihku pelan tapi terdengar menyakitkan.
"Ta-pi itu berbeda. Pikirkan lagi, Hani, pikirkan." Isakan Mas Bayu tertahan.
Aku memejamkan mata. Ternyata pura-pura kuat itu berat dan menyakitkan. Sejatinya, jauh di lubuk hatiku pernah ada cinta yang besar untuk pria yang tengah dirundung penyesalan itu. Mendengarnya memohon, membuatku terluka karena aku bisa merasakan masih ada cinta tersembunyi di hatinya untukku. Aku rapuh, sangat rapuh! Tapi tetap harus bertahan.
Aku tak menjawab lagi permintaan Mas Bayu. Hening, di ujung sambungan telepon i terdiam, begitu pun aku. Tiba-tiba aku teringat kembali perjuanganku mengorbankan akrir hanya demi bisa menjadi menantu, ibu dan istri terbaik. Full di rumah mengurus balita yang aktif dan semua urusan rumah sungguh menguras emosiku. Lelah batin, pikiran dan badan menderaku yang dulunya biasa sibuk di kantor, tak seindah bayanganku sebelumnya. Perlu waktu dan perjuangan bagiku untuk melewatinya. Lalu, kini aku harus kecewa pada suami yang menutup mata tak ingat lagi melihat pengorbananku.
"Hani, aku tak akan sanggup hadir di sidang. Cabutlah gugatanmu sebelum diproses. Demi anak, kita mulai lagi dari awal. Aku hanya minta waktu sebentar lagi sampai bisa lepas dari Dini."
"Sulit, Mas. Suami itu tempat istri menemukan kenyamanan. Kamu sudah menghalau rasa nyaman itu."
Aku segera mengucap salam, masih kudengar Mas bayu memanggil agar tak ditutup dulu percakapan akmi, tapi aku tetap mengakhiri sambungantelepon.
Aku terpaksa hendak menyusul Luluk ke ruangan Pak Kevin, tapi syukurlah sahabatku itu lebih dulu menampakkan dirinya berjalan menghampiriku.
"Syukurlah. Siip, makasih, ya."
Sahabatku itu mengangguk, tersenyum hangat.
"Bayu yang telepon? Ngak mau digugat cerai pasti," tebak Luluk.
Aku mengangguk.
"Ya salaam, semaunya sendiri tuh orang," gerutu Luluk kesal.
****
Sore ini, dalam perjalanan satu mobil bersama Luluk untuk bertemu dengan seorang ahli desain grafis, aku kembali merenungi percakapan di telepon dengan Mas Bayu tadi siang, lalu teringat pada ibu mertua. Aku baru sadar jik terlupa mencari tahu kabar kesehatan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Mengingat ibu mertua membuat sebetik rindu menyelinap di hatiku. Aku yang telah tak lagi mempunyai orang tua, sungguh telah tulus menganggapnya sebagai ibuku sendiri. Ibu mertua...aku tetap menyayangimu walau seperih apapun luka yang pernah kau beri, di manapun kapanpun aku masih tetap akan mendoakan kebaikan untukmu, Ibu mertuaku.
"Han. Capek ngak? Gantian nyetir dong, aku sedikit lelah." Luluk bertanya, membuyarkan kenanganku tetang ibu mertua.
"Aku belum tahu tempatnya, di mana, sih?" kataku, aku bahkan dari tadi tak sempat menanyakan nama orang yang akan kami temui dan di mana tempat usaha jasanya itu berdiri.
Aku menegakkan badanku, meminta Luluk menepikan kendaraan seraya mengamati jalanan yang dari tadi kuabaikan. Aku mengernyit, sepertinya mengenali kawasan ini, searah menuju sanggar lukis yang biasa aku lewati.
"Siapa, sih, nama orang yang kita temui? Nama tempatnya apa, kita googling map dulu," ujarku.
"Namanya Julio, tempat ketemunya sanggar lukis Pelangi jingga."
"Hah? bener itu tempatnya. Dan Julio...aku kenal orang itu,"
"Kenapa ngak ngomong dari tadi kalau kamu kenal," gerutu Luluk.
"Lah, kamu juga ngak kasih tahu nama orangnya dari tadi. Julio tadi yang disebut-sebut Dini di kantor tadi."
"Ya elah, kita mau ketemu anaknya owner Superindo dong?"
Aku mengangguk bingung, "Kok bisa sih ia suhu desai grafisnya?"
"Dia orang terkenal, susah ditemui. Dari dulu aku sudah ingin belajar pada suhu itu. Ini dibelain aku nurut aja mau ketemu di manapun. Kalau di tempat usahanya malah jarang ada di sana tuh Julio itu. Tapi kok aku baru tahu ia anak Darma Wardhana ya." Luluk nyerocos panjang akli lebar.
Aku hanya melongo. Siapalah aku yang belasan tahun jadi upik abu di rumah, tak tahu orang terkenal yang mana saja.
"Ayo cepetan jalan lagi, keburu telat kita ngak bisa buat jadwal ketemu lagi nanti," titah Luluk menggebu, kami sudah bertukar tempat sekarang.
Kulajukan mobil ke arah sanggar Pelangi jingga dengan hati resah. Entah bahagia, entah bingung, entah tak siap bertemu Pak Julio lagi. Semudah ini jalan kami dipertemukan kambali oleh Sang Pemilik Kehidupan.
Apa yang akan terjadi saat di sanggar nanti, bersambung dulu ya...
__ADS_1
Aku tidur dulu lanjut besok kalau ngak sibuk 🤭🙏🏻